
Daniel sedang membaca laporan hasil pemeriksaan labor salah satu pasiennya yang sedang ditanganinya ketika pintu ruangannya terbuka tanpa ada ketukan sebelumnya, ia menatap tamu yang tak di undangnya yang sedang melangkah menuju mejanya, senyum sinis menghias bibir Daniel melihat Neal datang wajahnya yang dingin dan matanya tajam menatap Daniel duduk di balik mejanya.
“Aku tau dari dulu kau orang paling ingin menjauhkan aku dari istriku, jadi rasanya tidak berlebihan jika aku menuduh kau orang di balik kepergian istriku.”
Tudingan Neal padanya membaut Daniel mendengus lalu diiringi suara tawa Daniel, "istri…setelah Ara pergi baru kau menganggapnya istri atau karena Anara sudah meninggal kau menjadikan Arabella sebagai pelampiasanmu.”
Neal yang sudah terbakar amarah saat mendengar ucapan Daniel semakin menyulut kobaran amarah dalam dirinya yang sudah ia tahan sejak tadi.
Bugh….
Satu pukulan mendarat dengan mulus di rahang Daniel, kerasnya pukulan Neal membuat Daniel yang sedang duduk di kursinya hampir terjengkang, Daniel mengusap bibirnya yang berdarahkarena luka disudut bibirnya.
“Aku akan menyumpal mulutmu jika kau berbicara semau mulutmu saja, kalau kau tidak tau kebenarannya jangan asal bicara.” Neal menarik krah kemeja Daniel dan memandangnya dengan tatapan menyala.
Bugh….
Daniel balas memukul Neal sehingga membuat hampir membuatnya terjatuh untung dengan cepat ia menggapai ujung
meja Daniel menahan tubuhnya agar tidak sampai menyentuh lantai. Darah segera keluar dari hidung Neal dengan cepat ia menghapusnya dengan punggung
tangannya.
“Sekarang kau sudah puas setelah Ara pergi, ia pergi tanpa tanpa pamit pada siapapun, kau tau kenapa...karena hatinya begitu terluka dengan sikapmu, “ teriak Daniel melangkah keluar dari belakang mejanya.
“Kau sungguh ********, membuatnya dirinya hamil, lalu meninggalkannya begitu saja, kau tidak tau betapa terlukanya ia saat kehilangan bayinya, mengingat itu saja membuat hatiku begitu sakit, itulah alasan mengapa aku menolak kau menikah dengannya, demi melindungin nama baik
keluarga kita dengan mengorbankan perasaan seorang wanita yang tidak tau
apa-apa.”
Neal mundur beberapa langkah dengan tubuh terhuyung-huyung, kedua tangannya yang besar menangkup kepalanya yang tertunduk, rasa sakit memenuhi seleruh tubuhnya.
“Aku menawarkan kebebasan padanya, membawanya jauh dari dirimu, tapi dengan tegas ia menolak keinginanku.” Daniel berkata sambil menyisir rambutnya kebelakang dengan jari-jari tangannya.
“Kalau pun sekarang aku tau dimana ia berada aku tidak akan pernah memberitahukan padamu, biarlah dia pergi jika itu akan membuatnya lebih baik, jika dia tetap bertahan disisimu tapi pikiranmu hanya diisi oleh bayangan Anara itu akan membuat Ara semakin terluka dan sakit hati.”
“Kau tidak tau betapa sulitnya posisiku…. andai kau yang berada di posisiku apa kau masih bicara seperti itu, kau tidak tau apapun tentang perasaanku.” Selesai bicara Neal memutar tubuhnya lalu keluar dari ruangan Daniel dengan kepala tertunduk. Setelah Neal pergi Daniel meninju lemari kaca
disampingnya dengan tangan bekas ia
memukul Neal tadi.
Dokter Sera yang bermaksud ke ruangan Daniel, menghentikan langkahnya di didepan pintu saat ia mendengar keributan dari dalam, ia memutuskan untuk menunggu disana, tak lama pintu ruangan Daniel terbuka ia melihat seorang pria keluar dari sana dengan hidungnya yang berdarah.
Tuan Neal… apa yang terjadi mengapa ia bertengkar dengan Dokter Daniel dan wajahnya juga sampai terluka seperti itu.
Sera bergegas masuk saat mendengar suara kaca pecah yang cukup keras dari ruangan Daniel, ia tertegun melihat Daniel berdiri diam mematung dengan tangan yang penuh lumuran darah.
‘Apa yang kau lakukan, lihat tanganmu berdarah Dokter.” Dengan cepat Sera menghampiri Daniel menarik tangannya
duduk di sofa, Daniel tak menolak ajakan Sera ia hanya menurut dan diam saat Sera memaksanya duduk, Sera bergegas mengambil kotak P3K yang ada di dalam
lemari. Ia berlutut di depan Daniel dengan telaten membersihkan luka di punggung tangan Daniel, sesekali ia menatap Daniel yang tertunduk diam, setelah memastikan lukanya tidak ada yang perlu di jahit, Sera membalurkan obat di luka itu, kemudian membalut lukanya dengan kain kasa dengan hati-hati, Daniel menatap wajah Sera yang focus membalut luka ditangannya.
“Selesai.” Ucap sera sambil mengangkat wajahnya memandang pada Daniel yang juga sedang menatapnya dengan tajam, netra birunya bertemu dengan netra abu-abu Daniel. Wajah keduanya begitu dekat. Sera dengan cepat mengalihkan pandangannya, wajahnya terasa panas, ia merasakan jantungnya berdetak dengan cepat menciptakn rasa panas disana.
“Sama-sama” Sahut Sera
pelan terdengar seperti gumauan saja.
“A-aku kesini, ingin memintah laporan hasil Lab pasien yang akan kita operasi besok.” Sera menyampaikan niatnya kenapa ke ruangan Daniel.
Kenapa aku gugup seperti ini, si Daniel pasti akan salah sangkah padaku.
“Ada di atas mejaku.”
Sera begegas bangun dan melangkah menuju meja Daniel sedangkan Daniel masih tersenyum memandang punggung Sera, ia sekan terlupa dengan pertengkarannya barusan dengan Neal. Melihat Sera salah tingkah di depannya sungguh pemandangan yang menarik baginya.
Setelah menemukan yang dicarinya Sera menghadap Kembali pada Daniel tapi ia berdiri mengambil posisi yang berjarak cukup jauh dari Daniel, ia mengutuk dirinya debaran jantungnya semakin tidak bisa ia kendalikan, apalagi saat menatap kearah Daniel yang masih memasang senyum dibibirnya.
Apa maksudnya tersenyum seperti itu padaku, terlihat sekali ia mencoba mengodaku dengan senyuman yang
mengesalakn seperti itu, tapi…dia terlihat semakin tampan dan seksi.
Sera merutuk dirinya karena justru ia sangat menyukai senyuman Daniel tak bisa menolak pesona senyuman itu.
“Apa sekarang kau sudah menyadari kalau aku ini sangat tampan kau bahkan tidak berkedip saat memandangiku.” Daniel sengaja semakin menggoda Sera dengan kata-katanya. Wajah Sera memanas pasti sekarang wajahnya sudah seperti udang rebus. Daniel bangkit dari duduknya berjalan kearah Sera, ia menghentikan langkahnya saat jarak diantara mereka tak cukup setengah meter.
“Karena kau sudah menolong membalut lukaku, aku menginjinkanmu untuk melakukan apa pun pada tubuhku,” ucap Daniel menggodanya dengan tatapan juga menarik sudut bibirnya, wajah yang
tampan semakin menggoda, mata Sera menatap bibir Daniel yang merah terlihat
ada luka kecil di sudut bibirnya, Sera mengangkat tangannya begitu saja
menyentuh luka di sudut bibir Daniel mengusapnya dengan pelan.
“Kau memintah ciuman padaku.”
Suara Daniel menyadarkan dirinya dengan cepat ia menjauhkan tanganya dari bibir Daniel, ia memejamkan matanya menahan rasa malu yang menyerang seluruh tubuhnya, ingin rasnya ia menenggelamkan tubuhnya di balik tembok di sampingnya.
“A-aku sudah menemukan yang aku cari,” sambil menunjukankan map yang ada ditangan kirinya.
“Aku pergi dulu.” Sera bergegas keluar dari ruangan Daniel, bibirnya tak hentik mengutuk tindakannya yang bertolak belakang dengan perintah otaknya, Daniel hanya terkekeh saat
medengar umpatan-umpatan kecil yang keluar dari bibir Sera, ia semakin
mengeraskan tawanya saat Sera dengan sengaja membanting dengan kuat saat
menutup pintu ruangannya.
.
.
.
.Bersambung
Jangan lupa like dan komen ya❤❤