Arabella Secret

Arabella Secret
Kenapa kau membenciku


Ara tampak bersiap – siap untuk menghadiri acara pertunangan kakaknya  Daniel, sekarang untuk berdandan Arabella tak membutuhkan tenaga Sarah lagi karena ia sudah bisa melakukannya sendiri, Seperti saat ini Ara tengah memoleskan make up di wajahnya yang cantik, ia hanya memolesnya wajahnya dengan make up natural saja karena Ara tak menyukai make up yang terlalu tebal. Ara menyanggul rambut panjangnya dan menyelipkan aksesoris disana. Ia kembali memeprhatikan detail penampilannya Ketika Neal berjalan menghampirinya. Ia memeluk tubuh Ara dari belakang, melingkarkan tangannya di perut istrinya lalu memberikan kecupan di bahu Ara yang terbuka. Ia menatap  bayangan istrinya dari cermin didepannya.


“Kenapa menatapku seperti itu…aku terlihat jelek ya?” tanya Ara sambil mengerucutkan bibirnya.


“Coba aku perhatikan.” Ucap Neal membalikan tubuh Ara sehingga berhadapan dengannya dan meletakkan kedua


tangannya di bahu istrinya, dan mulai mengamati penampilan Ara dari ujung rambut sampai ujung kakinya.


“Benar kau terlihat jelek malam ini,” ucap Neal sambil mengamati wajah istrinya yang langsung berubah begitu mendengar ucapannya.


“Benarkah…” sahut Ara dengan suara memelas. “Baiklah aku akan menghapus riasanku lagi, dan memintah Sarah


untuk membantuku.” Ara pun segera membalikan tubuhnya, ia merasa kecewa karena ia sudah berusaha berdandan secantik mungkin, namun sayang Neal tidak menyukainya.


“Kau mau kemana?” Tanya Neal sambil menahan tangan istrinya.


“Aku ingin memanggil Sarah.”


“Untuk apa kau memanggilnya.”


“Tentu saja untuk membantu aku berdandan lagi.”


“Tidak perlu…ayo kita berangkat,” ajak Neal sambil menarik tangan Ara.


“Neal…aku tidak ingin mempermalukanmu, tunggulah sebentar aku tidak akan lama,” Jawab Ara dengan suara terdengar penuh kekecewaan.


“Tidak…aku tidak akan malu.”


“Kau ingin ditertawakan karena istrimu yang terlihat begitu jelek.” Sahut Ara sedih. Neal pun terkekeh mendengar ucapan istrinya, sementara Ara menatap suaminya itu heran.


“Kenapa kau tertawa?”


Neal menarik tangan istrinya ke depan cermin lalu menghadapkan wajahnya kesana,”Kau percaya dengan ucapanku mengatakan kalau kau itu terlihat  jelek,” ucap Neal sambil menyentuh wajah istrinya. Ara pun menganggukkan kepalanya dengan wajah polosnya.


Neal pun membalikan tubuh istrinya itu agar mengadap padanya ia meletakan satu tangannya di dagu istrinya dan menatap matanya bergantian.


“Kau terlihat sangat cantik malam ini, apakah kau tidak melihat bagaimana aku tidak berkedip saat menatapmu.”


“Tapi…kau tadi mengatakan kalau aku itu jelek,” jawab Ara dengan wajahnya yang polos. Neal kembali tidak bisa menahan tawanya.


“Aku hanya bercanda.”


“Jadi…aku cantik?” Tanya Ara dengan mata berbinar.


“Sangat cantik,” ucap Neal sambil mencubit pelan dagu istrinya. Dan jawaban Neal membuat wajah Ara berbinar senang dan juga terlihat merona mendengar pujian Neal.


“Ayo kita berangkat,” ajak Neal sambil menarik tangan istrinya, Ara pun mengiyakan sambil meraih tas kecilnya dari atas tempat tidur. Merka pun segera turun karena Mark sudah menunggu mereka dibawah.


****


Acara pertunangan kakaknya  Daniel diselenggarakan di Hotel bintang lima, begitu turun dari mobil mereka segera menuju ballroom Hotel yang terletak di lantai tiga. Mereka sampai disana acara sudah dimulai, mereka hanya melihat dari kejauhan ketika kedua pasangan itu bertukar cincin. Iringan tepuk tangan para tamu begitu keduanya selesai memasangkan cincin di jari masing-masing pasangannya. Setelah beberapa rangkaian acara selesai Neal membawa istrinya beserta Mark untuk mengucapkan selamat kepada kakak Daniel dan tunangannya


“Ara…tidak berjumpa beberapa bulan ini kau terlihat semakin cantik,” puji  Denish ketika bersalaman dengan Ara lalu melirik pada Neal yang hanya diam tak bereaksi apapun.


“Terima kasih Denish kau terlalu berlebihan,”imbuh Ara sambil tersenyum. Lalu ia pun bersalam dengan calon istri


Denish.


“Selamat atas pertunangan kalian, perkenalkan aku Ara,” sapa Ara ramah. Keduanya pun saling berpelukan.


“Terima kasih Ara, aku Julia. Senang berkenalan denganmu,”  sahut  Julia tak kalah ramah sambil melepaskan pelukannya.


Sementara Danish menatap Neal yang sedang bersalaman dengannya tersenyum usil ingin menggoda Neal, lalu ia


mendekatkan wajahnya dan berbisik di telinga Neal.


“Keduanya sama-sama mengagumkan Neal, sungguh pilihan yang sulit.” Neal menatap tajam Danish menunjukan sikap tidak suka terhadap ucapan Danish, tapi Danish malah terkekeh sambil menepuk pundak sepepunya itu pelan. Ia sudah paham dengan sikap Neal karena mereka seumuran dan tumbuh bersama.


"Apakah kau mau selamanya jadi nyamuknya Neal, segeralah cari pasangan, carilah seorang gadis disini kalau kau sudah menemukan carilah aku , biar aku yang akan mengurus untuk selanjutnya," ejek Danish sambil terkekeh.


"Simpan ucapanmu untuk merayu Julia," dengus Mark kesal, sedangkan Danish tersenyum puas berhasil memancing kemarahan Mark.


"Selamat Julia, kau akan menghabiskan hidupmu dengan pria yang paling menyebalkan ini, sungguh malang wanita cantik sepertimu mendapatkan lelaki seperti ini, "balas Mark saat bersalaman dengan Julia, yang membuat Danish melotokan matanya.


"Aku akan menyumpal mulutnya kalau masih tidak berubah,"imbuh Julia sambil tersenyum lebar.


"Aku sangat menantikannya Julia, jangan lupa mengabariku saat kau melakukannya," lanjut Mark sambil menatap Danish dengan pandangan mengejek, ia merasa sangat puas membalas keusilan temannya itu.


"Mark, tunggu pembalasanku," seru danish sambil menatap ketiganya yang menjauh darinya.


Neal dan Ara menghampiri orang tuanya yang sedang berbincang dengan orang tua Denish, mereka langsung menyambut hangat kedatangan Neal dan Ara dengan hangat, Maria memeluk Ara sambil mengusap lembut punggung menantunya itu. Obrolan antara keluarga itu terlihat sangat hangat dan harmonis.


****


Mereka berbaur dengan undangan lainnya, tamu yang datang dari pihak kedua keluarga dan rekan bisnis mereka. Acara ini sangat meriah walaupun para undangannya hanya terbatas. Ara pun melepaskan pandangannya menatap dekorasi ruangan yang menurutnya sangat cantik dengan di dominasi oleh warna putih, ballroom itu hampir dipenuhi oleh bunga-bunga, walaupun mawar putih lebih mendominasi disana.


“Kau lapar, ayo kita makan,” ajak Neal menatap istrinya yang hanya diam.


“Tidak…aku belum lapar, aku hanya ingin minum saja,” sahut Ara pelan.


“Baiklah…tunggulah sebentar aku akan mengambilkan minum untukmu.” Neal pun segera pergi untuk mengambilkan minum untuk istrinya, tak lama Neal pun kembali dengan segelas minuman ditangannya.


Ara segera meraih minuman itu Ketika Neal menyodorkan padanya, ia pun meneguk minuman itu untuk membasahi  tenggorokannya yang terasa kering. Walaupun telah sering menemani Neal ke acara- acara  tapi Ara tetap merasa nyaman, ia tidak terlalu menyukai acara pesta seperti ini.


Tiba-tba seorang pria datang menyapa Neal, keduanya pun larut dalam obrolan. Ara yang mulai bosan mohon pamit pada Neal untuk ke balkon mencari udara seger. Neal pun memberikan ijin dan tak lupa berpesan agar berhati-hati, Ara pun mengiyakan lalu pergi menjauh dari Neal.


****


Ara berjalan melewati keramaian para tamu undangan, tapi langkahnya tertahan Ketika seseorang memegang pergelangan tangannya, Ara pun menolehkan wajahnya, wajah kesal seketika muncul di wajah Ara melihat Daniel yang berdiri didepannya tanpa melapaskan pegangan tangannya.


“Daniel, lepaskan tanganku!” perintah Ara sambil berusaha menarik tangannya dari cengkraman Daniel.


“Kenapa buru-buru,” sahut Daniel tanpa melepaskan pegangannya.”Temani aku berdansa,” ajak Daniel sambil menarik tangan Ara mendekati lantai dansa.


“Daniel! Lepaskan tanganku aku tidak mau berdansa denganmu!” Ara mulai kesal dengan sikap Daniel yang seenaknya padanya. Ia mencoba untuk tetap mengatur suaranya agar tidak mengundang  perhatian tamu yang ada disana.


“Kenapa kau sangat membenciku…apakah aku terlihat begitu jahat dimatamu,” seru Daniel sambil menatap tajam mata Ara.  Ara menatap balik Daniel tanpa ada kata yang keluar dari bibirnya.


.


.


Bersambung


Lama upnya 😟😟, menulis butuh mood yang baik, terkadang dalam satu hari bisa menyelesaikan beberapa bab


tapi terkadang dua hari satu bab saja tidak bisa selesai, kayaknya jarinya mentok d keyboard😅😅


jadi bersabar ya say. bagi yang masih menyukai karya ku ini.


kalau tak ada yang berminat, kita sudahi saja 😁😁


Kapan sih konflik nya lama banget, bosan ahh datar2 aj, kapan Anara bangun.


semua sudah aku konsep dengan baik mereka akan muncul disaat paling tepat.


beberapa bab lagi akan muncul konflik yang bikin mewek, bagi yang baperan siap2 aja, sebentar lagi akan menguras emosi dan air mata...


anjay lebaynya 😅😅😅


jangan bosan ikuti terus ya readers 🤗🤗


salam cinta 💙💙