
Di tempat lain, Evan dan Nisa sedang makan siang bersama. Evan memang sengaja membawa Nisa makan siang dirumah Evan
''Kak, kita mau makan siang disini?'' tanya Nisa bingung
''Iya, kamu pasti bisa memasak kan?'' tanya Evan
''Sedikit'' ucap Nisa malu
''Tidak apa, nanti kita masak bersama'' ucap Evan
Saat Evan dan Nisa akan masuk, tiba-tiba ponsel Evan berdering
''Bentar aku angkat telphon dulu'' ucap Evan sambil menunjuk ponselnya
''Baiklah'' ucap Nisa
''Dek kamu masuk dulu aja. Aku masih ada urusan'' ucap Evan setelah selesai mengangkat telphonnya
''Hah, aku di rumah kak Evan sendirian?'' tanya Nisa
''Iya gak papa, cuma bentar paling 10 menit'' ucap Evan
''Ah baiklah'' ucap Nisa pasrah
''Ini kuncinya'' ucap Evan memberikan kunci rumahnya pada Nisa dan langsung pergi
Saat Nisa masuk kerumah Evan, dia teekejut betapa mewahnya rumah Evan
''Apa dirumah sebesar ini, dia tinggal sendirian?'' ucap Nisa tak percaya
''Sambil nunggu kak Evan, lebih baik aku masak aja dulu'' ucap Nisa dan langsung menuju dapur
''Apa pria ini hobi memasak'' ucap Nisa yang melihat banyak bahan masakan di lemari pendinginnya
.
Sekitar 30 menit Nisa sudah menyelesaikan masakannya dan menatanya di meja makan
''Katanya hanya 10 menit, tapi ini udah setengah jam belum balik'' gerutu Nisa
Selang berapa lama, akhirnya Evan kembali dengan terburu-buru
''Maaf ya dek, tadi ada masalah di kantor'' ucap Evan
''Iya gak papa kok kak. Kak aku udah masak langsung makan aja ya'' ucap Nisa tersenyum
''Baiklah, apa yang kamu masak?'' tanya Evan penasaran
Saat sampai di depan meja makan, Evan terhenti dan membelalakkan matanya
''Ma...masak...masakan ini, kamu yang masak?'' tanya Evan menatap Nisa
''Iya kak, ada apa?'' tanya Nisa bingung
Perlahan Evan melangkah mundur dengan wajah pucat
''Apa dugaanku benar, dia adalah Nara?'' batin Evan menatap Nisa
''Kak Evan gak papa kan? Kenapa seperti orang ketakutan gitu lihat masakan ku? '' tanya Nisa bingung
''Eh enggak apa-apa, aku ganti baju dulu'' ucap Evan, Nisa menganggukkan kepalanya sambil tersenyum
''Kenapa kak Evan bisa terkejut melihat masakan yang aku buat?'' tanya Nisa pada dirinya sendiri
Selang berapa lama, Evan kembali turun dan mencoba untuk tetap tenang
''Maaf menunggu lama'' ucap Evan tersenyum
''Gak papa kak. Udah ayo cepet makan, ntar keburu dingin'' ucap Nisa
''Iya terima kasih'' ucap Evan dan langsung duduk di kursinya
''Rasa masakannya, hampir sama dengan masakan Nara'' batin Evan
''Bagaimana kak, apa tidak enak?'' tanya Nisa yang melihat raut wajah Evan
''Enak kok, sangat enak'' ucap Evan
''Seandainya dia benar-benar adalah Nara, aku akan sangat bahagia'' ucap Evan dalam hati
''Kamu kenapa bisa mendapatkan ide masak iga asam manis dan ayam rica rica?'' tanya Evan
''Karna orang yang paling aku sayang dan cintai sangat menyukai masakan ini'' ucap Nisa membuat Evan terkejut untuk kesekian kalinya
''A...ap...apa?....
.
.
''katakan apa ini Nisa?'' tanya Hanin penuh selidik, Darren diam sejenak lalu menggelengkan kepalanya
''Lalu siapa dia?'' tanya Hanin
''Sayang, untuk sekarang aku tidak bisa mengatakan padamu. Aku juga tidak tau, apakah Nisa ini adalah kekasih Evan yang dulu atau ini hanya kebetulan saja'' ucap Darren
''Ta... '' ucap Hanin terhenti
''Sayang aku mohon, untuk sekarang kamu jangan mengatakan apapun pada Nisa. Biarkan masalah ini Evan yang akan menyelesaikan sendiri'' ucap Darren
''Bagaiamana kalau kak Evan menyakiti Nisa?'' tanya Hanin
''Evan tidak akan melakukan itu'' ucap Darren memeluk Hanin lembut
''Aku membuatkan makanan kesukaan mu, nasi goreng seafood plus ayam goreng'' ucap Hanin
''Wah pasti sangat enak'' ucap Darren
''Tapi ini aku juga bawakan untuk kak Rainer'' ucap Hanin
''Tidak perlu Rainer sudah makan dengan Risa'' ucap Darren menyambar nasi goreng untuk Rainer
''Sayang kenapa kamu tidak makan?'' tanya Darren
''Iya aku mau makan tapi di suapin ya?'' pinta Hanin
''Baiklah, buka mulutnya, aaa'' ucap Darren sambil menyuapkan nasinya pada Hanin
''Di suap sama suami tercinta memang sangat nikmat'' ucap Hanin yang membuat Darren tak tahan ingin mencium bibirnya
''Sayang jangan coba-coba untuk menggodaku, kau tidak akan sanggup untuk menenangkan sesuatu yang sudah akan beraksi'' bisik Darren membuat wajah Hanin merah
''Aku tidak menggodamu'' ucap Hanin memalingkan wajahnya
''Mas, aku mau ke kantin sebentar'' ucap Hanin langsung beranjak dari duduknya
''Untuk apa kau ke kantin?'' tanya Darren penasaran
''Aku mau beli cemilan'' ucap Hanin
''Kau sudah makan, kenapa kau masih mencari cemilan?'' tanya Darren bingung
''Aku masih sedikit lapar'' ucap Hanin bergelayut manja pada suaminya
''Nanti saja, aku akan memebelikanmu di saat kita pulang'' ucap Darren
''Tapi aku maunya sekarang'' ucap Hanin menolak
''Hah baik pergilah'' ucap Darren menepuk pelan kepala istrinya itu
Setelah itu, Darren meminta Rainer untuk mengukuti Hanin, karna dia takut terjadi sesuatu pada Hanin
.
.
Di negara lain, dua orang pria berusaha mencari jalan keluar dari ruang bawah tanah itu
''Juan, sekarang apa yang harus kita lakukan?'' tanya Angga
''Aku juga bingung, aku tidak tau jelas area sini'' ucap Juan
Selang berapa lama, pintu terbuka dan terlihat seorang pria bertubuh tegap mengahmpirinya
''Tuan muda, tuan besar meminta saya memeberikan ini'' ucapnya sopan, lalu memberikan sedikit makanan pada Angga dan Juan dan pria itu langsung saja pergi
.
Saat Angga akan memakannya, Juan melihat kertas di bawah piring makanannya
''Angga, lihatlah ini'' ucap Juan mengambil kertas itu dan membukanya
''Angga ini denah jalan pintas menuju pintu luar'' ucap Juan
''Kenapa asisten Charles mau memberikan ini pada kita?'' tanya Darren
Juan membolak balikkan kertas itu dan tertulis sebuah pesan disana
*Tuan muda maafkan saya. Saya hanya bisa membantu tuan muda dengan denah ini untuk keluar dari penjara ini*' tulisan di kertas itu
"Siapa dia, kenapa dia mau membantu kita?" tanya Angga
Angga dan Juan segera mencari celah untuk segera kabur dari tempat itu
''Juan, kau di depan, aku masih bingung dengan denah ini'' ucap Angga
''Baiklah, cepat cari kursi, agar kita bisa masuk lewat sana'' ucap Juan menunjuk atap
Sekitar 30 menit, akhirnya mereka sudah bisa melewati lorong atap itu dengan susah payah
''Angga hentikan pergerakan, di bawah ada orang'' ucap Juan, Angga seketika menghentikan gerakannya
Perlahan Juan, memgintip dari celah lubang udara disana
''Apa yang kau liat?'' tanya Angga pelan
''Charles dan seorang pria asing. Aku tidak tau siapa dia'' ucap Juan
''Apa kau bisa mendengar pembicaraan mereka?'' tabya Angga
''Tidak, posisi kita terlalu tinggi'' ucap Juan
''Sekarang, apa kita sudah bisa melanjutkan lagi?'' tanya Angga
''Jangan dulu, ada beberapa pengawal yang mengawasi sekitar'' ucap Juan
''Sial, sampai kapan kita disini'' ucap Angga kesal
Cukup lama menunggu akhirnya, Angga dan Juan dapat keluar. Tapi mereka masih terbebas dari ruang bawah tanah, bukan rumah itu
Saat mereka sudah berada di taman belakang rumah Charles, Tiba-tiba seseorang mengejutkan mereka
''Berhenti kalian''....