
Hari bergulir minggu berlalu dan bulan pun berganti, kandungan Ara sudah memasuki bulan ketujuh. Hari ini mereka ingin memeriksakan kandungan Ara ke dokter dan juga ingin mengetahui jenis kelamin bayi mereka, ia sangat antusias sekali.
“Hati-hati sayang,” tegur Neal dan langsung menyusul istrinya yang sedang menuruni tangga.
“Berjalannya pelan-pelan saja sayang, ingat perut besarmu ini sayang.” Neal mengulurkan tanganya dan
disambut dengan senang hati oleh istrinya.
Neal dan Ara pun segera beranggkat ke rumah sakit, setelah menempuh berjalan lebih kurang dua puluh
menit mereka sampai di rumah sakit. Mereka pun langsung masuk ke dalam ruangan pemeriksaan tanpa perlu ikut antrian karena sudah membuat janji sehari sebelumnya.
Setelah mengobrol seputar kehamilan dan keluhan Ara dokter Eva pun menyuruh Ara berbaring diranjang untuk
melakukan USG, ia mengolesi gel diperut Ara sebelum menempelkan alat ke perut besar Ara, Neal yang berdiri disamping Ara menggenggam erat tangan istrinya. Mata keduanya mulai focus pada layar didepan mereka.
“Sepertinya anda akan memelilki sepasang bayi kembar Tuan, lihatlah ini,” ucap dokter Eva sambil
menunjukan layar disampingnya.
“Puji Tuhan,” ucap keduanya berbarengan. Neal mengecup keningnya istrinya mesra jelas sekali kegembiraan di
wajah keduanya karena akan memiliki putra dan putri. sekaligus.
“Usia kandungan Ara sudah memasuki minggu ke 30 minggu, jadi menurut perkiraan Nona akan melahirkan 10
minggu lagi, dan bisa saja itu lebih cepat dari perkiraannya,” jelas dokter Eva
lagi.
“Apakah bayi kami sehat Dok.”
“Sangat sehat, berat badannya sesuai dengan usia kandungan dan denyut jantung keduanya juga bagus.”
Dokter Eva memprint beberapa lembar hasil USG, seorang perawat membersihkan sisia gel di perut Ara. Neal
membantu istrinya bangun dan mengajaknya kembali duduk di meja dokter Eva.
Neal kembali menyakan beberap hal kepada dokter Eva seputar kandunagn istrinya, stelah selsai mereka
pun keluar dan tidak lupa mengambil vitamin untuk istrinya.
Selesai memeriksa kandungan Ara, keduanya tak langsung pulang. Neal dan Ara pergi ke pusat perbelanjaan
untuk membeli perlengkapan bayi kembar mereka. Neal telah merenovasi ruangan disebelah kamarnya menjadi kamar bayi mereka, dan baru saja selesai satu minggu yang lalu, dan hari ini mereka ingin mengisis kamar yang masih kosong itu dengan segala perlengkapan bayi mereka. Sebenarnya kamar bayi tidak benar-benar
kosong karena kemarin Ivander dan Helena mengirimkan tempat tidur bayi yang mereka pesan khusus. Maria dan Dimitri juga sudah mengirim lemari untuk pakaian bayi dan karpek yang langsung dipesan dari Turki, keduanya memang sangat menantikan kelahiran cucu pertama mereka.
Mereka memasuki toko perlengkapan bayi terbesar di pusat perbelanjaan, Ara merasa bingung saat
melihat begitu banyak pakaian bayi yang semuanya sangat lucu-lucu dan menggemaskan.
“Sayang aku bingung mana yang harus aku pilih,” ucap Ara menunjukan setumpuk pakaian bayi yang sudah
berada dalam panggkuannya.
“Pilih semua yang kau suka sayang, jika kau masih bingung kita akan memesan sepasang pakaian bayi yang
berbeda yang dijual disini.”
“Apa, kau ingin membangun toko pakaian bayi di rumah sayang, “protes Ara. Ia memanggil penjaga toko membantunya untuk mencarikan perlengkapan bayinya.
“Sayang kau suka yang mana,” Tanya Ara menunjukan sepasang sepatu bayi untuk anak perempuan. Lama Neal
menimbang karena semua perlengkapan bayi yang kecil dan mungil terlihat lucu dan sangat menggemaskan dimatanya.
“Aku suka keduanya sayang.” Ara malas untuk memintah pendapat suaminya lagi karena ia akan selalu menemukan jawaban yang sama setiap ia memberikannya pilihan.
Setelah belanja lebih dari satu jam akhirnya belanja perlengkapan bayi pun selesai, barabg semulai
disangkah Ara hanya sedikit ternyata setelah ditumbuk membuatnya kaget. Setelahmembayar semua belanjaan bayinya dan toko akan mengirim semua barangnya ke rumah mereka.
Keduanya memutuskan untuk makan suiang sebelum Neal mengantarkan istrinya kembali ke Mansion, mereka
memiilih untuk makan di pusat berbelanjaan saja yang terletak di lantai tiga, Ara lebih memilih untuk menggunakan ekskalator dari pada naik lift dan Neal pun tak menolak permintaan istrinya. Ketika mereka tiba didepan pintu restoran yang mereka tujuh keduanya pun berpapasan dengan David dan Jessy yang juga hendak makan disana.
“Kakak…”
****
berbaur jadi satu, apalagi melihat kakaknya lebih banyak diam dan sedikit sekali bicara padanya, Jessy sudah hafal karakter kakaknya jika sudah diam seperti itu tandanya Neal sedang marah padanya.
Ara tidak dapat menolak kemarahan kakanya karena ia tau dirinya salah karena tidak berterus terang akan
hubungannya dengan David, ia takut Neal tidak menyetujui hubungannya bersama David dan tentu saja ia tidak siap untuk itu karena ia benar-benar sangat mencintai pria itu.
Jessy menatap David yang terlihat santai tanpa rasa cemas sedikip pun, ia masih tersenyum manis pada
Jessy saat matanya bertemu. Sedangkan Ara jangan berharap apa pun padanya saat ini karena kakak iparnya sibuk dengan semua makanan didepannya, sendok ditanganya ikut berpindah ke piring kakaknya
karena makanan yang ada dipiring kakaknya lebih enak dibandingkan dengan yang
ada di piringnya, pada hal itu masih makanan yang sama, itu hal aneh yang masih belum bisa di pahami Jessy karena tingkah wanita hamil memang tidak masuk akal menurutnya.Dan kakaknya yang tampan dan keren akan sabar melayani tingkah aneh istrinya itu, dan seperti pemandanganya didepannya saat ini, makanan dalam piringnya lebih sering berpindah ke mulut kakak iparnya dari pada ke mulutnya sendiri karena dengan
wajah yang imut dan cantik yang dipasang oleh kakak iparnya sehingga kakaknya tidak bisa menolak saat mulut itu terbuka memintah untuk disuapi.
Ara sekarang memang memiliki selera makan yang besar mungkin karena pengaruh sedang hamil bayi kembar, dan yang paling membuat kesal body kakak iparnya itu tetap seksi, seakan lemak makanan yang
dikonsumsinya tidak mau menumpuk dibawah kulitnya, hanya perutnya saja yang besar menandakan ia sedang hamil.
“Ara , aku dengar dari Jessy kau hamil bayi kembar,” Tanya David didelah makannya. Ara dengan mulut yang
penuh dengan makanan menganggukan kepalanya cepat dengan wajah berbinar senang. Dengan cepat ia menelan makannya.
“Iya David. Kami baru saja pulang pemeriksaan dari dokter dan katanya kami akan memiliki sepasang bayi laki-laki
dan perempuan,” jelas Ara semangat.
“Apa! keponakan laki-laki dan perempuan. Asyik,” teriak Jessy bersemangat sehingga beberapa orang yang
sedang makan bersama mereka menatap kearah mereka dengan cepat ia menutup mulutnya.
“Selamat untuk kalian berdua.”ucap David tersenyum lebar karena ikut senang mendnegarkan kabar itu.
Ia tau bagaiaman Ara pasti akan sangat menantikan kehadirannya karena ia melihat bagaimana Ara yang sangat terluka saat ia kehilangan bayinya.
“Terima kasih David,” ucap Ara dan Neal hampir berbarengan.
****
Di meja makan sekarang tinggal Neal dan David karena Jessy sedang menemani Ara ke toilet, David
menatap Neal yang duduk didepannya,” maafkan aku tidak memberitahumu dari awal, aku tidak berniat untuk menyembunyikan ini darimu. Aku benar-benar serius dengan Jessy karena aku mencintainya.”
“Jessy satu-satunya anak perempuan di keluarga kami, tidak berlebihan jika aku mengatakan kalau ia gadis
yang manja dan kekanak-kanakan, apakah kau sudah siap menerima semua kekuranganya.”
“Aku menyukai Jessy dengan semua kelebihan dan kekurangan yang dia miliki, aku juga bukan lelaki sempurna,
kami mencoba membangun komitmen didasri semua kekurangan yang kami miliki. Aku sangat bahagia dan nyaman saat bersamanya aku rasa itu sudah cukup alasan bagi kami untuk memulai satu hubungan."
Neal melipat kedua tanganya kedadanya sambil menyandarkan tubuhnya,” kami selalu membantasi Jessy bila
sudah berhubungan dengan laki-laki karena kami tidak ingin ia memilih teman yang salah, karena ia sangat polos, dan ia pun tidak tidak perna membantah dan selalu menurut. Aku bukannya tidak tau hubungan yang sedang kalian jalani karena orang-orangku selalu mengawasi Jessy. Ini pertama kalinya ia membatahku demi seorang laki-laki.”
“Maafkan aku telah membuat adikmu melanggar peraturan yang kau buat.” David berkata sambil menatap Neal
yang juga sedang menatapnya. Jika Neal tidak mendudkung hubungnnya dengan Jessy sungguh itu menjadai beban yang berat untuknya tapi ia tidak akakn menyerah karena hal itu.
“Dia berani melanggar peraturanku, dan berani mengambil resiko, itu sudah jelas bagiku kalau dia
mencintaimu. Jaga Jessy karena selamanya dia akan jadi adik kecil kami.”
Setelah Ara dan Jessy kembali mereka pun segera pergi dari sana, mereka pun segera menuju parkiran
dan pergi dengan mobilnya masing-masing. Tanpa mereka sadari sepasang mata menatap kepergian mereka dengan tatapan membunuh.
.
.
.
.
Bersambung