
Ara belum selesai dengan sarapannya ketika terdengar ketukan pintu dan berbarengan dengan tersibaknya daun pintu itu, dan terlihat Mommynya Neal, Maxim dan Jessy, ketiganya segera menghampiri Ara dengan wajah penuh
kecemasan.
“Sayang... bagaimana kondisimu?" Tanya Maria cemas sambil mengusap kepala Ara lembut.
“Aku sudah lebih baik Mom," sahut Ara dengan pelan. Maria memperhatikan wajah menantunya itu dan tatapan sendu itu membuatnya tak tahan menatap mata bulat yang indah itu, Maria segera memeluk Ara dan mengecup kepalanya, Neal ikut memperhatikan perlakuan Mommynya pada Ara, dan Neal begitu terhipnotis melihat mata Ara yang begitu teduh, "mata itu... mereka memiliki mata yang berbeda, tapi kenapa aku baru menyadarinya," guman Neal dalam Hati.
Maria melepaskan pelukannya dan segera memalingkan wajahnya pada putra sulungnya itu, “Kenapa semalam tidak memberi tahu Mommy Neal?" Tanya Maria sedikit kesal,
“Aku tau Mommy sedang keluar kota jadi aku tak ingin membuat Mommy dan Daddy kwatir," jelas Neal menatap mommynya itu. “ Tapi semalam mommy sudah kembali," imbuh Maria cepat sambil melepaskan pelukannya karena Jessy juga ingin memeluk Ara.
“Tapi kakak kan bisa mengabari kita," ucap Jessy cepat sambil melepaskan pelukannya pada Ara, Neal tidak menjawab pertanyaan Jessy , ia memeperhatikan Maxim yang turut memeluk Ara dan Neal menatapnya dengan tajam, terlihat ia begitu tidak suka pemandangan didepannya itu.
“ Kau pulanglah karena kau harus ke kantor, biar Mommy yang menjaga Ara," ujar Maria menatap Neal.
“Tidak kita pulang bersama saja, karena Dokter sudah mengijinkan Ara untuk pulang," sahut Neal. "kau sudah menyelesaikan sarapanmu, mari kita pulang," lanjut Neal berjalan menghampiri Ara. Ia pun segera membantu
Ara turun, dan segera mengandeng tangan istrinya keluar dari ruangan itu, Mommynya dan kedua adiknya hanya menatap punggung Neal, ketiganya pun saling lempar pandang sambil tersenyum.
*****
Neal keluar dari walk in closet sambil mengalungkan jam tangannya, Ara memperhatikan Neal yang sudah rapi dengan pakaian kerjanya jas yang dipakainya begitu pas di tubuhnya yang kekar tentu saja itu menambah
ketampanannya, Ara begitu terpana dengan penampilan Neal, hingga ia tidak menyadari kalau Neal sudah berdiri didapannya,
“Istirahatlah... tidak usah keluar kamar nanti maid akan mengantarkan makananmu ke kamar," ucap Neal menatap wanita yang sudah jadi istrinya itu, yang juga sedang menatapnya sambil menganggukan kepalanya, Neal cepat mengalihkan pandangannya dari mata sendu Ara .”Aku pergi dulu," lanjutnya. Neal pun melangkah pergi meninggalkan Ara.
“Hati-hati Tuan," ucap Ara mengalir begitu saja, Neal menghentikan sejenak langkahnya dan menoleh kebelakang ia mengangguk dengan senyuman tipis di bibirnya. Ara menatap punggung pria itu sampai akhirnya menghilang dibalik pintu kamarnya,
“Dia tersenyum padaku walau pun itu terlihat samar, tapi itulah senyum pertama yang Neal lihatkan padaku," ucap Ara tersenyum senang, tapi senyuman itu kembali menghilang begitu mengingat posisinya.
******
Ara merasa bosan di kamarnya ia pun ingin keluar kamar, tapi sebelumnya ia pergi mandi untuk memebersihkan tubuhnya yang terasa sangat lengket , setelahnya berganti pakaian, ia menatap bayangan dirinya dari balik cermin. Ia melihat wajahnya yang begitu pucat, Ara mengambil bedak dan memoleskan tipis ke wajanynya setelah itu ia memoles bibirnya dengan lipstick bewarna pink yang hampir sama dengan warna bibirnya tapi sekarang bibir itu terlihat sedikit pucat, setelah melihat penampilannya lebih baik ia pun melangkah keluar dari kamar.
“Hai Ara... kita bertemu lagi," sapa Daniel dengan senyuman yang tentu saja dapat menggoda wanita dengan mudah, tapi tidak jika wanita itu adalah Ara.
“Apa yang kau lakukan disini?" Tanya Ara dengan wajah penuh selidik membuat Daniel terkekeh.
“Tentu saja aku kesini untuk menemuimu," sahut Daniel dengan senyuman masih menghias bibirnya.
“Aku tidak punya urusan dengan mu untuk apa menemuiku!" ucap Ara berjalan mendekat .
“Suamimu tidak menceritakan siapa diriku padamu?" Tanya Daniel beranjak bangun dari duduknya dan melangkah lebih dekat pada Ara, sehingga Ara memundurkan tubuhnya agar tetap berjarak cukup jauh dari Daniel.
“Aku kesini untuk merebutmu dari Neal," ucap Daniel dengan menatap tajam Ara. Mata Ara membulat sempurna begitu mendengar perkataan Daniel.
“Jaga bicara anda Tuan Daniel, anda seharusnya tau posisi anda lagi dimana dan...
Ara menghentikan ucapannya begitu melihat Maxim dan Jessy datang, Daniel hanya tersenyum mendengar perkataan Ara, justru ia semakin tertarik untuk menggoda Ara, melihat mata Ara yang membulat seperti itu
membuatnya semakin gemas, karena wajahnya terlihat semakin cantik ketika sedang marah.
“Max.. kakak iparmu ini begitu cantik, sedang marah saja tidak dapat mengurangi kecantikannya," ucap Daniel cuek dan kembali mendudukkan tubuhnya disofa. Teriak Jessy membuat mata Ara beralih padanya,
“Kak Daniel... kapan datang," sapa Jessy sambil berlari menghampiri Daniel kedua pun lalu berpelukan, “Kenapa tidak bilang kalau mau datang," sungut Jessy.
“Kakak ke sini untuk melihat Ara katamu dia sakit, tapi aku lihat dibaik-baik saja," sahut Daniel kembali memperhatikan Ara dan tentu saja Ara membalasnya dengan pandangan tidak suka.
“Kak Ara memang lagi sakit, untuk apa aku bohong," sahut Jessy kesal yang membuat Daniel terkekeh, Iya aku percaya," imbuhnya.
“Kak Ara mau kemana?" Tanya Jessy karena melihat Ara yang mau melangkah pergi dari sana,
“Aku ingin keluar Jes!," sahut Ara menghentikan langkahnya sambil menatap Jessy. "Disini saja kita main kartu bareng," ajak Jessy. ”kita main kartu bersama," imbuhnya lagi.
“Tapi aku tidak bisa," sahut Ara cepat.
“Aku akan mengajarimu kak," ujar Maxim cepat, “Kita bisa jadi tim." Daniel dan Jessy akan jadi satu tim lagi," lanjut Maxim. Ara terdiam sejenak dan akhirnya ia kembali mendekat ke sofa Jessy pun bersorak senang.
.
.
.
.
.
.
.
Bersambung