Arabella Secret

Arabella Secret
Perjuangan yang sedikit sulit


Natasya mulai sibuk di dapur ia memutuskan membuat sandwich saja dengan bahan seadanya, tak lupa ia membuatkan secangkir kopi untuk Mark , Ketika baru saja ia meletakan makanan diatas meja, Mark masuk ke dapur untuk minum, ia mengambil gelas dan menuangkan air putih hingga penuh lalu segera meneguknya.


“Hai Kak, kau sudah selesai olah raganya ayo kita sarapan,” ajak Natasya begitu manis. Mark melirik Natasya sambil meminum airnya.


“Apa aku tidak akan mati kalau memakan makananmu,” ucap Mark sinis sambil meletakan gelas minumnya.


“Aku tidak menaruh racun di dalamnya. Jika Kakak mati bagaimana aku bisa hidup,” ucap Natasya memasang wajah sedih.


Bisa saja tikus kecil ini menjawabnya.


“Kau tidak mencampurkan yang aneh-aneh pada makananya kan?” tanya Mark sambil menatap Natasya dan hidangan diatas meja bergantian.


“Mencampurkan sesuatu,” ulang Natasya dengan wajah bingung.


“Aku hanya memasukan bahan yang biasa untuk membuat sandwich walaupun ini tidak lengkap karena hanya ini yang ada di kulkas,” jelas Natasya dengan wajah serius.


Mark kembali melirik Natsay lalu menarik sebuah bangku di meja  itu lalu mendudukan tubuhnya disana, Natasya yang girang karena Mark mau memakan sarapan buatannya melonjak senang, ia ikut menarik sebuah bangku tepat di depan Mark, ia menatap pria itu dengan senyum lebar saat Mark mulai menyentuh makanannya.


Mark memperhatikan makan yang sudah dipegangnya lalu kembali melirik pada Natasya, terlihat sedikit keraguan dimatanya untuk mencoba makan itu, tapi karena perutnya memang sudah lapar habis berolah raga dan mintah diisi. Tak maslah ia mencobanya kalau tidak enak tinggal ia muntahkan lagi.


Perlahan Mark memasukan sandwich itu ke mulutnya dan memberikan gigitan yang cukup kecil diujungnya, perlahan ia mengunyahnya, begitu makan itu menyentuh indra pengencapnya Mark terkejut ternyata sandwich buatan Natasya begitu enak, ia kembali menggigitnya kali ini dengan porsi yang lebih besar.


“Bagaimana? Kakak suka masakanku?” tanya Natasya harap cemas. Tak ada jawaban keluar dari bibir Mark ia hanya melirik Natasya sekilas sambil mengunyah potongan terakhirnya. Melihat Mark yang diam Natasya menyimpulkan kalau Mark menyukainya, ia bertepuk kegirangan.


Tikus kecil bodoh kenapa ia sampai riang seperti itu.


"Pasti enaklah aku kan paling jago kalau memasak," ucap Natasya percaya diri.


“Aku lapar makanan apapun pasti akan aku makan,” ucap Mark setelah menelan habis makannya. Wajah Natasya seketika langsung berubah cemberut mendengar ucapan Mark. Mark meminum kopinya sambil melirik Natasya yang manyun." Rasakan aku akan selalu membuatmu kesal," bathin Mark tersenyum puas . Setelah menghabisakn kopinya ia pun pergi meninggalkan dapur tanpa bicara  pada Natasya.


“Beruang kutup sialan,” maki Natasya kesal. Ia menggigit sanwichnya dengan gigitan besar hingga mulutnya penuh ia menguyahnya dengan hati kesal seperti ingin melampiaskan pada makanan yang sedang disantapnya.


Natasya bersabarlah kau pasti akan memangkan hatinya walaupun begitu banyak cobaan yang akan kau hadapi, tetaplah semangat untuk beruang kutup yang tampan dan seksi itu.


Setelah menghabiskan sarapannya Natasya merapikan meja makan lalu mencuci piring dan gelas bekas makannya dan Mark dan  menaruhnya diatas rak disamping tempat cuci piring, walaupun Natasya satu-satunya wanita dalam keluarganya walaupun manja dan di rumahnya banyak pelayan yang siap melayaninya tapi Natasya tetaplah pribadi yang mandiri, ia sudah terbiasa melakuakan sendiri saat kuliah di inggris karena ia hanya tinggal sendirian di apartemennya.


Natasya kembali menyeret langkahnya dengan malas-malas ke kamar, ia harus segera bersiap untuk berangkat


ke Butik baju pengantin Ara harus kejar cepat ia selesaikan, setelah itu ia masih ada


kegiatan pemotretan untuk sebuah majalah fasion.


Natasya sampai ke kamar berpapasan Mark yang baru saja selasai mandi dan sedang keluar dari kamar mandi hanya memakai handuk saja menutupi tubuhnya dari pinggang sebatas lututnya, Sesaat


mata mereka saling bertemu, Natasya memalingkan wajahnya jengah walaupun ia


sering mencium dan memeluk Mark sesukanya tapi saat melihat ia dengan keadaan seperti itu membuat lututnya lemas   dan jantungnya berdetak cepat  terasa panas.


Walaupun ia sudah sering melihat tubuh berotot model pria yang sering melakukan pemotretan dengannya tapi tidak membuatnya malu, tapi saat melihat Mark bertelanjang dada membuat darahnya berdesir.


Natasya kuatkan dirimu ini pemandangan yang akan kau lihat tiap hari.


Mark dengan santai melangkah ke walk in closet sambil mengeringkan rambutnya yang basah, ia menarik sudut bibirnya membentuk senyum usil melihat Natasya yang merona


membuatnya harus melakukan hal yang akan membuatnya lebih malu lagi, biar dia


tidak tahan dan akhirnya menyerah keluar dari apartemennya dengan suka rela.


Melihat Mark yang sudah menghlilang masuk kedalam walk in closet ia pun masuk kemar mandi untuk memebersihkan tubuhnya, tak butuh waktu lama bagi Natasya untuk mandi ia pun selesai, ia merutuk kesal karena lupa membawa kimono handuknya terpaksa ia


memakai lagi baju bekas dipakainya tadi kalau tidak ingin malu keluar dari kamar mandi dengan handuk yang melilit tubuhnya ia tidak ingin Mark semakin mengejeknya


ingin menggodanya dengan tubuhnya, tentu ia tak mau karena ia ingin Mark menyukainya bukan karena itu tapi benar-benar ia mencintai dengan setulus hati,


walaupun ia sering memeluk dan bahkan mencium Mark sesukanya tapi sebenarnya


ia malu tapi ia membuang harga dirinya agar mendapatkan hati lelaki itu, tapi jurus yang ia pakai seprtinya tidak berhasil, makanya ia menurut pada saran Ara padanya.


Ia masuk ke walk in closet dan melihat Mark hendak memakai dasinya, Mark menatap kedatangan Natasya dari balik cermin didepannya, ia menghela napas kasar merasa aneh saja tiba-tiba hidup berdua seperti itu membuatnya seperti sudah menikah saja. ia


melihat Natasay sdang berjalan ke arahnya.


“Kak,  aku bantu ya memakai dasinya,” ucap Natsya menawarkan diri. Mark menahan senyum saat ia mengucapkan itu, ia merasa Natasya benar-benars sudah seperti istrinya saja menawarkan diri untuk memkai dasinya.


"Kembalikan, aku sudah bilang kalau aku bisa melakukannya,” bentak Mark dengan menyipitkan matanya menatap mengintimidasi Natasya agar takut padanya, tapi sayang sepertinya gadis itu tidak merasa gentar sedkit pun.


“Sudah, aku kan calon istri kakak jadi biar aku belajar agar terbiasa.”sahut Natasya mulai


memasangkan dasi itu ke leher Mark, tubuhnya yang tinggi membuatnya dengan mudah melakukannya


“Percaya diri sekali kau tikus kecil,” dengus Mark sinis sambil menatap Natasya dengan menautkan kedua alisnya, posisi wajah mereka begitu dekat membuat Mark dengan jelas melihat garis cantik wajahnya, hidung yang mancung, bibir merahnya yang penuh dengan dagu yang lancip, mata hezel kuning madu terlihat bulat bersinar, rambut lurus berwarna coklat kulit tubuh putih bersih dengan tubuh yang semampai membuatnya


seperti boneka hidup, wajar saja kalau ia menjadi salah satu model papan atas di negaranya.


“Tentu saja, optimis itu sangat perlu,” sahut Natasya sibuk memasang dasi Mark, sebenarnya ia merasa gugup apalagi ia dapat meraskan hembusan panas napas mark di ubun-ubunya, tapi ia berusah untuk menutupinya.


“Sudah selesai,” ucap Natasya tak lupa melabuhkan sebuah kecupan singkat dibibir Mark.


“Kau suka sekali menciumku tanpa ijin,”protes Mark menatap Natasya tajam kedua tangannya mencekal kedua lengan Natasya kuat. Satu tangannya merangkuh pinggang Natasya dan menariknya sehingga tak ada jarak diantara tubuh mereka, ia melepaskan cekalan tangannya pada lengan Natasya lalu berpindah pada dagunya dan mengangkatnya sehingga wajah Natsya mendongak tepat di depan wajahnya, melihat kilatan kemarahan di wahjah Mark membuat Natsya takut, ia mencoba membuang mukanya tapi Mark menahannya dengan kuat.


“Kenapa tak berani menatapku, kemana perginya keberanianmu tadi,” celah Mark.


“Karena kau begitu sengan menciumku sekarang giliran aku yang akan melakukannya,” lanjut Mark sambil


mengusap bibir Natasya dengan ibu jarinya, usapan Mark pada bibirnya membuat


Natsya kepanasan. Tapi ia tidak boleh lemah di depan Mark.


“Benarkah, ayo lakukan aku sudah tidak sabar kau melakukannya,” tantang Natasya berbisik  berusah menutupi kegugupannya.


Perlahan Mark melepaskan


pelukannya pada pinggang Natasya dan menjauhkan tubuhnya perlahan, tentu saja ia


hanya ingin mengoda Natsya tapi sepertinya wanita itu tidak takut dengan ancamannya, tapi ia masih banyak cara untuk mengusir wanita itu dari apartemennya, Mark pun melangakh kelaur dari walk in closet, begitu Mark pergi tubuh Natasya seketika lemas, ia bergantung pada meja risa didepannya, ia mencoba memegang jantungnya yang hampir meloncat-loncat disarangnya.


****


Sementar di Mansion Ara pun sedang membantu Neal memasnga dasinya denagn menjinjitkan sedikit kakinya, kedua tangan Neal merangkup pinggang istrinya menatap lekat wajah cantik istrinya dengan seulas senyuman tak lepas dari bibirnya.


“Sudah,” ucap Ara pelan menatap suaminya yang juga sedang menatapnya.


“Kenapa,” tanya Ara mengerutkan keningnya penasaran,


“Tidak, terima kasih sayang,” ucap Neal lalu menghadiahkan sebuah kecupan dikening istrinya.


Ara pun segra mengambil jas Neal dan memasangkannya ke tubuh suaminya, setelah selesai ia mencoba memastikan sekali lagi menampilan suaminya yang terlihat sangat tampan, Neal sudah mencukur jambangnya wajahnya sekarang sudah terlihat bersih, tapi walaupn dengan jambang diwajahnya suaminya itu juga tetap masih tampan, ia memang sangat beruntung sekali ia mendapatkan suami yang begitu tampan.


“Kenapa senyum-senyum,” tanya Neal mengandeng tangannya keluar dari walk in closet.


“Suamiku sangat tampan, aku takut saja wanita diluar sana akan merebutnya,” rengek Ara dengan suara manjanya.


“Tapi aku tidak tertarik dengan wanita diluar sana,” sahut Neal mengusap dagu istrinya gemas, tentu saja perkatan Neal membuat Ara begitu senang, ia merangkul kedua tanganya ke pinggang suaminya sambil mangikuti langkahnya.


“Sayang, aku akan memintah Karen untuk menemanimu lagi.”


“Benarkah, aku senang sekali tapi untuk sekarang tidak apa-apa ia bekerja di tempatmu saja karena aku masih ada Jessy yang menemani disini.”


"Baiklah terserah kau saja sayang.”


“Terima kasih sayang,” ucap Ara sambil mencium pipi suaminya.


.


.


.


.


.


Bersambung