
Bo Li mengeluarkan koper serta tasnya dari dalam kamar hotel bergegas pergi.
Disampingnya terlihat peri kecil Dryada serta roh bidadari penunggu selendang pelangi yang berjalan beriringan dengannya.
Ivander Liam telah pergi terlebih dahulu sebelum Bo Li selesai bersiap-siap karena dia hendak mengurus kepentingan mereka setelah lama menginap di Finlandia.
Dia juga hendak berpamitan dengan kliennya sebelum berangkat ke bandara.
''Apa kita akan pulang sekarang ?'', tanya peri Dryda.
''Hmm..., yah !'', sahut Bo Li.
Bo Li berjalan sambil mengenakan kaca mata hitamnya menuju lift hotel.
Mereka berencana ke loby utama Hotel GLO Kluuvi Helsinki turun lewat lift yang ada di lantai tempat kamar Bo Li dan Ivander Liam menginap.
''Banyak sekali koper yang kamu bawa pulang ke kota B-One !? Tidak bisakah kamu mengirimkannya lewat paket udara saja ?'', kata peri Dryda.
Peri kecil daun hijau itu melirik ke arah koper-koper yang Bo Li bawa memakai kereta khusus untuk koper.
''Ini ?'', sahut Bo Li sambil mendorong kereta.
''Iya, aku rasa ini sangat banyak dan berlebihan. Bagaimana caranya kamu akan membawanya sedangkan kargo pesawat bukannya sangat terbatas muatannya ?'', kata peri kecil itu.
''Kamu cukup mengerti banyak tentang pesawat, darimana kamu mendapatkan informasi mengenai pesawat ?'', jawab Bo Li.
''Majalah yang kamu berikan padaku, banyak informasi mengenai pesawat serta kendaraan khusus yang memuat penumpang manusia'', ucap peri Dryda.
''Apakah kita bisa terbang tanpa harus menaiki pesawat ?'', tanya Bo Li.
''Bisa saja, kita pergi lewat pohon ajaib Amethyst ungu'', sahut peri Dryada.
''Pohon ajaib Amethyst ungu ? Dimana ?'', tanya Bo Li sembari menolehkan kepalanya ke arah kanan dan kiri. ''Aku tidak melihatnya sekarang'', sambungnya.
''Letak pohon ajaib Amethyst ungu berada di dimensi lain. Apa kamu berniat pergi lewat pohon ajaib ?'', sahut peri Dryada.
''Boleh..., tapi hanya koper-koper serta tas yang begitu banyak ini yang pergi lewat pohon ajaib karena aku tidak mungkin pergi kesana...'', kata Bo Li.
Bo Li terus mendorong kereta kopernya hingga ke depan lift Hotel GLO Kluuvi Helsinki lalu berdiri memandangi pintu lift.
''Kamu bisa pergi bersama dengan Cǎihóng wéijīn lewat pohon ajaib agar lebih cepat, kebetulan juga kalian bisa mengawasi serta menjaga koper-koper ini'', kata Bo Li.
Bo Li memalingkan wajahnya ke arah peri Dryada serta Cǎihóng wéijīn yang berdiri di hadapannya menunggu perintah perempuan cantik itu.
''Aku tidak bisa menemani kalian pergi melalui pohon ajaib karena ada suamiku. Dan aku harus menemani Ivander Liam bersama-sama pergi dengan pesawat'', ucap Bo Li.
Bo Li meringis kepada peri Dryada serta Cǎihóng wéijīn.
''Bagaimanapun juga dia suamiku. Dan aku harus ikut bersamanya sampai pesawat mendarat di Kota B-One'', kata Bo Li.
''Lagipula dia akan mencarimu jika kamu tiba-tiba menghilang darinya dan semakin kacau nanti jika dia tidak menemukanmu'', sahut peri Dryda.
''Puih ! Sekarang aku memiliki suami yang harus aku jaga, tidak seperti dulu lagi, bebas kemana-mana sesuka hatiku'', kata Bo Li.
Bo Li menghela nafas panjang seraya tersenyum.
''Bagaimana kalau kami berdua pergi sekarang, Bo Li ?'', kata peri Dryda.
''Sekarang ?'', jawab Bo Li sambil menaikkan kedua alisnya ke atas.
''Ya, waktu tempuh perjalanan melalui pohon ajaib Amethyst ungu cukup lama daripada terbang menembus langit'', kata peri Dryda.
''Benarkah !?'', sahut Bo Li.
''Kami akan membawa koper-koper milikmu lewat pohon ajaib dan kami akan menunggumu di Kota B-One'', kata peri Dryda.
''Baiklah...'', ucap Bo Li.
''Selamat jalan, Bo Li ! Semoga perjalananmu menyenangkan ! Kami akan menunggumu dirumah !'', kata peri Dryda.
Peri Dryda mengeluarkan tongkat kecil ajaibnya lalu memutarkannya ke arah kereta koper.
WUSH... WUSH... WUSH...
''Apa ?'', ucap Bo Li tersentak kaget.
Saat dia melihat koper-kopernya menghilang dan berubah menjadi sebuah labu kuning besar.
''Kemana perginya koper-koper itu ?'', tanyanya tak percaya.
''Aku memasukkannya kedalam buah labu kuning itu agar ringkas membawanya karena menerbangkannya lewat pohon ajaib Amethyst ungu juga cukup kerepotan'', sahut peri Dryda.
''T--tunggu ! Tunggu ! Bagaimana jika nanti rusak ? Hadiah-hadiah itu sangat berharga dan sengaja aku pilih secara khusus sebagai oleh-oleh !?'', kata Bo Li.
Bo Li hanya pasrah memandangi buah labu kuning dihadapannya yang melayang-layang dikelilingi pelangi.
''Tidak perlu khawatir ! Barang-barang yang ada di dalam koper itu akan aman dan dijamin tetap baik kondisinya sampai ke tempat tujuan !'', ucap peri kecil daun hijau.
''Ba--bagaimana ? Bagaimana aku tidak merasa cemas ? Banyak barang berharga dengan kualitas tinggi yang aku beli dari Finlandia ini untuk kakek jika rusak ?'', kata Bo Li.
Kedua tangan Bo Li bergetar kuat saat melihat ke arah buah labu kuning itu.
Tidak terasa keringatnya bercucuran dari kening Bo Li.
''Percayalah ! Aman ! Dan aku jamin barang-barang dalam koper-koper itu terjaga dengan baik !'', sahut peri Dryada.
''Ta--tapi... ???'', ucap Bo Li yang masih terbelalak menatap buah labu kuning itu.
''Dagh ! Kami pergi dulu ! Semoga harimu selama di pesawat menyenangkan, Bo Li ! Maaf, tidak bisa berlama-lama lagi !'', kata peri kecil daun hijau.
''Tu--tunggu ! Tunggu ! Peri Dryada, tunggu !'', ucap Bo Li.
''Dagh... Bo Li !'', sahut peri Dryada.
Peri Dryada dan Cǎihóng wéijīn bersama-sama melambaikan tangan mereka ke arah Bo Li sebelum keduanya pergi menghilang dari ruangan Hotel GLO Kluuvi Helsinki menuju ke pohon ajaib Amethyst ungu.
Buah labu kuning berukuran lumayan besar itu turut menghilang dari pandangan Bo Li yang berdiri terkesiap dingin.
Mengkhawatirkan kondisi koper-koper miliknya yang telah berubah menjadi sebuah labu kuning.
Pintu Lift Hotel GLO Kluuvi Helsinki terbuka lebar.
Muncul Ivander Liam dari dalam lift hotel yang berjalan keluar sambil menatap lurus Bo Li yang berdiri dengan wajah pucat pasi.
''Bo Li !?'', sapanya.
Bo Li memalingkan mukanya ke arah Ivander Liam.
''Ada apa denganmu ? Kenapa kamu hanya diam saja ?'', tanya Ivander Liam.
''Aku ???'', sahut Bo Li.
''Iya, sayang'', kata pria tampan itu yang berdiri dengan kedua tangan berada didalam saku celananya.
Menatap teduh perempuan cantik dihadapannya yang termenung sendirian.
''Oh, tidak !? Aku ?? Aku hanya sedikit lelah setelah berkemas-kemas tadi !'', kata Bo Li.
Bo Li tersenyum manis ke arah Ivander Liam seraya berjalan menghampirinya.
Dia bergelayut manja di lengan Ivander Liam dan mengajak pria tampan itu menuju lift Hotel GLO Kluuvi Helsinki.
''Kita pergi sekarang ke bandara, sayang ?'', ucap Bo Li.
''Iya, kita berangkat sekarang juga karena pesawat akan segera lepas landas dua jam lagi'', kata Ivander Liam.
''Dua jam lagi ? Masih lama sekali !?'', sahut Bo Li.
Bo Li menekan tombol lift Hotel GLO Kluuvi Helsinki untuk turun ke loby utama hotel.
Pintu lift terbuka, Bo Li dengan cepat menarik tangan Ivander Liam untuk masuk kedalam lift.
Dia berusaha mengalihkan perhatian suaminya kepada koper-koper bawaan mereka yang kini telah menghilang dan telah berubah wujud menjadi buah labu kuning serta bersama-sama dengan peri Dryda dan roh bidadari penunggu selendang pelangi yang juga pergi dari Hotel GLO Kluuvi Helsinki ini.