
''Plaaak''
''Pa, kenapa papa menamparku?'' tanya Darren
''Kenapa? lihat ulahmu ini, kau membuatku malu Darren'' ucap Ardie emosi sambil melempar ponselnya
''Pa, aku bisa jelaskan. Tapi sekarang Hanin pergi dari rumah pa'' ucap Darren saat melihat ponsel Ardie
''Lebih baik, mungkin lebih baik Hanin pergi dari rumah dan meninggalkanmu'' ucap Ardie geram
''Darren, mama tidak menyangka kau akan menyakiti Hanin seperti ini'' ucap Rani mencoba menahan tangisnya
Darren mencoba menjambak rambutnya kasar, dia sangat bodoh karna sudah membuat Hanin kecewa
Darren langsung meninggalkan kediaman Ardie, dan segera melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
''Hanin kamu dimana, tolong jangan seperti ini'' ucap Darren. Darren langsung saja menuju tempat Evan
Evan sudah mengetahui dengan jelas tentang kejadian Darren dan Sandra. Saat mendengar tentang kejadian itu, Evan langsung saja meminta anak buahnya segera menyelidiki
.
Sedangkan di rumah sakit, Risa sangat khawatir mendengar kabar Hanin pergi dari rumah
''Rainer, kenapa bisa seperti ini? Bukannya hubungan pak Darren dan Hanin baik-baik saja?'' tanya Risa
''Aku tidak tau, tapi Hanin melihat sendiri Darren berada di kamar hotel bersama mantan kekasihnya'' ucap Rainer
''Emang dasar ya tuh pak Darren, aku mau keluar dari rumah sakit sekarang, aku mau mencari Hanin'' ucap Risa
''Risa, kakimu masih belum pulih sepenuhnya'' ucap Rainer
''Aku tidak perduli, aku bisa meminta Jesi dan Nisa menemaniku'' ucap Risa turun dari ranjangnya
''Risa tenang, aku akan mencari Hanin, tapi kau tetap berada dirumah sakit'' ucap Rainer memeluk Risa
''Bagaimana aku bisa tenang, sahabatku tak tau berada dimana sekarang'' ucap Risa emosi
''Risa aku jamin Hanin baik-baik saja di luar sana. Aku akan segera menemukan Hanin, jika kamu tidak membuatku khawatir'' ucap Rainer
''Baiklah pergilah, aku akan menunggu kabar darimu'' ucap Risa tersenyum
Setelah kepergian Rainer, Risa meraih ponselnya dan menghubungi kedua sahabatnya
''Bagaimana, apa ada kabar?'' tanya Risa
''Belum, aku sudah mencoba menghubungi Hanin, tapi tak direspon olehnya'' ucap Nisa yang juga cemas
''Bisa kalian membantuku?'' tanya Risa
''Apa yang bisa kita lakukan?'' tanya Jesi
''Bawa aku keluar dari rumah sakit, aku ingin bertemu dengan pak Darren dan mencari Hanin'' ucap Risa
''Kami akan membantumu, tapi kita tidak tau dimana Darren sekarang'' ucap Nisa
''Kita bisa bertanya pada Gavin'' ucap Risa
''Benar, aku akan mencoba menghubungi Gavin'' ucap Nisa dan langsung menghubungi Gavin
.
Setelah menghubungi Gavin, Nisa dan Jesi segera berangkat ke rumah sakit menjemput Risa
''Bagaimana?'' tanya Risa saat melihat kedua sahabatnya
''Gavin yang akan membawa kita kesana'' ucap Jesi
Dengan perlahan Risa melangkahkan kakinya, ya walau sedikit sakit
''Risa, kamu yakin Rainer gak akan marah?'' tanya Gavin
''Pasti marah. Tapi aku tidak bisa diam saja saat sahabatku dalam masalah'' ucap Risa memeluk kedua sahabatnya itu
''Rainer maafkan aku'' ucap Risa dalam hati
.
.
***
Sedangkan di tempat lain, Hanin masih saja menangis melihat Darren dan Sandra lagi
''Kenapa kamu menangis Hanin, dasar air mata sialan kenapa kau terus saja keluar'' ucap Hanin menghapus air matanya dengan kasar
''Hanin, wajahmu akan terluka jika seperti itu'' ucap Kevin
''Hanin, ada apa sebenarnya?'' tanya Kevin
Hanin langsung mengatakan bahwa dia adalah istri dari Darren
''Apa? Apa kau bercanda?'' tanya Kevin tertawa
''Tidak kak, aku serius'' ucap Hanin
''Hah, tambah patah hati si Bryan'' ucap Kevin
''Maksud kak Kevin apa?'' tanya Hanin bingung
''Apa kau tak tau, selama ini Bryan menyukaimu'' ucap Kevin
''Benarkah? Tapi aku rasa aku tidak baik untuk kak Bryan'' ucap Hanin
''Mungkin kak Bryan hidup dengan tenang di kampung halamannya bersama neneknya'' ucap Hanin yang dapat anggukan dari Kevin
''Lalu, kenapa tadi kau menangis seperti itu?'' tanya Kevin, awalnya Hanin tidak ingin bercerita pada Kevin.
Namun Hanin menceritakan pada Kevin, berharap beban di pikirannya berkurang
''Hanin, seharusnya kau mendengarkan penjelasan tuan Darren, siapa tau ini hanya salah paham'' ucap Kevin
''Aku bingung kak'' ucap Hanin menghapus air matanya
''Hanin lakukan saja cara seperti ini'' ucap Kevin berbicara pelan pada Hanin
Selang berapa lama, terdengar ketukan pintu dari kontrakan Kevin
''Tu...tuan Darren'' ucap Kevin terkejut
''Kevin, kenapa kau disini?'' tanya Rainer
''Ini kontrakan saya tuan'' jawab Kevin gugup
''Apa Arya tidak salah'' ucap Evan
''Kak Kevin aku akan pergi, aku akan cari ru...mah'' ucap Hanin saat melihat beberapa pria di depan pintu
''Hanin'' ucap Darren segera menghampiri Hanin
Perlahan Hanin memundurkan langkahnya saat Darren mendekatinya
''Hanin, aku mohon dengarkan penjelasanku dulu'' ucap Darren memohon
''Apa yang perlu kau jelaskan, bukannya tadi aku sudah melihatnya dengan jelas'' ucap Hanin
''Nona, Tuan muda di jebak oleh Sandra'' ucap Rainer membantu Darren
''Benarkah, bagaimana cara dia menjebaknya?'' tanya Hanin menatap Rainer
''Sandra sengaja memasukkan obat di minuman tuan muda'' ucap Rainer
''Sengaja memasukkan obat, berarti semalam kalian memang janji bertemu bukan?'' tanya Hanin tersenyum getir
''Sayang dengarkan aku, aku terpaksa menemaninya'' ucap Darren
''Lalu apa kau juga terpaksa tidur dengannya'' ucap Hanin
''Hanin percaya padaku, tidak terjadi apa-apa semalam'' ucap Darren menggenggam tangan Hanin
''Pergilah, aku tidak ingin pulang denganmu'' ucap Hanin melepaskan genggaman tangan Darren
Tak berapa lama, terlihat ketiga sahabat Hanin dan juga Gavin yang baru saja tiba
''Risa'' ucap Hanin berlari kearah Risa
''Hanin apa kamu baik-baik saja?'' tanya Risa memeluk Hanin
''Aku baik-baik saja, kenapa kau kemari?'' tanya Hanin
''Aku khawatir sama kamu. Kenapa kau memangis sampai matamu membengkak'' ucap Risa memeluk Hanin lagi, begitupun dengan kedua sahabatnya
Sedangkan Rainer manatap tajam Risa sambil mengepalkan tangannya
''Hanin, lebih baik kita pulang. Kita selesaikan masalahnya di rumah'' ucap Risa, Hanin memgangguk
''Tuan, biar Hanin kembali bersama kami'' ucap Jesi menatap Darren
''Tidak, Hanin akan pulang bersamaku'' ucap Darren menghampiri Hanin
''Plaaak, berhentilah memberi harapan pada Hanin, jika kau masih mencintai mantanmu'' ucap Risa, entah dapat keberanian dari mana, Risa berani menampar dosennya itu
''Risa'' teriak Rainer
''Kenapa, apa kau tak terima aku menampar sahabatmu?'' ucap Risa menatap tajam Rainer
''Lalu bagaimana dengan sahabatku yang dinsakiti oleh sahabatmu'' ucap Risa lagi
''Hanin, kita pulang'' ucap Risa
''Maaf, aku akan membawa Hanin kembali kerumah'' ucap Gavin
''Darren, biarkan Hanin pulang dengan mereka. Yang penting Hanin sudah mau pulang'' ucap Evan menahan Darren yang ingin mengejar Hanin
.
Setelah itu, Hanin langsung masuk di mobil milik Gavin
''Bagaimana kalian tau aku disini?'' tanya Hanin
''Kami hanya mengikuti mobil Darren'' ucap Gavin sambil melakukan mobilnya
Flashback On
Saat mobil Darren baru saja keluar dari gerbang rumah Evan, Gavin langsung mengikuti mobil Darren
''Itu mobil Darren, kita ikuti mereka'' ucap Gavin
''Iya'' jawab Nisa
''Mereka mau kemana?'' tanya Jesi
''Entahlah, mungkin Darren sudah menemukan lokasi Hanin. Secara Evan adalah seorang pebisnis sekaligus dia juga seorang hacker'' ucap Gavin
Flashback Off