Arabella Secret

Arabella Secret
Sepotong kisah


Nataysa yang sedari tadi diam hanya menatap interaksi anatar ibu dan anak itu, perlahan ia mendekatkan dirinya sehingga membuat Mark tersadar jika ia datang tidak sendiri,” sebentar ibu aku akan mengenalkanmu dengan seseorang,” ucapnya sambil menarik tangan Nataysa dengan posisi masih berlutut didepan ibunya.


Mata tua itu menatap Natasya yang berdiri didepannya, ia pun  ikut berlutut disamping Mark sambil menatap Mark ragu.” Siapa wanita ini, Nak,” tanyanya tanpa melepaskan tatapanya.


“Selamat sore ibu, perkenalkan saya Natasya. Saya wanita yang mencintai putra ibu,” ucapnya lembut sambil


menyentuh tangan wanita yang duduk didepannya itu. Mark menatap Natasya  terkejut tidak menduga akan memperkenalkan dirinya seperti itu didepan ibunya.


“Kau mencintai putraku yang tampan,” ulangnya. Nataysa pun mengganggukan kepalanya menampilakn senyum


termanis yang ia miliki.


“Apakah kau tidak akakn meninggalkan putraku seperti Daddynya yang meninggalakn kami,” tanyanya lagi


menyentuh wajah Natasya dengan mata sudah penuh dengan air mata.


“Aku akan meninggalkan putra ibu jika Tuhan telah membawaku pergi bersamanya.” Mark menatap lekat wajah Natasya  mendengar ucapan wanita itu tanpa ada keraguan sedikit pun dari nada bicaranya, Natasya balas menatapnya lalu menyentuh pipi Mark lembut,” aku bahkan semakin mencintainya sekarang.”


Mark tidak dapat menyembunyikan keharuannya matanya mulai berkaca-kaca, ia meraih tangan Natasya yang masih menyentuh wajahnya lalu mengecupnya dengan lembut.


“Aku ibu yang buruk, tidak bisa membahagiakan anaku kasihan sekali putraku harus menderita Karenaku,” lirih ibu Mark mulai menagis kencang sambil memukul dadanya. Dengan cepat Mark menengakan ibunya membawanya kedalam pelukannya, tapi ia masih terus menangis dengan histeris sambil memangggil-manggil nama pria yang dicintainya.


“Viktor…aku sangat mencintaimu…aku sangat merindukan. Apakah kau tidak merindukanku sayang.”ia


terus berbicara sehingga Mark menyuruh Natasya memanggil bibi Elis untuk mengambilkan obat ibunya.


Setelah menyuntikan obat penenang pada ibunya wanita itu akhirnya tertidur, begitulah setiap Mark


berkunjung selalu mengingatkannya pada Daddynya sehingga membuat ibunya kembali terluka teringat pria yang sampai sekarang masih ia cintai dengan begitu dalam. Mark memang sudah berlatih bagaimana cara menyuntikan obat penenang untuk ibunya begitu pun dengan paman Hans yang juga sudah diajarkan dokter apabila ibunya


susah untuk di tenangkan.


****


Kedua berdiri dibalkon menatap langit malam yang begitu cerah, langit ditaburi bintang yang berkelap-kelip menambah keindahan malam, bulan separuh juga menggantung indah dilangit membuat suasana malam begitu damai dan tenang. Keduanya berdiri bersebelahan Mark menumpangkan dua tanganya di pagar balkon menatap Natasya yang mengusap lengannya pelan.


“Kau sudah bertemu dengan ibuku dan sudah tau bagaiaman keadaannya, apakah….


“Aku akan berhenti mencintaimu karena aku sudah tau bagaimana keadaan ibumu sebenarnya,” potong Nataysa cepat.


“Apakah kau melihatku wanita seperti itu.”


“Tidak...bukan seperti itu maksudku Nat.” Mark mengubah posisinya mengahadap pada Natasya yang masih


menyampingnya,” jika kau mencintaiku kau juga harus mencintai ibuku apakah kau tidak malu memiliki seorang mertua yang…


Natasya meletakkan jarinya didepan bibir pria itu sehingga ia tidak bisa melanjutkan ucapannya,” aku mencintaimu apa pun itu tidak akan mengubah perasaanku. Berhentilah memandangku seperti wanita picik yang selau mengaharapkan kesempurnaan. Aku mencintaimu, bagaimana pun keadaan  keluaragmu aku juga akan mencintainya.”


Mark merengkuh tubuh Natasya dalam pelukannya ia memejamkan matanya lalu mengecup puncak kepala Natasya cukup lama ia melakukannya,Natasya membalaskan pelukan Mark dan menyandarkan wajahnya di  dada Mark mencari tempat yang nyaman untuknya bersandar. Hatinya bersorak gembira ini pertama kali Mark memeluknya tanpa paksaan darinya.


Sulit menggambarkan perasaan yang sedang menyelimuti dirinya saat ini, ia tidak menyangka ternyata Natasya memang tulus mencintainya.  Lepas dari sifat manja dan kenak-kanakanya ia seorang wanita yang bisa berpikir dewasa. Itulah hal yang selalu ia ragukan saat menerima pernyataan cinta dari Natasya  ia takut dirinya tidak mampu menerima keadaan keluarganya yang selalu ia sembunyikan dari orang-orang. Hanya ada beberapa orang saja yang tau keadaan ibunya yang sebenarnya diantaranya Neal, Daniel, dan Denish bersama Julia istrinya dan sekarang ditambah oleh Natasya.


Ia masih memeluk tubuh Natasya dengan erat mengusap punggung wanita itu dengan lembut,” ibuku dulu seorang model , Rose oxana kau mengenal nama itu,ehm,” Tanya Mark menundukan wajahnya. “Iya tentu saja aku tau, itu kenapa aku seperti tak asing saat melihat wajah ibumu pertama kali,” sahut Natasya mengangkat wajahnya balas menatap Mark dengan lembut. Mata keduanya saling bertemu, Mark mengangkat tangannya menyentuh pipi Natasya dengan punggung tanganya lalu menyusuri wajahnya dengan lembut.


“Kecantikan yang ibu miliki membuat seoarng pria yang berasal dari Ukraina jatuh cinta padanya pada pandangan pertama dan cinta itu tidak bertepuk sebelah tangan karena ibuku juga jatuh cinta saat pertama kali bertemu dengannya. Mereka akhirnya pacaran dan ibu meninggalak kariernya di dunia modeling saat tau dirinya hamil. Ia berjanji akan menikahi ibu tapi itu tidak pernah terjadi karena ternyata ia menikah dengan wanita lain, kabar itu


sungguh membuat ibu depresi. Paman Hans dan bibi Elis yang mengasuhku dari bayi karena ibu bahkan tidak bisa mengurus dirinya sendiri dengan baik, paman dan bibi dulu bekerja dengan ibu mereka sudah menganggap ibu seperti adiknya sendiri. Mereka berdua tidak memiliki anak dan ia mengasuhku seperti anaknya sendiri.”


“Ya…aku bisa melihatnya kalau paman dan bibi sangat menyayangimu,” Natasya berkata sambil mengusap rambut Mark lembut. “apakah sejak itu ibu dan ayahmu tidak pernah bertemu lagi.’


“Tidak…sejak saat itu sampai sekarang mereka tidak perna bertemu lagi.”


“Sampai sekarang ibu masih menunggu kedatangan Daddy karena ia masih sangat mencintainya walaupun laki-laki itu telah menyakitinya sangat dalam. Ibu selalu mudah sekali lupa kecuali tentang Daddy, kau bahkan melihat sendiri ia bahkan tidak mengingat aku putranya sendiri, begitulah setiap aku mengunjunginya aku selalu harus mengenalkan diriku kembali.”


Natasya menarik kepala Mark bersandar didadanya , ia tidak dapat menahan air matanya saat melihat sisi rapuh Mark yang selalu ia sembunyikan betapa banyak luka dalam hatinya yang ia sembunyikan di balik wajahnya yang dingin.


“Sekarang ada aku, Kakak bisa membaginya denganku,” bisik Natasya lembut mengusap lembut rambut


Mark yang masih bersandar didadanya.


“Apakah kau masih mencintaiku.” Mark bertanya menatap dalam netra biru pudarnya. Natasya menangkup wajah Mark dengan kedua tangannya,” aku semakin mencintaimu setelah aku tau semua ini, apa pun itu tidak akan pernah mengurangi rasa cintaku padamu. Because I love you so much.”


Mark mendekatkan wajahnya menatap bibir merah alami Natasya yang sedikit terbuka, perlahan ia mendekat lalu menempelkan bibirnya negecup bibir itu dengan lembut. Mata Natasya membulat dengan sempuran ini pertama kalinya Mark menciumnya karena biasanya ia yang selalu menyosor tidak peduli dengan protes Mark karena ia


seeneknya mencium bibirnya. Ia semakin memperdalam ciumannya mengulum bibir itu dengan lembut, perlahan Natasya mulai membalas ciuman itu dan mengalungkan tangannya ke leher Mark.


Keduanya melepaskan tautan mereka ketika pasokan oksigen mulai menipis dalam paru-paru keduanya.


“Kenapa wajahmu, bukannya kau sudah biasa menciumku sesuka hatimu ehm, kenapa sekarang kau jadi


malu seperti ini,” ucap Mark tepat didepan bibir Nataysa. Natasya membalas ucapan Mark dengan cubitan kecil di pinggangnya sehingga membuat pria itu meringis menahan sakit.


“Kenapa kau mencubitku,” protes Mark.


“Itu karena kau menggodaku,” tukas Nataysa bersungut kesal sehingga membuat Mark gemas dan mencubit pipi Nataysa tapi tidak menyakitinya.


Mereka berdiri di depan pagar balkon, Mark memeluk tubuh Nataysa dari belakang dengan mesra, rasa bahagia begitu membuca di hati Natasya karena sekarang cintanya sudah tidak bertepuk sebelah tangan, ia sedari tadi terus senyum-senyum sendiri bila mengingat hal itu.


“Kenapa dari tadi senyum-senyum sendiri seperti itu,ehm,” Tanya Mark menyandarkan dagunya ke pundak Natasya.


Natasya mengusap lembut tangan kokoh yang melingkari pinggangnya,” tentu saja karena aku sangat bahagia


Sayang, kau pikir aku tidak menderita mencntaimu selama bertahun-tahun tanpa mendapat balasan darimu, dan sekarang kau sudah membalas cintaku tentu saja aku sangat bahagia,” terang Nataysa begitu polos.


“Kak, kenapa kau akhirnya menerima diriku,” tanyanya menolehkan wajahnya mengahdap pada Mark.


“Karena aku jatuh cinta padamu pada saat pertama kali aku bertemu denganmu,” jawabnya balas menatap


Nataysa sehingga membuat mata cantik itu membulat dengan sempurna.


“Benarkah, tapi kenapa kau sangat jual mahal sekali padaku, pada hal waktu itu kita sudah sama-sama ada ketertarikan.”


“Apakah kau takut akan sama seperti….


Natasya tidak melanjutkan ucapannya ia hanya menatap bola mata coklat Mark yang juga sedang menatapnya," iya, aku takut semua itu terulang lagi.”


Natasya memutar tubuhnya sehingga menghadap kepada Mark ia melingkarkan tangannya ke pinggang Mark


mengangkat sedikit wajahnya agar dapat melihat wajah itu dengan jelas,” bolehkan aku bertanya sesuatu.”


“Kenapa.”


“Apakah kau pernah bertemu dengan Daddymu.”


Melihat Mark yang diam membuat Natasya tidak enak hati tidak seharusnya ia melontarkan pertanyaan yang


mungkin terdengar sangat sensitive ,” kau tidak perlu menjawabnya jika kau tidak mau Kak.”


“Aku bertemu dengannya pertama kali saat aku berusia dua belas tahun, saat itu ia menemui aku disekolah. Aku tau Daddy yang mengirim biaya hidupku dan ibu  walaupun bibi dan paman tidak pernah megataknnya padaku, karena itu aku belajar dengan keras agar aku tidak menerima uang darinya lagi, bahkan aku bekerja sepulang sekolah agar bibi tidak menerima uang dari dirinya lagi, tapi biaya pengobatan ibu yang cukup memakan biaya yang besar tentu saja bibi harus tetap memakai uang itu.”


“Kapan terakhir kalian bertemu.”


“Dipesta pernikahan Kakakmu, aku tidak menyangkah kalau keluargamu juga mengenal ayahku.”


“Benarkah, ayahku memang punya beberapa rekan bisnis di Ukraina, apakah…Nataysa menghentikanucapannya ia menatap wajah Mark dengan menautkan alisnya sehingga membuat Mark heran.


“Kenapa.”


“Maaf bukannya aku ingin ikut campur, tadi ibumu menyebut nama Viktor, teman ayahku yang berasal


dari ukraina bernama Viktor petrov apakah dia orang yang sama,” Tanya Natasya menatap Mark dengan tatapan penuh selidik.


“Iya, dia ayahku.”


“Kak, paman Viktor adalah sahabat papa, paman Viktor sempat beberapa kali berkunjung ke Mansion tapi beliau selalu datang sendiri.”


Mark tidak menyahuti perkataan Natasya ia mengakat dagu wanita itu dan kembali mencium bibirnya, keduanya melepaskan ciumannya ketika ada yang memanggilnya untuk makan malam dan keduanya pun segera turun.


.


.


.


.


Bersambung.


Bab selanjutnya Ara dan Neal akan mengunjungi ibunya ya.


Selamat membaca 🙏🙏