Arabella Secret

Arabella Secret
Memintah kesempatan


Neal mengalihkan tatapannya pada sekretarisnya yag sedang menatapnya dengan gugup, seakan sudah hafal dengan arti tatapan isyarat Neal ia pun pamit meninggalkan Neal dan Nathalie dalam ruangan itu. Nathalie berjalan untuk lebih dekat dengan Neal yang sedang berdiri di depan meja kerjanya melipatkan tangannya ke dadanya.


“Apa yang ingin kau katakan, aku tidak punya banyak waktu,” ucap Neal dingin  berbicara tanpa menatap pada Nathalie. Nathalie pun menghentikan langkahnya ia menatao sosok Neal yang berdiri berjaral sekitar tiga meter darinya, ia menatap lekat wajah Neal,lalu berpindah pada tubuh tegap Neal, matanya terhenti pada jari manis Neal yang masih dilingkari cincin pernikahannya, sehingga membuat Nathalie menelan ludahnya.


“Aku minta maaf karena sudah menggangu waktu makan siangmu, aku kesisni ingin meluruskan kejadian semalam, sungguh aku tidak bermaksud…


“Lupakan, aku sudah tidak mengingatnya lagi,” potong Neal, yang membuat Nathalie kembali menelan ludahnya.


“Aku tau kau begitu mencintainya, bahkan kau masih memakai cincin pernikahan kalian, Anara sungguh beruntung mendaptkan seorang pria yang begitu mencintainya, bahkan Ketika ia sudah meninggal laki-laki itu masih begitu mencintainya.” Suara Nathalie terdengar bergetar saat mengatakannya, terlihat matanya berkaca-kaca. Neal hanya diam tak berminat untuk menanggapi ucapan Nathalie.


“Jika seandainya kau bisa menatap seorang wanita lain yang juga menyukaimu sebesar itu, apakah kau akan memberikan sedikit tempat untuk wanita itu dihatimu.” Air mata Nathalie sudah pecah saat selesai berucap jatuh bergulir dipipinya.


“Jika sudah selesai kau bisa keluar.” Sahut Neal. Tidak menaruh sedikitpun simpati pada Nathalie. Melihat sikap dingin Neal padanya tak menyurutkan niat Nathalie, ia pun melangkah untuk  lebih mendekat lagi mengurangi jarak antara dirinya dan Neal.


“Neal…” panggil Nathalie mencoba menyentuh lengan Neal.


“Aku selalu menahan hatiku karena aku tak ingin menyakiti sahabatku sendiri, tapi sekarang aku tak akan menahan diriku lagi, terlalu lama aku menahan perasaanku padamu, jika aku masih terus menahannya mungkin aku akan mati karenannya. Kau bahkan  tidak bisa melupakan Anara walaupun dia sudah  tak lagi disisimu bagaimana dengan diriku yang selalu menahan perasaanku setiap melihatmu, Neal tidak bisa kau melihat padaku sedikit saja, aku mohon beri kau sedikit tempat dihatimu Neal, aku akan memberikan hidupku padamu.”


“Aku menyukaimu Neal, aku sangat mencintaimu,” tangis Nathalie pecah ia menjatuhkan tubuhnya dikaki Neal


kedua tangannya memegang jas Neal dengan erat, ia terus terisak sambil bersimpuh di lantai.


Perlahan Neal melepaskan pegangan tangan Nathalie pada Jasnya , ia memundurkan langkahnya menatap Nathalie yang bersimpuh di lantai, menatapnya dengan sorot  penuh permohonan. Neal sedikit pun tidak terkejut mendengar pengakuan cinta Nathalie padanya, Sudah lama ia tau dari semua sikap yang di tunjukan Nathalie padanya, karena itu ia selalu menunjukan sikap dingin dan membatasi dirinya pada Nathalie.


“Maafkan aku Nathalie, aku tidak bisa mengatur perasaanmu agar tidak menyukaiku itu adalah hakmu  tapi aku tidak bisa menyukai, pergilah jangan pernah temui aku lagi.” Neal berkata sambil menatap wajah  Nathalie yang sudah penuh dengan air mata.


“Neal beri aku kesempatan, aku…


“Tidak, sampai kapanku aku tidak akan bisa menyukaimu, kau teman Anara dan selamanya akan tetap seperti itu  pergilah sekarang,” usir Neal dengan suara dingin begitu juga tatapannya. Mark yang sedari tadi menunggu di depan pintu pun masuk melangkah mendekat pada Nathalie, " " "sebaiknya anda keluar Nona sebelum saya menyuruh orang untuk menyeret anda keluar dari sini.”


Nathalie menghapus air matanya menatap Neal dan Mark bergantian, perlahan ia kembali berdiri,


“Tidak masalah kau mungkin sekarang menolakku, tapi setidaknya aku sudah lega mengatakan tentang perasanku padamu, kau tidak perlu mengusirku aku akan keluar sendiri, Neal seburuk apa pun kau memperlakukanku tidak akan mengubah perasaanku padamu.”


Setelah berbicara Nathalie pun menyeret langkahnya keluar dari ruangan Neal, sesekali ia masih mengusap air matanya yang terus membasahi wajahnya, walaupun hatinya begitu sakit di tolak mentah-mentah oleh Neal, tapi itu tidak akan membuatnya menyerah, ia akan terus berusaha agar Neal bisa jatuh cinta padanya karena ia tau sekarang pasti Neal kesepian semenjak Anara meninggal dan sekarang adalah kesempatannya untuk mendapatkan hati Neal walaupun ia tau ini tak akan mudah. Sebelum keluar dari pintu ia kembali menatap Neal yang masih berdiri di tempat yang sama menatap kepergiannya dengan dingin.


Sekarang mungkin kau belum bisa mencintaiku, aku tidak akan menyerah sampai aku dapat memilikimu Neal.


***


Ara menolak setiap desain gaun pengantin yang ditunjukan Natasya padanya karena menurutnya terlalu mewah dan Glamour, Ia lebih  menyukai gaun pengantin dengan desain simple dan elegan, Natsya pun mengulang kembali desain gambarnya di bantu oleh Jessy dan Ara untuk memberikan saran sesuai dengan seleranya, akhirnya setelah dua jam mereka pun selesai, sudahlah sebuah desain baju pengantin dengan model lengan panjang dengan bahu terbuka mengekspos bahu indah Arabella, dengan desain gaun panjang membiarkan menyapu lantai, memilih bahan sutera  dengan kombinasi brokat  dilengannya.


“Sayang,” ucap Ara manja.


“Selamat siang sayangku,” sapa Neal mengecup pelipis Ara lembut, ia merangkul Ara lebih erat lalu membenamkan kepalanya di ceruk leher istrinya dan mendaratkan sebuah kecupan hangat disana, sehingga membuat tubuh Ara menegang kerananya  apalagi hembusan panas suaminya menggelitik lehernya.


"Neal," ucap Ara mencoba menjauhkan wajah suaminya dengan tangannya, Neal pun mengangkat wajahnya, melihat wajah istrinya yang merona membuatnya semakin ingin menggoda istrinya. Dengan posisi masih menunduk dibelakang istrinya ia menangkup pipi Ara dan menghadapkan padanya, wajah Ara semakin memerah saat melihat tatapan penuh hasrat dari suaminya, perlahan Neal mendekatkan bibirnya pada bibir istrinya lalu mencium bibir itu dengan lembut, Neal menahan tangkuk Ara untuk memperdalam ciumannya, ciuman itu semakin panas ketika Neal mulai memaksa Ara membuka mulutnya, Ara yang terbuai membiarkan suaminya berbuat sesukannya, ia pun mengalungkan lengannya ke leher suaminya dan mulai membalasnya.


Neal pun melepaskan ciumannya napasnya keduanya tersengal, Neal menatap istrinya sambil tersenyum,  Ara balik menatap Neal dengan tatapan malu-malu, Neal menempelakan keningnya ke kening istrinya, dan mengusap lembut bibir istrinya yang masih basah karena ulahnya. perlahan ia menjauhkan tubuhny dari Ara dan berajalan mengitari sofa lalu duduk disampingnya. Neal menggenggam tangan Ara lalu mengusap jari tangannya dengan lembut.


“Kau tidak bilang kalau akan kesini.” Tanya Ara menyandarkan kepalanya ke dada Neal dan membelainya dengan lembut.


“Aku ingin mengajakmu makan siang, apa kau sudah selesai,” ucap  Neal merapikan anak rambut istrinya dengan jarinya lalu mem berikan kecupan di keningnya. Ara pun menyahut dengan mengangukan kepalanya sambil tersenyum manis pada suaminya.


“Kalau begitu ayo kita makan siang,” Ajak Neal menarik tangan istrinya bangkit dari kursi. baru saja mereka bangun Natsaya datang menghampiri mereka.


“Aku baru saja ingin memanggil Kakak,” sapa Natasya menghentikan langkahnya.


“Apakah kau punya kaca mata Nat,” tanya Neal tiba-tiba.


“Tentu saja,” sahut Natasya sambil mengambil kaca matanya dari dalam tasnya lalu menyerahkannya pada Neal. Neal menghadapkan tubuhnya  pada istrinya lalu memasangkan kaca mata itu pada Ara.


“Untuk apa aku pakai kaca mata sayang.”protes Ara mencoba melepaskan kaca mata itu dari wajahnya  tapi Neal menahan tangan istrinya.


“Sudah pakai saja sayang, ayo kita berangkat aku sudah sangat lapar,” ucap Neal sambil meraih tangan istrinya dan menggenggamnya dengan erat,  Ara pun menurut malas untuk protes lagi pada suaminya.


Neal membukakan pintu untuk istrinya lalu di ikuti oleh Natasya, sedangkan Jessy sudah menunggu didalam, ia langsung menutup mulutnya menahan tawa saat melihat Natasya masuk kedalam mobil, Natasya membulatkan matanya pada Jessy sambil melirik sekilas pada Mark yang duduk di belakang kemudi, seperti biasa pria itu cuek sedikit pun tidak menolehkan wajahnya, Neal pun segera menyusul masuk duduk disamping Mark, mobil pun segera meluncur meninggalkan butik Natasya.


.


.


.


.


.


Bersambung