
Senyum tak henti mengembang dibibir Ara begitu mereka memasuki tempat pameran yang sudah ramai oleh pengunjung, tangannya bergelayut ditangan Neal dengan sangat erat, seperti mengisyaratkan Neal tak boleh jauh
darinya, matanya membulat sempurna melihat begitu banyak perhiasan yang berkilauan dengan beragam model tersusun cantik dalam tempatnya masing-masing.
Perjuangan Ara dengan berurai air mata akhirnya membuahkan hasil, Neal yang tak tega melihat Ara akhirnya meneyerah dan mengijinkan Ara untuk ikut dengannya, dan jadilah mereka pergi berempat dengan Karen yang juga harus ikut begitu keinginan Ara tak juga tidak bisa ditolak, untuk memarahinya Neal juga tidak tega, apalagi saat menatap wajah polos istrinya yang memohon padanya sungguh membuatnya tidak berdaya dan berkutik. Walaupun ia juga merasa sedikit kesal dengan sikap istrinya itu.
Neal tersenyum kecil menatap wajah istrinya dari kejauhan yang terlihat begitu sangat bahagia, melihat wajah bahagia istrinya membuatnya ikut senang ada kepuasan dihatinya yang tidak bisa di lukiskan dengan kata-kata, ia terus mengamti Ara yang diikuti oleh Karen dibelakangnya. ia terlihat sangat bersemangat saling memberi komentar dengan Karen tentang perhiasan yang mereka lihat, seperti saat ini sebuah kalung cantik sedang berada di tangannya setelah ia memintah penjaga disana mengambilkan untuknya.
"Karen lihatlah ini sangat indah," puji Ara menatap kalung dengan hiasan batu rubi.
"Nona mintah saja sama Tuan pasti dia akan membelikan untuk Nona," bisik Karen.
"Kau ini bicara apa, ini pasti mahal, aku tidak mau, nanti uang Neal bisa habis gara-gara aku," tolak Ara kembali menyerahkan kalung itu, Neal yang sudah berdiri di belakang istrinya hanya tersenyum mendengar perkataan istrinya itu.
"Apakah kau menyukainya, kita bisa membelinya," ucap Neal tibi-tiba yang membuat Ara kaget dan menolehkan wajahnya pada suaminya.
"Tidak...aku tidak menyukainya," jawab Ara berbohong dan tentu asaj Neal tau istrinya itu sedang berbohong.
'Ayo Karen kita lihat yang lain,"ajak Ara sambil menarik tangan Karen .
"Nona, anda ini sungguh luar biasa ditawari perhiasan cantik begitu malah di tolak, sungguh susah mencari satu wanita sepertimu di jaman matrealistis seperti ini, perempuan bahkan rela menjual diri agar terlihat berkelas," bathin Karen sambil mengikuti langkah Ara.
Neal memanggil Mark yang berdiri beberpa Langkah darinya agar mendekat, ia kemudian berbisikan pada Mark. Mark menganggukan kepalanya pelan, kemudian segera pergi dan menghampiri Karen yang sedang berdiri disamping Ara, kemudian ia berbisik pada Karen agar tidak terdengar oleh Ara.
Neal saling tegur sapa dengan beberapa pengunjung yang sebagian besar adalah rekan bisnisnya, setelah selesai mengobrol Neal kembali mengalihkan padangannya pada Ara tapi ia tidak menemukan istrinya berdiri di tempatnya tadi, ia pun mengedarkan pandangannya sekeliling, tak butuh waktu lama ia menemukan istrinya sedang berbicara dengan Nathalie yang ternyata juga ikut hadir, melihat Karen tidak bersama Ara ia pun bergeges menghampiri istrinya itu, ia masih mencemaskan Ara jika berduaan saja dengan Nathalie.
Nathalie langsung menyapa Neal begitu melihat Neal berjalan menghampirinya dan Ara, ia menatap wajah Neal dengan seksama.
“Kau sangat tampan malam ini Neal,” puji Nathalie tanpa malu-malu dan tidak melepaskan tatapannya dari wajah Neal. Neal tidak menyaut ucapan Nathalie ia hanya tersenyum mendengar puijian Nathalie, Ara memperhatikan Nathalie yang sedang memandang suaminya membuat dirinya tidak suka dengan cepat ia melingkarkan
tangannya di lengan keker Neal dan satu tanganya mengusap lembut dada Neal. Tiba-tiba perhatian mereka teralihkan oleh suara seorang wanita yang memanggil Neal.
“Kak Neal,” sapa seorang gadis sambil bergelayut di tangan Neal yang satunya.
“Natasya,” sapa Neal menatap gadis disampingnya.
“Hai… Kak Ara,” sapa Natasya sambil melepaskan pegangannya pada Neal lalu segera memeluk Ara.
Tanpa bicara Ara membalas pelukan Natasaya ia sedang mencoba mengingat wajah gadis cantik yang sedang memeluknya ini.
“Kakak cantik sekali malam ini,” puji Natasya sambil melepaskan pelukannya dan mengamati Ara dengan seksama, Ara yang berusaha keras mengingat siapa Natasya akhirnya ia pun mengingatnya, Ara pun melepaskan napas
lega.
“Kau datang dengan siapa?” tanya Neal.
“Sendirian… ngomong-ngomong kak Mark mana Kak,” bisik Natasya sambil tersenyum lebar walaupun Natasaya berbisik pada Neal tapi Ara masih bisa mendengar dengan jelas perkataannya,
“Jadi Natasya menyukai Mark, kayaknya aku harus bersekutu dengan Natasya,”bathin Ara sambil menahan senyuman mengingat bagaiman ekspresi Mark kalau di goda oleh seorang gadis cantik yang agresif dan tidak pemalu seperti Natasya.
“Neal… Ara,” aku permisi dulu karena ada yang memangilku,” ucap Nathalie yang sedari tadi hanya diam, ia memeluk dan mencuim pipi Ara sambil mengucapkan selamat tinggal, tampak seseorang sedang menuju mereka, karena Nathalie bukan sekedar tamu disisni ia juga brand ambasodor salah satu produk yang ikut pameran. Mereka pun mengiyakan sambil menatap kepergian Nathalie.
Baru saja Nathalie pergi Mark dan Karen baru saja selesai dengan tugasnya datang menghampiri Neal dan Ara, Natasya langsung memasang wajah tidak senangnya melihat Mark datang dengan seorang wanita, itu semua tak lepas dari pengamatan Ara yang membuatnya menahan senyumnya. Tapi tidak dengan Mark ia hanya bersikap biasa bahkan ia hanya melirik Natasya sekilas.
“Hai Kak Mark,” sapa Natasya segera menghampiri Mark dan bergelayut manja di lengan keker Mark bahkan ia menyandarkan wajahnya di lengan Mark sambil melirik pada Karen.
“Natasya lepaskan tanganmu,” ucap Mark sambil berusaha menjauhkan tangan Natsaya. Ara menyembunyikan senyumnya di balik punggung suaminya. “Mark ternyata gunung es abadi, wanita secantik itu tidak bisa
melelehkannya,”bathin Ara.
Natasaya bersungut kesal sambil menghentakan kakinya pelan melihat Mark yang pergi menjauh darinya, Ara pun segera menghampiri Natasya sambil berbisik padanya.
“Tapi dia tidak menyukaiku sedikitpun,” ucapnya sedih.
“Aku akan membantumu untuk mendapatkan Mark,” tawar Ara sambil menatap bola mata Natasya yang
langsung berbinar senang mendengar perkataan Ara.
“Benarkah…Kakak akan membantuku?” ucap Natasya sambil memengang kedua tangan Ara dengan tatapan tak percaya. Ia memelankan suaranya agar tidak terdengar oleh orang di sekitar mereka.
“Tentu saja, tapi kita harus menyusn strategi dulu sebelum menaklukan beruang kutup itu,” ucap Ara sambil terkekeh, Natasya pun ikut tertawa.
“Tapi… apakah wanita tadi juga menyukai Mark,” ucap Natasya sedih sambil menatap Karen yang berdiri tak jauh dari Ara.
“Tentu saja tidak,i tu namanya Karen dia adalah asistenku,” jelas Ara sambil mengikuti arah tatapan mata Natasaya, kesedihan itu seketika sirna dari wajah Natasya berganti dengan senyum bahagia.
“Yes…aku dapat sekutu, Kak Mark kau tak akan bisa lari lagi,” bathin natasya tersenyum puas sambil memandang Mark yang sedang berbicara dengan Neal.
****
Mereka sampai di Mansion hampir tengah malam, Neal dan Ara segera menuju kamar mereka, Neal dan Ara bergantian menganti pakaian mereka. Ara segera membaringkan tubuhnya yang terasa begitul lelah sedangkan Neal mengambil minum untuknya.
“Apakah kau ingin minum juga,” tawar Neal sambil melirik Ara yang sudah berbaring di tempat tidur. Ara pun mengiyakan, Neal segera menghampiri Ara yang kembali mendudukan tubuhnya, Ara meneguk habis minuman itu lalu mengembalikan botol kosong itu pada Neal. Neal segera membuang botol itu di tempat samaph yang ada di sudut kamar, setelahnya ia merangkak naik ke tempat tidur dan mematikan lampu dan mengantinya dengan lampu tidur.
Neal segera membaringkan tubuhnya yang begitu lelah, ia segera memejamkan matanya, agar cepat tertidur, tapi gerakan gelisah Ara disampingnya membuatnya kembali membuka matanya.
“Kau kenapa?” tanya Neal sambil memiringkan tubuhnya pada Ara yang juga denag menghadap kepadanya.
“Apakah aku boleh memelukmu,” tanya Ara sedikit ragu.
“Kemarilah.” Neal berkata sambil melebarkan kedua tangannya, tanpa bicara Ara langsung menyandarkan wajahnya ke dada bidang Neal dan memeluk tubuhnya erat, Neal mengusap lembut rambut istrinya, tak butuh waktu lama ia mendengar hembusan napas Ara yang teratur ia pun mengangkat sedikit kepalanya dan benar saja Ara sudah tertidur dengan pulas.
“Kenapa dia manja seperti ini,”bisik Neal pelan, ia pun mencoba memejamkan matanya kembali, karena kelelahan Neal pun akhirnya tertidur.
****
Pagi-pagi suara tangis Ara sudah kembali membuat bising , karena saat ia terbangun ia melihat koper Neal sudah terletak di depan pintu keluar ia segera turun dari tempat tidur dan mencari keberadaan Neal di kamar, karena tidak menemukannya ia pun segera turun dan menemukan suaminya sedang sarapan ditemani oleh Mark. Neal tentu saja kaget melihat istrinya yang sudah menangis sepagi ini tanpa alasan.
“Neal… kau mau pergi?” tanya Ara diselah tangisnya, membuat Neal menghentikan sarapannya dan berjalan menghampiri istrinya yang berjarak beberapa Langkah saja darinya.
“Ayo duduklah,” ajak Neal lembut sambil menarik tangan Ara, tapi dengan cepat Ara menepisnya sehingga membuat Neal mulai kesal.
“Kau ini kenapa… seperti anak kecil saja,”bentak Neal yang membuat suara tangis Ara semakin kuat, sehingga Karen yang sedang sarapan bersama bebarapa pelayan langsung keluar mendengar bentakan Neal.
“Kalau kau pergi aku harus ikut, kau tidak boleh pergi tanpaku, ” ucap Ara diselah tangsinya.
“Karena aku pernah mengajakmu waktu itu, bukan berarti kau harus ikut denganku setiap aku pergi, aku bukan sedang liburan, jangan membuat aku kesal dengan sikapmu yang seperti anak kecil, ” bentak Neal. Wajahnya penuh dengan kemarahan saat menatap istrinya. Ia pun segera memerintahkan Mark untuk mengambil kopernya di kamar, sedangkan Ara berlari ke kamar sambil menangis ia begitu sedih saat Neal membentaknya. Neal hanya menatap kepergian Ara tanpa berminat untuk membujuknya karena ia sangat kesal deengan sikap istrinya itu.
.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa jempol nya 👍👍👍