
Selesai berkutat dengan pekerjaannya Neal keluar dari ruang kerjanya matanya sekilas menatap jam dinding yang sudah menunjukan lewat pukul sepuluh malam, itu berarti hampir dua jam ia berada dalam ruangan kerjanya. Setelah selesai makan malam ia langsung masuk ke dalam ruangan kerjanya karena Ara terlihat sangat asik
mengobrol bersama Jessy yang menginap di tempatnya.
Neal beranjak ke dapur untuk membuatkan susu untuk istrinya, sekarang itu menjadi rutinitas Neal setiap pagi dan malam hari menyiapkan susu untuk istrinya, ia selalu menolak ketika pelayan mencoba membantunya. Setelah selesai membuat susunya Neal pun segera kembali ke kamar, begitu sampai ke kamar ia melihat istrinya sedang sibuk mengobrol dengan seseorang lewat ponselnya ia bahkan tertawa sampai terpingkal-pingkal sehingga mebuat Neal penasaran dengan siapa istrinya tengah mengobrol.
Neal meletakkan susu diatas nakas, lalu mendudukan tubuhnya disamping istrinya, Neal mengecup pelipis istrinya sehingga membuat senyum di bibir istrinya semakin lebar, dengan manja ia pun segera menyandarkan kepalanya ke dada Neal tapi ia masih asik mengobrol dengan seseorang dari sebrang sana.
Neal hanya memperhatikan wajah istrinya sambil menyelipkan anak rambut istrinya yang menjuntai menutupi kening istrinya, Ara menatap suaminya dengan mesra lalu menghadiahi satu kecupan singkat dibibir Neal, keduanya pun saling bertatatap mesra sehingga membuat konsentrasi Ara terpecah apalagi tangan dan bibir suaminya mulai nakal menyentuh titik-titik sensitif ditubuhnya, Neal memang sengaja menggoda istrinya karena merasa diabaika oleh istrinya itu yang lebih memilih mengobrol lewat telpon dengan orang lain dari pada mengobrol dengannya.
“Baiklah Sera sampai jumpa, selamat malam.” Akhirnya Ara menutup panggilannya sambil menatap kesal pada suaminya yang menatapnya dengan seringai mesum.
“Sayang…kau nakal sekali mengganggu obrolan aku dan Sera saja,” sungut Ara masih memasang wajah kesal.
“Kau asyik bicara dengan temanmu dan mengabaikan suamimu yang tampan ini,” goda Neal sambil menangkup kedua pipi istrinya.
“Tapi aku baru beberapa menit mengobrol dengannya , pada hal aku masih ingin mendengar ceritanya,” papar
Ara mengerucutkan bibirnya membuat wajahnya begitu imut dan menggemaskan.
"Memang apa yang kalian bicarakan sampai kau tertawa begitu keras,” tanya Neal menautkan kedua alisnya,
Ara melingkarkan kedua tangannya ke pinggang Neal menyandarkan dagunya di bahu suaminya lalu menatapnya,” Sera diajak oleh Daniel untuk menghadiri pesta pernikahan Denish, dan Daniel yang aneh bukannya mengajak Sera dengan sopan dan romantis tapi ia malah mengancam Sera kalau tidak mau ikut dengannya ia akan
memberinya hukuman, dan ia pergi begitu saja tanpa sempat Sera menjawabnya.”
“Kau tau Sera sangat senang sekali ketika Daniel mengajaknya tapi caranya yang jauh dari kesan manis
membuat Sera kesal dan ia berniat untuk menolak ajakan Daniel kalau ia masih mengajaknya dengan embel-embel ancaman segala, walaupun sebenarnya ia memang sangat ingin ikut dengan Daniel.”
Neal menahan tawannya saat mendengar penuturan istrinya sambil menggeleng-gelengkan kepalanya,” aku tau sebenarnya Daniel menyukai dokter Sera tapi kenapa ia begitu gengsi untuk mengakuinya dan ia masih
mempertahankan harga dirinya dengan berpura-pura tidak membutuhkan cintanya Sera.”
“Sayang bagaimana kalau kita mengerjai Daniel,” ucap Ara penuh semangat.
"Mengerjai Daniel?” ulang Neal sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal karena tidak paham maksud istrinya, melihat suaminya bingung Ara pun berbisik pada suaminya, dan Neal pun tergelak setelah mendengar ide istrinya yang akan membuat Daniel kepanasan.
"Baiklah terserah kau saja, aku akan selalu mendukung, sekarang minum dulu susunya nanti keburuh dingin,” ucap Neal pun segera mengambil susu diatas nakas. Wajah Ara seketika memelas begitu suaminya menyodorkan gelas berisi susu itu di depannya, ia selalu merasa mual setiap kali meminum susu walaupun suaminya sudah mengganti
beberapa kali dengan rasa yang berbeda tapi seprtinya itu tidak berpengaruh pada Ara tetap saja susu itu membuatnya mual.
“Minumlah ini untuk kau dan bayi kita sayang,” bujuk Neal lembut melihat wajah istrinya yang sudah memelas dan terlihat begitu enggan mengambil gelas ditangannya .
Ara pun segera mengambil gelas itu apa bila sudah mendengar Neal berkata ini untuk bayinya ia tidak akan bisa meolak karena ia ingin nanti bayinya lahir sehat dan tidak kekurangan satu apapun, Neal memperhatikan wajah istrinya yang tengah meminum susunya sebenarnya Neal kasihan melihat Ara setiap kali meminum susu ia selalu susah payah menahan agar tidak mengeluarkannya kembali cairan putih dari perutnya. Tapi ini demi bayi mereka dan Ara ia harus menahan rasa itu.
Neal mengusap perut istrinya yang masih terlihat datar dengan penuh kasih sayang sesekali mereka saliang bertatap mesra membuat wajah Ara merona, Neal pun mengajak istrinya untuk tidur, Ara pun menurut, Neal pun segera mematikan lampu kamar dan menggantinya dengan lampu tidur.
Keduanya sudah berbaring ditempat tidur dengan posisi saling berpelukan, Neal mengusap puncak kepala istrinya dengan lembut dan sesekali mengecupnya, ingin menu jukan betapa besar rasa cinta dan sayang pada wanita yang dulu sempat ia tolak kehadirannya dalam hidupnya, tapi sekarang wanita inilah yang menjadi penyemanagt dalam hidupnya.
“Sayang,” panggil Neal lembut sambil menatap wajah istrinya sehinga membuat Ara mendongakkan kepalanya,” ada apa sayang?”
“Aku ingin berbicara sesuatu denganmu, tapi kau harus berjanji tidak boleh menjadikan ini beban untukmu,” papar Neal sehingga membuat Ara mengernyit penasaran.
“Ada apa,” tanya Ara menatap bola mata suaminya bergantian.
“Apakah nanti kau bersedia ikut denganku untuk menghadiri pernikahan Denish dan Julia tapi kalau seandainya kau belum siap aku tidak akan memaksamu untuk ikut.”
Ara tau arah pembicaraan suaminya, kehadirannya disana tentu akan menarik perhatian banyak orang karena wajahnya yang persis sama dengan Anara, istrinya Neal yang mereka anggap sudah meninggal dan sekarang
Neal muncul dengan wanita yang wajahnya sangat mirip dengan mendiang istrinya tetntu saja akan menimbulkan banyak pertanyaan.
Melihat istrinya yang terdiam Neal membelai pipi wanita yang sangat dicintainya itu dengan lembut,” aku sebenarnya tak ingin menyembunyikan sosok istriku lagi, tapi aku juga tidak ingin kau tersakiti dengan omongan orang-orang yang akan menyakiti perasaanmu, pasti mereka menyangkah aku menikah denganmu karena wajah kalian yang sama.”
“Aku bersedia mengatakan yang sebenarnya didepan media kalau dari awal memang engkaulah dan...
“Neal jangan lakukan itu,” potong Ara dengan cepat. “ itu akan membuka rahasia tentang Anara yang sudah
susah payah kau sembunyikan. Aku tidak peduli omongan diluar sana selama kau masih mencintaiku, kita tidak punya kuasa mengatur seseorang berbicara baik atau buruk tentang diri kita tapi selama kau masih bersama ku aku akan kuat melewati itu semua.”
Neal beitu terharu mendengar ucapan istrinya ia menghujani wajah Ara dengan ciuman lalu memeluk tubuhnya dengan erat dan pun dibalas Ara tak kalah eratnya.” terima kasih sayang, percayala hanya kau satu-satunya wanita yang ada dalam hidupku selain mommy dan Jessy.”
Neal merasa lega mendengar ucapan istrinya itulah hal yang paling dicemaskannya, tidak ada lagi kekwatiran dalam dirinya setelah mendengar perkataan karena ia sudah tidak perlu lagi setiap berpergian selalu menyuruh istrinya pakai topi dan kaca mata untuk menutupi wajahnya kalau mereka sedang keluar walau hanya sekedar makan di restoran. Sekarang ia ingin tunjukan pada dunia inilah wanita yang ia cintai wanita yang telah mencuri hati dan hidupnya.
.
.
.
.
.
.
Bersambung