
Di luar kamar Hanin, Rani, Ardie, dan Darren yang baru dari kantin langsung mengobrol di luar kamar Hanin. Karna mereka tidak ingin mengganggu istirahat Hanin
''Mas, apa kamu tau siapa Bryan Axel itu?'' tanya Rani
''Ayahnya adalah sahabatku. Dulu kita bekerja sama hingga kami membangun perusahaan ini. Tapi Bayu adalah orang yang sombong'' ucap Ardie
''Lalu dia meminta pembagian hasil di bagi rata, dan aku sudah memberikannya, tapi dia juga mengambil setengah hasil yang menjadi milikku dan bekerja sama dengan orang lain. Dan sejak saat itu aku tidak mendengar kabar dia dan terakhir aku dengar dia tertipu dan bangkrut '' lanjut Ardie
''Tapi kenapa Bryan ingin menghancurkan perusahaan kita?'' tanya Darren
''Sebelum dia jatuh sakit, dia meminta pembagian hasil padaku. Aku tidak memberinya, mungkin dia mengatakan pada putranya untuk membalas dendam padaku'' ucap Ardie
''Tapi aku lihat dia sangat tertarik pada Hanin?'' tanya Rani, Darren langsung menatap Rani
''Siapa yang tidak akan tertarik pada menantumu, dia begitu baik dan ramah pada semua orang'' ucap Ardie
''Ya kau benar'' ucap Rani menyetujuinya
''Tapi aku tidak akan membiarkan dia merebut Hanin dariku'' ucap Darren mengepalkan tangannya
''Jangan sentuh aku, menjauh dariku'' tiba-tiba terdengar teriakan dari kamar Hanin
Mendengar itu, Darren dan orang tuanya langsung masuk kekamar Hanin, Darren bingung bagaimana bisa kamar Hanin terkunci
''Hanin, bisa kau buka pintunya dari dalam'' ucap Darren, namun tak ada jawaban dari Hanin
Beberapa menit kemudian, pintu akhirnya terbuka dan terlihat Hanin yang ketakutan dan meringkuk gemetar
''Sayang ada apa?'' tanya Darren
''Mas kita pulang ya, aku tidak mau di rumah sakit lagi'' ucap Hanin gemetar
Darren melihat peralatan medis yang biasa di bawa perawat saat memeriksa pasien, dan pintu jendela terbuka
''Suster, apa sudah melakukan pemeriksaan pada istriku?'' tanya Darren
''Belum tuan, kami masih menunggu dokter untuk memeriksa nona Hanin'' jawab suster
''Sayang ada siapa barusan?'' tanya Darren
''Ka...kak Bryan'' ucap Hanin
''Bryan?'' tanya mereka terkejut
''Apa yang dia katakan?'' tanya Dareen
''Dia...
Flashback On
''Katakan Hanin apa kau bersedia bersamaku?'' tanya pria itu dan melepas penyamarannya
''Kau'' Hanin membelalakkan matanya saat melihat pria itu
''Kenapa Hanin, kenapa kau sangat takut padaku? Bukankah sebelumnya kau sangat dekat denganku'' ucapnya perlahan melangkahkan kakinya menuju Hanin
''Jangan mendekat'' ucap Hanin gemetar
''Kenapa, kenapa kau takut?'' tanya pria itu terus mendekat ke arah Hanin
''Kak Bryan, kau bukan kak Bryan yang aku kenal. Kak Bryan yang aku kenal selalu ceria dan juga selalu sopan pada setiap wanita. Dia tidak akan mudah menyakiti wanita'' ucap Hanin gemetar
''Hanin aku tidak akan menyakitimu sayang'' ucap Bryan menggenggam tangan Hanin
''Pergi dari kamarku'' ucap Hanin
''Jangan takut'' ucap Bryan dan mengelus pipi mulus Hanin dan saat Bryan akan menciumnya Hanin langsung berteriak
Mendengar suara langkah kaki mendekat dan beberapa perawat mengambil kunci cadangan kamar Hanin, pria itu langsung pergi ke arah jendela
Flashback Off
''Arya tolong kau cari keberadaan Bryan, lacak semua cctv rumah sakit sekarang'' ucap Darren melalui telphonnya
''Baik tuan'' ucap Arya
''Ma Pa, aku akan urus administrasi dan prosedur kepulangan Hanin'' ucap Darren
''Iya sayang'' ucap Rani
''Kalau gitu aku juga keluar dari rumah sakit'' ucap Gavin tiba-tiba
''Kau masih belum bisa pulang, kau masih belum pulih'' ucap Darren
''Tidak, aku akan tinggal di rumahmu'' ucap Gavin, mendengar itu Darren langsung menatap tajam Gavin
''Untuk sekarang lebih baik Hanin tinggal di rumah utama saja'' ucap Rani
''Tidak perlu Ma, lagian tidak ada yang tau rumah aku dan Hanin'' ucap Darren
''Kalua begitu lebih ketat pangawalannya di rumah kamu'' ucap Ardie
''Aku sudah meminta beberapa anak buah ku menjaga ketat rumah kami'' ucap Darren
.
.
''Kita sudah jauh dari rumah itu, sekarang katakan siapa kau?'' tanya Doni
''Aku Agra, aku juga sahabat Dion'' ucap Agra
''Bagaiamana bisa kau tau tempat ini?'' tanya Doni
''Cukup mudah bagiku menemukan tempat ini'' ucap Agra
''Sekarang kita akan kemana?'' tanya Doni
''Aku sudah menemukan tempat untuk kita bersembunyi sementara, sambil mencari kelemahan Charles'' ucap Agra yang sudah melajukan mobil yang sudah dia siapakan
''Satu lagi, apa kau tau hubungan Charles dan Barack?'' tanya Agra
''Yang aku tau, mereka ingin Hanin menjadi istri dari tuan muda Barack, dan Charles akan mendapat bantuan untuk menjadi penguasa kota ini'' ucap Doni menjekakan
''Apa kau tau siapa tuan muda Barack?'' tanya Agra
''Aku belum pernah melihatnya, bahkan aku juga tidak dapat menyelidiki tuan muda Barack karna ulah Antoni itu'' ucap Doni geram
Sekitar satu jam, akhirnya mereka sampai di tempat persembunyian mereka
Di sisi lain, Antoni terlihat marah karna Doni berhasil kabur
''Brengsek, berani sekali dia kabur dari tanganku. Seharusnya aku membunuhnya saat itu'' ucap Antoni marah
''Tuan, sekarang apa yang harus kita lakukan?'' tanya anak buahnya itu
''Biarkan saja, aku yakin dia tidak akan bisa pergi dari negara ini. Semua identitas dia masih ada padaku'' ucap Antoni menyeringai
.
.
Malam harinya, Hanin merasa seperti ada yang mengawasi rumahnya, dia menuju kamarnya dan membuka tirai jendelanya
''Di luar tidak ada siapapun, hanya pengawal yang di tugaskan mas Darren. Tapi kenapa perasaanku tidak tenang'' ucap Hanin sambil memegang dadanya
Apalagi saat ini Darren sedang di apartemen, untuk mencari lebih banyak bukti tentang kejahatan Charles dan Barack
Terdengar langkah kaki yang sangat pelan menuju arahnya, entah kenapa Hanin merasa dia seperti jadi buronan, yang selalu ketakutan
''Hanin'' tiba-tiba ucap seorang pria yang menepuk pundaknya itu
''Hah, mas kamu bikin aku kaget'' ucap Hanin terkejut
''Sayang, kamu kenapa?'' tanya Darren memeluk istrinya itu
''Entahlah mas, aku perasaanku tidak enak'' ucap Hanin memeluk suaminya itu
''Sayang, jangan takut. Sudah ada pengawal yang menjaga rumah ini dan aku yakin tidak akan ada yang berani menyentuhmu'' ucap Darren menenangkan istrinya itu
Setelah itu, Darren meminta Hanin untuk istirahat. Bagaimana pun saat ini harus butuh istirahat yang cukup
Selang berapa lama, ponsel Darren berdering dan tertulis nama Arya di sana
''Ada apa?'' tanya Darren dingin
''Tuan, saya mendapat informasi bahwa Bryan sudah berangkat ke luar negri tuan'' ucap Arya
''Bagaimana bisa, bukannya dia tidak akan bisa pergi dari negara ini'' ucap Darren terkejut
''Seseorang telah membantunya tuan'' ucap Arya
''Apa kau tau siapa yang membantunya?'' tanya Darren
''Sudah tuan, saya akan mengirimkan file identitas orang itu pada anda'' ucap Arya
''Cepat kirim'' ucap Darren dan langsung mematikan ponselnya
.
Sementara itu di bar yang terbilang mewah, seorang pria terus meminum hingga membuatnya sedikit mabuk
''Apa kau yakin putus dengannya?'' tanya pria di sampingnya
''Yakin atau tidak aku harus melakukannya. Nyawa orang tuaku tergantung pada diriku, jadi aku lebih memilih menyelamatkan nyawa orang tuaku. Dan tolong bantu aku, carikan aku wanita yang bisa bermalam denganku'' ucapnya
''Untuk apa kau melakukan ini?'' tanyanya
''Biarkan dia sendiri yang membenciku, dan meninggalkanku'' ucapnya terlihat raut wajah kesedihan di sana
''Aku akan meminta salah satu karyawan bar disini menemanimu semalam, lalu apa rencanamu?'' tanya pria itu
Entah apa yang di katakan pria itu, sedangkan pria itu hanya mengangguk mengerti
.
Kembali pada Darren
Cukup lama menunggu file dari Arya, akhirnya file itu masuk di ponsel milik Darren. Darren segera membuka file yang diterima itu dan betapa terkejutnya Darren saat melihat file itu
''Dia?''...