Arabella Secret

Arabella Secret
Kau Harus Menepati Janjimu..


Neal turun untuk sarapan, dan sepertinya masih mogok bicara dengan istrinya, ia melewati bangku Ara tanpa sedikit pun meliriknya, membuat Ara berdengus kesal dan menatap Neal tajam yang sedang mendudukan tubuhnya di kursi, walaupun di diami oleh Neal, Ara mengambil beberapa lembar roti dan mengolesinya dengan selai  coklat lalu menaruhnya  di atas piring Neal, tanpa bicara Neal menghabiskan sarapannya, begitu pun dengan Ara, ia menguyah rotinya dengan cemberut sambil sesekali mencuri pandang pada Neal, merasa diperhatikan Neal balik menatap Ara dengan tajam tapi dengan cepat Ara mengalihkan pandangannya.


"Aku sangat benci dengan tatapan itu membuatku merinding dan membeku,"guman Ara dalam hati.


Neal segera bangun dari kursinya begitu selesai meminum kopinya, ia melirik Ara sekilas lalu melangkah pergi, baru berjalan beberapa langkah terdengar deringan ponselnya, ia pun segera merogohnya dari saku jasnya, ia menatap layar ponselnya, satu panggilan masuk  dari papa Anara, dengan cepat Neal menjawab panggilan itu,


“Hallo…!”


“Neal …, apakah kau sibuk?


“Ada apa papa?" Neal bertanya tak sabaran.


“Sudah hampir dua minggu ini kau dan Ara tidak berkunjung, kami sangat merindukan kalian.


Neal menarik napas panjang merasa tidak enak hati dengan papa Anara,”Maafkan aku…akhir- akhir ini aku sangat sibuk, baiklah aku akan mengajak Ara untuk berkunjung, sahut Neal sambil menatap Ara yang juga sedang


menatapnya. Ivander sangat senang mendengar jawaban Neal, keduanya pun segera mengakhiri panggialnnya,


“Cepat habiskan sarapanmu, kita akan mengunjungi Anara..!" perintah Neal sambil melangkah pergi tanpa menunggu balasan dari Ara.


***


Kedatangannya disambut oleh Ivander dan Helena yang sudah menunggu mereka berdua, keduanya bergantian memeluk Arabela, bahkan Helena cukup lama memeluk Ara, menghujani wajah Ara dengan ciuman.


“Sayang…Mama sangat merindukanmu," ucap Helena sambil membelai pipi Ara lembut, dua minggu tidak bertemu dengan Ara sungguh membuatnya sangat merindukannya, karena ia memang sudah menganggap Ara seperti putrinya sendiri,  matanya pun mulai berkaca-kaca sambil menatap Ara, ”lebih seringlah mengunjungi Mama Nak... "


“Maafkan Ara Ma, nanti kalau tidak sibuk Ara akan lebih sering berkunjung, " imbuh Ara tak enak hati. Neal hanya menatap keakraban Ara dan mamanya Anara.


Setelah menemani mereka mengobrol beberapa saat , Arabela pun mohon diri untuk menjenguk Anara, setelah mendapat ijin ia pun segera melangkah menuju kamar Anara, ketiganya menatap punggung Ara sampai menghilang dari pandangannya, Ivander mengalihkan tatapannya pada Neal yang masih menatap Ara walaupun sudah tidak terjangkau oleh pandangan matanya.


“Neal….Bagaimana hubunganmu dengan Ara? " tanya Ivander pelan.


Seketika Neal mengalihkan wajahnya , ia sungguh sangat terkejut mendengar pertanyaan papa Anara, ”Maksud Papa?"


“Apakah kau masih menyalahkan Ara, dan belum bisa menerima kehadiran Ara sebagai istri penganti untuk Anara? " Ia berkata sambil menatap mata Neal bergantian.


“Tidak….Aku tidak pernah menyalahkannya lagi, karena ia tak tau apa pun, dan aku tidak ada hak untuk menghakiminya, memang  dulu aku bersikap kurang baik padanya, mungkin karena aku belum bisa menerima


kehadirannya karena wajah mereka yang sama, wajah meraka sangat mirip, tapi mereka dua pribadi yang sangat berbeda, dulu aku mengira ia adalah wanita bayaran yang bersedia melakukan apa saja untuk kesenangannya, tapi ternyata dugaanku salah...," jelas Neal sambil kembali mengingat perlakuan buruknya pada Ara.


“Nak… bagaiaman kalau Anara tak pernah bangun lagi, apakah kau pernah memikirkan itu?"


Pertanyaan Ivander membuat Neal tersentak, tak pernah ini terlintas dalam pikirannya, karena ia yakin Anara akan bangun.


“Tidak pa...Anara wanita yang kuat ia pasti akan bangun lagi. "


“Tentu kita semua sangat berharap ia untuk segera bangun seperti dulu lagi, setelah Anara bangun  kita akan melepaskan Arabela," ucap Helena dengan air mata mulia membasahi pipinya. “Karena kita tidak dapat memilki keduanya," lanjutnya hampir tidak terdengar.


“Melepaskan Arabela…,” guman Neal dalam hatinya, ada yang  kosong didadanya saat ia mengulang kalimat itu.


*****


Arabela mendudukan tubuhnya dibangku yang ada disamping ranjang Anara, ia mengusap lembut pipi Anara sambil menatap lekat wajah wanita itu , ia terlihat seperti orang yang tertidur sangat nyenyak, hanya kulitnya terlihat lebih pucat dari sebelumnya karena mungkin sudah lama tidak terkena sinar matahari,


“Hai Anara…!"


“Akan sangat menyenagkan bila kita berdua dapat berbincang-bincang secara langsung, kau pasti akan terkejut dan bertanya-tanya kenapa wajah kita bisa begitu mirip,awalanya aku juga terkejut saat pertama kali bertemu denganmu..., aku pernah mendengar kalau di dunia ini ada tujuh orang yang wajahnya mirip dengan kita, kalau begitu kita harus mencari lima orang lagi,"  tutur Arabela sambil terkekeh.


“Tapi…sepertinya kita tak akan pernah bertemu dapat bicara seperti ini, karena setelah kau bangun aku akan pergi dan tak akan pernah menunjukan wajahku lagi dihadapanmu, juga dihadapa Neal, papa dan mama," ucap Ara menunduk sedih.


Neal yang mendengar ucapan Ara di balik pintu kamar Anara menyandarkan tubuhnya, ia begitu sesak dan merasa sedih mendengar ucap Ara, ia berdiam diri mendengarkan  percakapan Arabela dengan Anara,


Ara menggenggam tangan Anara dan mengusapnya lembut, “ terima kasih sudah menambah orang-orang yang menyayangiku selain ibuku....keluargamu dan keluarga Neal sangat berarti bagiku, sampai kapan pun aku tidak akan bisa melupakan kebaikan kalian." Ara berkata tak bisa menahan tangisnya lagi.


“Bangunlah… semua orang menunggumu, Neal sangat membutukanmu, dia sangat mencintaimu, aku tidak bisa mengurus Neal dengan baik, karena aku yakin hanya kau yang bisa melakukan itu... "


Ucapan Ara terhenti saat medengar ketukan pintu, kamar Anara, dengan cepat Ara mengahapus air matanya, ia menolehkan wajahnya, ia melihat Neal sedang melangkah ke arahnya, perlahan Ara bangkit dari kursinya,


“Silahkah….Aku sudah cukup lama disini," ucap Ara pelan lalu melangkah keluar kamar dengan menundukkan kepalanya, Ara masuk ke kamar mandi yang tak jau dari kamar Anara, ai memutar air kran  dengan deras, dan melepaskan tangis yang ditahannya, ia mendekap dadanya yang terasa begitu sesak.


“Maafkan aku Anara…"


****


Mark menatap Tuan dan Nonanya itu lewat kaca tengah mobilnya, keduanya masih betah untuk tidak saling bicara, Ara  sibuk dengan ponselnya begitu pun dengan Neal.


“Maaf Tuan... kita kembali ke rumah atau...


“Kita langsung ke kantor saja, " potong Neal sambil menyimpan ponselnya.


“Kau ada kegiatan hari ini? " Tanya Neal sambil menatap Ara yang sedang asik dengan ponselnya, bahkan ia tidak mendengar pertanyaan Neal yang membuat pria itu kesal, ia segera merampas ponsel Ara, sehingga membuat Ara kaget


“Neal apa yang kau lakukan.....Kembalikan ponselku...!" seru Ara sambil mencoba meraih ponselnya dari Neal, tapi gerakan Neal lebih cepat ia memasukan ponsel Ara kedalam saku jasnya, Ara tak gentar ia mencoba untuk


merampasnya kembali tapi dengan sigap Neal mengakap kedua tangan Ara dan mengucinya ke belakang tubuh Ara  dan mendorong tubuhnya bersandar pada bangku mobil.


“Kembalikan ponselku!" seru Ara menatap Neal kesal dengan menautkan alisnya, ia masih belum mau menyerah.


“Tidak...! Itu hukuman untukmu karena tidak mendengarkanku...tukas Neal menatap lekat wajah Ara. Ara mencoba untuk merontah tapi tubuh kekar Neal mengukungnya dengan kuat, tentu saja ia kalah jauh dari Neal yang jauh lebih kuat darinya, akhirnya Ara lelah sendiri dan berhenti merontah.


“Aku minta maaf, tapi kembalikan ponselku," ucap Ara memelas. "Dan lepaskan juga tanganku Neal, ini sakit….," rengek Ara.


Neal pun tidak tega melihat wajah Ara yang memelas yang membuatnya terlihat begitu menyebalkan, perlahan Neal melepaskan pegangannya Ara mengusap lembut tangannya yang terlihat memerah, Neal meliriknya sekilas.


“Kau ada kegiatan setelah Neal?" Tanya Neal dengan suara rendahnya


“Iya...aku ada kelas  piona," dengus Ara masih kesal.


“Kemarin kan sudah!" seru Neal kembali dengan nada tingginya.


“Itu kemarin, tapi hari ini aku juga ada kelas lagi...aku tidak kursus make up lagi karena aku sudah menyelesaikannya, sehingga aku tambahkan pada kursus piona karena itu sangat menyenangkan.”


“Tidak usah kursus piano lagi, aku tidak mengijinkanmu untuk ikut lagi, mulai besok kau tinggal di rumah saja, menunggu aku pulang!”


Ara sangat terkejut mendengar ucapan Neal, "Neal…jangan larang aku untuk belajar piano, aku sangat menyukainya,”  rayu Ara sambil bergelayut di lengan Neal.


“Tidak...”


“Ayolah Neal, jangan seperti itu aku akan mematuhi semua perintahmu, tapi jangan suruh aku  untuk berhenti...," rengek Ara sambil menatap wajah Neal sendu. Neal menarik napas panjang saat melihat wajah Ara, tatapan mata itu sungguh membuatnya tak berdaya , apalagi mendengar suara manja Ara yang mendayu-dayu terdengar ditelinganya membuatnya luluh dan kembali menyerah.


“Baiklah..." ucap Neal pelan. Ara bersorak kegirangan dan memeluk Neal erat sambil tak henti mengucapkan terima kasih.


“Tapi kau harus menepati janjimu, akan menurut setiap perkataanku," sahut Neal pelan, seketika Ara melepaskan pelukannya sambil menatap Neal lekat lalu menganggukan kepalanya sambil tersenyum senang.


“Hari ini kau tidak usah pergi, temani aku ke kantor! "


“Tapi…


“Kau sudah berjanji akan mematuhi ucapaku kan….!"


“Iya.. " sahut Ara pelan.


Hari ini ia berencana ingin memintah maaf pada David tapi sepertinya harus gagal karena Neal tidak mengijinkannya untuk mengikuti kelas hari ini.


Sementara Mark hanya tersenyum melihat perdebatan Tuan dan Nonanya itu, sejak bersama Ara sungguh banyak perbedaan dari sikap Neal, ia terlihat lebih banyak bicara bila sudah bersama dengan Ara.


.


.


.


.


Bersambung