
Para pelayan sudah tidak sabar menunggu kepulangan Arabella, mereka berbaris menunggu di depan pintu utama menyambut kedatangan nonanya lagi, mereka bersorak kegirangan saat Neal menelpon ke Mansion agar mereka merapikan kamar yang pernah ditepati Ara karena mereka dalam perjalanan pulang, dengan penuh semangat mereka merapikan kamar yang memang masih rapi walaupun tidak pernah ditepati lagi sejak kepergian Ara, karena para pelayan selalu membersihkannya setiap hari.
Mereka saling berbisisk saat melihat mobil yang membawa Ara masuk ke gerbang Mansion, tak lama mobil mewah berwarna hitam berhenti didepan pintu utama Mansion itu, Marcos kepala pelayan baru di Mansion membukakan pintu mobil, Neal keluar terlebih dahulu kemudian diikuti oleh Ara, Neal mengulurkan tangannya membantu istrinya keluar dari mobil.
Begitu kedua kakinya berpijak di Mansion itu lagi Ara mengedarkan pandangannya kesekelilingnya, rasa rindu akan tempat ini langsung terobati, beberapa bulan meninggalkan Mansion tak ada yang beubah, begitu pun semua kenangan yang pernah tercipta disini terlukis jelas dalam ingatannya.
Melihat istrinya yang terdiam Neal melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya sambil mendekatkan wajahnya ke telinga istrinya.
“Sayang selamat datang kembali ke rumah,” bisik Neal mesra, seketika Ara menolehkan wajahnya pada suaminya, kedua matanya sudah berkaca-kaca, ia menggigit bibir bawahnya sambil mengangukan kepalanya pelan, mencoba menahan air matanya agar tidak terjatuh tapi terlambat buliran bening itu lolos jatuh di pipi mulusnya, Neal menghapus air mata itu dengan ibu jarinya dengan lembut.
“Sayang, aku tidak ingin melihat ada lagi air mata jatuh di pipi ini,” bisik Neal lembut menatap lekat wajah istrinya.
“A-aku menangis karena terlalu bahagia, karena aku merasa seperti bermimpi saja bisa kembali lagi kesini .” Neal memeluk tubuh istrinya dan mencium pelipisnya.
Semua yang ada disana ikut terharu melihat adegan didepan mata mereka, para pelayan wanita ikut menangisharu saat melihat tangis Arabella walaupun itu tangisan kebahagiannya.
“Selamat siang Nona, selamat kembali lagi krumah,” sapa Marco sambil menunduk sopan pada Ara.
“Terima kasih,”sahut Ara lembut, ia menatap wajah pria paru baya yang wajahnya begitu asing dimatanya.
“Saya kepala pelayan baru di sini Nona,”jelas Marco dapat membaca pikiran Ara dari cara melihat tatapan Ara padanya, Ara pun menganggukan kepalanya.
“Sayang, Paman Marco bukanlah orang baru dia itu mantan kepala pelayan di rumah mommy, beberapa tahun yang lalu beliau minta pensiun dari pekerjaannya, tapi sekarang ia mau bekerja untuk kita lagi,”jelas Neal, saat masih melihat keraguan di mata istrinya.
“Oh, senang berkenalan denganmu Paman,”sapa Ara tersenyum ramah pada Marco.
Ara menatap para pelayan wanita yang sedang melambaikan tangan padanya, ia tersenyum senang sambil menghampiri mereka yang bersorak memanggilnya. Ara tertawa saat melihat mereka yang berebut saling mendahuli untuk memeluknya, Ara pun memeluk mereka satu persatu tak henti mengucapkan selamat kembali lagi ke rumah.
Sebelumnya para pelayan sangat terkejut saat mendengar kabar kalau Nona Ara yang mereka layani selama ini adalah istri pengganti Tuannya, karena tunangannnya sedang koma, Arabella istri Neal sebenarnya masih hidup, yang meninggal itu dalah tunangannya walaupun sedikit bingung tapi mereka sangat bahagia kalau Ara ternyata belum meninggal seperti yang ada dalam pikiran mereka, mereka pikir Neal tidak mau menepati kamarnya karena begitu sedih ditinggal mati oleh istrinya, tapi melainkan sedih akrena dinggal oleh Ara sang istri pengganti yang telah mmebuatnya jatuh cinta. Semua pelayan dimintah untuk tidak membuka mulut pada siapa pun tentang rahasia ini. Termasuk pada Arabella karena ia belum mengetahui kalau Anara sudah meninggal dunia.
Neal ikut tersenyum melihat kedekatan istrinya dengan para pelayan yang ada di Mansionya, perlahan ia mendekati istrinya yang masih mengobrol dengan mereka.
“Sayang,” panggil Neal. Ara menghentikan obrolannya dan menolehkan wajahnya pada suaminya.
“Sayang, aku harus kembali ke kantor ada pekerjaan yang tak bisa aku tinggal,” jelas Neal begitu berdiri didepan istrinya
“Baiklah, hati-hati dijalan,” sahut Ara sambil tersenyum.
“Kau pasti lelah istrirahatlah.” Ara pun menganggukan kepalanya, ia pun mengantarkan Neal menuju mobilnya sebelum masuk Neal mengecup kening istrinya dengan lembut. Ara melambaikan tangannya sampai mobil itu menghilang dari pandangannya.
“Ayo Nona saya antar ke kamar anda,” ajak Sarah sambil menarik koper Ara, Ara pun menyetujui ajakan Sarah. Ara pun mohon diri pada Marco sebelum melangkah masuk kedalam Mansion, para pelayan juga mengikuti langkah Ara begitu pun dengan Marco yang paling terakhir masuk.
Mereka benar-benar sangt mirip, tapi Arabella lebih terlihat keibuan, sedangkan Anara lebih tomboy, apakah itu yang membuat Neal mencintainya setengah mati.
****
Ara berdiri ditengan kamar sambil menatap sekelilingnya, sedikit pun tidak ada yang berubah, semua perabot masih ditata sama seperti saat terakhir kali ia melihatnya, ia melangkah ke tempat tidurnya dan mendudukan tubuhnya disana, ia mengusap lembut alas kasurnya lalu membaringkan tubuhnya disana. Air mata kembali membasahi pipi Ara, walaupun ia sangat bahagia dapat kembali kesini, tapi ia merasa bersalah pada Anara karena telah mengambil Neal dari tangannya, Anara pasti akan terluka sama seperti dirinya saat melepaskan Neal untuknya.
“Maafkan aku Anara,” lirih Ara dalam tangisnya. Mungkin karena kelelahan akhirnya ia tertidur.
Suara ketukan pintu membangunkan Ara, perlahan ia bangun dan mendudukkan tubuhnya disana, Ara menolehkan wajahnya ke pintu saat mendengar pintu yang terbuka, ia tergelonjak melihat Karen yang berdiri disana.
“Karen,” Seru Ara dengan wajah haru sangat bahagia melihat gadis itu.
“Selamat sore menjelang malam Nona,” teriak Karen sambil berlari mengampiri Ara, keduanya berpelukan dengan sangat erat. Karen menangis terisak-isak dalam pelukan Ara.
“Aku kira aku tidak akan bisa lagi bertemu dengan anda Nona,” ucap Karen diselah isaknya.
“Anda tega sekali meninggalkan aku seperti itu, Nona hampir membuat jantungku terlepas.”
“Aku selalu menyusahkan kamu saja.” Suara Ara terdengar begitu sedih, pasti karen merasa tertekan karena ia kabur dari pengawasannya.
“Anda tidak pernah menyusahkan saya Nona,” bantah Karen cepat.
“Kau pasti melewati hari yang begitu sulit setelah itu, maafkan aku…aku pikir saat itu adalah itu jalan keluar yang terbaik, karena aku tau akan posisiku.”
“Apa yang harus aku lakukan untuk dapat menebusnya kepadamu,” pinta Ara menatap mata Karen bergantian.
Karen mengusap air matanya sambil melengkungkan senyum diwajahnya,” jadilah Nonaku lagi dan jangan pernah
kabur lagi dariku, karena kalau Nona melakukannya lagi aku tidak mau jadi teman Nona lagi selamanya.”
Ara tertawa saat mendengar persyaratan yang diajuhkan oleh Karen,”Hanya itu saja,” tanya Ara. Karen pun menganggukan kepalanya tersenyum lebar.
“Baiklah aku berjanji, tapi dari mana kau tau kalau aku sudah kembali,” tanya Ara penasaran.
“Tuan Neal yang mengatakannya padaku, aku bekerja di kantor pusat selama anda pergi Nona, tadi begitu Tuan sampai di kantor beliau memanggil saya dan memintah saya untuk menemani Nona,” jelas Karen begitu bersemangat.
“Tuan benar-benar sangat mencintai Nona.”
“Dari mana kau tauh Karen,” kekeh Ara menyentil kening Karen..
“Tentu saja aku tau Nona, Tuan sudah seperti orang gila saat Nona pergi, ia selalu berteriak-teriak memanggil nama anda Nona dan memintah anda untuk kembali ke sisinya, wajah Tuan yang sudah dingin bertambah menjadi empat kali lipat, sebentar saja berdiri didekatnya kami bisa membeku.”
“Apakah kau dimarahinya karena ulahku, ”tanya Ara tidak enak hati.
“Marah sedikit saja,” sahut karen sambil menunjukan ujung jarinya. Keduanya pun tertawa.
“Sebaiknya Nona mandi dan makan segera makan malam, karena malam ini Tuan pulang terlambat karena beliau harus menghadiri sebuah acara.
“Baiklah…tapi apakah kau akan tinggal disini lagi?” tanya Ara harap cemas karena ia sangt berharap Karen tinggal disini lagi seprti dulu.
“Tidak nona, aku sekarang tinggal di apartemenku.”
“Ohh…baiklah kalau begitu.” Ara sedikit kecewa saat mendengar jawabanKaren tidak akan tinggal bersamanya.
“Baiklah Nona kalau begitu saya pulang dulu, sampai jumpa besok ya,” Karen beranjak bangun dari tempat tidur di ikuti oleh Ara. Sebelum pergi karen kembali memeluk Ara baru melangkah keluar dari kamar, setelah kepergian karen Ara pun pergi untuk mandi.
.
.
.
.
Bersambung
Kemarin gak up,
tapi ntar kalau banyak dapat like kita up lagi 😅😅
www.ngarep.com
kwkwkw 🤣🤣🤣