BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
MURDHUACHA


Sinar Matahari pagi membangunkan Bo Li yang tertidur dengan lelapnya, ia berlahan membuka selimutnya yang membungkus tubuhnya dari dinginnya malam.


Dia menengok kearah jam yang ada disebelahnya dan ia terkejut mendapati dirinya berada didalam kamar tidurnya di rumahnya.


"Eh..., kenapa aku kembali pulang ke rumah...? Bagaimana bisa aku pulang kesini...? A--apakah dia mengirimku pulang tanpa sepengetahuanku ? T--tapi bagaimana caranya ?", kata Bo Li panik.


Bo Li beranjak cepat dari tidurnya dan berlari keluar kamarnya, ia tahu ini adalah hari pertunangannya dengan Ivander Liam setelah dirinya melihat kearah tanggal yang ada di jam miliknya.


"Itu tidak mungkin..., itu tidak mungkin..., dan itu mustahil...", batin Bo Li dengan terus berlari cepat menuruni anak-anak tangga rumahnya dan menelusuri ruangan rumahnya.


Hari yang menyesakkan hati Bo Li selama ini, hari yang telah membuatnya terkurung didalam kastil mewah tanpa dapat melawannya.


Sebagai wanita mandiri kebebasan Bo Li telah direbut kemerdekaannya untuk menjadi wanita modern yang cerdas serta berpengaruh di dunia.


Haknya sebagai wanita mandiri seakan-akan tercabut dari akarnya untuk tidak menjadikannya wanita hebat yang harus patuh pada peraturan dan adab pernikahan.


Dia tertegun memandangi suasana diruangan tengah rumahnya, beberapa hiasan bunga mawar putih yang merekah mekar indah tertata rapi disana.


"Apakah Tuhan telah mengirimku kembali untuk bereinkarnasi lagi ? Tapi kenapa tepat dihari pertunanganku ? Apa maksud dari ini semua ?", ucap Bo Li pada dirinya sendiri.


Bo Li berjalan pelan tanpa alas kaki menuju ruang tengah rumahnya seraya menyentuh bunga-bunga mawar tersebut, ia memalingkan wajahnya kearah luar jendela rumahnya kemudian berlari mendekat kearah jendela tersebut.


Dia terpana melihat seseorang berdiri termenung didepan sebuah mobil berwarna merah dengan membawa seikat buket bunga ditangannya.


Pria itu mematung memandangi rumah Bo Li dengan tatapan teduh, Bo Li tahu jika pria itu tidak asing baginya karena pria itu yang akan menjadi tunangannya nanti.


"Ivander Liam...?", gumam Bo Li pelan dari balik jendela rumahnya.


Pria berambut pirang itu sedikit menggerakkan tangannya kemudian memasukkannya kedalam saku celananya. Ia mengenakan setelan jas lengkap berwarna hitam yang dipakainya dihari pertunangan, lalu apa maksud ini semuanya, pikir Bo Li.


***


Bo Li membalikkan badannya dan berlari keluar rumahnya menuju kearah pria berambut pirang itu.


"Ada apa ini..., ada apa ini semuanya...", kata Bo Li bergumam pelan seraya terus berlari cepat.


Mereka berdua saling bertemu pandang, dan pria itu tersenyum lembut kepada Bo Li sembari tertawa pelan.


"Selamat pagi nona...", sapanya ramah.


"S--selamat pagi...", sahut Bo Li gugup.


"Apakah kamu terkejut melihatku sepagi ini ?", kata pria itu.


Bo Li masih termangu tak percaya dengan yang terjadi didalam hidupnya ini, ia masih terasa jika ini semua adalah sebuah mimpi setelah terbangun dari tidur panjang dimalam hari.


Pria itu tetap menyunggingkan senyumannya kearah Bo Li yang berdiri termenung dihadapannya.


"Apa yang sedang kamu lakukan didepan rumahku ? Kenapa tidak masuk kedalam rumah ?", ucap Bo Li yang masih tidak percaya dengan ini semua.


"Pertanyaanmu banyak sekali, nona. Aku tidak dapat menjawab semua pertanyaanmu kepadaku", sahut pria itu tertawa kecil.


"Bukan, maksudku untuk apa kamu mengunjungiku sepagi ini dan kenapa tidak langsung masuk ke rumah ini ?", kata Bo Li gugup.


"Ha..., pertanyaanmu semakin bertambah banyak sekali lalu jawaban apa yang harus aku berikan kepadamu, nona ?", jawab pria berambut pirang itu menggoda nona cantik didepannya.


"Baiklah, baiklah aku mengerti, mari masuk kedalam rumah karena diluar udara sangat dingin dan aku takut itu akan mengganggu kesehatanmu", sahut Bo Li sambil mempersilahkan pria itu masuk kedalam rumah pribadinya.


"Apakah kamu selalu mempersilahkan orang asing yang baru kamu temui langsung masuk kedalam rumahmu, nona ?", tanya pria itu tersenyum seraya mengedipkan matanya kearah Bo Li.


"Kamu bukan orang asing buatku karena sebentar lagi kamu akan menjadi tunangan...", Bo Li lalu tersadar dari ucapannya kemudian berbalik kearah Ivander Liam.


***


Bo Li menatapnya tajam kearah pria berambut pirang yang sangat mirip dengan Ivander Liam, tunangannya.


Dia melihat pria itu seraya mengerutkan dahinya serta mulai berpikir keras mengenai pria yang berdiri didepannya tersebut.


"Apakah kamu Ivander Liam ?", tanya Bo Li menyelidik.


Pria itu tidak menjawab pertanyaan Bo Li dan terus melangkah masuk kedalam rumah Bo Li.


"Tunggu ! Kamu belum menjawab pertanyaanku ! Apakah kamu memang benar Ivander Liam ?", tanya Bo Li sambil berlari mencegah pria itu masuk kedalam rumahnya.


"Apa maksudmu ? Tentu saja aku Ivander Liam, apakah ada orang lain yang menyamar menjadi diriku ?", tanya pria berambut pirang itu seraya mengangkat kedua alisnya.


"Apa buktinya ?", kata Bo Li penuh selidik.


"Hmmm, bukti akurat ? Baiklah, baiklah aku akan pergi dari rumah ini jika itu membuatmu puas, nona !", sahut pria berambut pirang tersenyum geli.


"Tidak, tidak, tidak, aku sangat serius sekali ! Ini bukan main-main, lalu tahukah kamu siapakah aku ?", tanya Bo Li penasaran.


"Siapa kamu ? Namamu maksudmu begitu ? Aku tidak mengerti nona...", sahut pria itu seraya berdiri berkacak pinggang.


"Iya..., apakah kamu tidak mengetahui siapa aku ?", kata Bo Li berjalan didepan pria itu mondar-mandir.


"Ha...Ha...Ha..., kamu selalu mengajakku bercanda dengan memberikanku sejumlah pertanyaan yang beruntun, tentu saja aku mengenalmu dan tahu namamu tapi untuk apa kamu meragukan diriku...?", kata pria itu sambil meringis.


"Hmm..., aku tahu kamu tidak akan sanggup menjawab pertanyaan dariku, tentunya bukankah demikian ?", kata Bo Li seraya menatap tajam.


"Ha...Ha...Ha..., kamu sangat cerdas sekali nona...!", tawa pria itu memecah suasana sepi di rumah Bo Li.


"Aku...adalah kamu..., perwujudan dari hatimu nona...", sahut pria itu tersenyum lebar.


"Ini tidak benar, kamu bukan Ivander Liam !", sahut Bo Li waspada.


"Ha...Ha...Ha...Ha...", tawa pria itu semakin nyaring.


"Katakan siapa kamu ?", kata Bo Li memberikan tekanan pada nada suaranya.


"Ck...Ck...Ck...Ck..., seribu pertanyaan yang ambigu dan mirip jebakan..., aku tidak pernah menyangka jika nona begitu cerdasnya...", kata pria itu tersenyum tipis.


"Siapa kamu ?", tanya Bo Li.


Bo Li melihat buket bunga ditangan pria itu mendadak berubah menjadi sebuah pedang besar yang mengkilat.


Pria berambut pirang itu lalu mengarahkan pedang tersebut kearah Bo Li yang terperanjat kaget melihat perubahan yang terjadi pada pria itu.


"Kalahkan aku, maka aku akan memberikan jawabannya padamu !", ucap pria berambut pirang itu tersenyum pada Bo Li.


"U--untuk apa aku harus mengalahkanmu ? Kamu bukan musuhku ? Dan aku hanya bertanya kepadamu tentang siapa sebenarnya dirimu ?", kata Bo Li.


"Maka kalahkanlah aku nona..., kamu akan tahu siapa aku yang sebenarnya...", ucap pria itu sembari tersenyum.


Bo Li merasa jika pria dihadapannya itu yang mirip Ivander Liam selalu menyunggingkan senyumannya setiap saat kepada dirinya.


Hal yang sangat aneh bagi Bo Li karena Ivander Liam jarang sekali menunjukkan wajah manisnya apalagi selalu tersenyum padanya.


Setahu Bo Li, pria itu sangat dingin dan jarang menunjukkan ekspresi perasaannya diwajahya dengan senyuman karena Ivander Liam bukan tipe pria yang banyak mengumbar senyumannya.


Bo Li tahu pembawaan Ivander Liam sangatlah tenang sehingga saat dirinya berada disisi pria itu maka Bo Li merasa nyaman.


Lain dengan pria yang ada dihadapannya itu yang selalu tersenyum manis serta bersikap ramah padanya bahkan sikap yang ditunjukkannya itu terkesan bercanda dengan Bo Li.


"Aku tidak punya keberanian ataupun kekuatan untuk mengalahkanmu karena aku memang tidak mempunyai kemampuan itu !", ucap Bo Li untuk tidak terpancing dengan tantangan dari pria itu kepadanya.


"Wah, kamu memang cerdas sekali nona, aku sangat salut padamu tapi sayangnya kamu harus bisa mengalahkanku agar kamu dapat mengetahui siapa sebenarnya diriku !", ucap pria itu dengan tersenyum.


"Hmm..., berat sekali tantangan yang kamu berikan padaku...", jawab Bo Li tetap tenang.


Tiba-tiba pria berambut pirang itu mulai menyerang Bo Li dengan mengayunkan pedangnya kepada Bo Li.


"Woooshh...", suara tebasan pedang mengarah pada Bo Li.


"Hai ! Tidak bisakah kamu bersabar !", ucap Bo Li kaget seraya menghindari serangan pria berambut pirang itu.


"Maka lawanlah aku, nona !", ucap pria itu seraya tertawa keras.


"Pria sinting !", ucap Bo Li kesal.


Pria berambut pirang yang mirip sekali dengan tunangannya itu terus saja menyerang Bo Li secara membabi buta tanpa memberinya kesempatan untuk melawannya.


Bo Li terus berlari menghindar dari serangan pedang besar yang mengarah padanya terus-menerus tanpa henti.


Dia berkelit cepat saat tebasan pedang itu bergerak cepat kearahnya.


"Ha...Ha...Ha...Ha..., teruslah menghindariku nona karena aku tidak akan pernah mengalah padamu !", ucap pria itu penuh semangat.


"Hentikan ! Ini bukanlah dirimu Ivander Liam ! Hentikan permainan ini !!!", teriak Bo Li.


"Lantas siapakah aku ? Bonekamu atau aku hanya pria tanpa status ?", tanya pria berambut pirang itu terus menyerang Bo Li.


"Aih, ini tidak bisa dibiarkan saja karena orang itu terus-terusan menyerangku ! Aku harus mencari cara untuk menghentikannya !", ucap Bo Li mulai serius.


"Kenapa, takut ?", tanya pria itu tersenyum lembut.


"Tidak ! Aku tidak pernah merasa takut padamu !", ucap Bo Li. "Karena kamu hanyalah bayangan tak kasat mata yang membual bodoh !", sambungnya.


"Dasar perempuan kurang ajar ! Terimalah ini serangan dariku !", teriak pria berambut pirang itu lalu menebaskan pedang besarnya kearah Bo Li sangat cepatnya.


Pedang itu memotong kain pakaian panjang Bo Li yang berwarna biru dan hampir mengenai tangannya.


Untung saja Bo Li mampu dengan cepat menghindari serangan pedang dari pria berambut pirang tersebut padanya.


"Hentikan Murdhuacha !", teriak peri kecil Dryada.


Bo Li tersentak dengan ucapan seseorang yang tidak asing baginya, yang telah menghentikan serangan pedang dari pria berambut pirang itu padanya.


Dia menolehkan kepalanya kearah datangnya suara tersebut.


"Peri Dryada ?", kata Bo Li kaget.


"Hati-hati !!! Dia adalah Murdhuacha yang menyamar menjadi tunanganmu untuk menyesatkanmu, Bo Li !", kata peri Dryada sambil menunjuk kearah pria berambut pirang itu.


Bo Li terdiam lalu mengalihkan pandangannya kearah pria yang mirip sekali dengan Ivander Liam, tunangannya.


"Apa yang sebenarnya sedang terjadi ini...?", gumam Bo Li pada dirinya sendiri.


Bo Li menatap tajam kearah pria yang berdiri tak jauh darinya dengan membawa sebilah pedang besar ditangannya yang selalu tersenyum kepada dirinya dan senyuman itu membuat Bo Li sangat kesal bila melihatnya.