Arabella Secret

Arabella Secret
Berjumpa lagi


Begitu tiba di apartemen David Jessy segera memarkir mobilnya, hari ini Ara sudah berjanji akan menemui David di apartemennya, keduanya pun turun dari mobil dan berjalan ke lobi apartemen kemudian menuju lift ke lantai tempat David tinggal, tak butuh waktu


lama keduanya pun sampai, Ara menekan bel dan menunggu beberapa saat dan pintu pun terbuka.


“Selamat siang David,”sapa Ara ramah dengan seulas senyuman menghias bibirnya.


“Ara,” sapa David dengan wajah begitu gembira saat melihat Ara berdiri didepan pintunya. Wajahnya sudah tidak sedih seperti ia lihat terakhir kali sungguh ia merasa sangat bahagia melihat keceriaan menyelimuti wajah cantik itu lagi.


“Ayo masuk,” ajak David sambil menarik tangan Ara.


Kedua pun segera masuk mengikuti langkah David menuju sofa di ruang tamu, keduanya pun segera mendudukan tubuhnya disana, Jessy tak henti memperhatikan setiap gerak-gerik David di depannya, begitu pun saat pria itu mengambilkan minum untuk mereka, ia memperhatikann semua hal yang dialakukan oleh pria itu, saat David berbalik dengan membawa tiga buah kalang minuman di tangannya dan meletakan di depan keduanya tak sengaja ia pun balik menatap Jessy tapi dengan cepat Jessy mengalihkan


tatapannya karena merasa malu ia ketahuan diam-dian mengamati David, rona kemerahan di wajah Jessy membuat David tersenyum simpul.


“Kapan kau Kembali,” tanya David sambil mendudkan tubuhnya di sofa.


“Dua hari yang lalu.”


“Aku senang melihatmu sudah kembali seperti Ara yang aku kenal dulu.”


“Apa maksudmu. Aku dari dulu memang seperti ini."


David tertawa mendengar pertanyaann Ara,” kau sudah lupa bagaimana saat terakhir kali kau datang ke tempatku, wajahmu selalu sembab karena kau selalu menangis tiap hari, selama seminggu tinggal denganku aku tidak pernah melihat senyum muncul di wajahmu."


Ara teringat lagi saat ia menumpang tinggal di tempat David, pria itu sangat baik padanya, memasak untuknya walaupun terkadang ia tidak memakannya karena ia tidak pernah merasakan lapar, hatinya begitu sedih mengingat ia harus berpisah dengan Neal. David yang selalu memberinya semangat dan akhirnya menyuruh ia tinggal di di kota Tomks, menepati apartemennya. Dan disana ia mencoba memulai hidup yang baru, mencoba melupakan Neal walaupun tidak akan mudah baginya.


"Kenapa melamun kau sudah mengingatnya, " tanya David membuyarkan lamunan Ara. Ia tidak menjawab hanya tertawakan kecil pada David.


“Aku hampir lupa aku kesini bersama seorang teman, kenalkan ini Jessy adik suamiku.”ucapnya sambil melirik Jessy disampingnya. David pun mengikuti arah pandangan Ara.


“Hai aku David,” ucap David sambil mengulurkan tangannya, Jessy pun menyambutkan sambil tersenyum kikuk sambil tak lupa meyebutkan namanya.


“Hari ini kau tidak mengajar?”


“Ya. Aku ada kelas nanti jam dua,” jawab David membuka kaleng minumannya, ia melirik pada Jessy yang hanya menggenggam erat kaleng minuman itu di tangannya.


“Apakah anda butuh bantuan Nona Jessy,” tegur David sambil menatap Jessy.


“A-aku bisa melakukannya sendiri,” sahut Jessy sedikit guggup. Ia merasa heran kenapa ia begitu gugup ketika David menatapnya.


“Kau dari tadi hanya menggenggamnya aku pikir kamu tidak tau cara membuka kaleng minumannya,” ucap David tersenyum lebar. Senyuman David semakin membuatnya Jessy gugup.


“Jessy tidak bisa melakukannya, ayolah David adikku ini memang lugu dalam banyak hal, tapi aku rasa kalau untuk membuka tutup kaleng minuman itu ia bisa melakukannya, iyakan kan sayang,” goda Ara karena ia tau Jessy terlihat begitu gugup sejak


kedatangannya dan entah apa yang sedang dipikirkannya.


“Kakak,” sahut jessy pelan sambil tersenyum malu. Ara dan David pun tertawa melihat Jessy yang merona.


“Jadi apa yang ingin kau bicarakan denganku sampai berkunjung. "


"Aku tidak boleh kesini lagi, " ucap Ara dengan suara disengaja dibuat sedih.


"Bukan seperti itu, tentu saja kau boleh berkunjung kapan saja ke tempat ku, tapi kau harus membawa seorang teman karena aku tidak ingin dibakar oleh seorang pria. "


Ara hanya tertawa mendengar gurauan David padanya.


“Tidak perlu berterima kasih padaku karena memang itulah tugas seoran teman.” Ara sangat terharu mendengar jawaban David, beruntung ia memiliki seorang teman sepertinya.


“Apakah kau juga yang memberitahu Neal tentang keberadaanku,” tanyanya menatap mata David bergantian, tapi yang sedang dipandang malah tergelak sambil menyentuh rahangnya yang dihiasi oleh jambang tipis.


“Aku pikir aku sudah melakukan hal yang benar bukan, kau datang tidak mungkin untuk memarahiku bukan.” David bertanya dengan mengangkat kedua bahunya dengan memasang wajah memelas.


“Tentu saja bukan,” elak Ara tersenyum lebar.


Keduanya asik mengobrol kadang sesekali terdengar tawa dari keduanya, sedangkan Jessy hanya menyimak saja sambil mencuri-curi pandang pada David, tapi disaat David balas menatapnya ia berpura-pura sibuk dengan ponselnya. Setelah lebih dari satu jam disana Ara dan Jessy pun pamit pulang karena David juga akan menagajar mereka berjanji bertemu lagi di kedai kopi yang dulu sering mereka kunjungi.


****


Mereka pun segera meluncur Kembali ke Mansion tapi tiba-tiba Jessy mengajak mereka untuk singgah makan dulu ke restoran karena ia merasa sudah sangat lapar. Ara berusaha menolak ajakan Jessy karena ia sudah berjanji begitu pulang dari tempat David harus Kembali pulang tidak boleh pergi kemana pun, tapi Jessy yang terus merengek membuatnya tidak tega, akhirnya mereka singgah di restoran di perjalan menuju ke Mansion.


Ara merasa sedikit aneh karena ditatap oleh beberapa pengunjung disana, tak nyaman Ara pun menarik tangan Jessy melangkah lebih cepat mnuju salah satu meja kosong disana, mereka pun segera memesan sup panas yang terasa begitu menggiurkan disuhu dingin seperti ini,  sambil menunggu pesanan merka keduanya pun mengobrol.


“Jadi Tuan David yang menyembunyikan kakak selama ini,” tanya Jessy penasaran karena ia mendengar dari percakapan keduanya di apartemen David tadi.


“Jes, ia bukan menyembunyikan kakak, tapi hanya mintah tolong padanya karena saat itu ialah satu-satunya orang yang bisa aku minta pertolongan.”


“Kakak sudah lama kenal dengan tuan David,” tanya Jessy lagi. Ia jadi begitu penasaran akan sosok teman kakak iparnya itu.


“Tidak juga, David dulu guru les piano kakak, orangnya sangat baik dan ramah,” jelas Ara tersenyum menatap lekat wajah adik iparnya itu.


“Jadi guru les piano kakak setampan itu,  aku juga mau kalau gurunya setampan itu,” jelas jessy tersenyum sumringah, Ara tertawa cukup keras saat mendengar ucapan Jessy.


“Kenapa. Kau tertarik main piano atau tertarik pada gurunya,” goda Ara sambil mengedipkn matany pada  Jessy.


“Tidak. Bukan seprti itu,” elak Jessy dengan wajah merah seperti kepiting rebus.


“Tidak usah malu padaku, wajahmu sampai memerah seperti itu, kakak lihat saat di apartemen tadi kau selalu mencuri-curi pandangan padanya."


“Kakak.” Jessy merasakan wajahnya semakin panas, tapi ia tidak bisa berbohong David sangat tampan dimatanya dan mengingat senyumnya membuatnya berdebar.


“Kalau kau ingin belajar piano padanya, nanti kakak akan bilang padanya, dia sangat jago bermain piano dan tentu saja terlihat semangkin tampan kalau sedang duduk di belakang piano,” ucap Ara kembali ingin menggoda adik iparnya itu dan benar saja wajah Jessy semakin merona.


“Benar kakak bisa melakukannya?”


tanya Jessy malu-malu, Ara pun dengan cepat menganggukan kepalanya sambil melengkungkan senyum lebar dibibirnya. Jesssy tersenyum riang dengan wjah malumalu yang membuat Ara ingin mencubit wajah adik iparnya itu yang terlihat semakin imut dan menggemaskan.


.


.


.


.


.


Bersambung