
Begitu selesai makan siang, mereka segera meluncur mengunjungi rumah sakit tempat Noumi di rawat, Ara memprhatikan Neal sambil tersenyum yang sedang fokus mengemudikan mobilnya, ini pertama kalinya ia pergi berdua saja dengan Neal tanpa Mark yang selalu mengantar mereka kemana-mana, dan ini juga pertama kali ia melihat Neal mengemudikan mobilnya sendri, merasa diperhatikan Neal pun melirik Ara sekilas.
“Kenapa menatapku seperti itu..? tanya Neal sambil menggarut - garut keningnya yang tak gatal.
“Tidak…Bukan apa - apa…! " elak Ara mengalihkan pandangannya.
“Neal..." panggil Ara kembali menatap suaminya itu.
“Eeehhmmm…
“Boleh aku bertanya sesuatu..?" ucap Ara penuh kehati-hatian.
“Ada apa?" Neal manatap Ara dengan menautkan kedua alis matanya
“Kau punya hubungan apa dengan Mark, kenapa ia selalu ikut kemana pun kau pergi?” tanya Ara polos, Neal tersenyum geli mendengar pertanyaan istrinya yang terdengar ambigu ditelingannya.
“Kau berpikir aku memiliki hubungan dengan Mark? " tanya Neal menahan senyumnya.
“Maksudku bukan hubungan seperti itu... tapi dia...
“Hubungan seperti apa..? kau meragukanku…!” ucap Neal memotong pembicaraan Ara cepat dan menatapnya
dengan tatapan menggoda yang membuat Ara kelabakan.
“Kau masih meragukanku... bukankah aku sudah membuktikan padamu kalau aku ini pria normal atau kau sudah lupa dan ingin mengulangnya lagi,” goda Neal yang membuat wajah Ara memerah hingga ke telingannya.
“Maksudku bukan seperti itu, tapi hubungan pekerjaan," sahut Ara dengan suara manjanya sambil mengerucutkan bibirnya.
“Dia itu sekretarisku sekaligus orang kepercayaanku, karena itu ia selalu berada disisiku, kecuali saat tidur ia tidak ikut menemaani," sahut Neal terkekeh, Ara pun ikut tertawa mendengar perkataan Neal.
“Apakah ia sudah menikah?”
“Kenapa...kau ingin mencarikan istri untuknya?”
“Mana berani aku mencarikan istri untuknya….!" Ucap Ara sambl bergidik ngeri. Ia takut bukan karena wajahnya seram, Mark tampan ditambah lagi tubuhnya yang kekar dan berotot, sama seperti Neal mungkin ia lebih sedikit berotot dari Neal, tapi wajahnya itu datar tak ada ekspresinya, sudah berbulan-bulan kenal dengannya, tapi sepertinya Ara belum pernah melihatnya tersenyum.
“Kenapa wajahmu seperti itu..!" seru Neal heran.
“Mark akan memotong tubuhku kalau berani melakukan itu..!"
“Aku yang akan memotongnya duluan bila ia berani menyentuhmu..! kau tak usah takut dengannya mana berani ia padamu, bahkan kalau kau suruh dia memakai gaun dia akan melakukannya.., imbuh Neal tersenyum , Ara terpaku melihat senyum lepas Neal yang baru pertama kali ia melihatnya, Ara menyentuh pipi Neal tanpa melepaskan pandangannya, Neal balik menatapnya dengan senyum yang masih melengkung indah dibibirnya, ia membawa tangan Ara ke bibirnya dan mengecupnya lembut, dan itu Kembali membuat wajah Ara meronah,
Neal sangat senang melihat wajah Ara yang malu-malu seperti itu.
*****
Dua puluh menit dalam perjalanan akhirnya mereka sampai, Neal segera memarkirkan mobilnya, Neal memakai kaca mata hitamnya sambil turun dari mobilnya, Ara pun turun menyusul suaminya, Neal menggandeng
tangan istrinya saat berjalan memasuki rumah sakit itu, mereka melewati lorong rumah sakit yang cukup ramai oleh orang yang berlalu lalang, mereka pun menuju kamar perawatan anak yang tempatnya agak terpisah, tak lama mereka pun sampai di depan kamar perawatan Noumi, Ara pun mengetuk pelan, menunggu sebentar daun
pintu pun terbuka, pengasuh Noumi langsung tersenyum senang melihat kedatangan Neal dan Ara, ia pun menyuruh masuk, Noumi yang sedang duduk di tempat tidurnya terpekik senana memanggil Neal dan Ara.
Mereka memeluk Noumi bergantian, Noumi tak henti berceloteh dengan riangnya membuat Neal dan Ara tertawa melihat tingkahnya, obrolan mereka terhenti ketika seorang perawat mengantarkan makan untuk
Noumi, melihat pengasuh Noumi yang ingin menyuapinya Ara pun menawarkan diri untuk melakukannya, Noumi sangat senang disuapi oleh Ara ia memakan makannan itu dengan lahap,
“Sayanga…kamu harus banyak makan ya, biar cepat sembuh dan bisa kembali berkumpul dengan teman-temanmu lagi bujuk Ara sambil menyuapi Noumi, ia pun menganggukan kepalanya.
menghapus bayangan Anara dikepalanya, ia mendominasi disana, sungguh suatu perasaan yang sangat mengganjal dalam dirinya yang sedang berusaha ia temukan jawabannya, ada apa dengan hatinya, pikiran Neal berkelana jauh sekali.
Neal tersentak begitu bahunya di pegang oleh istrinya , ia sungguh benar-benar melamun sehinggga tak menyadari kehadiran Ara didepan matanya,” Kau kenapa..? kau baik-baik saja bukan?,” tanya Ara lembut dan diwajahnya penuh kekwatiran.
Dengan cepat Neal bangkit sambil tersenyum ia memegang puncak kepala Ara,”aku baik-baik saja." lalu ia melirik pada tempat tidur Noumi dan ternyata gadis kecil itu sudah tertidur, Neal mendengus kecil sudah berapa lama ia melamun sampai tidak menyadari sekelilingnya.
“Kita temui dulu Dokter yang menangani Noumi ya Neal..?" tanya Ara sambil menatap mata pria di depannya itu penuh harap. Ia tersenyum lega begitu melihat anggukan persetujuan dari Neal, keduanya beranjak ke tempat tidur Noumi dan memberikan ciuman perpisahan di keningnya, lalu pamit pada pengasuhnya dan meninggalkan ruangan itu.
Ara megetuk pelan pintu ruangan Dokter Sera setelah mendengar sahutan dari dalam perlahan Ara memutar hendel pintu, Ketika daun pintu itu terbuka matanya langsung bertemu dengan Dokter Sera, seketika keduanya tersenyum Dokter Sera pun bangun dari duduknya dan melangkah mendekat, Dokter Sera sedikit terkejut melihat kehadiran Ara tidak seorang diri, waluapun baru sekali ini bertemu langsung dengan pria yang sedang berdiri disampingnya itu, tapi Dokter Sera sudah bisa menebaknya, ia sering melihat wajah Neal menghiasi cover majalah bisnis yang terkenal, ia pun mengangukan kepalanya sambil tersenyum sopan.
“Silahkan masuk Tuan dan Nona Ara….!"
“Terima kasih Dokter Sera, sahut Ara ramah, ”perkenalkan ini Neal ..suamiku," imbuh Ara sambil melirik suaminya yang berdiri disampingnya, keduanya pun bersalaman, Dokter Sera kembali menatap wajah Neal yang datar saat bersalaman dengannya ,”Sungguh dua kepribadian yang bertolak belakang, guman Dokter Sera dalam hati sambil melirik Ara yang ramah dan ceria, ia pun mempersilahkan keduanya untuk duduk.
“Maaf Dokter...aku kesini hanya ingin bertanya bagaimana perkembangan Noumi," tanya Ara begitu tubuhnya telah duduk dengan sempurna dan berhadapan dengan Dokter Sera.
Dokter Sera pun menjelaskan kondisi Noumi dengan sangat mendetail, Ara pun mendengar penjelesan Dokter Sera
dengan serius, sesekali ia mengangukan kepalanya, ia pun bertanya tentang hal yang masih kurang dipahaminya, sedangkan Neal ikut mendengar tanpa bersuara,
“Lakukan yang terbaik Dok! " akhirnya terdengan suara Neal, Dokter Sera pun mengiyakana sambil menatap wajah
Neal dengan eskpresi yang masih sama sebelumnya.
“Ayo sayang…kita kembali aku masih banyak pekerjaan," ucap Neal sambil menatap istrinya, Dokter Sera tersenyum melihat sikap Neal yang langsung berubah saat berbicara dengan istrinya, tatapan yang penuh kehangatan, tak seperti saat menatap dan berbicara dengannya sangat dingim dan membekukan, Ara pun mengangukan kepalanya, baru saja keduanya bangun, pintu ruangan Dokter Sera terbuka, memeprlihatkan wajah seorang pria yang tak asing dimata ketigannya, Daniel melangkah masuk sambil tersenyum, dan senyum itu semakin melebar saat melihat kehadiran Neal dan Ara, matanya tak lepas menatap wajah Ara, tentu saja
pemandnagan itu membuat Neal tidak suka.
“Kalian…sudah mau pergi saja..!" sapa Daniel melihat Neal menarik tangan Ara keluar dari ruangan itu.
Neal menghentikan langkahnya tepat didepan Daniel. " Kami sudah selesai…!" Sahut Neal dingin lalu melanjutkan langkahnya, Daniel hanya menatap keduanya tersenyum mengangkat sudut bibirnya.
“Hubungan yang tidak hangat antara dua saudara..!" seru Dokter Sera menahan senyumnya.
“Kau melihatnya seperti itu...kami berdua sangat dekat," sahut Neal terkekeh sambil mendudukan tubuhnya di kursi didepan meja Dokter Sera.
“Ya..aku dapat melihatnya," sahut Dokter Sera membalas candaan Daniel yang membuat Daniel ikut tertawa.
“Mereka benar-benar pasangan yang serasi, Tuan Neal terlihat sangat mencintai istrinya!”
“Benarkah..!
.
.
.
.
.
.Bersambung