Arabella Secret

Arabella Secret
Tantangan


Mark melirik Neal dari kaca tengah mobil, diwajahnya terlihat betapa bahagianya hatinya pagi ini, seulas  senyum terus mengembang di wajahnya  yang beberapa bulan ini begitu dingin dan murung seakan diselimuti awan hitam tebal, dan sepertinya mendung itu telah berlalu dibawah badai, kembalinya Arebella sungguh memberikan hal positif pada diri Neal, semangat diri yang sempat pupus sekarang kembali terpancar dari wajahnya, sungguh cinta telah mengubah dirinya setelah ia menemukan seorang wanita yang mampu menjungkir balikan hidupnya, meski pernah bertunangan dan hampir menikah dengan Anara wanita yang juga dulu di cintainya tapi sepertinya rasa cinta kepada Arabella terlalu besar, rasa cinta yang mungkin lebih dari mencintai dirinya sendiri, wanita yang dulu kehadirannya begitu ia tolak dan selalu menyakitinya tapi justru ialah wanita yang membuatnya tau akan arti mencinta yang sesungguhnya.


“Mark," panggil Neal mencoba menatap Mark yang sedang mengemudikan mobil.


“Iya Tuan,” sahutnya cepat.


“Aku ingin kau mengurus pernikahanku dengan Ara, aku tak ingin ada media yang tau tentang pernikahanku ini, aku tidak ingin orang-orang berpikiran buruk tentang istriku, pasti semua orang akan berpikir aku menikahinya karena wajah mereka yang mirip, aku hanya tak ingin Ara terluka dengan pernyataan dari mulut orang-orang yang tak


bertanggung jawab. Aku perlu waktu yang tepat untuk menyampaikannya.”


“Baiklah Tuan, semua akan aku atur sesuai dengan keinginan anda Tuan. Kapan Tuan akan menikah dengan Nona lagi.”


“Minggu depan, makin cepat semakin baik aku ingin menunjukan padanya kalau aku benar-benar sangat mencintainya dan ingin mengikatnya sebagia Arabella istriku."


“Baiklah Tuan,” jawab Mark cepat, walaupun  sangat terkejut harus menyiapkan semuanya dalam waktu satu minggu.


“Maaf bukannya saya ingin ikut campur Tuan, tapi apakah Nona sudah tau kalau Nona Anara sudah meninggal?” Tanya Mark hati-hati takut merusak mood Neal yang sedang bagus.


“Belum, saya belum mengatakannya,” sahut Neal pelan sambil menatap keluar jendela mobil.


“Saya sedang menunggu waktu yang tepat untuk membicarakannya.” Mark hanya mengganggukkan kepalanya pelan tak berniat untuk bertanya lagi. Tak ada lagi terdengar pembicaraan diantara mereka berdua  sampai keduanya tiba di kantor.


****


Neal dan Mark langsung  masuk ke dalam ruangan masing-masing begitu sampai di kantor, ruangan mereka masih berada dalam satu lantai. Begitu melihat kedatangan Mark asistennya yang biasa membantunya mengurus pekerjaannya langsung berdiri dan menyapanya dengan sopan, Mark menganggukan kepalanya tanpa bersuara.


“Tuan,” panggil asistenya itu saat ia akan membuka pintu, Mark menolehkan wajahnya menatap wajah asistenya yang terlihat gugup dan cemas.


“Ada apa.”


“Di ruangan Tuan ada seorang wanita yang sedang menunggu anda, saya sudah menahannya untuk tidak masuk tanpa mendapat ijin dari Tuan, tapi ia terus saja memaksa  katanya ia calon istri anda, jadi aku tidak mungkin menahannya,”jelas wanita itu dengan suara masih menahan takut.


“Ya sudah, lanjutkan pekerjaanmu,” Mark pun kembali melanjutkan niatnya untuk membuka pintu ruangannya, otaknya bekerja keras untuk mencoba menebak siapa yang pagi-pagi sudah membuat kekacauan di kantornya. Mark mencoba memperkirakan siapa sosok wanita pengganggu itu. Asisten Mark bernapas lega melihat Mark pergi beruntung ia tidak menjadi sasaran kemarahan Mark pagi ini.


Mark memutar hendel pintunya mendorong daun pintu itu pelan, matanya langsung mengitari ruangannya, perkiraannya tidak meleset sedikit pun ia melihat Natasya sedang duduk di kursi kerjanya, ia meneruskan langkahnya  tak lupa menutup pintu itu kembali. Ketukan sepatu Mark terdengan cukup nyaring memecah


kesunyian ruangan itu, tapi sepertinya tidak mengusik sosok yang sedang duduk bersandar di kursi dibelakang meja kerjanya. Wajahnya yang dihiasi kaca mata hitam tengada menatap langit-langit ruangan kerjanya.


Ketika tubuh Mark yang semakin mendekat Natasya membuka kaca matanya dan menatap Mark dengan wajah sumringah, tapi tidak demikian dengan Mark, tatapan menusuknya sekan akan menembus tubuh Natasya, ia sangat kesal melihat wanita itu muncul lagi didepannya, beberapa bulan ini ia merasa sangat tenang karena tak lagi diganggu oleh Natasy yang seenakanya datang ke apartemennya.


“Turun dan keluar dari sini,” perintah Mark dingin tanpa melepaskan tatapannya dari Natasya.


“Kakak apa kau tidak merindukan aku, kita hampir empat bulan tidak bertemu,” ucap Natasya dengan suara manjanya bangun dari kursi Mark dan berjalan menghampirinya.


“Pulanglah,” perintah Mark tanpa memperdulikan pertanyaan Natasya lalu duduk di kursinya. Tak mendapat tanggapan dari Mark membuat Natasya cemberut tapi bukannya mengindahkan perintah Mark untuk keluar dari ruangannya, ia malah melangkah mendekat pada Mark yang menduduki kursinya, lalu ia naik dan duduk diatas pangkuan Mark menggelayutkan satu tanganya ke lehernya, matanya mengerling nakal pada Mark yang menatapnya dengan tatapan yang lebih dingin dibandingkan cuaca  di luar sana.


“Beri aku satu kecupan setelah itu aku akan pergi,”bisik Natasya tepat didepan bibir Mark. Baru saja Mark membuka mulut untuk bicara, derit daun pintu yang terbuka mengalihkan pandangannya.


“Ma-maaf Tuan,”Seva tergagap melihat pemandangan didepannya, wanita yang memaksa masuk kedalam ruangan Mark sedang duduk dipangkuan bosnya dan bergelayut manja padanya. Natasya balik menatapnya sambil tersenyum lebar ia mengusap-usap dada  Mark.


“Ada apa?”


“Ini Tuan saya ingin memberikan laporan yang Tuan minta kemarin,” Jelas Seva sambil menunjukan map biru ditangannya.


“Letakan dimejaku.”Perintah Mark tegas. Seva pun mengiyakan melangkah ke meja Mark sambil menunduk kepalnya lalu  meletakan map itu dengan hati-hati.


“Permisi Tuan.” Seva pun mengambil langkah seribu keluar dari ruangan Mark sambil mengutuk dirinya yang masuk tidak tepat waktu bisa-bisa nanti ia menjadi sasaran kemarahan Mark.


“Auuwwwhh…!


Natasya berteriak kesakitan ketika bokong seksinya mendarat mulut diatas lantai, karena Mark yang berdiri tiba-tiba membuatnya tak sempat perpegangan.


Natasya melepas mantel bulu yang membungkus tubuhnya dengan kasar lalu melemparkannya ke lantai,” Tuan


Mark terhormat mengapa anda begitu sombong, saya sudah merendahkan harga diri saya didepan anda, tapi lihat apa balasan Anda," ucap Natasya dengan menahan kesal. " Sekarang aku ingin tau apakah anda tidak tertarik sedikit pun kepadaku.” Natasya meletakan kedua tangannya di sandar tangan kursi menundukan tubuhnya  menatap Mark dengan tajam, menghembuskan napasnya ke wajah tampan Mark.


Mark balik menatap wajah Natasya sambil melipat kedua tangannya kedadanya,” apa selama ini apa yang aku katakan masih kurang jelas bagimu,” dengus Mark tersenyum sinis.


“Aku ingin mendengarnya sekali lagi Tuan Mark.” Natasya tersenyum menanatang.


“Nona Natasya saya tegaskan sekali lagi kalau saya tidak tertarik pada Anda Nona.”


“Berikan aku alasannya Tuan Mark.”


“Tidak semuanya ada alasan Nona Natasya, tapi yang jelas anda bukan tipeku.”jelas Mark tersenyum tipis sekan ingin membuat Natasya kesal dan marah padanya agar tidak mengganggu hidupnya lagi.


“Baiklah, terima kasih Tuan Mark, saya berjanji tidak akan mengganngu anda lagi tapi ada satu syarat yang harus anda penuhi Tuan Mark terhormat.” Natasya mengangkat satu sudut bibirnya.


“Apa aku bisa memegang ucapamu,” Mark balik menantang Natasya.


“Aku bukan pembohong Tuan Mark, asal kau mau memenuhi persyaratanku.”


“Baiklah, apa syaratmu.”


“Aku akan membuatmu jatuh cinta padaku selama 4 bulan, tapi jika akau tidak bisa membuatmu jatuh hati padaku, aku berjanji tidak akan pernah mengganggu hidupmu lagi, saya akan menghapus semua tentang dirimu dari hidupku, tapi…


Natasya mengentikan ucapannya lalu mengusap pipi Mark lembut dengan ujung jarinya yang lentik,” kita harus tinggal bersama selama empat bulan itu.”


Mark terkekeh saat mendengar syarat dari Natasya,” terserah kau saja, tapi bersiap saja untuk kalah Nona.”


“Oke, kita lihat saja nanti siap yang akan kalah sekarang beri aku pin apartemenmu, aku akan membawa barang-barangku pindah ke tempatmu.” Tanpa menjawab Mark mengambil pena dan meraih sehelai kertas lalu menuliskan pin apartemennya, lalu menyerahkannya pada Natasya tanpa menatapnya. Natasya pun segera menyaut kertas itu


“Terima kasih sayang,” Natasya mengecup singkat bibir Mark lalu tersenyum lebar memandang pada Mark yang menyipitkan kedua matanya.


Natasya menjauhkan tubuhnya mengambil  kaca matanya yang ia letakan diatas meja kerja Mark, lalu  mengambil


mantelnya yang teronggok dilantai, membalutkan kembali ke tubuhnya yang ramping tanpa menatap pada Mark, setelah itu ia pun pergi dari ruangan Mark tanpa sedikit pun menolehkan wajahnya. Mark hanya menatap punggung Natasya yang akhirnya menghilang dibalik pintu.


“Aku pastikan kau akan menyerah dengan tantanganmu sendiri,” ucap Mark mengambil map yang diletakan Seva tadi.


.


.


.


.


.


Bersambung


Lama benar upnya 🤔🤔🤔


Beberapa hari ini benar-benar sibuk dengan pekerjaan di di dunia nyataku😤😤


jadi benar-benar gak ada waktu untuk mengetik😑😑


Terima kasih bagi yang sudah menunggu dengan sabar🙏


Selamat membaca semoga kalian menyukainya🙏