
Di kediaman utama, Rani sangat cemas memikirkan Hanin
''Bu ini minum dulu supaya lebih tenang'' ucap bik Ani memberikan teh hangat untuk Rani
''Tapi aku tidak bisa tenang bik, bagaimana jika sesuatu terjadi pada Hanin'' ucap Rani
''Semoga saja Nona Hanin baik-baik saja'' ucap bik Ani mencoba menenangkan Rani
''Kenapa mas Ardie gak bisa dihubungi sih'' ucap Rani sambil mondar mandir
Tak berapa lama ponsel Rani berdering, Rani segera mengangkat telphonnya
''Hallo, mas gimana Hanin?'' tanya Rani panik
''Rani tenang, aku juga masih mencari Darren. Dari tadi aku tak melihat Darren'' ucap Ardie
''Lalu gimana mas?'' tanya Rani masih saja cemas
''Kamu tenang saja, aku yakin Hanin baik-baik saja. Nanti aku akan telphon lagi'' ucap Ardie dan segera memutuskan sambungan telphonnya
***
"Apa Gavin seorang dokter?" tanya Hanin bingung
"Udah nanti aku jelaskan, sekarang bawa dulu aku kerumah sakit" ucap Gavin Darren langsung meminta Agra membawa Gavin
''Mas bagaimana kau tau aku disini?'' tanya Hanin yang berada di gendongan Darren
Flashback On
''Tuan, aku menemukan keberadaan nona muda dan Gavin'' ucap Rainer
''Dimana?'' tanya Darren
''Di gudang tidak jauh dari rumah sakit, aku akan mengirimkan alamatnya'' ucap Rainer
''Cepatlah'' ucap Darren
Tak sampai lima menit, pesan yang dikirim Rainer sudah masuk
''Evan, aku akan pergi dulu'' ucap Darren
''Hei kau mau kemana?'' tanya Evan namun tak di hiraukan oleh Darren
Flashback Off
''Darren'' panggil Evan berlari mengajar Darren
''Evan kenapa kau kemari?'' tanya Darren
''Sialan kau, Om Ardie terus mencarimu dan tante Rani sangat khawatir dan bu Ima terus saja menangis'' ucap Evan
''Mas, sebaiknya kita cepat pulang'' ucap Hanin
''Tidak apa-apa, mereka pasti akan langsung kerumah sakit, aku juga sudah meminta Rainer memgatakan pada papa'' ucap Darren yang langsung masuk ke mobilnya
''Hanin bagaimana bisa saat terjadi ledakan kau tak dirumah sakit?'' tanya Evan
''Aku juga gak tau kak, tiba-tiba saja ada beberapa orang yang masuk lewat jendela kamarku, dan aku tidak tau apa-apa lagi'' ucap Hanin
''Ini ulah Dini, salah satu karyawan terbaik di perusahaanku'' ucap Darren
Setelah sampai di rumah sakit, Hanin segera dapat perawatan pada pipinya dan Gavin berada di ruang operasi
''Darren'' tiba-tiba seorang wanita masuk dan memeluk Darren dengan erat
''Mama, Darren baik-baik saja'' ucap Darren
''Mama sangat khawatir dengan keadaan kalian'' ucap Rani memeluk Hanin dan tak kuasa menahan air matanya melihat anak dan menantunya baik-baik saja
''Sudah sekarang kau sudah tenang kan'' ucap Ardie menggelengkan kepalanya
''Hanin, apa kau baik-baik saja nak?'' tanya bu Ima memeluk Hanin
''Hanin baik-baik saja bu'' ucap Hanin
''Terimakasih, kalian sudah baik-baik saja'' ucap bu Ima menciumi Hanin
''Darren bisa ikut papa keluar?'' tanya Ardie yang dapat anggukan dari Darren
''Apa yang terjadi sebenarnya?'' tanya Ardie
''Kita menunggu penjelasan Gavin pa'' ucap Darren
''Apa kau berhasil menangkap pelakunya?'' tanya Ardie
''Ya, dia salah satu karyawan Darren'' ucap Darren dan membuat Ardie terkejut
''Darren lebih baik kau lakukan pemeriksaan lagi pada perusahaanmu, papa takut ada pengkhianat di sana'' ucap Ardie
''Iya pa, setelah ini aku akan memeriksa lagi semua karyawanku'' ucap Darren
''Tuan muda, tuan Gavin sudah di pindahkan di ruang rawat'' ucap Rainer
"Hemmh, Bagaimana dengan Dini?" tanya Darren
"Dia sudah berada di kantor polisi, tapi Arya masih tetap tinggal" ucap Rainer
"Kenapa dia dikantor polisi?" tanya Darren
"Arya menemukan chip di cincin Dini, Arya yakin orang itu pasti akan mengunjungi Dini" ucap Rainer, Darren menganggukkan kepalanya
''Rainer tetap disini'' ucap Darren
''Baik tuan muda'' ucap Rainer
Darren dan Ardie pun segera menuju ruangan Gavin
''Bagaimana keadaanmu Gavin?'' tanya Darren
yang sudah berada di kamar rawat Gavin
''Ya seperti yang kau lihat'' ucap Gavin
"Om Ardie" sapa Gavin
"Tidurlah tidak perlu bangun" ucap Ardie
''Gavin bagaimana bisa kau berada disana saat ledakan itu terjadi?'' tanya Evan
Flashback On
Hanin yang dintemani bu Ima, tiba-tiba perawat memanggil bu Ima untuk meminta untuk keruangan dokter
Tak lama setelah itu, Gavin datang kekamar rawat Hanin
''Gavin, makasih ya kamu sudah bawa aku kerumah sakit'' ucap Hanin
''Sama-sama. Lagian bukan cuma aku aja, ketiga sahabat kamu juga ikut kesini dengan paniknya'' ucap Gavin
''Kamu sendirian?'' tanya Gavin lagi
''Enggak ada bu Ima, tapi barusan dia di panggil keruangan dokter'' ucap Hanin
''Ruang dokter?'' tanya Gavin mengerutkan keningnya
''Aku yang merawat Hanin, seharusnya aku yang tau tentang kondisi Hanin'' ucap Gavin dalam hati
Namun saat Gavin masih memikirkan siapa dokter yang memanggil bu Ima, tiba terdengar seseorang masuk lewat jendela kamar rawat Hanin
Hanin yang melihat beberapa pria itu terkejut, Gavin mencoba melindungi Hanin. Namun tanpa disangka pria itu menyemprotkan sesuatu yang membuat Hanin dan Gavin tak sadar
Flashback Off
''Tapi aku merasa dia hanya di jadikan tameng olehnya" ucap Evan
''Tapi dia menyukai Darren, dan dia ingin Hanin mati'' ucap Gavin
''Maksudmu dia mencelakai Hanin karna Darren?'' tanya Ardie
''Iya om'' jawab Gavin
''Gavin kau seorang dokter, kenapa kau masih saja bodoh'' ucap Darren kesal
''Kalau menang dia menginginkan Hanin mati, seharusnya dia membiarkan Hanin mati dalam ledakkan itu'' ucap Darren
''Benar, berarti disini ada yang mendambakan Hanin'' ucap Evan tersenyum miring
''Tapi siapa yang berani mengincar istriku'' ucap Darren terlihat marah dan mengepalkan tangannya
''Kalau memang ada yang mendambakan istrimu, itu berarti kamu masih belum cukup baik untuk menjadi suami Hanin'' ucap Ardie menepuk bahu Darren dan langsung pergi
''Aku setuju dengan kata om Ardie'' ucap Evan dan Gavin menahan tawanya
''Diamlah'' ucap Darren kesal
***
Sedangkan di tempat lain...
"Dasar bodoh, aku sudah membantunya menculik Hanin, tapi dia tidak bisa mengelabui Darren" ucap wanita itu
"Kau terlalu meremahkan Dareen Sandra" ucap pria itu
"Bukankah aku sudah bilang kau harus lebih berhati-hati dengan Darren'' ucap pria itu lagi
''Ini juga salahmu, seharusnya kau membiarkan aku membunuh Hanin dalam ledakan itu'' ucap Sandra
''Jika kau berani menyakiti Hanin, aku sendiri yang akan membuatmu hancur'' ucap pria itu mencengkram kedua pipi Sandra dan beranjak dari tempat itu
''Cih, apa bagusnya sih wanita ja***g" ucap Sandra geram
"Sudah saatnya aku bertindak sendiri" batin Sandra tersenyum licik
**
Malam harinya..
Ketiga sahabat Hanin yang mendapat kabar tersebut langsung saja menuju rumah sakit tempat Hanin dan Gavin di rawat
"Selamat malam tante Om" ucap Jesi sopan
"Malam" jawab Ardie dan Rani
"Kalian datang, masuk saja" ucap Rani membukakan pintu kamar rawat Hanin
"Terimakasih tante" ucap Nisa dan langsung masuk
"Aaakh menjauhlah"