BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Bidadari Roh Selendang Pelangi


Bo Li membuka tali yang mengikat kain berwarna kuning ditangannya secara perlahan.


Membuka kain yang membungkus benda yang ternyata sebuah kotak emas berukir indah.


Peri Dryada mendekati kotak yang ada di pangkuan Bo Li sambil memperhatikannya dengan serius.


"Kotak apa ini Bo Li ?", tanya peri kecil daun hijau.


"Aku tidak tahu, lebih baik kita membukanya", sahut Bo Li.


"Kotak terbuat dari emas biasanya sangat istimewa menyimpan sesuatu yang unik", ucap peri Dryada.


"Ya, apalagi yang memberikannya orang seaneh itu, tentu saja sangat istimewa dan aku rasa aku harus membukanya sekarang", kata Bo Li.


"Apa kamu tidak ingin membukanya di kamar hotel saja ?", tanya peri Dryada.


"Tidak, aku rasa lebih baik, aku membukanya disini saja", sahut Bo Li.


"Aku juga tidak sabar untuk melihat isi kotak emas itu, Bo Li", ucap peri Dryada.


"Ayo, kita buka sekarang ! Dan kita lihat isi didalam kotak emas ini, peri", kata Bo Li.


Bo Li tersenyum kepada peri Dryada kemudian dia membuka kotak terbuat dari emas yang ada dihadapannya.


Namun, kotak itu tidak dapat dibuka oleh Bo Li begitu saja.


"Kenapa kotak ini susah sekali dibuka ?", tanya Bo Li.


"Mungkin ada kata sandinya", sahut peri Dryada.


"Kata sandi !?", ucap Bo Li.


"Iya, kata sandi seperti saat membuka sistem Bo Li 115, bukankah kamu membutuhkan kata sandi untuk membuka buku harianmu itu, Bo Li ?", sahut peri Dryada.


"Aku akan mencoba membuka kotak emas ini tapi apa kata sandinya ?", ucap Bo Li.


Bo Li memperhatikan kotak emas seraya membolak-balikkan kotak itu dan melihat sisi-sisi kotak penuh ukiran tangan itu.


Akan tetapi Bo Li tidak melihat ataupun menemukan petunjuk berupa kata sandi disekitar kotak emas.


"Tidak ada kata sandipun yang terlihat di kotak emas ini... Mungkinkah, memang tidak ada kata sandi untuk membukanya !?", kata Bo Li.


"Ternyata sangat rumit kotak emas ini dan penuh rahasia untuk membukanya", ucap peri Dryada.


"Tapi aku tidak melihat petunjuk di kotak emas ini, lalu bagaimana aku dapat membukanya !?", kata Bo Li.


Bo Li menghela nafasnya sambil meletakkan kotak emas ditangannya ke atas pangkuannya kembali.


Dia tampak putus asa ketika tidak dapat membuka kotak itu.


Bo Li kemudian teringat dengan orang bercaping tadi yang telah memberikannya kotak emas.


"Tunggu ! Aku baru ingat !", seru Bo Li.


"Apa !?", ucap peri Dryada.


"Aku mengingat orang bercaping yang tadi aku temui dan aku melihat gambar pemandangan yang unik di kotak emas ini", sahut Bo Li.


"Pemandangan apa ?", tanya peri Dryada.


"Aku melihat pemandangan seorang pria bertopi caping dengan alat musik erhu sedang berdiri di atas perahu di danau sunyi", sahut Bo Li.


"Lantas apa hubungannya dengan pemandangan dan pria itu !?", kata peri Dryada.


"Aku menebak bahwa orang bercaping dengan alat musik erhunya itu ada hubungannya dengan kotak emas ini", ucap Bo Li.


"Apakah itu adalah kunci membuka kotak emas ini ?", tanya peri Dryada.


"Aku pikir juga demikian, dan mungkin saja orang bercaping itu ada kaitannya dengan kunci kotak emas ini", sahut Bo Li.


"Kalau begitu, kamu coba saja membukanya dengan petunjuk orang bercaping itu", ucap peri Dryada.


"Bagaimana caranya ?", tanya Bo Li.


"Mari kita lihat pemandangan orang bercaping yang ada di kotak emas itu, dan kita cari petunjuknya disana", sahut peri Dryada.


"Baiklah...", ucap Bo Li.


Bo Li lalu memperhatikan dengan seksama pemandangan yang terukir yang ada di kotak emas.


Ukiran yang ada di kotak emas menggambarkan pemandangan orang bercaping yang tengah memainkan alat musik erhu di atas perahu di danau sunyi.


Bo Li meraba-raba ukiran pemandangan yang terpahat itu dengan hati-hati.


"Aku merasakan ada yang aneh di ukiran ini", ucap Bo Li.


"Apa itu ?", tanya peri Dryada.


"Ada bagian yang berbeda di sekitar orang bercaping", ucap Bo Li.


"Apa semacam tombol ? Putaran ? Kunci ?", tanya peri Dryada.


"Tepatnya di area topi caping yang dipakai pria di atas perahu ini", sahut Bo Li.


"Mungkin itu kunci untuk membuka kotak emas itu, Bo Li !", seru peri Dryada.


"Aku pikir juga seperti itu, peri", sahut Bo Li. "Topi caping ini sepertinya sebuah tombol atau alat yang bisa diputar", sambungnya.


"Itu kuncinya, Bo Li ! Tekanlah !", ucap peri Dryada.


"Baiklah...", sahut Bo Li.


Bo Li lalu meraba kembali ukiran pemandangan orang bercaping di atas perahu dan mencoba menekan caping yang dikenakan pria di ukiran itu.


"KLEK...!"


"Wow !", pekik peri Dryada.


"Sebuah kain berwarna pelangi serta bersinar terang...", ucap Bo Li tertegun.


"Apa ini selendang pelangi yang kamu cari-cari itu, Bo Li ?", tanya peri Dryada.


"Selendang pelangi !?", kata Bo Li lalu berpikir sesaat.


Bo Li teringat dengan ucapan kakek Li Sanders yang mengatakan perihal selendang pelangi milik ibunya yang merupakan seorang bidadari langit yang turun ke bumi saat dia sedang menjalankan tugas yang diembannya.


Ibunya lalu bertemu dengan ayah Bo Li di danau sunyi ini untuk pertama kalinya.


Selendang pelangi yang berasal dari langit serta memiliki keajaiban besar yang tiada taranya.


"Mungkin ini selendang pelangi yang aku cari-cari itu dan kebetulan sekali orang berambut panjang putih itu, kita temui di danau sunyi ini", sahut Bo Li.


"Aku sangat penasaran dengan bentuk selendang pelangi, apakah kamu tidak tertarik untuk melihat kain berwarna pelangi yang bersinar itu, Bo Li ?", ucap peri Dryada.


"Kain pelangi ini mungkinkah selendang milik bidadari !?", kata Bo Li.


Bo Li meraih kain berwarna pelangi dari dalam kotak emas yang ada dipangkuannya.


Saat kain pelangi itu, Bo Li pegang dan dia bentangkan lebar.


Muncul cahaya terang benderang dari arah selendang pelangi yang indah itu.


Selendang pelangi lalu melambai-lambai serta terlepas dari tangan Bo Li dan terbang melayang-layang dihadapan Bo Li.


"Ada apa ini !?", ucap Bo Li.


"Muncul cahaya aneh yang sangat menyilaukan mataku !", pekik peri Dryada.


Bo Li hanya menolehkan kepalanya ke arah peri Dryada.


"Aku tidak merasakan cahaya itu menyilaukan", ucap Bo Li.


"Mungkin karena aku seorang peri !", sahut peri Dryada.


Bo Li memalingkan pandangannya kembali ke arah selendang pelangi yang ada dihadapannya.


Tiba-tiba keluar sosok perempuan cantik jelita dengan gaun berwarna pelangi dari selendang pelangi.


Perempuan cantik itu kemudian tersenyum lembut kepada Bo Li dan mendekat ke arah Bo Li lalu memeluknya.


"Puteriku... Kamu sangat cantik sekali, nak !", ucap lembut perempuan berwajah cantik jelita itu saat memeluk tubuh Bo Li.


Bo Li tersentak kaget ketika mendengar ucapan perempuan itu.


"Puterimu !?", sahut Bo Li.


Bo Li melangkah mundur seraya melepaskan pelukan perempuan cantik jelita itu.


"Bagaimana mungkin kamu mamaku ?", tanya Bo Li mengernyitkan keningnya ragu.


"Aku adalah bidadari roh selendang pelangi milik ibumu ini, dan aku tahu bahwa Bao-you sudah tiada", sahut bidadari roh itu.


"Bidadari roh selendang pelangi !? Benarkah !?", kata Bo Li terkesiap tak percaya.


"Iya... Aku adalah bidadari roh yang menghuni selendang pelangi ini dan mulai sekarang aku adalah milikmu, Bo Li...", sahut bidadari roh itu.


"Dan apakah selendang ini memang benar-benar selendang pelangi milik ibuku ?", tanya Bo Li.


Bo Li meraih selendang pelangi dengan tangannya lalu meletakkannya ke atas pundaknya.


"Benar, ini adalah selendang pelangi milik bidadari Bao-you yang jatuh saat dia turun ke bumi dan tanpa sengaja menghilang di danau sunyi", ucap bidadari roh itu.


"Benarkah...", kata Bo Li.


"Sebenarnya selendang pelangi ini sengaja disembunyikan oleh ayahmu karena dia tidak ingin berpisah dengan ibumu", ucap bidadari roh.


"Apa !? Papaku menyembunyikan selendang pelangi milik mamaku !? Apa maksud ucapanmu ?", kata Bo Li kaget.


"Benar, ayahmu menyembunyikan selendang pelangi ini karena dia jatuh cinta pada ibumu ketika melihatnya pertama kalinya saat turun di area danau sunyi", ucap bidadari roh.


"Memang papaku saat itu sedang bermeditasi di danau sunyi dan aku tidak pernah mengetahui kisahnya dengan pasti", sahut Bo Li.


"Dan itulah kenyataannya bahwa ayahmulah yang telah menyembunyikannya selendang pelangi di dalam kotak emas yang dia simpan di danau sunyi", kata bidadari roh.


"Papaku menyembunyikan selendang pelangi ini agar mamaku tidak dapat kembali ke langit ke dunia bidadari", sahut Bo Li.


"Iya...", ucap bidadari roh.


Bidadari roh selendang pelangi menganggukkan kepalanya pelan lalu tersenyum.


"Bagaimana aku harus memanggilmu ? Apakah kamu memiliki nama ?", tanya Bo Li.


"Iya tentu saja...", sahut bidadari roh.


"Lalu siapa namamu ?", tanya Bo Li.


"Cǎihóng wéijīn...", sahut bidadari roh.


"Itu namamu ?", ucap Bo Li.


"Iya, namaku Cǎihóng wéijīn !", sahut bidadari roh.


"Selamat datang ke duniaku Cǎihóng wéijīn...", ucap Bo Li sambil tersenyum ramah.


"Terima kasih telah menyambutku di dunia manusia ini, Bo Li", sahut Cǎihóng wéijīn.


Wajah Bo Li terlihat bersinar-sinar bahagia ketika dia bertemu dengan bidadari roh dari selendang pelangi milik Bao-you, ibunya yang merupakan bidadari yang turun dari langit ke bumi.


Akhirnya Bo Li mampu menemukan selendang pelangi yang merupakan pusaka ajaib berasal dari langit yang dipercaya dapat mengalahkan sosok iblis Elmar.