
Ara masih setengah tersadar ketika merasakan sesuatu yang hangat disampingnya yang sedang dipeluknya dengan erat, perlahan ia membuka matanya, netra coklatnya langsung bertemu dengan wajah suaminya yang masih terlelep, Ara menarik kedua sudut bibirnya melengkungkan sebuah senyum kebahagian, ia mengusap dada suaminya yang telanjang dengan ujung jarinya, wajahnya seketika merona mengingat bergumulan mereka semalam.
Tangannya berpindah ke wajah tampan suaminya, menyusuri garis wajah Neal yang tegas, menyentil hidung mancung suaminya dengan pelan,” kau masih terlihat sangat tampan dalam tidurmu,”ucap Ara mengangkat wajahnya dan menyandarkan dagunya di bahu tegap suaminya.
“Kau baru sadar kalau suamimu ini sangat tampan,” bisik Neal dengan suara serak khas bangun tidur, ia membuka matanya perlahan, netra hitamnya langsung bertemu dengan netra coklat terang istrinya.
“Selamat pagi istriku,” sapa Neal hangat lalu memberikan kecupan singkat dibibir istrinya, seketika wajah Ara merona dengan ekspresi malu-malu mendapatkan morning kiss dari suaminya untuk pertama kalinya, melihat wajah malu-malu istrinya membuat Neal sangat gemas.
“Selamat pagi suamiku,” balas Ara kemudian menyandarkan wajahnya di dada suaminya. Neal mendekap tubuh istrinya dengan erat mengusap punggung polos istrinya dengan lembut.
“Sayang hari ini kita kembali ke Moskow ya,”ajak Neal menatap lekat wajah istrinya.
“Hari ini?” tanya Ara sedikit kaget tidak menyangkah Neal akan mengajaknya kembali secepat itu.
“Iya sayang.” Neal mengusap lembut kepala istrinya, Neal memperhatikan keraguan yang terlihat jelas diwajah istrinya.
“Bagaimana dengan pekerjaanku disini, aku tidak mungkin pergi begitu saja.” Ara menyejajarkan wajahnya dengan wajah Neal.
“Kau bisa kembali kesana untuk mengundurkan dirimu, aku akan menemanimu.” Ara pun menganggukan
kepalanya, Neal tersenyum puas saat melihat istrinya yang menuruti keinginannya.
“Baiklah kalau begitu kita mandi dulu, setelah sarapan aku akan membantumu berkemas, bawah barang yang kau butuhkan saja.” Neal mengambil ponselnya diatas nakas memintah Mark membawakan baju ganti untuknya, Neal kembali meletakan ponselnya dan beranjak turun dari tempat tidur, Ara memekik kaget saat melihat Neal berdiri didepannya tanpa ditutupi sehelai benang pun ia menutup wajahnya dengan selimut yang masih membaluti tubuhnya.
Neal terkekeh melihat reaksi istrinya,” tidak usah malu sayang karena kau sudah melihhat semuanya dan juga telah merasakannya, ”goda Neal menarik selimut yang masih menutupi tubuh polos istrinya tapi Ara menahanya.
“Jangan Neal,”teriak Ara.
“Aku malu,” lanjutny sambil menundukan kepalanya membalutkan selimut itu kesekujur tubuhnya.
“Kenapa malu sayang aku ini suaminmu, ayo kita mandi.”
“Tidak kau duluan saja, aku…
“Neaall…..”teriak Ara ketika merasakan tubuhnya melayang takut terjatuh ia langsung melingkarkan tangannya ke leher suaminya.
“Aku bisa mandi sendiri,” Ara kembali mencoba menolaknya.
“Sayang, suamimu ini tidak menerima penolakan,” seru Neal sambil menarik selimut yang menutupi tubuh istrinya dan membuangnya asal, Ara kembali terpekik tapi Neal menyeringai penuh kepuasaan dan menggiring tubuh istrinya ke kamar mandi. Dan disana mereka kembali mengulang permainan mereka semalam. Satu jam kemudian mereka keluar dari kamar mandi tubuh Ara dibungkus jubah mandi sedangkan Neal hanya memakia handuk yang melilit dipinggangnya sambil mengeringkan rambutnya yang basah.
“Duduklah aku akan membantumu mengeringkan rambutmu,” tawar Neal pada Ara, Ara pun mengiyakan ia mendudukan tubuhnya disisi ranjang, Neal mulai mengeringkan rambut panjang istrinya dengan hati-hati, Ara menatap lekat wajah suaminya yang terlihat sibuk dengan rambutnya, hati Ara begitu hangat mendapat perlakuan yang begitu manis padanya, itu dulu hanya ada dalam mimpinya tapi kini semua menjadi kenyataan.
“Kau kenapa menatapku seperti itu,” tanya Neal menghentikan kegiatannya.
“Neal…aku merasa seperti sedang bermimpi saja, aku takut saat aku terbangun semuanya hanya ilusiku saja,” sahut Ara dengan mata berkaca-kaca.
Neal meletakan handuk ditanganya diatas kasur menangkupkan kedua tanganya kewajah istrinya, menundukan wajahnya menatap wajah istrinya yang begitu sendu,” Sayang…semua ini nyata, tak ada kepura-puraan lagi, aku suamimu seutuhnya dan kau juga istriku seutuhnya, aku akan mengulang lagi mengikat janji suci pernikahan denganmu begitu kita kembali ke Moskow.
“Ara memeluk tubuh Neal dan membenamkan wajahnya kedada suaminya,” aku hanya takut kehilangamu lagi karena aku sangat mencintaimu Neal.”
“Aku juga sangat mencintaimu sayang, jangan pernah berpikiran seprti itu lagi.”membalas pelukan istrinya mengecup puncak kepalanya istrinya.
Ara melepaskan pelukannya saat mendengar suara bel apartemennya,”Pakailah pakaianmu aku akan membuka pintu sepertinya itu Mark yang mengantarkan baju ganti untuku,” Ara pun mengiyakan ia pun beranjak mengambil baju dilemarinya. Neal memasang celana bekas yang dipakai kemaren lalu menggantungkan handuk ke tubuh kekarnya.
“Neal …”panggil Ara. Neal pun menghentikan langkahnya di depan pintu kamar.” Pakailah ini, aku tidak ingin kau kedinginan,” ucap Ara menyerahkan sebuah sweter ketangan Neal, Neal segera menyautnya dan memakainya dengan cepat, lalu segera beranjak keluar kamar menuju pintu keluar.
Neal pun membuka pintu apartemen Ara, tapi ternaya bukan Mark yang sedang berdiri didepan pintu, melainkan seorang wanita paruh baya ditangannya terdapat sebuah kotak makanan, wanita itu menatap Neal dengan menautkan kedua alisnya.
“Anda siapa?”tanyanya membuka suara.
“ Perkenalkan saya suaminya Ara,”Neal mengulurkan tanganya dan wanita paruh baya itu pun menyambut uluran tangannya Neal, tapi ia masih menatapnya dengan tatapan menyelidik.
“Silahkan masuk Nyonya, ada perlu apa mencari istri saya,”tanya Neal sopan.
"Anda benar suaminya Ara, tapi saya tidak pernah melihat keberaadaan adna selama Ara tinggal disini,” tanya wanita itu masih meragukan kebenaran ucapan Neal.
“Selamat pagi Nyonya, silahkan masuk,” sapa Ara ramah dan sopan.
“Terima kasih Ara .” Ia pun melangkah masuk, kemudian menyerahkan kotak makanan yang dipegangnya tadi pada Ara. "Aku membuat sup jamur kesukaanmu," ucap Nyonya Ivo tersenyum.
"Terima kasih Nyonya, ini merepotkan anda saja, hampir setiap hari mengantarkan makanan untukku," Ucap Ara merangkul pundak Nyonya Ivo tidak enak hati, wanita ini begitu baik padanya ada saja makanan yang diantarkan tiap hari pada Ara.
"Aku tidak pernah repot sayang, aku sangat senang melakukannya,"bantah Nyonya Iva, ia memang sangat suka sekali memasak, ia hanya tinggal dengan suaminya karena anak-anaknya tinggal di kota yang berbeda dengannya.
Neal menatap isrinya yang sedang berbicara dengan Nyonya Ivo, ia bernapas lega istrinya muncul disaat yang tepat, baru saja ia beranjak pergi dari sana Mark datang dengan membawa tentengan yang cukup besar ditanganya.
“Maaf Tuan saya terlambat, jalanan begitu licin aku tidak bisa mengemudi dengan cepat,” jelas Mark.
“Kau hampir membuatku membeku,” Sahut Neal segera meraih kontang ditangan Mark. “Masuklah,” ajak Neal.
Mark pun mengangukkan kepalanya.
****
Neal keluar dari kamar sudah berpakaian rapi, ia melihat istrinya masih mengobrol dengan wanita paru baya tadi, ia menatap kedatangan Neal tapi tidak dengan pandangan yang penuh selidik seperti saat pertama kali mereka bertemu. Mark duduk disofa satunya sibuk dengan ponselnya.
“Sayang, perkenalkan ini Nyonya Ivo ia tinggal di sebelah apartemenku,” Neal pun tersenyum ramah sambil
mendudukan tubuhnya disebelah istrinya.
“Maaf…tadi aku sempat meragukan ucapmu, aku hanya mengkwatirkan Ara saja ,” ucapnya berterus terang menatap Neal yang duduk disamping Ara.
“Bukan masalah Nyonya terima kasih sudah mengawatirkan istri saya dan anda juga begitu baik pada istriku,”
ucap Neal sambil menggengam tangan istrinya.
“Jadi kau akan membawa Ara Kembali ke Moskow, aku pasti akan sangat merindukannya,” tutur Nyonya Iva sambil menatap Ara sedih.
“Aku juga akan merindukanmu Nyonya. Ara beranjak pindah duduk disebelah Nyonya Ivo dan memeluk wanita itu dengan hangat Nyonya Ivo membalas pelukan Ara tak kalah hangat.
“Kalau kau berkunjung ke sini lagi jangan lupa mampir ketempatku,” ucapnya sambil mengusap punggung Ara lembut.
“Tentu saja Nyonya, terima kasih atas kebaikan anda selama ini padaku,” ucap Ara melepaskn pelukannya menatap wajah wanita paru baya itu dengan sedih.
“Tidak usah sungkan sayang, kau sudah aku aggap sebagai putriku sendiri,” balasnya mengusap lembut rambut panjang Ara.
“Anda juga boleh berkunjug ke tempat kami Nyonya ,” tawa Neal yang sedari tadi hanya mengamati interaksi istrinya dengan Nyonya Ivo.
“Terima kasih Tuan Neal,” jawabnya ramah.
“Baiklah kalau begitu aku permisi dulu, makanlah supnya selagi hangat sayang..” Ara pun mengangukan kepalanya, ia mengantar nyonya Iva sampai di ujung pintu, setelah ia pergi Ara pun menutup pintunya kembali.
"Tunggulah sebentar sayang, aku akan membuatkan sarapan untukmu," ucap Ara menatap suaminya yang masih duduk disofa mulai sibuk dengan ponselnya.
"Iya sayang," sahut Neal tanpa mengalihkan tatapan dari ponselnya. Ara pun beranjak pergi dari ruang tamu menuju ke dapur membuat sarapan untuk mereka bertiga.
.
.
.
.
.
Bersambung