Arabella Secret

Arabella Secret
Pertama kali


Ara begitu lincah memainkan jarinya di tuts piano, David menatap Ara sambil tersenyum dengan meliipat kedua tangannya  di dadanya, setelah Ara selesai ia pun memberikan tepuk tangan yang membuat wajah Ara merona merah  karena malu.


“Wow.. kau luar biasa, baru beberapa minggu kita berlatih tapi perkembanganmu sungguh luar biasa," puji David menatap wanita cantik didepannya itu.


“Tidak David kau sungguh berlebihan," imbuh Ara sambil memutar tubuhnya agar menghadap David dengan senyuman menghias dibibr tipisnya.


“Kita harus merayakannya, bagiaman kalau aku traktir kau minum kopi," tawar David. Ara sejenak terdiam sambil berpikir.


“Baiklah," sahut Ara akhirnya, keduanya pun segera keluar dari ruangan itu, sebelumnya Ara mengirim pesan singkat kepada Peter untuk tidak menjeputnya di tempat les, Ara pun berjanji akan mengirimi alamat tempat Peter nanti menjeputnya. Mereka pun segera menuju halte bus, tak lama menunggu bus yang mereka tungguh pun datang, mereka segera naik, dan memilih bangku kosong yang masih tersedia,  Ara begitu senang karena sudah cukup lama ia tidak melakukan ini, sejak ia menikah hampir dua bulan,  dulu saat berangkat kerja ia selalu naik bus, walaupun terkadang ia juga  bersepeda, Ara begitu merindukan saat-saat dirinya seperti itu.


“Kenapa melamun," seru David menepuk pundak Ara yang sedari tadi asyik memandang keluar jendela bus.


“Tidak... aku tidak melamun," bantah Ara terkekeh. Keduanya pun asik bercerita, memang sejak beberapa minggu les piano dengan David membuat keduanya begitu akrab, tak terasa bus sudah sampai halte tepat dekat cafe yang akan mereka kunjungi mereka pun segera  turun begitu bus berhenti.


Keduanya pun berjalan beriringan menuju cafe, mereka pun menyebrang karena cafe berada disebrang halte bus tempat mereka berhenti tadi. Karena kendaraan yang cukup ramai David pun memegang tangan Ara saat menyebrang jalan. Mereka masuk kesalah satu cafe yang cukup ramai oleh pengunjung, keduanyan segera mencari tempat duduk yang terasa nyaman untuk mereka. Ara dan Davit terlihat begitu akrab mereka bercerita apa saja seakan mereka sudah lama berteman, mungkin saja beberapa pengunjung beranggapan lain melihat mereka yang tertawa lepas dan terlihat begitu Bahagia,


 


 


 


****


 


 


Neal sedang membaca dokumen yang menumpuk dimejanya, ia menyandarkan tubuhnya ke sandaran  kursi kerjanya, sesekali Neal memijat keningnya dengan telujuknya, ia menarik napas kasar sambil melempar dokumen itu ke atas meja kerjanya, ia memutar kursi kerjanya sehingga menghadap ke jendela ruangannya yang terletak di lantai 25, ia mengusap kasar dagunya sambil menatap gedung - gedung menjulang ke angkasa, termasuk salah satunya gedung kantor yang ditempatinya.


Neal mecoba melupakan hal yang tidak sengaja dilihatnya setelah selesai melakukan pertemuan dengan salah satu rekan bisnisnya, matanya menangkap seorang wanita yang tak asing dimatanya sedang menyebrang dengan seorang pria yang tidak dikenalinya, Neal ingin saja turun dari mobil tapi lampu hijau keburuh menyala sehingga menghentikan niatnya.


Neal meraih ponselnya dari saku jasnya, ia mencari kontak seseorang disana, Neal memejamkan matanya sejenak, ada keraguan dari wajanhyna, tapi akhirnya ia menekan icon berwarna hijau itu, dan menyambungkan dengan


seseorang yang ada disebarang sana, Ara menghentikan obrolannya dengan David ketika mendengar dering ponselnya. Ara pun segera mengambil ponselnya dari dalam tasnya, ia tertegun menatap layer ponselnya, “Neal, tumben ia menelponku," guman Ara dalam hati karena memang hampir dua bulan mereka menikah belum sekalipun Neal pernah menelponnya walaupun beberapa waktu lalu ia pernah memintah nomor ponselnya, Ara pun segera menjawab panggilan telpon suaminya.


“Hallo Neal," sapa Ara lembut. Neal sedikit tersentak begitu pertama kali mendengar suara Ara lewat telpon, wajah Ara langsung memenuhi pikiran Neal,


“Kau dimana?" Tanya  Neal tanpa berbasa-basi.


“Aku sedang di cafe bersama temanku," sahut Ara hati-hati.


“Teman?" Tanya Neal sambil mengernyitkan keningnya.


“Iya namanya David, dia guru les pianoku," tukas Ara cepat, Neal menarik napas kasar, jadi hal yang dilihatnya  tidak salah  itu benaran Ara.


“Neal," panggil Ara karena tak mendengar suara Neal dari sebrang sana.


“Kau punya kegiatan setelah ini?" Tanya Neal


“Tidak..." jawab Ara cepat.


“Belikan aku kopi  nanti suruh Peter mengantarkan kau ke kantorku," ujar Neal.


“Kopi apa yang kau sukai?" Tanya Ara senang karena ia akan berkunjung ke kantor Neal untuk pertama kalinya.


“Terserah kau saja," sahut Neal, “Tapi aku tidak ingin menunggu lama, aku beri kau waktu satu jam untuk sampai kesini," imbuh Neal dan langsung mengakhiri panggilannya, sehingga membuat Ara melongo heran, ia pun segera menelpon Peter, dan minta maaf sekaligus  pamit  pada David yang menatapnya sedikit heran.


“Maaf David , aku ada keperluan mendadak, suamiku membutuhkanku," jelas Ara sambil berjalan untuk memesan kopi buat Neal.


“Suami?... Kau sudah menikah?" Tanya David terkejut, Ara menganggukan kepalanya ,David terkesiap dengan jawaban Ara dengan mata membulat menatap Ara tidak percaya, ia memalingkan wajahnya  sambil   membuang napasnya kasar terlihat raut kekecewaan diwajah David.


 


 


 


****


 


 


Ara menatap gedung yang tinggi menjulang didepannya, ia menatap sekelingnya  dan melihat hampir semua gedung disana tinggi menjulang membelah langit, lamunan Ara terhenti ketika mendengar suara Peter yang menagajaknya masuk. Ara pun mengikuti langkah Peter di sampingnya, Ara mecoba melirik kiri kanan sambil memperhatikan sekitarnya Ia melihat begitu banyak orang-orang yang terlihat sibuk dengan  pekerjaan mereka, ia berpapasan dengan beberapa karyawan wanita yang cantik-cantik dengan busana yang begitu seksi, sejenak Ara menelan ludahnya, Peter berhenti didepan lift dan segera menekan tombolnya, kemudian mereka segera masuk.


Ara merapikan penampilanya sambil berkaca lewat dinding lift didepanya, ia merasa kurang percaya diri menemui Neal, melihat karyawan Neal yang memakai pakaian yang begitu seksi mempertontonkan tubuh mereka, kalau


seandainya Ara tau berapa harga gaun yang dipakainya itu akan membuatnya terlonjak kaget, pakaian yang dipakainya tidak terbuka tapi ia terlihat begitu anggun dan cantik dengan gaunnya, tapi melihat aset-aset wanita disini yang ukurannya seperti balon yang kan meledak membuatnya menatap dadanya lesu.


Peter segera menyuruh Ara keluar dari pift terlebih dulu, keduanya segera melanjutkan langkahnya, Peter berhenti didepan pintu yang sedikit agak berbeda dengan beberapa pintu sempat diperhatikannya, Peter segera menemui seorang wanita yang segera keluar dari balik mejanya,


“Silahkan masuk saja Nona, Tuan sudah menunggu anda," ucap wanita itu sopan, Ara pun mengiyakan sambil menatap wanita didepannya, rok wanita yang begitu pendek tak luput dari perhatian Ara,”apakah ke kantor harus


berpakaian seperti ini ya," guman Ara.


Peter pun segera pamit, Ara mengikuti langkah wanita itu, ia mengetuk pintu setelah mendengar sahutan ia pun segera membuka daun pintunya, Ara mengikuti langkah wanita itu yang berjalan mendahului Ara.


“Tuan... Nona sudah datang," ujar wanita itu sopan.


.


.


..


.


.


Bersambung


.


.


.


..


.


Bersambung