
“Kakaakk.....! "
Jessy berteriak heboh sambil menerobos masuk ke kamar kakaknya yang tidak terkunci, suara nyaring Jessy memecah kesunyai kamar, sehingga membangunkan Neal dari tidurnya. Ia sangat terkejut melihat adiknya dengan langkah besar menuju tempat tidurnya, dengan cepat ia menarik selimut menutup tubuh polos istrinya, sehingga hanya kepala Ara saja yang muncul dari balik selimut, Ara yang sekan tidak terusik dengan suara Jessy tetap terlelap sambil memeluk tubuh suaminya dengan erat.
“Berhenti disana,” seru Neal sambil melototkan matanya kepada adik perempuannya itu. Jessy pun seketika menghentikan langkanya.
“Kau sungguh tidak sopan masuk menyelonong ke kamar kakak,” seru Neal sambil menegakkan kepalnyanya.
“Aku sudah mengetuk beberapa kali, kakak saja yang tidak mendengarnya,”bantah Jessy membela diri.
“Aku hanya ingin bertemu dengan Kak Ara karena aku sangat merindukanya.” Jessy kembali melanjutkan langkahnya. Neal menggoyangkan telunjuknya sambil menautkan kedua alisnya dengan sorot mata tajam sehingga Jessy kembali menyurutkan langkah kakinya saat melihat tanda peringatan dari kakaknya.
“Jangan ganggu Ara, ia masih tidur karena ia masih sangat leleh.”
Jessy menjulurkan wajahnya mencoba menatap wajah Ara yang tersembunyi dibalik dada kakaknya,"apakah Kak Ara sakit," tanya Jessy mengernyitkan keningnya karena hanya sedikit saja wajah Ara tersembul dibalik selimut hangatnya. Neal yang baru saja membuka mulut untuk menjawab pertanyaan Jessy tapi Maxim keburu menyelonong ke kamar dan berdiri disamping Jessy sambil menatap ke tempat tidur. Neal hanya dapat menarik napas kasar.
“Kalian cepat keluar,” usir Neal kesal melihat Maxim ikut muncul di kamar. Mendengar keributan di dekatnya Ara akhirnya terbangun, ia mencoba membuka matanya yang masih terasa berat karena masih mengantuk, tapi dengan cepat ia menutup matanya kembali saat melihat Jessy dan Maxim berdiri tak jauh dari tempat tidurnya, Ara kembali berpura-pura tidur dan menenggelamkan wajahnya di dada suaminya, ia merasa sangat malu ditambah lagi dengan keadaannya tubuhnya dibalik selimut. Ia hanya dapat berdoa agar mereka tidak meloncat ke tempat tidur, mau di taruh dimana wajahnya kalau sampai mereka melakukan itu.
“Ayo Max kita keluar, kakak ipar masih tidur karena sangat kelelahan,” Jessy pun menarik tangan saudara kembarnya itu untuk keluar dari kamar. Bukannya menuruti ajakan Jessy ia malah terkekeh membuat Jessy menatapnya heran.
“Apa yang kau tertawakan.”
“Kakak ipar kelelahan pasti ulah kakak ya, kasihan kakak ipar menjadi korban keganasan kakak.” papar Maxim sambil berdecak menggelengkan kepalanya
“Apa? Kakak menyiksa kak Ara, awas ya aku akan mengaduhkan kakak pada Mommy,” ujar Jessy dengan wajah tidak senang. Gelak Maxim semakin keras saat mendengar ucapan polos saudara kembarnya itu. Neal yang hampir kehabisan kesabaran ingin melemparkan bantal disampingnya pada kedua adiknya itu. Wajahnya terlihat begitu garang membuat kedua adiknya bergidik ngeri. Maxim pun menarik tangan Jessy keluat dari kamar, tak lupa menutup kembali pintu kamar kakaknya.
Neal menatap wajah istrinya yang yang juga sedang meliriknya dengan dagu bersandar didadanya, pipinya sudah memerah seperti udang rebus kemerahan menahan malu, tangannya memegang erat selimut yang menutupi tubuhnya.
“Hampir saja,” lirih Ara sambil menarik napas panjang memasang wajah memelas. Neal hanya terkekeh melihat ekspresi lucu istrinya
“Selamat pagi sayang,” sapa Neal lalu mengecup bibir istrinya. “Tidurmu terganggu gara-gara bocah itu,” sungut Neal kesal.
“Tidak apa-apa ini juga sudah pagi,” Ara mendudukan tubuhnya tanpa melepaskan selimut yang membungkus tubuhnya.
“Baiklah kalau begitu ayo kita mandi, kamu pasti sudah lapar karena semalam begitu menguras energi” goda Neal sambil mengerlingkan matanya, Ara yang kembali tersipu malu mendengar ucapan suaminya mencubit perut roti sobek suaminya.
"Kau duluan saja."tolak Ara lembut.
Neal menatap tajam istrinya karena tidak senang mendengar penolakan istrinya,tak berani menatap balik suaminya Ara menarik selimut untuk menutupi wajahnya, dengan cepat Neal menahannya ia mendekatkan wajahnya ke wajah istrinya tanpa melepaskan tatapannya, tubuhnya kekarnya menindih tubuh Ara, Ara hanya menelan ludah saat menatap suaminya. hidung mereka saling bergesekan sehingga panas napas mereka menyapu wajah keduanya.
"Sayang kau begitu suka menolak ku dan kau sudah tau kalau aku tidak menyukai penolakan dari istri cantikku ini, jadi aku beri kau dua pilihan," ucap Neal dengan suara serak.
" Mandi bersama atau kita akan bercinta sepanjang hari."
"Baiklah ayo kita mandi saja," sahut Ara cepat bisa remuk tubuhnya kalau harus melayani suaminya itu sepanjang hari.
"Jangan pernah menolaku lagi," ucap Neal lalu ******* bibir istrinya lembut, Ara harus mengakui kalau suaminya sungguh sangat ahli dalam melakukannya sehingga ia kembali terbuai dalam rayuan maut bibir suaminya, walaupun Ara sudah menurut untuk mandi bersama, tapi Neal yang curang kembali mencumbu istrinya kembali menjadikan istrinya menu pembuka sarapan paginya, Ara yang tak bisa menolak pesona suaminya yang begitu ahli dalam bercinta.
****
Neal dan Ara turun untuk sarapan kedua adiknya sudah menunggu di meja makan, Jessy segera berlari menyusul Ara dan langsung memeluknya dengan erat karena ia sangat merindukan kakak iparnya itu, saking eratnya sampai membuat Ara sesak dan sulit untuk bernapas.
“Jessy jangan memeluk Ara terlalu kuat, dia kesulitan bernapas gara-gara kamu,” protes Neal. Jessy pun melepaskan pelukannya sambil terkekeh senang menatap lekat wajah cantik Ara.
“Aku juga sangat merindukanmu Jessy,”ucap Ara melepasakan satu tanganya dari genggaman Jessy dan mencubit pipi Jessy gemas, Jessy pun tertawa senang.
“Kau semakin cantik saja,” puji Ara menatap lekat wajah adik iparnya itu.
“Kakak juga semakin cantik,” balasnya memuji Ara. Mata Jessy membulat saat menatap leher Ara yang di penuhi oleh bercak-bercak kemerahan di balik rambut panjangnya, dengan cepat ia menyentuhnya, matanya langsung menatap Neal dengan tajam. Ara merapikan rambutnya berusaha menyembunyikan lehernya yang memerah karena ulah suaminya.
“Jadi benar yang dikatakan oleh Max, kakak menyiksa kakak ipar dengan mencubit lehernya sampai memerah seperti itu,” protes Jessy dengan wajah penuh amarah menatap kakaknya.
“Jessy…,” panggil Ara sambil menyentuh lengan adik iparnya itu, ia juga bingung bagaimana cara menjelaskan pada Jessy, apakah Jessy yang sudah dewasa masih sepolos itu tidak tau kalau lehernya memerah bukan karena cubitan tapi ulah bibir nakal kakaknya, ia melirik pada suaminya yang berdiri di sampingnya, sementara Maxim
terkikik di meja makan melihat kebodohan saudara kembarnya itu, Jessy memang masih sangat polos kalau dalam hal itu, karena kedua kakaknya begitu protektif dalam menjaganya, sehingga walaupun sudah tamat kuliah ia belum pernah memiliki seorang kekasih, seketika Max menghentikan tawanya melihat tatapan tajam kakaknya seakan menembus tubuhnya.
“Aku akan mengaduhkan kakak pada Mommy karena sudah berani menyakiti Kak Ara,” Jessy masih melayangkan protes yang membuat Ara semakin bingung. Neal pun mengalihkan tatapan pada Jessy yang masih mentapnya dengan wajah penuh kekesalan.
“Mana mungkin kakak akan menyakiti istri kakak sendiri, kau ini jangan berpikiran yang aneh-aneh, tidak usah dengarkan Max, ayo kita sarapan.”
“Kalau begitu tolong jelaskan kenapa leher kakak ipar bisa memerah seperti itu, atau jangan-jangan di tempat lain juga ada tanda merah seperti itu” seru Jessy. Ia mencoba memeriksa tubuh Ara tapi dengan cepat Ara menahan tangan Jessy. Maxim yang sudah diam kembali tertawa geli sambil memegang perutnya yang sakit menahan tawa.
“Jessy sayang, aku baik-baik saja, kakakmu benar mana mungkin ia akan menyakitiku, ini karena tadi leherku gatal aku menggarutnya cukup keras sehingga memerah seperti ini,” jelas Ara mencari alasan untuk meyakinkan Jessy agar percaya pada ucapannya, walaupun harus berbohong tidak mungkin ia mengatakan kalau tanda dilehernya bekas kissmark kakaknya.
“Kakak sedang tidak berbohong,” tanya Jessy penuh selidik takut Ara menyembunyikan sesuatu darinya. Dengan cepat Ara menggelengkan kepalanya. Jessy pun tersenyum lega, bukan hanya Jessy, Ara dan Neal ikut bernapas lega.
“Baiklah kalau begitu aku percaya, tapi kalau kakak berani menyakiti kakak ipar laporkan saja padaku,” lanjut Jessy. Ara pun menganggukan kepalanya lalu melirik pada suaminya yang juga sedang menatapnya.
“Baiklah kalau begitu ayo kita sarapan,”ajak Jessy menarik tangan Ara.
Ara hanya diam mengikuti langkah Jessy yang begitu bersemangat , Neal pun menyusulnya mengikuti langkah
mereka dari belakang.
Ara segera mengambilkan sarapan untuk suaminya juga untuk dirinya, mereka berempat pun segera menghabiskan sarapan di piringnya masing-masing, selesai sarapan Ara pun mengantar Neal kedepan pintu utama terlihat Mark sudah menunggu disana sedang mengobrol dengan paman Marco. Sebelum masuk ke mobil Neal memberikan kecupan dikening dan bibir istrinya. Ara melambaikan tangannya setelah mobil itu menghilang dari pandangnnya ia pun kembali masuk.
.
.
.
.
.
Bersambung
Thor dulu juga sepolos Jessy🙈🙈🙈
ada yang samaan gak😆😆
Selamat membaca semoga readers menyukainya 💪
Jangan lupa tinggalkan jejak 💪💪