
Ara masih bermanja-manja tidur dalam pelukan Neal, tubuhnya yang masih terasa lemas setelah morning sickness yang menyiksanya setiap pagi dan pagi ini ia seluruh isi perutnya terkuras habis sehingga yang keluar hanya cairan kekuningnya dan Neal harus emnggendongnya kembali ke tempat tidur karena kedua kakinya tidak bisa menumpuk berat tubuhnya. karena begitu lemas ia masih terasa malas walau hanya untuk membuka matanya, ia
membenamkan wajahnya di ceruk leher suaminya menikmati orama khas tubuh suaminya yang sangat ia sukai membuatnya begitu nyaman karenanya. ia masih merasakan usapan lembut dipunggungnya dan sesekali kecupan di wajah dan kepalanya.
“Sayang, turunlah aku harus ke kantor,” bujuk Neal lembut menekuk wajahnya agar dapat melihat wajah istrinya.
Eehhmm....
Hanya gumauan malas dengan nada manja yang keluar dari bibir istrinya, Neal mencoba melepaskan pelukan istrinya tapi Ara semakin memperet pelukannya,” sayang bisakah hari ini kau tidak ke kantor aku masih ingin memelukmu,” rengek Ara manja sehingga membuat Neal terkekeh.
“Sayang, hari ini banyak berkas yang harus aku periksa karena besok semuanya harus selesai, perusahaan kita baru saja dapat tender besar sayang tidak mungkin aku membiarkan Mark mengurusnya sendiri.” Neal terus membujuk istrinya tapi sepertinya Ara memang dalam mode manja akut bergeser sedikit saja ia tidak mau
dari tubuh suaminya, membuat Neal kehabisan akal untuk membujuknya.
“Kalau tak mau ditinggal, bagaiamana kalau ikut ke kantor.” Dan bujukan terakhir Neal sepertinya sangat ampuh, Ara langsung mengangkat wajahnya dan menatap wajah Neal dengan senyuman lebar membungkus bibirnya
“Aku bolah ikut ke kantor,”tanyannya untuk meyakinkan ucapan suaminya lagi, Neal pun menganggukan kepalanya membalas senyum istrinya tak kalah manis membuat dan Ara bersorak senang mengecup bibir Neal singkat lalu berpindah ke pipinya.
“Turunlah dulu aku akan menelpon Mark tak usah menjemput kita.” Ara pun menurut dan turun tanpa penolakan lagi. Neal pun segera menelpon Mark, Ara pun memeluk tubuh suaminya dari belakang begitu selesai menelpon Mark.
“Kalau begitu ayo kita mandi,” ajak Ara tersenyum sangat manis sambil mengusap perut berotot suaminya, Neal menolehkan wajahnya menghadap istrinya ia mencubit karena begitu gemas melihat wajah istrinya yang selalu membuatnya terpesona walaupun baru bangun tidur Ara selalu terlihat sangat cantik.
“Ayo honey,” ajak Neal sambil mengendong istrinya ala bridal styal berjalan ke kamar mandi. Ara pun tertawa ketika bulu-bulu halus diwajah Neal menggelitik kulit lehernya yang sensitif.
****
Sebelum berangkat mereka turun untuk sarapan tapi Ara menolak untuk ikut karena tidak berselerah, ia hanya meminum susu ccoklat yang membuatnya tidak terlalu mula saat meminumnya. ia memaksa untuk sarapan dikantor saja dan akhirnya hanya Neal yang sarapan ditunggui oleh Ara yang duduk disebelahnya beberapa kali Neal mencoba membujuk istrinya untuk menerima suapan darinya tapi Ara langsung menggeleng karena ia ingin sarapan dengan roti coklat yang biasa ia beli di toko roti langganannya.
Keduanya sekarang sudah dalam mobil menuju ke kantor tapi terlebih dahulu Neal mengajak Ara singgah ke toko roti dan dua paper bag dengan ukuran cukup besar roti sudah ada di bangku belakang mobil, ia hanya heran melihat istrinya untuk apa membeli roti begitu banyak mungkin bisa membuat lima orang akan kenyang Neal enggan untuk menegur nanti istrinya merajuk lagi karena hormon kehamilannya membuat emosinya sangat labil, sangat manja dan sensitif, terkadang ia menangis tanpa Neal tau apa kesalahn yang ia lakukan.
Mereka sampai di kantor dan Neal pun segera memarkirkan mobilnya dan turun terlebih dahulu setelahnya membukakan pintu mobil untuk istrinya, tak lupa mengambil roti di bangku belakang baru turun dari mobil. kehadiiran Ara sudah menjadi pusat perhatian beberapa orang yang ada di lobi menatap dengan tatapan heran sekaligus bingung, Neal yang juga sudah merasakannya segera menggandengan tangan istrinya
mengajak masuk menuju ke ruangannya.
Terlihat kedua repsisionis saling berbisik saat membungkuk hormat menyambut kedatangan Neal dan Ara, tapi melihat sorot tajam Neal lewat ekor matanya membuat keduanya langsung bungkam, Ara yang cuek seakan tidak peduli dengan tatapan yang terus mencoba mencuri- ciri pandang padanya,ia terus mengikuti langkah
suaminya yang menggenggam erat tangannya sedangkan satu tangannya lagi menenteng paper bag. Saat sudah dalam kantor mereka berpapasan dengan beberap pegawai Neal ketika berjalan menuju lift, dengan penuh hormat semua menyapa Neal sambil melirik Ara disampingnya.
Semua heboh bergosip setelah Neal dan Ara menghilang ddalam litf, membawa istrinya menuju ruangannya. Senyum tak henti menghiasi bibir Ara, saat dalam lift ia sesekali mencuri pandang pada suaminya, wajahnya cerah menunjukan betapa senangya ia diajak ikut oleh Neal ke kantornya. Neal ikut tersenyum sambil merangkul pinggang istrinya posesif. Mereka berdua segera keluar begitu pintu lift terbuka dan melangkah menuju ke
“Apakah aku sedang bermimpi, wajahnya kenapa bisa begitu sama,” wanita itu menepuk pipinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya mencoba menepis rasa keterkejutannya melihat Neal datang dengan wanita yang sangat mirip dengan mendiang istrinya.
“Sudahlah…bukan urusanku,” desisnya kemudian melanjutkan pekerjaannya kembali.
****
Ara segera mendudukan tubuhnya disofa begitu sampai, Neal meletakan paper bag yang dipegangny diatas meja,” dimakan rotinya sayang, aku bekerja dulu,” perintah Neal sambil berjalan menuju meja kerjanya yang sudah ada setumpuk berkas diatasnya.
Ara segera membuka kotak kue itu, matanya membulat sempurna melihat kue coklat yang langsung membuat liurnya ingin menetes dengan cepat dengan menyaut sebuah roti itu dan menggigitnya dengan cepat, lelehan lava coklat didalamnya membuat mulut Ara tak henti mengelurakn gumauan- gumauan kecil betapa kue coklat itu sangat memanjakan lidahnya.
Neal melirik sekilas istrinya yang begitu terlihat menikmati kue coklatnya, ia menahan senyumnya melihat istrinya seperti anak kecil yang baru saja mendapatkan kue coklat kesukaannya begitu polos dan menggemaskan, jika pekerjaannya tidak sedang menumpuk ingin rasanya ia memakan istrinya itu seperti kue coklat yang sedang dimakan oleh istrinya itu.
Ara menjilati jarinya yang dibaluri coklat hingga jari-jari itu bersih kembali, ia memegang perutnya yang sudah kenyang karena ia baru saja menghabiskan satu kotak besar kue coklat, ia segera meraih botol air mineral didepannya dan segera meneguknya hingga tak bersisa.
Sudah lebih tiga jam Ara berbaring disofa sambil membaca sebuah majalah, rasa bosan mulai menghampirinya ia segera melipat majalah itu dan meletakan diatas sofa, ia melirik suaminya yang masih terlihat asyik berkutat dengan kertas dan laptop didepannya, sebuah senyuman melengkung di bibir Ara melihat suaminya yang
sedang serius dengan pekerjaannya entah kenapa melihat suaminya dengan pose seperti itu terlihat
semakin tampan dengan kaca mata baca yang bertengger di hidung mancungnya, ia tidak pernah melihat Neal sebelumnya memakainya.
“Sayang,” panggil Ara sudah berdiri di depan meja kerja Neal, ia pun segera mengangkat wajahnya menatap istrinya yang melangkah menujunya. “ ada apa sayang,” sahut Neal sambil mendorong kursinya ke belakang sehingga Ara pun segera duduk dipangkuannya, Ara segera mengalungkan kedua tangannya ke leher suaminya.” aku bosan,” rengek Ara sambil mengerucutkan bibirnya.
“Di rumah bosan, di kantor bosan, trus mau kemana lagi,” tanya Neal sambil menyelipkan anak rambut yang menjuntai ketelingan istrinya.
“Sayang, bagaimana kalau aku bekerja juga, aku bosan setiap hari kalau hanya duduk - duduk saja.” Sontak saja permintaan Ara yang tiba-tiba membuatnya terkejut dan menatap heran pada istrinya. .
.
.
.
.
.
Bersambung