Arabella Secret

Arabella Secret
David dan Jessy


Perasaan berdebar menyelimuti hati Jessy saat masuk bekerja pada hari pertamanya, walaupun ia bekerja disalah perusahaan  yang masih dimiliki oleh keluarganya yang bergerak dibidang realestet yang sekarang


dipercayakan oleh Neal pada Maxim dan Jessy bekerja disana sebagai salah satu


arsitek. Tapi walaupun perusahaan milik keluarganya ia harus tetap profesional


datang tepat waktu dan begitu pun pulang bersama dengan karyawan yang lain, ia


bahkan lebih senag jika karyawan disini tidak mengenalinya sehingga mereka


tidak perlu sungkan atau mencari muka didepannya dengan kepura-puraan karena


di dunia ini memang sangat banyak manusia bermuka dua.


Dan Jessy berhasil melewati hari pertama bekerjanya dengan sukses dan bahkan beberapa staf yang satu ruangan dengannya tidak mengenali kalau ia adalah adiknya Neal ataupun saudara kembarnya Maxim yang menjabat sebagai direktur di perusahaan itu.


Jessy sedang duduk di sebuah kedai kopi terlihat tengah menunggu seseorang beberapa kali ia melirik ke arah pintu masuk tapi sepertinya orang yang ia tunggu belum muncul, Jessy yang mulai bosan memainkan game diponselnya sambil bertopang dagu. Karena terlalu asyik dengan gamenya ia tidak menyadari orang yang sedari tadi ditunggunya telah duduk didepannya.


“Apa yang sedang kau mainkan sepertinya seru sekali,” tegur David sambil menjulurkan kepalanya melihat ponsel yang ada dalam genggaman Jessy, sehingga dengan cepat ia menolehkan wajahnya saat mendengar suara yang tak asing baginya tepat didepan wajahnya.


“David, kau sudah datang,” sapa Jessy tersenyum malu lalu segera menyimpan ponselnya. “ Maaf aku tidak menyadari kedatanganmu.”


“Aku yang harusnya memintah maaf karena membuatmu menunggu terlalu lama, tadi beberapa mahasiswa yang bimbingan dengan ku memintahku untuk memeriksa skripsinya dan aku pun tidak tega menolaknya,” tutur David menatap Jessy tidak enak hati.


“Bukan masalah kau pasti dosen yang sangat disenangi oleh mahasiswamu.”


David terkekeh mendengar ucapan Jessy, "tidak juga karena aku dosen yang galak.”


“Galak…aku tidak percaya apakah kau ini bisa marah.” gelak Jessy sambil menatap pria tampan didepannya yang sudah mengganggu suasana hatinya  pada saat pertama kali bertemu, dan itu hampir dua bulan.


Keduanya pun tertawa mereka berdua memang sekarang lebih akrab karena akhir-akhir ini mereka sangat sering bertemu, keduanya terlihat cocok Jessy dengan sifatnya yang sedikit kekanak-kanakan


dan David yang kalem dan bersikap dewasa. Kadang mereka makan siang bersama


atau duduk di kedai kopi seperti ini mengobrol dengan santai berbincang tentang


apa saja karena apa pun topik yang sedang mereka bahas selalu menjadi menarik


apalagi dengan sifat polos Jessy yang terkadang begitu lucu dimata David


membuatnya tak henti tertawa.


“Sekarang dalam rangka apa kau akan mentraktirku,” tanya David sambil meletakan dua gelas kopi yang sudah mereka pesan sebelumnya.


“Eehhmm…hari ini adalah hari pertama aku bekerja jadi aku ingin merayakannya denganmu,” tutur Jessy malu-malu saat menatap david didepannya.


“Benarkah… bagaimana hari pertamamu apakah semuanya berjalan lancar,” tanya David penuh semangat sehingga


menyalurkan kekuatan dalam diri Jessy.


“Semua lancar dan menyenagkan, aku dipercaya untuk menunjukan beberapa desainku untuk proyek yang akan di lakukan oleh perusahaan, doakan semoga desainku diterima ya.”


“Tentu saja aku selalu mendoakanmu dan kau juga menikmati pekerjaanmu.”


“Terima kasih David, tapi walaupun aku bekerja di perusahaan keluargaku aku tidak mau mereka memandangku karena itu, aku ingin membuktikan kalau aku itu memiliki


kemampuan.”


David tersenyum menatap gadis didepannya yang terlihat penuh semangat ia pun mengusap puncak kepala Jessy dan mengacak rambutnya,” aku yakin kamu pasti bisa Jes.” Jessy tersenyum malu-malu saat mendapat perlakuan manis seperti itu dari David yang membuat jantungnya berdegup lebih kencang.


“Kalau begitu aku juga akan mentraktirmu setelah ini.” Mata Jessy membulat saat mendengar ucapan David.” Kau tak perlu melakukannya. Kau pasti sibuk aku tidak ingin terlalu sering mengganggu waktumu .” Jessy menolak tawaran David dengan halus.


“Tidak, aku senang bisa menghabiskan waktu bersamamu.” Sontak saja ucapan David barusan membuat kebahagian yang membuncah di hati Jessy. David tidak berbohong dengan ucapannya karena ia akui kalau ia begitu menikmati waktu saat bersama Jessy beban pikirannya seakan menguap bila sudah bersamanya dia selalu berhasil membuatnya selalu tersenyum setiap saat bahkan terkadang tidak bisa ia pungkiri kalau ia merindukan sosok wanita didepannya itu kalau mereka tidak bertemu, entah perasaan apa yang sedang ia rasakan saat ini.


Setelah menghabiskan minumannya mereka pun pergi meninggalakn kedai kopi itu, keduanya pun berangkat dengan mobil David karena Jessy kebetulan tidak membawa mobil sendiri karena ia berangkat ke kantor diantar oleh sopir pribadi mommynya. David segera memarkir mobilnya begitu sampai didepan gedung bioskop dan mengajak Jessy turun.


“Kita mau menonton,” tanya Jessy sambul mengikuti langkah David, hatinya melonjak senang karena ini untuk pertama kalinya mereka pergi nonton berdua.


“Kenapa? Kau tidak suka.”  David menatap Jessy dengan menautkan kedua alisnya. “ jika kau tidak suka kita bisa pergi ke tempat yang


“Ti-tidak, aku suka sekali menonton, tapi ini pertama kali aku pergi menonton bersama seorang pria, selain saudara kembarku maxim tentunya,” sahut Jessy menatap malu-malu. David tergelak saat mendengarnya karena gadis seusia Jessy belum pernah melakuakn itu.


“Apakah kekasihmu tidak pernah mengajakmu menonton saat kau pergi kencan.”


Jessy menggelengkan kepalanya,” aku tidak perna memiliki kekasih,”  sahutnya pelan tapi masih ditangkap jelas oleh telinga David. Entah kenapa hatinya sangat senang mendengar jessy yang polos ini belum pernah memiliki seorang kekasih.


“Bagaimana mungkin wanita secantikmu tidak pernah memiliki seorang kekasih,” cercah David menatap Jessy intes sehingga membuat wajahnya kembali merona entah sudah keberapa kalinya dan tentu saja David sangat menyukai wajah malu-malu itu, ingin rasanya ia mencubit hidung bangir Jessy.


“Cantik…apakah benar aku cantik,” tanyannya tak berani menatap balik David yang masih menatapnya.


“Bahkan orang butamu tau kalau kau itu sangat cantik Jessy, “kekeh David yang membuat rona merah Jessy sampai kelehernya, ingun rasanya Jessy melonjak senag mendengar pujian David padanya.


“Tapi…tetap saja tidak ada pria yang suka denganku,” ucapnya polos. David tersenyum lebar lalu menangkup kedua pipi Jessy mengangkat wajah itu agar menghadap padanya.


“Aku yakin pria diluar sana pasti sangat menginginkan dirimu jadi kekasihnya tapi mungkin mereka takut saja untuk mendekati…


“Apakah kau termasuk salah satu dari pria itu,” Jessy memotong ucapan David dengan cepat sebelum pria itu menyelesaikan kalimatnya entah dari mana ia mendapatkan keberanian untuk mengucapkan kalimat itu,


sehingga membuat David terdiam menatap dalam bola mata coklat Jessy yang begitu


sendu. Pertanyaan yang dilontarkan Jessy tepat bersarang dihatinya sehingga


membuatnya berdebar-debar.


“Aku sangat berharap kau salah satu dari mereka karena aku tidak butuh lelaki yang lain, " bisik Jessy.


David menarik seulassenyum tipis dibibirnya, ” jika aku memang salah satunya apakah kau akan menerimananya.”


Mata Jessy mengerjap senang sambil membingkai sebuah senyum dibibirnya yang sedikit tebal dan seksi,” a-apakah itu berarti kita akan menjadi pasangan kekasih.”


"Apakah kau mau jadi kekasihku,” tanya David yang dianggukan dengan cepat oleh Jessy dengan tatapan yang sangat polos.


“Tentu saja aku mau,aku selalu berharap dapat menjadi kekasihmu, karena aku menyukaimu David.”


David membawa jessy kedalam pelukannya mengusap dengan lembut puncak kepala Jessy yang bersembunyi didadanya, pengakuan Jessy yang terus terang padanya yang mengatakan ia menyukainya entah kenapa membuat rasa bahagia di hatinya, mungkin diam-diam ia juga sudah terpesona pada kepolosan Jessy, gadis yang sangat lembut, manja, tapi memiliki sifat keibuan. Jessy melingkarkan kedua tangannya dipinggang David memeluknya dengan erat mungkin saat ini ia dapat merasakan detak jantungnya yang sedang lari maraton dalam rongga dadanya, tak ada yang dapat menggambarkan kebahagiannya saat ini seakan ribuan kupu-kupu terbang dalam perutnya.


David menarik dagu Jessy dalam pelukannya sehingg ia mendongak saat menatap pada David,” terima kasih sudah menyukaiku Jes aku merasa tersanjung disukai oleh wanita sebaik dirimu, aku…


“Kau tidak menyukaiku,” potong Jessy lagi. Rasa bahagia yang bergelayut dihatinya seakan dirampas begitubsaja, mata sendu itu menatap David engan berkaca-kaca.


“Apakah aku mengatakan demikian,” tanya David sehingga membuat Jessy menggelengkan kepalanya cepat. David mengusap pipi Jessy dengan punggung tanganya lembut,” aku juga menyukaimu Jes bohong jika aku tidak tertarik dengan wanita cantik dan baik sepertimu, dan apakah kau mau jadi kekasihku.”


“Aku mau sekali,” jawab Jessy cepat dengan menganggukukan kepalanya cepat bahunya terguncang menahan tangis bahagia, David kembali tersenyum melihat wajah polos cantiknya lalu menghadiahi satu kecupan hangat dikening Jessy sambil memejamkan matanya.


“I love you Jessy,” ucap David begitu melepaskan ciumannya.  Jessy menghambur dalam pelukan David tidak dapat menahan air mata bahagianya ia terlihat seperti anak kecil yang membuat David terkekeh karenannya.


"Kenapa menangis, kau sedih karena sudah jadi kekasihku,” goda David sehingga ia mendapkan pukulan lembut didadanya.


“Aku menangis karena bahagia David,” rengek Jessy manja.


“Aku juga mencintaimu David,” ucap Jessy malu-malu dalam pelukan David.


David menarik Jessy dari dalam pelukannya, menghapus sisa air mata Jessy yang masih tersisa diwajahnya,” sudah jangan menangis lagi, sekarang ayo kita beli tiket nanti keburu mulai filmnya,” ajak David lalu meraih telapak tangan Jessy dalam genggamannya dan mengajak gadis itu mengikuti langkahnya.


.


.


.


.


.


Bersambung