Arabella Secret

Arabella Secret
Sedikit pemarah


Prang!


Neal melemparkan botol bir yang ada didepannya sehingga membuatnya hancur berkeping-keping, Ara yang baru saja membuka pintu ruangan itu terpekik kaget, membuat Neal menolehkan wajahnya menatap gadis itu sedang berdiri didepan pintu, dengan cepat ia kembali menolehkan wajahnya.


“Pergilah Ara!"


Walaupun Neal berkata dengan suara pelan dan tanpa melihat kepadanya tapi Ara masih bisa mendengar jelas suara  Neal. Tapi Ara bukannya mengindahkan perintah suaminya, ia malah melangkah masuk berjalan mendekati Neal yang terlihat sedang meneguk minumannya.


“Neal…kau kenapa?” tanya Ara lembut Ketika tubuhnya tinggal bejarak beberapa langkah dari suaminya.


“Aku bilang pergilah…aku tidak ingin menyakitimu,” sahut Neal tanpa melihat Ara. Tapi Ara malah makin mendekat dan meletakkan tangannya di pundak Neal pelan. Dengan cepat Neal menarik tangan Ara yang ada di pundaknya, sehingga membuat wanita itu hampir saja terjatuh kerena kehilangan keseimbangan, tapi dengan cepat Neal menjangkaunya dan menarik tubuh Ara sehingga jatuh dalam pelukannya. Tanpa bicara Neal langsung ******* bibir Ara dengan sedikit kasar membuat Ara terperanjat. Neal juga mengerayangi tubuhnya dengan kasar, ia tidak pedudli dengan tubuh Ara yang berontak tapi Neal semakin memperdalam ciumannya, tidak mempedulikan istrinya  yang sudah kehabisan napas, Ara memukul-mukul  dada Neal agar melepaskan ciumannya.


Perlahan Neal menjauhkan tubuhnya dari tubuh Ara, ia menatap wanita didepannya yang berlinangan air mata, menatap bibirnya yang bengkak akibat ciuman kasarnya, ia menyisisr rambutnya ke belakang dengan jarinya lalu kembali mengambil gelas didepannya yang masih terisi setengahnya, ia langsung meneguk minuman itu, tapi minuman itu tumpah di kemejanya karena gelas itu direbut oleh Ara dari tangannya. Dan meletakakn kembali di atas meja.


“Neal… kau kenapa? Apakah aku membuat kesalahan…katakan,” ucap Ara pelan sambil menanggupkan kedua tangannya ke pipi Neal dan menatap wajah suaminya yang terlihat begitu kacau.


“Maafkan aku...” Hanya itu yang keluar dari bibirnya. Ia menyandarkan kepalanya ke dada Ara dan memeluk tubuh itu erat. Ara mengusap lembut  kepala Neal  dan mengecupnya, sejak mereka menikah ini pertama kali ia melihat sisi lemah Neal, Ara pun semakin memperet pelukannya, memberikan ketenangana pada Neal walaupun ia masih bertanya-tanya apa yang sebenranya terjadi pada suaminya itu.


Perlahan Neal mengangkat wajahnya mentap mata Ara bergantian, lalu pandangannya berhenti pada bibir Ara yang masih bengkak,  ia mengusap bibir Ara pelan rasa bersalah menyelimuti dirinya tapi ia berusaha untuk menyembunyikan semua itu dari istrinya.


“Kenapa kau belum tidur?” tanya Neal pelan sambil menatap wajah cantik wanita yang masih memeluknya.


“Aku tidak bisa tidur karena kau belum kembali, karena itu aku menyusulmu kemari.”


“Maafkan aku, aku tidak bermaksud untuk mencampuri urusanmu, tapi kalau kau punya masalah jangan melarikan diri pada alkohol karena itu akan membuat keadaan semakin buruk, untung kau berada di rumah kalau kau sedang


di luar dan sendirian seperti ini, tentu hal buruk bisa saja menghampirimu.”


“Kau mengawatirkan aku?” Tanya Neal menatap dalam mata Ara.


“Sekarang kau suamiku tentu saja aku mengawatirkanmu,” sahut Ara cepat.


“Aku yakin Anara juga tidak akan senang melihatmu seperti ini, kau harus lebih semangat lagi agar membuatnya cepat kembali bangun,”imbuh Ara ia mencoba menduga-duga Neal seperti ini karena mungkin sangat merindukan


Anara.


Perlahan Ara menjauhkan tubuhnya dan melepaskan tangannya yang masih memeluk Neal,”saat hubungan kita berakhir, jangan ada beban diantara kita, apa yang pernah terjadi saat di Tyumen aku tidak akan membebanimu, jadi berhentilah merasa bersalah dengan hal itu, anggap saja hal itu tidak pernah terjadi,” tutur Ara mencoba tersenyum walaupun  dipaksakan. Neal hanya diam seakan ia kehilangan kata-kata, ia hanya terdiam Ketika Ara mengiring tangannya memapah tubuhnya untuk mengajaknya kembali ke kamar. Walaupun ia masih tersadar karena alkohol belum menguasai pikirannya, tapi tetap saja membuat langkahnya sedikit terhuyung, sehingga ia


tetap membutuhkan seseorang untuk memapahnya berjalan.


Ara membantu membaringkan tubuh suaminya di tempat tidur, Neal pun mulai memejamkan matanya karena kapalanya mulai pusing.”Apakah kau ingin aku membantumu untuk melepaskan pakaianmu.” Ara bertanya sambil mendudukan tubuhnya disamping Neal.


“Iya..,” sahut Neal pelan tanpa membuka matanya.


“Jangan pergi… tetaplah disisiku,”Guman Neal pelan. Ara pun mengangkat wajahnya menatap wajah tampan Neal yang begitu dekat dengannya, perlahan ia mendengar suara dengkuran halus . Ara mendekatkan tangannya dan mengusap lembut wajah Neal.


“Jangan takut Neal, dia tidak akan meninggalkanmu,”bisik Ara pelan lalu mencium wajah Neal lembut, ia pun membalutkan selimut ke tubuh Neal, ia tidak jadi mengganti pakaian suaminya karena ia tidak ingin mengganggu tidurnya. Ara pun mulai merebahkan tubuhnya dan menghadapkan wajahnya pada Neal yang sudah tertidur, tak lama Ara pun tertidur dan berkelana dalam mimpimya.


****


Perlahan Neal membuka matanya, beberapa kali ia mengerjapkan matanya karena cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca di kamarnya yang begitu menyilaukan matanya, perlahan ia bangun dan menarik selimut yang menutup tubuhnya. Melihat dirinya yang hanya memakai pakaian dalamnya saja, Neal mencoba mengumpulkan pikirannya tentang kejadian semalam. Ia menyunggingkan sedikit senyum dibibirnya sambil mendudukan tubuhnnya disisi ranjang, ia sudah dapat membayangkan wajah istrinya yang pasti merah padam menahan malu


melihatnya seperti ini semalam, karena itu ia memutuskan untuk untuk memakaikan piyama tidurnya.


Perlahan Neal bangun dan menatap jam dinding yang hampir menunjukan pukul sembilan pagi, Neal jarang sekali bangun kesiangan seperti ini sehingga  membuatnya berdecak kesal, ia pun segera mencari ponselnya di atas nakas tapi ia tidak menemukannya ia hanya melihat ponsel Ara disana, Neal pun segera meraih ponsel itu dan segera menghubungi Mark .Selesai menelpon Neal pun meletakan kembali ponsel Ara ditempat semula lalu bangkit menuju kamar mandi.


Neal keluar dari walk in closet sambil memekai jam tangannya ketika ia melihat pintu kamar terbuka dan memunculkan wajah istrinya di sana.


“Kau sudah bangun, aku baru saja ingin membangunkanmu,” sapa Ara tersenyum sambil melangkah menghampiri Neal.


“Aku tadi tak tega membangunkanmu, melihatmu tidur begitu nyenyak,”imbuh Ara sambil merapikan dasi suaminya. Neal hanya menatap Ara tanpa menyahut satu pun ucapan istrinya.


“Kau marah padaku?”


Tetap tak ada jawaban dari mulut Neal, ia meraih tubuh Ara dan membawanya ke dalam pelukannya. “ Kau suka sekali bertanya aku marah atau tidak…apakah aku sepemarah itu.” Akhirnya terdengar suara dari mulut Neal.


“Sedikit….sahut Ara tertawa. Mana berani ia mengatakan kalau sebenarnya Neal memang pemarah dan mengesalkan apalagi melihat sikapnya yang mudah berubah, kadang-kadang baik terkadang begitu mengesalkan.


"Kau bilang apa?"


"Tidak, aku hanya bercanda." Ara berkata sambil bergelayut di lengan suaminya.


“Ayo temani aku sarapan,” ajak Neal sambil menarik tangan istrinya keluar dari kamarnya.


.


.


.


.


Bersambung