
Neal menatap Ara yang sedang duduk disampingnya,” Kau tahu siapa Natalie? "Tanya Neal pelan. ”Iya aku tau...dia sahabat Anara saat mereka tinggal di Amerika," sahut Ara cepat.
“Baguslah kalau kau sudah tau, kau harus hati-hati dengannya jangan sampai ia tau siapa kau sebenarnya," lanjut Neal. Ara pun mengiyakan.
“Tidurlah kau terlihat Lelah," ucap Neal sambil menarik pelan kepala Ara untuk menyandar di pundaknya. “Tidak usah Neal," tolak Ara pelan.
"Jangan membantah aku itu suamimu, dan aku juga tidak suka di tolak," sahut Neal sambil menahan kepala Ara di pundaknya. Ara pun akhirnya menyerah tak ada gunanya berdebat dengan Neal karena hanya akan menguras tenaganya saja. Ara mencoba memejamkan matanya, tapi seketika bayangan ibunya berkelebat, hatinya terasa pedih mengingat kemarahan diwajah ibunya. Wajah yang belum pernah ia lihat semarah itu, Ara mencoba menguatkan hatinya, walaupun ibunya tidak akan pernah menyetujui apa yang telah di putuskannya tapi ia sudah sangat senang bisa membantu ibunya untuk sembuh dari penyakitnya, ia tidak tahu apakah ibunya masih bisa memaafkannya setelah ia membohongi ibunya.
Mobil pun berhenti ketika mobil sudah sampai di Mansion. Neal melirik Ara yang bersandar di dadanya. Ia melihat tidur istrinya begitu nyenyak Neal jadi ragu untuk membangunkannya.
“Tuan sepertinya Nona sudah tertidur, aku akan mengantarkannya ke kamar," tawar Mark sambil melirik ke belakang.
“Tidak.. biar aku saja," tolak Neal cepat. Dengan segera ia mengangkat tubuh Ara hati - hati agar tidak terbangun, ia menatap wajah Ara yang ada dalam gendongannya, mengingat tawaran Mark tadi membuatnya
tidak rela kalau Mark sampai menyentuh istrinya itu. Walaupun maksud Mark sangat baik karena ingin membantunya.
Neal menaiki tangga dengan hati-hati, seorang maid tampak mengikuti langkah Neal. Ia segera membantu Neal membuka pintu kamar, setelah itu Neal pun menyuruhnya pergi.
Perlahan Neal membaringkan tubuh Ara di ranjang, Neal kembali menatap wajah itu, pikirannya kembali teringat apa yang telah mereka lakukan semalam. “Maafkan aku jika perkataan ku membuatmu terluka, aku bahkan tidak mengerti akan diriku sendiri. Mengapa aku begitu sulit mengendalikan diriku saat bersamamu." Neal berkata sambil membelai lembut pipi Ara.
Perlahan mata Neal turun pada gaun yang masih dipakai Ara, pasti Ara tak akan nyaman memakai pakaian itu saat tidur. Neal memiringkan sedikit tubuh Ara perlahan Neal mencoba menarik resleting gaun itu. Walaupun ada sedikit keraguan di wajah Neal, bayangan percintaan mereka semalam kembali berputar di kepala Neal. Neal mengalihkan pandangannya saat melihat resleting gaun istrinya terbuka. Neal mulai menarik gaun itu pelan, namun tiba – tiba sebuah suara menghentikan niatnya.
“Neal apa yang kau lakukan!" Seru Ara yang terbangun sambil menahan gaun itu untuk menutupi dadanya.
"Maaf...kau jangan marah aku hanya membantu melepaskan gaunmu, kau pasti tidak akan nyaman memakai gaun ini untuk tidur, " jelas Neal sambil menjauh dari tubuh Ara. Sekarang kau sudah bangun dan kau sudah bisa melakukannya sendiri, " ucap Neal sambil melangkah menjauh dari Ara lalu membuka pintu ke ruang kerjanya yang memang terhubung dengan kamar.
Ara hanya menatap kepergian Neal, setelah itu ia turun dari tempat tidur dan berjalan ke kamar mandi. Ia segera melepaskan gaunnya dan menaruhnya di box loundry yang ada di kamar mandi, kemudian mencuci wajahnya
menghapus kosmetik yang ada diwajahnya. Ara sedikit ragu keluar dari kamar mandi hanya berbalut sehelai handuk saja di tubuhnya. Namun mengingat Neal tidak ada di kamar ia pun memberanikan dirinya, baru saja melangkah keluar ia melihat Neal juga sedang berjalan ke kamar mandi. Sejenak mata mereka bertatapan tapi dengan cepat Ara memalingkan wajahnya dengan Langkah cepat ia masuk ke walk in ckoset .
Neal yang masih tertegun ia mencoba menelan ludahnya sebagia pria normal tentu saja disuguhkan pemandangan menggoda sepeti itu memancing gairahnya apalagi semalam mereka baru saja bercinta seperti tidak akan ada hari esok.
Ara pura -pura tidur saat Neal membaringkan tubuhnya disampingnya, keduanya terasa sangat canggung. Neal pun mencoba untuk memejamkan matanya, tapi pikiran mereka berputar entah kemana sehingga membuat keduanya susah untuk tertidur.
****
Arabela diantar oleh Peter ke rumah sakit, hari ini Ara akan mengunjungi Noumi yang sedang menjalani perawatan, melihat kedatangn Ara seorang suster segera mengampirinya.
“Selamat pagi Nona, pasti Nona kesini ingin mengunjungi Noumikan?"Tanya suster itu sopan.
“Iya," sahut Ara cepat.
“Mari Nona saya antar, " tawar suster itu. Ara pun mengiyakan dan segera mengikutinya, mereka berdua segera menuju tempat perawatan anak tak lama mereka berhenti didepan sebuah kamar, suster itu mengetuk pelan, setelah mendengar sahutan ia pun membuka pintu dan mempersilahkan Ara untuk masuk.
“Pagi Nona Ara, senang sekali kau sudah mau mengunjungi Noumi," sapa Dokter itu ramah.
“Selamat pagi Dok, bagimana keadaan Noumi?"
“Kondisinya masih lemah belum memungkinkan untuk melakukan operasi. "Perkenalkan nama saya Sera, saya dokter anak yang menangani Noumi dan masih ada satu dokter lagi yang akan membantu saya," jelas Sera sambil mengulurkan tangannya. Ara pun segra menyambut uluran tangan Dokter Sera.
“Senang bisa berkenalan dengan anda Dokter, lakukan yang terbaik untuk Noumi," sahut Ara sambil melepaskan jabat tangan mereka. Dokter sera pun menganggukan kepalanya, perlahan Ara berjalan ke tempat tidur Nuomi,
mengusap lembut kepalanya dan memberikan kecupan di keningnya. “Kamu harus kuat sayang cepatlah sembuh," ucap Ara pelan menatap iba gadis kecil yang ada didepannya, ia sudah tidak memliki orang tua lagi dan juga harus mendapat penyakit yang sangat berbahaya.
Dokter Sera sangat tersentuh melihat kebaikan hati Ara, ia tahu mereka tidak memliki hubungan apa pun tapi terlihat Ara begitu sangat menyanyanginya. “walaupun anda terlahir dari kelauraga yanga sangat kaya tapi hati anda sangat lembut Nona, tidak terlihat sombong sedikit pun," guman Dokter Sera dalam hati.
Ara kembali memberikan kecupan di pipi Noumi lalu segera menjauh dari sana karena ia tidak ingin menganggu tidur Noumi, ia dan Dokter Sera pun segeraa keluar dari kamar itu setelah pengasuh Noumi Kembali ke kamar. Ara sempat menyapanya sebentar dan menitipkan Noumi padanya, dengan senang hati ia pun mengiyakan permintaan Ara.
Mata Ara melihat seseoran yang tidak asing di matanya sedang berjalan kearah mereka. Ara mengernyitkan keningnya melihat seragam yang sedang dipakai Daniel. "Sedang apa ia disini dan kenapa ia memakai pakaian seperti itu, "guman Ara. Daniel segera tersenyum lebar melihat wajah Ara yang keheranan saat menatapnya.
“Selamat pagi Dokter Sera," sapa Daniel tersenyum.
“Pagi Dokter Daniel, " balas Sera. Ara terkejut mendengar ucapan Dokter Sera tapi kalau dari pakaiannya Ara sudah tahu kalau ia sedang memakai pakaian Dokter, tapi Ara masih sempat tadi meragukannya tapi setelah mendengar Dokter Sera, ia tidak bisa menyangkal.
“Nona Ara, ini dia Dokter Daniel yang ikut menangani Noumi."
"Hai Ara senang bisa bertemu denganmu lagi, "sapa Daniel.
"Kalian sudah saling kenal?" Tanya Sera sedikit keheranan. sambil menatap keduanya bergantian.
"Tentu saja Dokter Sera, bukankah begitu Ara," sahut Daniel dangan tatapan dan senyuman yang jelas terlihat menggoda Ara, tentu saja Ara tak suka ditatap seperti itu.
"Iya Dokter Sera....Dokter Daniel adalah sepupu suamiku, "sahut Ara cepat.
.
.
.
.
.
.Bersambungs