
Bo Li terjaga dari tidurnya, di sebelahnya terbaring Ivander Liam yang terlelap tidur. Ini adalah hal baru bagi Bo Li menjalani kehidupan barunya sebagai istri.
Menemukan Ivander Liam, suaminya, yang akan selalu berada di sampingnya setiap hari ketika dia terbangun dari tidurnya.
"Oh tidak...", pekik tertahan Bo Li seraya menutupi mulutnya dengan kedua tangannya.
"Aku masih belum terbiasa dengan kehadiran Ivander Liam setiap aku bangun tidur selalu melihat dirinya...".
Bisik batin Bo Li ketika dia melihat Ivander Liam yang tengah tertidur pulas.
Bo Li beringsut turun dari atas ranjang tidurnya dengan kedua kaki berjinjit pergi menuju kamar mandi hotel.
"Peri Dryada !", panggil Bo Li berbisik pelan.
Klik... Klik... Klik...
Terdengar suara yang berbunyi gemerisik dari dalam tas milik Bo Li yang berwarna ungu lalu keluarlah sesosok peri kecil daun hijau terbang ke arah Bo Li.
Klik... Klik... Klik...
"Ada apa Bo Li kamu mencariku malam-malam begini ?", tanya peri Dryada.
"Aku ingin bertanya padamu, peri", sahut Bo Li.
"Apa yang ingin kamu tanyakan ?", ucap peri Dryada.
"Aku telah menikah peri...", sahut Bo Li.
"Kamu menikahi pria itu, Bo Li", ucap peri Dryada.
"Hmmm... Iya...", lanjut Bo Li.
"Ini sesuai tugas misi sistem Bo Li 115 yang ada di buku harian mu itu yaitu mendekatkan kamu dengan Ivander Liam, apakah kamu masih ingat misi itu ?", kata peri Dryada.
"Oh iya... Aku baru mengingatnya, peri...", sahut Bo Li.
TUGAS MISI DARI SISTEM BO LI 115 ADALAH MEMBUAT IVANDER LIAM DEKAT DENGAN ANDA ATAU TERASA LEBIH AKRAB ANTARA KALIAN BERDUA NONA BO LI...
Bo Li langsung mengingat tugas dari sistem Bo Li 115 ketika dia akan pergi menghadiri acara pesta malam itu.
"Iya, aku baru mengingatnya, peri", ucap Bo Li.
"Bukankah sangat jelas sekali tugas yang diberikan oleh sistem Bo Li 115 kepadamu bahwa kamu harus menuntaskan misi itu demi berhasilnya tujuanmu, Bo Li", lanjut peri Dryada.
"Mmm, iya, memang benar tetapi aku tidak mungkin memanfaatkan suamiku untuk mencapai tujuanku, peri", kata Bo Li.
"Tapi Bo Li, kamu bukan memanfaatkan hubungan kalian yang telah terjalin dekat ini melainkan berusaha agar kalian bersama-sama mencapai tujuan itu", ucap peri Dryada.
"Tidak... Tidak... Tidak mungkin, peri...", kata Bo Li terpejam.
"Anggap saja ini adalah cita-cita masa depan mu atau jadikan ini sebuah rencana terbaik yang ingin kamu raih di masa depan, Bo Li", ucap peri Dryada.
Bo Li mengingat lagi tentang tugas misi sistem Bo Li 115.
TUGAS MISI DARI SISTEM BO LI 115 DAN DALAM TUGAS INI AKAN ADA SERANGKAIAN TUGAS-TUGAS YANG MENGIRINGINYA DALAM PERJALANAN ANDA MENYELESAIKAN TUGAS SISTEM, ITU AKAN MENJADI TAMBAHAN UNTUK POIN ANDA SERTA AKAN MEMPERMUDAH ANDA MEMPEROLEH BONUS POIN YANG LEBIH TINGGI LEVELNYA, NONA BO LI", kata Sistem Bo Li 115 kala itu...
Kata-kata yang diucapkan oleh sistem Bo Li 115 masih terngiang jelas di kepala Bo Li dan sangat melekat di benak Bo Li hingga sekarang.
"Ya Tuhanku... !?", ucap Bo Li sambil mengusap wajahnya yang penuh riasan.
"Tidak ada pilihan lain untuk kita dan kita harus terpaksa mengambil keputusan ini dengan bijak, Bo Li", sahut peri kecil daun hijau.
"Aku tidak pernah berharap dia akan menjadi bagian dari misi ini, bahkan melibatkan dirinya pun aku tidak inginkan itu, peri", kata Bo Li.
"Mengapa !?", tanya peri Dryada.
"Karena memang aku ingin hubunganku dengan Ivander Liam benar-benar apa adanya bahkan niat untuk menikah dengannya pun tidak pernah terbersit di pikiranku, peri", sahut Bo Li.
"Apakah kamu berniat meninggalkan pria itu ?", tanya peri Dryada.
"Pada awalnya aku memang ingin pergi dan memutuskan pertunangan kami karena aku harus pergi ke negara asalku dan aku tidak pernah berharap Ivander Liam akan dekat denganku", sahut Bo Li.
"Apakah kamu takut kalau misi ini akan membahayakan dirinya, Bo Li ?", ucap peri Dryada.
"Mungkin peri...", kata Bo Li dengan mata terpejam rapat.
"Atau kamu telah jatuh cinta padanya hingga kamu menikahinya, Bo Li", ucap peri Dryada.
Kembali kata-kata dari sistem Bo Li 115 terdengar menggema di telinga Bo Li.
TUGAS MISI INI SANGAT BERNILAI TINGGI DENGAN MENYELESAIKANNYA MAKA ANDA AKAN MENDAPATKAN KEMAMPUAN LUAR BIASA UNTUK MELAWAN MUSUH-MUSUH ANDA DAN MEREBUT KEMBALI KERAJAAN KUOTA MILIK ANDA DARI MEREKA, NONA BO LI...
Bo Li terdiam menatap ke arah peri Dryada tanpa menjawab ucapan peri kecil daun hijau mengenai perasaannya.
Terdengar seseorang dari arah luar kamar mandi memanggil nama Bo Li, dan terburu-buru Bo Li memasukkan peri Dryada kembali ke dalam tas besar miliknya.
"Bo Li !", panggil suara dari luar kamar mandi hotel.
"Masuklah peri ! Dan jangan sampai dia melihat mu ikut bersamaku ke Helsinki ini, peri Dryada", kata Bo Li.
"Kamu tahu Bo Li", ucap peri kecil daun hijau dengan mata berkaca-kaca.
"Iya !?", sahut Bo Li.
"Aku tidak mampu bergerak leluasa bahkan bernafas dengan baik jika terus menerus berada di dalam tas ini", keluh peri Dryada memelas.
"Tapi aku tidak bisa membiarkan mu di luar terbang sekehendak hati mu seperti di kamarku karena bisa saja seseorang akan melihat mu, peri", sahut Bo Li cemas.
"Ijinkan aku untuk keluar dari dalam tas ini dan aku berjanji tidak akan ada yang melihatku, Bo Li !", pinta peri Dryada.
"Kamu akan bersembunyi terus di kamar mandi ini, peri Dryada", kata Bo Li.
"Ya, kalau tempat ini lebih baik buatku", ucap peri Dryada.
"Baiklah, baiklah... Aku ijinkan kamu untuk tinggal di kamar mandi sementara tetapi cepatlah bersembunyi jika Ivander Liam masuk ke dalam kamar mandi", kata Bo Li.
"Oh terimakasih Bo Li atas kebaikan mu", sahut peri Dryada.
Bo Li lalu membuka pintu kamar mandi untuk keluar, dia tersentak kaget melihat pria berbadan gagah itu berdiri tepat di muka pintu kamar mandi.
"Ivander Liam", ucap Bo Li.
"Hmm...", gumam Ivander Liam.
"Kenapa kamu bangun ?", tanya Bo Li sambil berkedip pelan.
"Seharusnya aku yang bertanya padamu, dan bukannya kamu, sayangku", sahut Ivander Liam seraya mengangkat kedua alisnya ke atas. "Kenapa kamu bangun malam-malam dan berbicara sendirian di dalam kamar mandi, Bo Li !?"
"Ak--aku tidak bisa tidur dan merasa gerah", ucap Bo Li beralasan.
"Gerah !?", kata Ivander Liam.
"I--iya...", sahut Bo Li gugup.
"Tetapi tidak perlu berbicara sendirian seperti itu di dalam kamar mandi sayangku", kata Ivander Liam.
Pria berambut pirang itu meraih tangan Bo Li lalu menatap tajam perempuan berparas jelita di depannya.
"Hmmm...", gumam Ivander Liam.
Tanpa Bo Li sadari tiba-tiba Ivander Liam mendorong tubuh Bo Li masuk ke dalam kamar mandi.
"A--apa yang kamu lakukan Ivander Liam ?", pekik kecil Bo Li.
"Entahlah sayangku, mendadak aku juga merasa gerah malam ini", sahut Ivander Liam.
"Ivander Liam !", ucap Bo Li menjerit pelan.
Ivander Liam langsung mengunci pintu kamar mandi dan terdengar suara air bergemericik mengalir dari dalam kamar mandi hotel.
Malam yang semakin larut menambah keromantisan hubungan antara Bo Li dan Ivander Liam sebagai sepasang suami-istri.
Kring... Kring... Kring...
Terdengar suara alarm dari arah ponsel membangunkan Bo Li.
Perlahan-lahan perempuan berparas jelita itu membuka kedua matanya seraya mengusap pelan.
"Pagi sayangku, sudah bangun", sapa Ivander Liam dari samping tempat tidur.
"Mmm... Iyah... Selamat pagi...", sahut Bo Li tersenyum lembut.
"Maaf sayangku, aku bangun pagi-pagi sekali karena aku hendak menemui calon klien perusahaan untuk rapat", kata Ivander Liam.
Terlihat Ivander Liam merapikan kemejanya yang berwarna ungu, pagi ini dia tampak elegan dengan pakaian kemeja panjang serta celana kain berwarna hitam.
Ivander Liam juga menyisir rambutnya yang berwarna pirang sangat rapi dengan sedikit pomade di rambutnya.
"Apakah kamu akan pergi lama !?", tanya Bo Li.
"Tidak, aku tidak lama menemui mereka karena kami mengadakan rapat di hotel ini, jadi aku tidak perlu keluar jauh, sayangku", lanjut Ivander Liam.
"Oh... Tapi tidakkah kamu sarapan dahulu... Bagaimana kalau aku memesan sarapan untuk pagi ini, Ivander Liam ?", tanya Bo Li dari arah tempat tidurnya dengan hanya berbalut kain selimut.
"Tidak perlu karena aku akan pergi sarapan sebelum rapat nanti di mulai", kata Ivander Liam.
Ivander Liam melangkah cepat ke arah ranjang tidur dan menarik tubuh Bo Li ke dalam pelukannya.
"Sayang... Bisakah kamu menawarkan menu sarapan yang lainnya sebelum aku pergi rapat ?", tanya Ivander Liam seraya membelai wajah Bo Li lembut.
"M--maksudmu !?", ucap Bo Li tergagap ketika Ivander Liam menatapnya gemas.
"Fuih !?", Ivander Liam mendesah pelan.
Ivander Liam memandangi tubuh Bo Li mulai dari atas tubuh hingga ke bawah dengan menggertakkan rahang-rahangnya.
"Aku berharap kamu menawarkan menu spesial di pagi hari untukku, sayangnya, aku tidak mendapatkan tawaran spesial itu dari mu", ucap Ivander Liam.
Pelan-pelan Ivander Liam menarik kain yang membalut tubuh Bo Li, terlihat senyuman tipis menghiasi wajah suaminya saat dia melihat tubuh polos Bo Li yang indah.
"Ivander Liam ! Bukannya kamu akan pergi rapat pagi ini !? Apa yang sedang kamu lakukan sekarang !?", kata Bo Li.
Bo Li berusaha menarik kembali kain yang tadi menutupi tubuhnya tetapi di tahan oleh Ivander Liam dengan cepatnya.
"Hmm... Masih ada waktu lima belas menit untuk menikmati sarapan spesial ini...", ucap Ivander Liam sambil tertawa kecil.
"Ivander Liam !?", jerit Bo Li saat Ivander Liam mendorong tubuhnya kembali ke atas ranjang tidur dan mulai menyerang Bo Li tanpa hentinya.
Terdengar nafas menderu-deru dari keduanya di pagi itu dan kembali mereka tenggelam dalam lautan cinta yang indah.
"Bo Li...", bisik Ivander Liam di tengah-tengah deru nafasnya yang menggebu-gebu.
"Emm...", sahut Bo Li yang menatap teduh ke arah Ivander Liam.
"Aku sangat mencintai mu sayangku, Bo Li...", ucap lirih Ivander Liam di telinga Bo Li.
"Ivander... Liam...", sahut Bo Li terpejam.
"Bo Li...", bisik Ivander Liam.
"Ivander Liam !", ucap Bo Li dengan merintih tertahan seraya mencengkeram erat ke tubuh Ivander Liam.
"Sayang...", sahut Ivander Liam.
Terdengar keduanya menjerit bersama-sama ketika mereka berdua saling menyatu.
Kecantikan Bo Li mampu menghipnotis Ivander Liam bahkan membuat seluruh waktu terpenting milik pria itu menjadi sering tertunda dan membuatnya ingin terus bersama dengan Bo Li.
Sekitar Dua puluh lima menit kemudian...
Ivander Liam telah bersiap-siap untuk berangkat rapat, sejenak mencium mesra Bo Li kemudian pergi meninggalkan kamar hotel.
Tidak ada ucapan dari pria berwajah tampan itu ketika keluar dari ruangan kamar hotel. Dan hanya meninggalkan Bo Li dengan selimut menutupi tubuh polosnya.
Cahaya matahari menyeruak pelan ke dalam kamar tidur Bo Li dari arah jendela kamar hotel yang tertutup tirai tipis warna putih.
Menerpa lembut wajah Bo Li yang tengah terbaring di atas ranjang tidurnya yang berukuran besar.
Suasana kamar menjadi hening kembali ketika Ivander Liam pergi dan hanya terdengar suara nafas Bo Li yang tertidur nyenyak.