BO LI, Wanita Mandiri, Tuan

BO LI, Wanita Mandiri, Tuan
Modifikasi Senjata



Peri Dryada membangunkan Bo Li yang terlelap tidur.


Dia menepuk kedua pipi Bo Li dengan lembutnya.


"Bo Li...", ucap peri Dryada.


"Hmmm...", gumam Bo Li sembari mengusap kedua matanya pelan.


"Kamu tertidur di pagi hari lagi", ucap peri kecil daun hijau.


"Iya, aku kelelahan peri", sahut Bo Li.


"Pergilah sarapan dan bersihkan dirimu !", ucap peri Dryada.


"Hoam !!!", Bo Li menguap seraya merentangkan kedua tangannya ke atas.


"Apakah kamu tidak memeriksa senjata api milik mu, Bo Li ?", tanya peri Dryada.


"Senjata api ku ?", Bo Li langsung teringat dengan senjata miliknya dan segera meloncat dari atas tempat tidurnya cepat.


Bo Li berlari ke arah laci lemari yang dia simpan mahkota miliknya di sana.


"Aku hampir melupakannya peri, kenapa kamu menanyakan senjata api itu ?", tanya Bo Li.


"Cobalah kamu periksa keadaan senjata milikmu, terutama pistol revolver itu", sahut peri Dryada.


"Oh, baiklah, aku akan melihatnya", ucap Bo Li.


Dia langsung mengambil mahkota miliknya dan memperhatikan mahkota di tangannya dengan seksama.



"Aku akan mengubahnya menjadi pistol revolver", ucap Bo Li.


Bo Li menekan permata Amethyst yang ada di mahkota miliknya, sekejap saja mahkota itu berubah menjadi pistol revolver.


"Lihat peri, pistol revolver itu berubah menjadi lebih berbeda dari biasanya dan semakin canggih", ucap Bo Li.


"Bukankah sedang diadakan festival di kota ini, bagaimana kalau kita pergi melihatnya", lanjut peri Dryada.


"Tapi aku harus meminta izin pada Ivander Liam karena sekarang dia adalah suamiku, peri", kata Bo Li.


"Rumit sekali jika telah menjadi seorang istri, tetapi alasan apa yang kamu katakan untuk pergi ke festival itu", ucap peri kecil.


"Mmm... Aku akan meminta izin pada Ivander Liam bahwa aku ingin jalan-jalan ke festival musim panas ini", sahut Bo Li.


"Bukankah kemarin kalian telah pergi ke festival, dan apa dia akan mengizinkannya lagi ?", tanya peri Dryada.


"Aku akan membujuk Ivander Liam", sahut Bo Li.


"Baiklah, itu semua terserah kepadamu dan sekarang kita lihat dimana festival yang mengadakan lomba menembak senjata", ucap peri kecil daun hijau.


"Perlukah itu ?", tanya Bo Li.


"Penting ! Itu untuk menaikkan tingkat levelmu supaya kamu dapat memperoleh senjata api lainnya tanpa perlu mengubah mahkota ini", sahut peri Dryada.


"Apakah tidak cukup aku mempunyai senjata dari mahkota ini ?", ucap Bo Li bertanya.


"Tidak, karena akan mempersulit dirimu saat menghadapi lawan-lawan tangguh mu nanti karena itulah aku menyarankan padamu untuk mengikuti lomba", jawab peri Dryada.


"Baiklah, aku akan mengikuti saran mu dan meminta izin pada Ivander Liam untuk pergi dari hotel ini", kata Bo Li.


"Iya, aku pikir itu idea yang cukup bagus", lanjut peri Dryada.


"Tetapi kita harus menunggu suamiku kembali dari rapat penting itu", ucap Bo Li.


"Sekarang kita modifikasi pistol revolver itu, Bo Li", lanjut peri Dryada.


"Bukankah pistol ini telah berubah dengan sendirinya dan termodifikasi", sahut Bo Li.


"Belum sepenuhnya termodifikasi dan masih memerlukan sentuhan lainnya untuk menyempurnakan senjata api itu", kata peri Dryada.


"Apa masih perlu untuk mengubahnya ?", tanya Bo Li.


"Iya, coba kamu lihat di samping pistol itu !", ucap peri Dryada.


"Apa ?", tanya Bo Li.


"Ada sebuah tombol khusus untuk mengubah pistol revolver menjadi lebih baru", sahut peri Dryada.


Bo Li memperhatikan pistol revolver miliknya, dia menemukan tombol yang terlihat menonjol berwarna ungu tua lalu menekannya.


DASH...


Pistol revolver milik Bo Li langsung berubah secara otomatis dan termodifikasi cepat, tidak butuh waktu lama pistol itu menjadi lebih sempurna dari sebelumnya.


"Wow ! Pistol revolver ini bentuknya luar biasa dan lebih cantik !!", ucap Bo Li.


"Cara menggunakan pistol revolver itu lebih mudah lagi", sahut peri Dryada.


"Benarkah ?", tanya Bo Li takjub.


"Iya, kamu bisa langsung mencobanya, Bo Li", jawab peri kecil itu.


"Ya, ya, ya... Aku akan mengoperasikan pistol revolver baru ini karena aku sudah tidak sabaran lagi untuk menggunakannya", kata Bo Li.


"Silahkan kamu segera mencoba pistol revolver itu, karena aku juga ingin melihat pistol baru punyamu, Bo Li", ucap peri Dryada.


Bo Li mengangkat pistol revolver modifikasinya dan mengarahkan lurus pistol revolver ke arah sebuah pohon yang ada di depannya.



"Fokuslah pada pohon yang ada di luar kamar hotel itu lalu tembakkan secepatnya pistol revolver milikmu, Bo Li", ucap peri Dryada.


"Hmmm... Iyah... Aku sudah melihat pohon itu, peri", sahut Bo Li.


"Sekarang tembakkan senjata milikmu itu tepat sasaran pada pohon di luar sana", lanjut peri Dryada.


"Baik, aku akan menembakkan pistol revolver ini", ucap Bo Li.


Bo Li mulai menghitung dalam hatinya dan pada hitungan ketiga, dia langsung menembakkan pistol yang ada di tangannya.


Dor...


Peluru Amethyst miliknya melesat cepat ke arah pohon yang ada di luar dan menembus tepat di batang pohon.


"Pistol ini sangat mudah sekali untuk di operasikan jadi masihkah membutuhkan modifikasi lagi", ucap Bo Li dengan posisi membidik.


"Iya, ada tiga level tetapi kamu telah mencapai tingkat level kedua jadi kamu tidak perlu untuk memodifikasinya lagi", sahut peri Dryada.


"Tetapi senjata milik aku masih pada level kedua belum mencapai pada tahap akhir, seharusnya masih harus diselesaikan lagi", ucap Bo Li.


"Level terakhir kita gunakan untuk memperoleh senjata api yang kedua, Bo Li", sahut peri Dryada.


"Bagaimana kita memperoleh senjata yang lainnya ?", tanya Bo Li.


"Pada lomba menembak akan ada pasar khusus untuk transaksi jual beli senjata api, disitulah kamu akan memperoleh senjata itu", sahut peri Dryada.


"Poin !", jawab peri Dryada.


"Poin ?", ucap Bo Li.


"Hmmm, iya...", sahut peri Dryada sambil menganggukkan kepalanya.


"Tetapi poin apa yang harus aku tukarkan dengan senjata itu ?", tanya Bo Li terkejut.


"Poin yang akan kamu dapatkan dari ajang lomba nanti dapat kamu tukarkan untuk membeli senjata baru di pasar senjata api nanti", sahut peri Dryada.


"Begitu ya, baiklah aku mulai mengerti", jawab Bo Li.


"Sekarang kamu bisa melatih menggunakan pistol revolver baru itu lebih terampil lagi, Bo Li", ucap peri Dryada.


"Iya, aku akan mencobanya lagi sambil menunggu Ivander Liam kembali dari acara rapat itu", sahut Bo Li.


Peri Dryada terbang ke arah atas lampu hias dan duduk.



Terdengar tembakan berulangkali dari senjata pistol revolver melesat keluar ruangan kamar hotel dan berhasil menembus batang pohon dengan jitu.


Dor... Dor... Dor...


Bo Li kembali menembakkan senjatanya hingga mengenai pohon yang ada di luar ruangan kamar Hotel GLO Kluuvi Helsinki.


"Apakah kamu tahu keampuhan pistol revolver terbarumu ini ?", ucap peri Dryada.


"Tidak, aku tidak tahu", sahut Bo Li.


"Sekali tembak maka target langsung mati di tempat", ucap peri Dryada.


"Benarkah ?", tanya Bo Li hampir tidak percaya.


"Coba kamu lihat ke arah batang pohon besar yang baru kamu tembak tadi !", sahut peri Dryada.


Bo Li mengalihkan pandangannya keluar ruangan kamar hotel.


Dia sangat terkejut melihat batang pohon besar itu berubah mengering dan keriput, perempuan berparas cantik itu berjalan pelan mendekat ke arah jendela kamar Hotel GLO Kluuvi Helsinki.


"Benar sekali, pohon besar itu berubah, peri", sahut Bo Li tercengang. "Apakah pohon itu mati ?", sambungnya keheranan.


"Mungkin saja...", sahut peri Dryada.


"Sayang sekali pohon sebesar itu menjadi mati", kata Bo Li.


"Biarkan saja", ucap peri Dryada.


Bo Li memandangi batang pohon besar dihadapannya dengan serius. Terbesit dipikiran perempuan berparas cantik itu perasaan sedih harus membayangkan akhir dari musuh-musuhnya seperti batang pohon besar yang ada diluar ruangan Hotel GLO Kluuvi Helsinki.


Sesaat dia memperhatikan pistol revolver yang ada di tangannya dan terdiam.


Menghela nafas panjang kemudian melempar pandangannya ke arah luar kamar Hotel GLO Kluuvi Helsinki.


"Apakah perjalanan ini masih panjang ke depan sedangkan aku tidak tahu bagaimana aku mencari iblis jahat itu, peri !?", kata Bo Li.


"Bukankah kamu mengatakan bahwa musuh yang kamu cari berada di negeri Kerajaan Kuota tempat asal mu, Bo Li !?", sahut peri Dryada.


"Tetapi aku bertemu Abiyyu, anak dari iblis Elmar itu", kata Bo Li.


Peri Dryada menatap Bo Li tanpa berbicara sepatah katapun.


"Dan aku merasa mereka sangat dekat denganku, tetapi aku tidak mengetahuinya dimana mereka berada", sahut Bo Li.


Bo Li mengembalikan pistol revolver miliknya ke dalam tas tanpa mengubahnya seperti wujudnya semula.


"Aku bertemu Murdhuacha saat pesta malam itu, peri", ucap Bo Li.


"Murdhuacha ?", sahut peri Dryada.


"Iya... Dan aku terlibat pertempuran dengan peri landak yang berubah menjadi mata merah dan dikuasai oleh iblis", kata Bo Li.


"Karena itukah sikapmu berubah, Bo Li ?", tanya peri Dryada.


"Aku hanya syok saat bertemu dengan Murdhuacha sehingga aku tidak memberitahukan kepadamu perihal itu", sahut Bo Li.


"Apa yang Murdhuacha lakukan di acara pesta malam itu ?", tanya peri Dryada.


"Mereka menghisap jiwa semua orang yang hadir di acara pesta malam itu bahkan membuat tubuh manusia menjadi mengering", kata Bo Li.


"Lantas kemana tubuh manusia yang mengering itu", lanjut peri Dryada.


"Seseorang pria misterius datang membantuku saat menghadapi Murdhuacha di acara malam itu untuk mengurus onggokan tubuh manusia yang telah mengering dan menyembunyikannya, entah dimana", kata Bo Li.


"Pria misterius !?", ucap peri kecil. "Apakah kamu mengenalnya ?"


Bo Li menggelengkan kepalanya kemudian membalikkan badannya ke arah peri Dryada yang tengah duduk di atas kap lampu meja hotel.


"Tidak... Aku tidak mengenalnya...", sahut Bo Li.


"Apakah kamu tidak mengenali ciri-ciri khusus dari pria misterius itu ? Mungkin saja kamu dapat mengenalinya", lanjut peri Dryada.


"Tidak karena wajahnya tertutup oleh sebuah topeng dari emas sehingga aku tidak dapat melihat wajah pria misterius itu", sahut Bo Li.


Tampak jelas tatapan tajam di kedua mata Bo Li kepada peri Dryada, perempuan cantik itu sangat serius saat memandang ke arah peri kecil daun hijau.


"Sayang sekali, dan ini semakin rumit permasalahan yang sekarang kita hadapi karena bertambahnya pria misterius itu", ucap peri Dryada.


"Kenapa ?", tanya Bo Li.


"Kenapa !? Karena kita tidak tahu pria misterius itu berada di pihak mana, sebab sifatnya masih tidak jelas dan abu-abu", sahut peri Dryada.


"Benar juga, meski dia terlihat sungguh-sungguh tetapi tidak jelas motif pria misterius itu yang sebenarnya...", kata Bo Li.


"Itulah yang aku khawatirkan, tidak tahu dimana letak posisi pria misterius itu, apakah dia lawan ataukah ada maksud tersembunyi dari pria itu", ucap peri Dryada.


"Tepat sekali, tidak jelas memang motif dibalik tujuan pria bertopeng itu", kata Bo Li.


"Apakah dia melihat tubuhmu yang transparan dan menjadi ungu ?", tanya peri Dryada.


"Bagaimana kamu dapat mengetahui kalau aku berubah menjadi berwarna ungu ?", sahut Bo Li.


"Saat bertempur kamu pasti akan menggunakan kekuatan Amethyst mu untuk melawan musuh mu karena tidak mungkin kamu memakai identitas aslimu saat menghadapi Murdhuacha", lanjut peri Dryada.


"Benar, aku memang mengubah tubuhku langsung berwarna ungu untuk menyembunyikan identitas asliku ketika menghadapi Murdhuacha", sahut Bo Li.


"Apakah pria itu mengenali wajahmu karena meski kamu mengubah wujud mu menjadi ungu dan transparan, tetap saja wajahmu akan jelas kelihatan !?", ucap peri Dryada.


"Aku memakai sebuah topeng saat aku berubah wujud tetapi saat aku melawan Murdhuacha aku tidak mengubah tubuhku menjadi transparan", kata Bo Li.


"Tidak masalah mengenai tubuhmu yang tidak transparan, yang terpenting wajahmu tertutup rapat oleh topeng, hal itu yang utama", sahut peri Dryada.


"Yah...", lanjut Bo Li sambil menghela nafas panjangnya kemudian duduk di atas ranjang tidurnya.


Menunggu Ivander Liam kembali dari acara rapatnya dan meminta izin pada suaminya untuk pergi ke acara festival musim panas yang masih berlangsung di Helsinki.