Arabella Secret

Arabella Secret
Terbakar cemburu


Ara meletakan cardigan yang menyelimuti perutnya bangku kosong yang sebelumnya ditepati, mata Edward


menyipit saat melihat baby bump dibalik gaun biru tua yang dipakai Ara, lalu tatapan itu berpindah menatap lekat mata coklat muda Ara sehingga membuat Ara menautkan alisnya heran melihat perubahan air muka Edward.


“K-kau sudah menikah,” Tanya Edward sedikit tergagap.


“Sayang, ini es creammu.” Neal berkata sambil menyodorkan es cream pada istrinya dan tatapan Edward pun meralih pada sosok pria yang berdiri disampingnya.


“Terima kasih sayang,” balas Ara mengambil es cream ditangan suaminya dengan wajah sumbringah. Setelah


memberikan es cream pada istrinya ia mengalikan tatapnya pada Edward, ia langsung menunjukan tatapan tidak sukanya.


“Sayang, kenalkan ini Edward dia teman lamaku. Kami berteman sejak dibangku ke sekolah. Edwar kenalkan ini suaminku Neal,” ucap Ara bangkit dari duduknya Neal segera melingkarkan tangannya ke pinggang istrinya posesif seakan memberi peringatan kepada Edward jangan pernah mengganggu istrinya.


Kedua pria itu sesaat saling tatap lalu mengulurkan tangan menyebutkan nama lalu menyebutkan nama


masing – masing. Edward pun mengobrol sebentar dengan Ara sebelum ia pamit, Setelah Edwar pergi Neal menatap lekat wajah istrinya itu dan tanpa bicara ia menarik tangan istrinya mengajak pergi dari sana. Ara yang terkejut mengikuti langkah suaminya sambil memakan es creamnya yang mulai mencair.


“Sayang, kenapa buruh-buruh sekali, tunggu sebentar saja aku habiskan dulu es creamku.” Bukannya menjawab Neal mengambil es cream ditangan Ara lalu membuangnya ke tempat sampah yang mereka lewati, sikap Neal yang kasar membuat Ara menatapnya terkejut.


“Sayang, kau kenapa.” Ara mencoba bertanya tapi ia hanya menadapatkan tatapan tajam dari suaminya,


tatapan yang pernah ia lihat saat diawal pernikahan mereka dan tentu saja membuat Ara takut. Ara pun tak lagi bersuara membiarkan neal mengiring tangannya pergi dari sana.


****


Setelah makan malam Neal segera masuk ke dalam kamar, ia tidak banyak bicara selama makan, ia hanya


bersuara ketika Cory beberap kali bertanya padanya, ia tetap bicara hangat dengan Cory tapi ia tetap mendiamkan Ara sehingga membuatnya tidak berselera untuk menghabiskan makan malamnya. Cory melihat Ara yang membolak-balik makanannya membuatnya bertanya kepada putrinya.


“Kenapa tidak dimakan sayang,” tegur Cory menatap putrinya yang duduk di depannya. Neal pun melirik


sejenak pada Ara, ia dengan cepat Neal mengalihkan tatapan saat mata mereka saling tatap.


“Aku kenyang ibu,’ jawab Ara masih melirik pada suaminya yang sudah menghabisakn makan malamnya.


Neal pun pamit meninggalkan meja makan meninggalakan Arad an ibunya..


"Kau kenapa, bertengkar dengan suamimu,” Tanya Cory. Walaupun tanpa bertanya ia dapat membaca gelagat


menantunya itu kalau ia sedang mendiamkan Ara.


“Kesalahan apa yang kau buat,Nak.”


“Aku tidak melakukan apa pun,” balas Ara denagn suara sedih mnjtuhakn sendok ditangannya.


“Tapi…”


“Tapi kenapa.” Tanya Cory lagi menatap lekat wajah putrinya itu.  Ara menumpangkan kedua tangannya ke dagunya lalu menatap wajah ibunya yang duduk didepannya.


“Dia begitu karena tadi aku bertemu dengan Edward, ibu masih ingtkan dengan Edward.  Kami mengobrol sebentar dan setelah itu Neal mendiamkan aku,” jelas Ara dengan bibir cemberut. Cory tersenyum mendengar penjelasan putrinya, jelas sekali Neal sedamg cemburu karena itu ia mendiamkan Ara.


“Kenapa ibu tersenyum,” sungut Ara dengan nada bertambah sedih.


“Suamimu itu sedang cemburu, Nak. Bujuklah ia jangan bals mendiamkannya karena itu tidak akan menyelesaiakn masalah.”


“Cemburu....” Ara mengulang uacapan ibunya. “ Aku hanya mengobrol saja dengan Edward ibi mana


mungkin Neal cemburu karena itu.”


“Terkadang lelaki itu marah karena hal yang kita anggap sepeleh tapi bagi mereka belum tentu begitu, Nak. Mungkin saja suamimu lebih sensitive karena pengaruh bayimu sayang.”


“Apakah bisa seperti itu,” Tanya Ara menatap ibunya heran.


“Hal unik dan bahkan sedikit tidak masuk akal bisa terjadi saat seseoarng sedang hamil sayang, kau


bahkan bisa menyukai sesuatu  yang dulu begitu kau benci dan sebaliknya kau akan membenci sesuatu yang dulu sangat kau sukai.”


Ara hanya mengut-mangut mendengar penjelasan ibunya, tapi ia masih merasa heran dengan Neal yang bisa cemburu saat ia berbicar dengan Edward pada hal selama ini ia sering pergi berdua dengan Mark tapi Neal tidak pernah cemburu.


****


Ara masuk kedalam kamar melihat suaminya sibuk dengan ponsel pintar ditanganya sedikit pun ia tidak


menolehkan wajahnya, Ara terus melangkah naik ke tempat tidur memposisikan tubuhnya disebelah suaminya. Ara menggeser  tangan Neal lalu membaringakan kepalanya dipangkuan suaminya. Neal yang dalam mode mengambek akut hanya menatap Ara sejenak lau kembali asik dengan ponsel ditangannya.


Ara memainkan jarinya didada suaminya membuat lukisan absrak disana sambil sesekali melirik suaminya


yang tetap betah membisu.


“Sayang,” panggil Ara dengan suara manjanya. Tapi sungguh Neal tidak terusik dengan panggilannya.


Ara tidak menyerah ia mengusap rahang suaminya dengan lembut merasakan bulu-bulu halus yang tubuh


disana. “Kau marah padaku, alu mintah maaf kalau aku salah.”


“Apakah kau marah karena aku bicara dengan Edward, biasanya kau tidak marah jika aku bicara dengan Mark.”


Pancingan Ara sepertinya berhasil Neal melemparkan ponselnya kesampingnya menatap tajam pada istrinya,” kau membandingkan pria itu dengan Mark. Mark itu temanku dan aku mengenalnya.”


“Tapi Edward juga temanku sayang, dan aku juga mengenalnya.”


“Teman…mana ada seorang teman menatap temanya seperti itu.”


“Memang dia menatapku seperti apa sayang,” ucap Ara polos yang membuat Neal semakin kesal. Mengingat


bagaiamana pria itu menatap istrinya ingin rasanya ia menghajarnya.


“Dia benar temanmu atau mantan kekasihmu,” balas Neal ketus dengan tatapan dingin menatap istrinya


sehingga membuat Ar amenelan ludahnya.


“Dia benaran temanku, tapi….Ara menghentikan ucapanya sambilmenatap manic suaminya yang hampir


membuatnya beku.


"Dia pernah menyatakan cinta padaku tapi aku menolaknya dan itu sudah lama sekali saat kami menyelesaikan sekolah menegah atas dan semenjak itu kami tidak perna bertemu lagi,” ucap Ara memasang wajah memelas berharap suaminya luluh dan tidak marah lagi.


Untuk sesaat keduanya terdiam,  Neal mendengar isakan  pelan ia pun mengangkat wajah istrinya yang


“Aku minta maaf,” ucapnya lirih seiring dengan luruhnya butiran bening di pipi mulus istrinya. Melihat istrinya menangis membuat rasa bersalah di hati Neal, ia menangkup kedua pipi itu menatap dalam manic istrinya.


“Aku tidak suka cara dia menatapmu, aku merasakan tubuhku seperti terbakar karena rasa cemburu


sayang.”


“Tapi aku tidak menyukainya. Aku hanya mencintaimu Neal.” Ara berkata dengan bibir gemetar tidak ada kebohongan dari sorot mata sendunya, Neal satu-satunya lelaki yang membuatnya jatuh cinta, jika ia takut kehilangannya maka ia jauh lebih takut kehilangan Neal dari apa pun.


Neal mengecup kening itu lama lalu menempelakan keningnya ke kening istrinya,” aku lebih mencintaimu


sayang, aku lebih memilih kematian dari pada kau meninggalakan aku.”


Ara memeluk erat tubuh Neal menumpahakn tangisnya disana denagn suara terbatah-batah ia berucap.” Aku


sangat takut saat kau mendiamkanku, aku takut kau membenciku lagi.”


“Tidak sayang, mana mungkin aku bisa melakukannya,” Neal berkata mempererat pelukannya, mungkin ia


bereaksi terlalu berlebihan karena aras cemburu buta yang membakarnya, Neal dapat melihat dari sorot mata Edward kalau pria itu menyukai istrinya ,  tatapan terluka jelas terlihat saat tau Ara sudah menikah. Edwar berteman sudah lama tentu saja ia lebih mengenal Ara darinya ketakutan kehilangan Ara membuatnya terpancing amarah yang justru membuat istrinya terluka. Seharusnya ia tidak meragukan rasa cinta Ara padanya ia harus mempercayai istrinya, hubungan yang tidak dilandasi  rasa saling percaya seakan membangunn rumah tanpa pondasi.


“Maafkan aku sayang, maafkan daady juga sayang telah membuat mommy menangis.” Neal mengusap lembut


perut istrinya ia melepaskan pelukanya lalu bergeser memeluk perut mulai terlihat membicut, mengecupnya dengan penuh kasih sayang, Ara membelai rambut hitam suaminya,  pemandangan yang selalu menyejukan hatinya, Neal selalu tak perna lupa melakukanya setiap hari mengajak bayi dalam perutnya mengobrol.


“Sayang, aku lapar.”


“Kau tidak menghabsikan makan malammu sayang,” tanyannya dan dijawab Ara dengan gelengan kepala.


“Apa yang kau inginkan, aku akan memesannya,” ucap Neal mengambil ponselnya tapi dengan cepat ditahan


oleh Ara.


****


Keduanya sedang berada didapur Ara menatap suaminya tanpa berkedip seakan sayang untuk melewatkan


walaupun hanya sedetik saja, matanya tidak perpindah menatap Neal yang sedang mengiris bawang, kentang, wortel dan bahan makanan lainya, setelah selasai ia mencuci daging sapi , setelah bersih ia mengolesi garam, lada hitam dan lalu membakarnya di atas Teflon.


“Sayang ternyata kau benar bisa melakukanya,” ucap Ara menatap suaminya yang sedang menumis bawang


yang ia iris tadi.


“Kau meraguakanku sayang,ehmm.”


“Bukan seprti itu hanya saja aku belum pernah melihatmu melakukannya.


“Aku kuliah tinggal seorang diri dan aku sudah terbiasa memasak sendiri namaun setelah aku kembali


aku tidak pernah melakukannya lagi,  jika ini tak enak aku harap kau memakluminya sayang.”


"Apa pun yang dibuat oleh suamiku pasti aku akan memakanya,” tegas Ara lalu mengecup pipi suaminya


yang tengah membalik dagingnya.


Ara menatap steak yang diplating sangat cantik diatas piring sambil menelan ludahnya karena ia sudah


tak sabar ingin mencicipinya. Sebelum ia menyentuh makanannya ia menatap suaminya denagn tatapan memuja sungguh beruntung dirinya mendapakan suaminya yang nyaris sempurna.


“Kenapa sayang.” Neal berkata mengernyitkan keningnya menatap istrinya, Ara mendekatkan wajahnya


melayangkan kecupan singkat dibibir suaminya.


“Terima kasih sayang.”


Neal mengambil garpu dan pisau yang belum sempat disentuh Ara lalu memotong daging dalam piring


menjadi potongan lebih kecil, ia mengambil satu potongan yang mendekatkan ke mulut istrinya Ara pun membuka mulutnya lebar dan menguyahnya pelan, matanya membulat menatap suaminya,” ini enak sekali sayang.”


“Kau berkata jujur atau ingin menghiburku sayang.”


Ara mengambil garpu ditangan Neal mengambil satu potongan daging menyodorkan kedepan mulut Neal,”


bagaimana, enakkan.” Neal merasa tidak ada istimewa dengan steaknya dan rasanya juga biasa saja tapi mengapa istrinya terlihat sangat bahagia itu.


“Enakkan.” Ara kembali bertanya sambil mengambil satu potongan lagi dan memakannya dengan lahap. “Ini


untukku kau tidak boleh menambah lagi cukup satu potong itu saja,” ucap Ara menjauhkan piringnya.


“Kau belum menjawabku.”


“Kau terlalu berlebihan sayang, rasanya biasa saja.“Neal berkata sambil membersihkan sisa saus yang


menempel dibibir Ara.


Ara menatap Neal dengan tatapan tidak setuju dengan ucapan yang baru saja dilontarkan Neal,” makanan


seenak ini kau bilang biasa saja,” dengus Ara kesal.


“Baguslah, dengan senang hati aku kan menghabiskannya.”Ara menyantap makannya dengan lahap


mulutnya tak henti berguman memuji makanan buatan Neal.


Neal hanya mengulum senyum melihat tingkah istrinya, bagaiamn bisa istrinya bisa sebahagia itu hanya dengan sepiring makanan, ia tidak melihat Ara sebahagia itu saat ia membelikan berlian yang disukainya saat pameran, bahkan ia protes kepadanya saat menunjukan padanya karena ia sudah memiliki banyak perhiasan. Ia mengusap


lembut puncak kepala istrinya hanya sesederhana itu kebahagiaan untuknya.


.


.


.


.


.


Bersambung