
Setelah selesai sarapan Ara pun mengantarkan Neal yang sudah ditunggu oleh Mark yang lebih dahulu masuk kedalam mobil, setelah mengecup kening istrinya ia pun masuk ke dalam mobil, Ara pun melambaikan tangannya ia pun menunggu sampai mobil itu menghilang dari pandangannya lalu masuk kembali ke Mansion dengan senyum senang tak sabar menunggu teman barunya, selama ini kalau di Mansion ia hanya di temani oleh Sarah karena umur mereka yang tak jauh berbeda, tapi semua maid di Mansion terlalu sungkan padanya yang membuatnya kurang nyaman untuk berteman , walaupun sudah berulang kali Ara mengingatkannya.
Semenatar Neal yang sedang berada dalam mobil menyuruh Mark untuk menelpon asisten baru istrinya untuk menemuinya terlebih dahulu di kantor sebelum bertemu istrinya. Setelah setengah jam perjalanan mereka pun sampai ke kantor, beberapa karyawan yang sudah datang langsung memberi hormat dengan menundukan kepalanya melihat kedatangan orang nomor satu di perusahaan itu. Beberapa karyawan wanita merapikan penampilannya tak lupa untuk menonjolkan asset mereka berharap dilirik oleh bosnya yang tampan dan penuh pesona itu. Neal hanya menganggukan kepalanya tanpa memperlihatkan sedikit senyum diwajahnya, ia terus melangkah masuk kedalam lift khusus untuk CEO yang diikuti oleh Mark yang memasang wajah garangnya, seketika membuat nyali karyawana wanita disana menciut.
Begitu pintu lift terbuka Neal pun melangkah menuju ruangannya, ia melihat seorang wanita sedang menunggu di meja sekretarisnya, Neal memang memiliki dua orang sekretaris untuk membantunya, karena Mark bukan hanya sekedar sekretaris baginya tapi juga tangan kanannya. Kedua wanita itu pun menyapa Neal dengan hormat, Mark memberi kode kepada Karen untuk mengikutinya masuk ke dalam ruangan Neal.
Neal menatap Karen yang berdiri di depan meja kerjanya, Karen merasa sedikit gugup ditatap oleh Neal, ia memang sudah bertemu beberapa kali dengan bosnya itu. Karen bekerja di salah satu kantor cabang Neal,
tapi mungkin Neal tidak mengingatnya.
“Kau yang bernama Karenina?” Tanya Neal tidak menunjukan wajah ramah sedikit pun.
“Iya Tuan,” sahut Karen cepat tapi tegas.
“Kau sudah tau dengan tugas yang akan kau lakukan?” tanya Neal lagi masih menatap Karen dengan tatapan mengintimidasi. Ia ingin melihat sampai dimana keberanian Karen agar bisa menjaga istrinya dengan baik.
“Saya sudah paham Tuan, karena Tuan Mark sudah menjelaskan semuanya kepada saya,” sahut Karen. Menatap Neal yang melibat kedua tangannya ke dadanya.
“Baguslah… Mark juga sudah menceritakan sedikit tentangmu kepada saya sebelum kau terpilih untuk menggantikan Peter, walaupun sekarang kau tidak bekerja di Perusahaan, tapi saya akan menggajimu dua kali lipat dari sebelumnya, kalau kau bisa menjaga istriku dengan baik,” jelas Neal penuh penekanan.
“Baik Tuan, terima kasih. Saya akan menjaga Nona dengan nyawa saya,” tegas Karen penuh percaya diri.
“Mungkin Mark sudah bercerita tentang pernikahan saya kepadamu, dan ia juga sudah menjelaskan banyak hal tentang tugasmu. Perlu kau ingat walaupun dia hanya sebagai penganti Anara, kau harus menjaganya dengan baik karena sekarang dia adalah istri saya. Dan jangan sampai istriku mengetahuinya kalau kau sudah tau rahasia pernikahan ini, bagitu pun orang lain, karena kau sudah tau konsekuensi yang akan kau terima.”
“Lakukan tugasmu dengan sebaik-baiknya, satu hal lagi yang perlu kau ingat... jangan terlalu bersikap formal kepadanya karena istriku tidak menyukai orang yang terlalu hormat kepadanya, perlakukan dia sebagai seorang teman, karena ia lebih butuh seorang teman dari pada seorang asisten, tapi kau harus tetap menjaga kesopananmu jangan bertindak terlalu berlebihan sehingga kau tidak menghormati istriku. Saya rasa kau paham apa yang saya maksud.”
“Iya Tuan, saya paham apa yang Tuan Maksud,” sahut Karen sopan.
“Baiklah… kau boleh langsung bertemu istriku ia sudah menunggumu.”
“Baik Tuan.. saya permisi,” ucap Karen sambil menundukan kepalanya lalu melangkah keluar dari ruangan Neal.
****
Arabella sedang berada di perpustakaan, kalau sedang di rumah itu adalah tempat favoritnya, karena Ara memang sangat gemar membaca buku, ia sedang berbaring di sofa sambil membolik – balik sebuah majalah Fasion yang sangat terkenal. Ia mengangkat wajahnya dari majalah yang sedang dibacanya ketika terdengar ketukan pintu, ia pun menyahut dan menyuruh masuk dan kembali melanjutkan membaca majalah di tangannya.
“Selamat pagi Nona…maafkan kalau kedatangan saya menggangu waktu santai anda Nona.”
Ara menutup majalah yang sedang dibacanya sambil mengalihkan pandangan kesumber suara. Ia melihat seorang wanita yang masih muda sedang berdiri di depannya. Ara mengamati penampilan wanita itu dan bangkit dari tidurnya.
“Maaf Nona… mungkin Nona belum mengenal saya… saya adalah asisiten baru anda, mulai sekarang saya yang akan mengantar kalau Nona akan berpergian,” jelas Karen dengan sopan.
Senyuman melengkung indah di bibir tipis Ara saat mengetahui siapa yang sedang berdiri didepannya. “Kau orang yang akan mengantikan Peter?” Tanya Ara dengan tatapan tidak percaya. Wanita yang sedang berdiri didepannya saat ini masih sangat muda, wajahnya begitu manis. Sekali lagi Ara menatap penampilan wanita itu dari ujung rambut sampai keujung kakinya.
“Iya Nona… Perkenalkan nama saya Karenina, Nona boleh memanggil saya Karen,” sahut Karen tersenyum sambil menatap wajah Nona mudanya. ”Istri Tuan Neal ternyata cantik sekali,” guman Karen dalam hati.
“Senang berkenalan denganmu Karen, perkenalkan nama saya Anara,” ucap Ara sambil mengulurkan tangannya. Karen kaget melihat sikap ramah yang ditunjukan, Ara bahkan ia lebih dahulu yang mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan dengannya. Ia pikir semua itu hanya cerita Mark padanya tentang istri tuan Neal yang sangat ramah, tapi itulah kenyataan yang dilihatnya sekarang. Dengan cepat Karen menyambut uluran tangan Ara.
“Jangan terlalu sungkan denganku, aku tidak menyukai orang-orang yang terlalu hormat kepadaku, bersikaplah biasa saja,” jelas Ara menatap Karen dengan senyum bersahabat.
“Kau masih sangat muda, mungkin saja kita seumuran… jadi bagaimana kalau kita berteman saja,” tawar Ara tersenyum lebar.
“I-iya Nona… saya bersedia jadi teman anda,” sahut Karen gugup. Apa yang diceritakan Tuan Neal padanya benar adanya.
“Kalau begitu aku akan mentraktirmu untuk merayakan pertemanan kita” ucap Ara dengan wajah riangnya.
“Tidak Nona…anda tidak perlu melakukan itu,” tolak Karen sopan.
“Jangan menolakku,” tepis Ara. Karen tidak bisa menolak lagi dan akhirnya menerima ajakan Ara. Dan ia pun tak bisa menolak Ketika Ara meminta menceritakan tentang dirinya, dan Karen pun mulai bercerita walaupun ia harus menambahkan bumbu kebohongan disana agar tidak membuka jati dirinya yang sebenarnya, tentu hal itu tidak akan diinginkan oleh Neal. Dan ia sukses membuat Ara percaya dengan ceritanya.
****
Keduanya segera meluncur menuju salah satu pusat berbelanja yang sangat terkenal menjual brand yang terkenal di dunia. Keduanya berjalan beriringan sambil mengobrol dan sesekali terdengar suara tawa terselip disana. Karen memposisikan dirinya sesuai dengan apa yang telah di intruksikan kepadanya. Karen mengikuti langkah Ara ketika masuk ke salah satu toko disana. Sejak menikah dengan Neal ini untuk pertama kali ia pergi shoping karena selama ini semua kebutuhannya sudah tersedia dan tinggal memakainya saja.
Seorang pelayan toko langsung menghampiri meraka dan menyapa dengan ramah. “Karen… nanti malam aku dan suamiku akan menghadiri acara pertunangan sepepunya, kau bantu aku mencari gaun yang cocok untuk aku pakai menghadiri acara itu."
"Baik Nona."
Mereka mulai memilih gaun dan di bantu oleh pelayan yang ada disana. Beberapa gaun yang dipilihkan oleh pelayan itu di tolak oleh Ara karena ia tidak menyukaianya karena terlalu terbuka, akhirnya mata Ara tertujuh pada sebuah gaun dengan desain sederhana tapi terlihat anggun dan mewah.
"Karen... apakah gaun ini cocok denganku?” Tanya Ara sambil menunjukan sebuah gaun pada Karen.
Karen mengamati gaun panjang berbahan sutra tanpa lengan berwarna marron yang ada ditangan Ara,”bagaimana kalau Nona coba dulu gaunnya,”sahut Karen sambil mendekat pada Ara. Ara pun menyetujui pendapat Karen, ia pun menuju ruang ganti dan ikuti oleh Karen dan salah satu pelayan yang melayani mereka dan juga masuk kesana untuk membantu Ara mengenakan gaun itu. Setelah terpasang dengan sempurna Ara pun melangkah keluar untuk memperlihatkan pada Karen. Mata Karen membulat sempurna saat melihat Ara keluar dari ruang ganti, gaun itu sangat pas melekat di tubuh Ara warna marron sangat kontars dengan kulit putihnya.
“Nona anda cantik sekali.” Karen berkata sambil mengitari Ara. “Apakah aku pantas memakainya?’Bisik Ara. Karen terkekeh mendengar pertanyaan Nona mudanya. "Orang buta saja pasti setuju dengan pendapatku Nona, anda terlihat luar biasa cantik," puji Karen tanpa melepaskan pandangannya.
"Kau terlalu berlebihan Karen," sahut Ara sambil tertawa.
“Tuan Neal tak akan berkedip saat menatap anda Nona,” ucap Karen yang membuat Ara tersenyum malu.
“Sudahlah kau terlalu berlebihan memujiku…. Sekarang saatnya kau memilih pakaian untukmu,” perintah Ara pada Karen yang membuatnya kaget .
“Tidak Nona… aku tidak akan ikut dengan anda jadi aku tidak perlu membeli gaun,” tolak Karen sopan. Mana berani ia ikut memilih gaun disana karena ia tau berapa harga untuk satu gaun, bisa untuk biaya makannya berbulan -bulan.
“Sekarang kita cari sepatu dan tas yang cocok untuk gaun anda ini Nona,” ajak Karen tersenyum lebar mengalihakan pembicaraannya.
“Aku tak akan membeli gaun ini kalau kau menolak untuk berbelanja juga.”
.
.
.
.
.
Bersambung
Jangan lupa jempolnay readers👍👍