
...''Bagaimana pendapatmu Darren?'' tanya Ardie...
''Terserah papa saja'' ucap Darren dan langsung pergi dari ruang keluarga
''Hanin, mama berharap kamu tidak akan bercerai dan meninggalkan kami'' ucap Rani, sedangkan Hanin hanya tersenyum simpul
''Entah apa aku bisa mencintainya atau malah aku akan terjebak dengan cinta yang mungkin tak terbalaskan'' batin Hanin dalam hati
Setelah sarapan, Rani dan Ardie kembali ke rumah utama. Sedangkan Hanin mulai membersihkan rumah yang memang tidak terlalu kotor itu
''Kau kan yang melaporkannya pada papa'' ucap Darren yang tiba-tiba berada di belakang Hanin
''Apa kau hantu, tidak ada suara tiba-tiba berada di belakangku'' ucap Hanin kesal karna terkejut
''Kenapa kau bisa berpikir aku yang melaporkannya pada papa?'' tanya Hanin ketus
''Jangan jawab pertanyaanku dengan pertanyaan. Lalu kenapa papa bisa tau Sandra disini jika kau tak melaporkannya'' ucap Darren dengan nada sedikit tinggi
''Untuk apa aku melaporkanya pada papa, tidak ada untungnya buatku'' ucap Hanin
''Mungkin kau sengaja, agar aku berpisah dengan Sandra dan menjadi suami mu seutuhnya begitu?'' ucap Darren yang membuat Hanin semakin kesal
''Kau kira setampan apa dirimu, hingga aku harus merebutmu dari Sandra'' ucap Hanin sinis
''Apa bagusnya dirimu hingga papa menjodohkan ku dengan wanita sepertimu'' ucap Darren menatap Hanin tajam
''Kenapa kau tak bertanya pada papa barusan, kenapa malah bertanya padaku'' ucap Hanin yang terus menjawab Darren
ΩΩΩΩΩ
Satu minggu kemudian
Seperti biasa setiap pagi Hanin akan membuatkan sarapan untuk Darren dan dirinya, walaupun dia tau kadang Darren jarang memakan sarapan yang di buatnya
''Ambil kartu ini, belilah semua kebutuhanmu'' ucap Darren melempar kartu ATM pada Hanin
''Tidak perlu aku masih punya uang sendiri'' ucap Hanin
''Baik jika kau kehabisan uang jangan harap aku akan memberikannya padamu walau kau memohon'' ucap Darren
''Hal itu tak akan terjadi jika kaki dan tanganku masih berfungsi'' ucap Hanin
''Kau tidak perlu bekerja lagi'' ucap Darren lagi
''Iya aku memamg akan berhenti bekerja, karna sebentar lagi aku akan magang'' ucap Hanin dan langsung pergi
''Apa dia tidak merasa lelah? Kenapa dia berbeda dengan Sandra '' tanya Darren pada dirinya sendiri
''Untuk apa aku memikirkannya untuk apa juga aku membandingkan dia dengan Sandra'' ucap Darren lagi
***
Sekitar 45 menit lebih, Hanin baru sampai di kampus
"Hanin, kamu terlambat" ucap Nisa yang sudah menyambut dengan kedua sahabatnya itu
''Iya, biasanya kan dari rumah kasih kesini hanya memakan waktu 25 menit'' ucap Jesi
"Kata siapa aku telat, ini masih ada waktu 5menit lagi sebelum masuk" ucap Hanin tertawa pelan
''Maaf aku berbohong pada kalian, aku masih belum siap menceritakan pernikahanku pada kalian dan juga tempat tinggalku'' batin Hanin sambil menatap sahabatnya satu persatu
''Hanin kamu disuruh ke ruang rektor sama pak Alfi'' ucap Nisa
''Memang ada apa?'' tanya Hanin
''Ya pak rektor sudah mengatur perusahaan tempat magang untuk mu'' ucap Nisa
''Sekarang?'' tanya Hanin
''Iya sekarang, cepetan sana'' ucap Jesi
''Tapi kan kelas mau masuk'' ucap Hanin
''Nanti aku bilangin sama pak dosen kalau kamu masih di ruang rektor'' ucap Nisa
''Baiklah terimaksih'' ucap Hanin segera pergi
''Dasar bodoh'' ucap Nisa dan Jesi sedang Risa hanya menganggukkan kepalanya
*
Sementara itu
"Bagaimana perkembangan hubungan mereka?" tanya pria itu
"Masih tetap sama tuan, tidak ada perubahan" ucapnya
"Dion, apa kau punya saran agar mereka bisa saling mencintai ?" tanya Ardie ya dia adalah Ardie
"Kebersamaan tuan" ucap Dion
"Bukannya mereka selalu bersama?" tanya Ardie
"Bertemu saat pagi, bahkan bertemu di kampus saja seperti orang asing mas bilang bersama?" tanya Rani yang tiba-tiba masuk
"Rani kamu datang?" sapa Ardie tersenyum
"Jadi bagaimana menurut kalian, apa kalian punya rencana untuk membuat mereka saling mencintai?" tanya Ardie
"Biarkan saja mereka menjalani sepeeti ini dulu, biarkan mereka jatuh cinta dengan sendirinya dan secara alami" ucap Rani
"Hah baiklah ikuti maumu" ucap Ardie yang pasrah dengan peekataan Rani
Saat jam makan siang, Hanin dan keempat sahabatnya sudah berada di kantin. Namun bukan Mona namanya jika tidak membuat onar
"Kalian tau gak kita akan magang dibperusahaan terbesar di Prana Corp lho" ucap Mona sombong
"Aku ingin magang di bagian devisi keuangan" ucap Karin
"Aku ingin jadi skertaris manager, pasti manger di sana tampan bukan" ucap Clara
"Kalau kamu Mona?" tanya Karin
"Aku pasti di tempat yang paling tinggi di antara kalian semua. Secara kan nilaiku lebih tinggi dari kalian" ucap Mona sombong
"Nis, kamu magang dimana?" tanya Risa
"Di perusahaan papaku" ucap Nisa
"Enak dong" ucap Jesi
"Kalau kamu Hanin?" tanya Jesi
"Di Prana Corp" ucap Hanin berbisik
"Wah selamat ya" ucap Jesi dan kedua sahabatnya
*
Malam harinya, Hanin pulang kerumah utama karna Ardie meminta Hanin untuk makan malam bersama
"Hanin, papa dengar sebentar lagi kamu akan magang?" tanya Ardie
"Iya pa, minggu depan" jawab Hanin
"Dimana sayang?" tanya Rani
"Di Prana Corp ma" ucap Hanin, Rani dan Ardie pun saling pandang lalu tersenyum
"Apa kau tau siapa presdir dari Prana Corp?" tanya Ardie, Hanin menggelengkan kepalanya
"Sudahlah cepat makan, tidak perlu menunggu anak itu" ucap Ardie
Tak berapa lama tiba-tiba pintu terbuka, tanpa menunggu lama dia langsung duduk di meja makan dan ikut makan malam bersama
Rani yang melihat kedatangan Darren merasa sangsat senang karna sejak kejadian dia dengan Sandra, Darren sudah mau sedikit berbicara dengan Rani
"Darren mau makan apa nak?" tanya Rani
"Ayam saja" ucap Darren
Ya walaupun Darren hanya berbicara seperlunya dengan Rani, namun itu membuat Rani senang
"Kalian malam ini menginap saja" ucap Ardie, mendengar itu seketiaka Hanin terbatuk
"uhuk...uhuk..uhuk"
"Hanin, kenapa nak?" tanya Rani yang memberikan minuman pada Hanin
"Kami langsung pulang, Darren banyak pekerjaan" ucap Darren
"Bukankah kau bisa mengerjakannya disini?" tanya Ardie
"Berkasnya ada dirumah" jawab Darren
Saat Ardie akan menjawab, tiba-tiba Rani mencolek Ardie, supaya tidak memakasa mereka
"Hah baiklah, terserah kalian saja" ucap Ardie mengalah
**
3hari kemudian, Hanin sudah bersiap untuk menuju perusahaan tempat dia magang
Saat disana, dia bertemu dengan Mona dan kedua sahabatnya
"Eh anak yatim piatu juga magang disini?" tanya Mona, namun Hanin tak menghiraukannya
Tak berapa lama seorang wanita keluar dengan membawa map di tangannya
"Ayunindya Hanin" panggilnya
"Saya bu" ucap Hanin
"Perkenalkan saya Dini dari devisi keuangan, mohon nona Ayunindya ikut saya" ucap Dini sopan
"Baik bu" ucap Hanin mengikuti langkah Dini
Sedangkan Mona dan kedua sahabatnya kesal karna Hanin di panggil lebih dulu
"Selamat siang mohon perhatiannya" ucap Dini
"Perkenalkan ini Hanin, dia mahasiswa yang akan magang di devisi keuangan" ucap Dini
"Hai Hanin" sapa tiga karyawan yang salah satunya adalah wanita
"Hanin akan mulai magang, minggu depan. Silahkan kalian berkenalan dulu" ucap Dini dan langsung pergi
"Hai Hanin, perkenalkan aku Bryan. Aku pria paling populer di kantor ini" ucap Bryan
"Minggir, Hai aku Kevin" ucap Kevin mengulurkan tangannya
"Hanin perkenalkan aku Melly" sapa Melly tersenyum pada Hanin
"Terimakasih karna kakak senior sudah menyambut saya dengan baik" ucap Hanin membungkukkan badannya
"Hei, kau terlalu sopan" ucap Melly
"Baiklah, sampai ketemu minggu depan" ucap Melly dan kedua pria itu
Hanin pun langsung meninggalkan ruangan itu
"Sungguh gadis yang imut" ucap Bryan yang dapat anggukan dari Kevin
"Jangam merusak gadis baik seperti Hanin" ucap Melly memukul kepala keduanya
"Ah bu Melly gak asyik nih" protes Bryan
"Cepat kerjakan tugas kalian, sebelum aku panggilkan bu Dini" ancam Melly
Disisi lain, Mona dan kedua sahabatnya merasa geram pada Hanin
''Sialan, kenapa harus anak yatim piatu itu yang masuk di devisi keuangan'' ucap Karin
''Iya, kenapa aku harus berada di meja recepsionis'' ucap Mona
''Kamu mending, lah kita jadi OG'' ucap Clara
''Ini semua gara gara Hanin'' kesal Mona tak terima