Arabella Secret

Arabella Secret
Merajuk


“Bekerja? Untuk apa kau bekerja sayang,” tukas Neal menatap istrinya  dengan menautkan kedua alisnya karena merasa heran saja dengan permintaan istrinya itu yang sangat tiba-tiba.


“Aku ingin bekerja seperti dulu lagi, aku selalu kesepian di rumah sendiri kalau kau bekerja,” rengek Ara mengusap dada Neal lembut lalu menyandarkan kepalanya disana berharap suaminya itu luruh. Walaupun dulu ia hanya bekerja sebagai seorang pelayan di kafe ia kembali merindukan kesibukan ketika sedang bekerja.


“Tidak sayang aku tidak suka kau bekerja, banyak hal yang bisa kau lakukan selain minta pekerjaansayang,” tolak Neal tegas.


Ara mengangkat kepalanya dan menatap suaminya dengan wajah sedih dan matanya mulai berkaca-kaca,” kau tidak memberi ijin,” tanyanya menatap lekat wajah suaminya dan dan Neal pun dengan cepat menggelenggkan kepalanya.


“Jahat.”


Ara pun segera turun dari pangkuan Neal dan pergi meninggalkannya begitu saja ia segera mengambil tasnya di atas meja lalu meninggalkan ruangan Neal tanpa bicara, Neal hanya menggelengkan kepalanya melihat istrinya yang tenagh merajuk lagi, ia membiarkan istrinya pergi tak mencpba untuk menahannya karena ia tau bujukan apa pun yang akan ia lakukan tidak akan mempan, ia segera menelpon Mark untuk menyuruh mengantar istrinya karena tak akan membiarkan Ara pulang dengan taksi.


Ara yang keluar dari ruangan Neal berjalan menunduk dan berusaha menahan air matanya ia tidak mau karyawan suaminya melihat ia menangis ternyata pikiran normalnya masih berjalan walaupun tengah merajuk seperti ini, ia tidak ingin membuat suaminya malu dan memberi tahu semua orang di kantor kalau ia sedang marah pada suaminya, ia baru saja tiba di lantai dasar ketika Mark datang menghampirinya dan menawarkan mengantarkan pulang dan Ara pun tidak menolaknya.


 Desas-desus dengan cepat berembus dari mulut ke mulut dan akhirnya hampir menyebar disetiap penjuru kantor, berita tentang Neal datang ke kantor dengan membawa seorang wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya menjadi bahan gosip yang sangat panas, terutama para wanita yang memuja Neal mereka yang berharap dapat menjadi nyonya dari pemilik perusahaan ini setelah mendengar kabar kalau Neal kehilangan istrinya, mereka yang selalu berlomba-lomba untuk tampil cantik dan seksi agar menarik perhatian bos mereka yang berwajah sanat tampan itu.


Ruang makan di kantor sedang sangat heboh membicarkan orang nomor satu di perusahaan itu seketika langsung mencekam saat melihat kedatangan Mark disana yamg tiba-tiba , ia tau gosip tentang Neal yang datang dengan Ara akan menjadi bahan pembicaraan karyawan di kantor karena begitu kembali setelah mengantarkan Ara ia langsung menuju ruangan makan yang biasa digunakan para karyawan untuk makan siang dan ia kembali pun tepat saat jadwal makan siang yang memang disediakan oleh perusahaan, tak ada yang berani menatapnya semua terlihat mencoba sibuk dengan makan siang masing-masing.


“Berhantilah bergosip tentang hal yang tidak kalian tau kebenarannya, jika saya masih mendengar ada yang membicarakan Tuan Neal dan istrinya saya akan memecat kalian dari kantor ini dengan tidak terhormat, dan jangan harap kkalian akan dapat melamar pekerjaan di perusahaan lain.”


Begitu selesai bicara Mark pun segera meninggalakn ruang makan, yang merasa ketakutan dengan ancaman Mark tak berani lagi untuk buka mulut hanya mencoba saling tatap dengan rekannya yang lain yang satu meja dengannya, tapi masih ada beberap yang masih berani untuk berkicau dan itu berasal dari meja wanita yang merasa kesal karena posisinya untuk mendapat kesempatan menadaptkan hati Neal harus kembali kandas karena ternyata diam-diam bos mereka meraka sudah kembali menikah.


****


Maria hanya bingung melihat menantunya datang ke mansionya dengan wajah sudah berurai air mata, ia berjalan dengan langkah tergesa menghampri Ara yang tangisnya semakin kencang saat melihatnya yang semakin membuat Maria bingung tidak tau situasi apa yang baru saja terjadi.


“Sayang, kenapa menangis,” tanya Maria lembut sambil mengusap punggung Ara yang sekarang tengah duduk bersamanya disofa runag tamu.


“Neal jahat Mom, ia tidak mengijinkan aku bekerja, aku sangat bosan bila tiap hari di rumah saja,” rengek Ara diselah tangisnya. Mendengar penuturan menantunya Maria menahan senyumnya karena tidak ingin Ara semakin merajuk dan ikut kesal pula padanya. “ Sayang, kamu itu lagi hamil tentu saja Neal tidak memberimu ijin,” Maria berupaya untuk membujuk menantunya itu.


“Tapi Ara baik-baik saja Mom,” tukas Ara yang masih ingin bersikeras untuk tetap ingin bekerja dan usaha Maria untuk terus membujuknya seprtiya tidak berhasil dan ia pun akhirnya menyerah akan membujuk Neal agar ia mengijinkan Ara untuk bekerja, dan itu berhasil karena wajah Ara yang tertekuk sedih berubah ceria kembali.


Maria pun mengajak Ara untuk makan siang karena memang sudah waktunya untuk makan siang, tapi acara makan siang terlihat kacau karena Ara yang memuntahkan setiap makan yang masuk ke dalam perutnya dan Maria pun mengajak Ara untuk  beristirahat di kamar yang dulu ditepati Neal sebelum menikah dan memang kalau mereka menginap di tempat ibunya mereka selalu tidur disana.


Menejelang sore Neal sampai ke mansion orang tuanya setelah berbicara dengan ibunya ia pun segera menemui istrinya yang masih beristirahat di kamarnya. Tanpa mengetuk pintu ia masuk dan melihat istrinya yang sedang berbaring di tempat tidur, ia pun kembali menutup pintunya kembali.


Neal segera mendudukan tubuhnya disisi ranjang  terlebih dahulu mengecup kening istrinya, merasakan kehadiran suaminya disana Ara yang masih kesal segera memutar tubuhnya mempunggungi Neal, walaupun itu bertolak dengan pikirannya yang ingin meloncat dalam pelukannya suaminya karena sudah sangat merindukan  walaupun baru berpisah bebrapa jam saja, tapi ia memilih mendahulukan egonya dari pada memilih bermanja - manja agar Neal mau mengabulkan keinginannya.


“Kenapa… ehmm,” ucap Neal sambil mengusap lembut rambut panjang istrinya yang terjuntai dan sedikit


kusut.


disana dan melingkarkan lengannya ke perut istrinya, tangannya mengusap-usap perut istrinya yang masih datar dengan lembut.


Karena hormon kehamilannya begitu merasakan hangat  dan aroma tubuh suaminya yang sangat membuatnya candu  akhirnya membuatnya  menyerah, ia pun langsung berbalik dan membenamkan wajahnya di ceruk leher Neal dan kembali menangis seperti anak kecil membuat Neal kembali menahan senyumnya.


“Kenapa, bayinya merindukan Daddynya atau mommynya yang merindukan ,” rayu Neal tak henti mengusap punggung istrinya dengan lembut.


“Jangan menangis sayang, nanti bayi kita ikut sedih dan menangis juga.” bujukan Neal seketika menghentikan tangis Ara dan menarik wajahnya  menatap wajah tampan suaminya yang berjarak beberapa senti saja dari wajahnya,” apa sudah boleh? kau sudah mengujinkan aku untuk bekerja,”tanya Ara masih belum mau menyerah.


“Pekerjaan seperti apa yang ingin kau lakuakn sayang." Neal akhirnya menyerah dengan keras kepala istrinya apalagi kata ibunya dia belum makan apa pun semenjak siang karena ia terus muntah setiap makan sesuatu.


“Natasya akan mengadakan fasion show untuk pergelaran busana rancangannya, dia membutuhkan model baru dan aku menawarkan diri untuk menjadi modelnya karena aku sangat ingin melakukannya sayang,” bujuk Ara dengan nada manja dan ekspresi yang membuat Neal tak mungkin tega untuk menolaknya.


“Nat akan mengijinkan aku ikut kalau kau memberiku ijin,” lanjut Ara sambil memandang bola mata segelap malam


suaminya bergantian jari tangannya tak henti membentuk pola-pola  absrak didada suaminya membuat Neal mendesah pelan ketika sesuatu dalam dirinya mulai tergoda denagn tingkah istrinya itu.


“Baiklah,” desis Neal sambiil mendorong istrinya hingga terlentang dan ia seketika menindihnya tapi tidak sampai menyakiti bayi yang ada dalam perut istrinya.


“Aku akan mengijinkan kau bekerja tapi tetap dalam pengawasanku karena aku tidak ingin kau dan bayi


kita sampai kenapa-kenapa.”


“Terima kasih sayang,” pekik Ara girang tak lupa menadaratkan kecupan singkat di bibir suaminya, saat Ara ingin melepaskannya tapi dengan cepat Neal menahan tengkuknya dan semakin memperdalam ciumannya, keduanya larut dalam ciuman panas saling membalas ******* dan bergumul di atas ranjang.


“Kakakkkkkk!!!!


 .


.


..


.


.


.


Bersambung