Suamiku Dosen Galak

Suamiku Dosen Galak
Eps 2


Waktu malam pun tiba, Hanin dan Rani sudah berada di meja makan


"Tidak perlu menunggu Darren cepat makan" ucap Ardie


"Mas, kasian kalau Darren harus makan malam sendirian" ucap Rani


"Dia bukan anak kecil, tidak perlu mencemaskan dia" ucap Ardie


Setelah selesai makan, Hanin membersihkan meja makan di bantu Rani. Tiba-tiba saja pintu terbuka dengan kasar membuat Hanin dan Rani terkejut begitupun dengan Ardie


"Astaga Darren, kenapa kamu begini nak" ucap Rani membantu Darren yang sempoyongan


"Lepaskan aku, jangan sentuh aku dengan tanganmu yang menjijikkan itu" ucap Darren berteriak


"Kamu sedang mabuk nak" ucap Rani


"Lepaskan aku bilang" teriak Derren dengan mendorong kasar Rani


"Ibu" teriak Hanin saat melihat Rani terjatuh


"Plak... Dasar anak kurang ajar" ucap Ardie menampar Darren


"Mas jangan mas" ucap Rani segera berdiri


"Bi bawa tuan muda ke kamarnya" ucap Ardie sambil mengatur nafasnya yang sudah emosi


"Baik tuan besar" jawab bibi dan memapah Daren ke kamarnya


"Ibu tidak apa-apa?" tanya Hanin


"Tidak apa-apa sayang" ucap Rani


"Hanin pergilah ke kamarmu dan segera istirahat, mama biar papa yang urus" ucap Ardie


"Baik pak" jawab Hanin menganggukkan kepalanya


**


Keesokan paginya, saat Darren terbangun dia melihat papanya sudah berada di sofa kamarnya


"Papa, sedang apa papa di kamarku?" tanya Darren yang belum sepenuhnya tersadar


"Papa ingin bicara denganmu, segera mandi dan temui papa di ruang kerja papa" jawab Ardie langsung keluar dari kamar putranya itu


Sedangkan di dapur, Hanin sudah mulai memasak bersama bibi dan Rani


"Hanin, apa makanan favorit kamu sayang?" tanya Rani


"Apa pun bu, eh ma asal bikin perut Hanin kenyang" jawab Hanin yang sedikit kaku dengan panggilan mama


"Memang gadis yang sederhana" batin Rani tersenyum lembut pada Hanin


Darren yang baru saja selesai mandi langsung menuju ruang kerja papanya. Tanpa mengetuk pintu Darren langsung saja masuk


"Dimana sopan santunmu Darren?" tanya Ardie menatap Darren


"langsung saja katakan" ucap Darren yang langsung duduk di hadapan Ardie


"Sampai kapan kau akan seperti ini?" tanya Ardie menahan emosinya


"Bukan urusan papa" uaap Darren datar


"Darren cobalah untuk menerima mama Rani" pinta Ardie


"Tidak akan pernah" ucap Darren cepat


"Darren usia papa sudah tidak muda lagi. Papa harap kamu bisa menikah dengan Hanin dan berdamai dengan mama Rani" ucap Ardie


"Apa hanya ini yang mau papa katakan?" tanya Darren


"Darren papa punya batas kesabaran, dua bulan lagi kau akan menikah dengan Hanin. Papa mau kau segera akhiri hubunganmu dengan Sandra" ucap Ardie


"Maaf mengganggu, ini cemilan untuk kalian" tiba-tiba ucap Rani tersenyum dan langsung keluar


"Terimakasih Rani" jawab Ardie sedangkan Rani hanya tersenyum


Setelah pembicaraan dia dengan papanya, Darren segera bersiap ke kantor tanpa sarapan lebih dulu


Tanpa waktu yang lama Darren sampai di kantor


''Selamat pagi tuan" sapa beberapa Karyawannya


Darren memang terkenal dingin di kantornya, walaupun karyawannya memberikan hormat padanya dia tidak akan merespon


"Wah ada apa dengan wajah tuan mudaku ini?" tanya asisten sekigus sahabatnya itu


"Jika kau tak ingin kehilangan gaji dan bonusmu bulan ini maka diamlah" ucap Darren dingin


"Apa saja agendaku hari ini?" tanya Darren mulai serius


"Tidak ada, untuk hati ini anda hanya akan rapat di perusahaan" jawab Rainer yang juga sudah dalam mode serius


***


Disisi lain


Hanin yang baru pulang dari kampus langsung menuju rumah panti. Saat ini hanya bu Ima yang bisa membuat hati Hanin tenang saat dia dalam kebingungan seperti ini


"Hanin, jika pernikahan ini menjadi beban untukmu kamu katakan saja langsung nak" ucap bu Ima


"Bu Hanin sudah berjanji akan menikah dengan Putra pak Ardie. Tidak baik jika Hanin mengingkarinya bu" ucap Hanin mencoba tetap tegar


"Hanin, apa kata hatimu?" tanya bu Ima


"Entahlah bu, Hanin juga tidak tau" ucap Hanin


"Hanin lihat ibu, pikirkanlah baik-baik, dan ikuti kata hatimu. Jika hatimu berkata iya maka lakukanlah nak" ucap bu Ima memeluk Hanin


''Maafkan ibu Hanin, tidak seharusnya kau menderita nak'' batin bu Ima menahan air matanya


****


Hari berikutnya, Hanin terlambat ke kampusnya karna angkot yang di tumpang Hanin mengalami masalah


Dengan terpaksa Hanin berlari ke kampusnya, karna memang jaraknya sudah tidak terlalu jauh


Saat sampai di kampusnya Hanin mengatur nafasnya dan segera memasuki kelasnya dengan mengendap-endap saat dosen sedang lengah


"Berhenti disana" ucap sang Dosen seketika Hanin menghentikan langkahnya?


"Saya paling tidak suka saat jam mata kuliah saya ada yang terlambat" ucapnya


"Tapi pak sa.... " ucapan Hanin terhenti


"Dengan alasan apapun saya tidak suka, keluar dan kamu akan menyusul mata kuliah saya sendirian " ucapnya tegas


''Sial banget sih, kenapa sih harus berhadapan dengan dosen galak itu'' Kesal Hanin dalam hati tentunya


Dengan terpaksa akhirnya Hanin pun keluar dan menunggu sampai mata kuliah dosen Darren


Setelah mata kuliah Darren selesai, Darren meminta Hanin masuk ke kelasnya


"Hanin kamu gak papa kan?" tanya Danisa berbisik


"Tenang aja" jawab Hanin dwnaan bahasa isyarat


"Yang tidak ada kepentingan segera keluar" ucap Darren dingin membuat Nisa ketakutan


"Kau terkenal dengan mahasiswi yang berprestasi, aku ingin lihat jika kau mengerjakannya sendiri" ucap Darren


"Saya akan segera mengerjakannya" ucap Hanin cepat


Sedangkan di luar kelas


"Nisa, mana Hanin?" tanya Carisa yang juga sahabat Hanin namun beda kelas


"Tuh dia kena hukum, padahal dia cuma telat beberapa menit" ucap Nisa


"Dimana Jesi?" tanya Nisa


"Dia masih nyangkut noh di toilet" ucap Risa


Kembali ke Hanin


Setelah 30menit, Hanin sudah menyelesaikan tugasnya


"Pak saya sudah selesai" ucap Hanin membuat Darren tak percaya


"Apa kau ajakin jawabanmu ini benar?" tanya Darren meremehkan


"Anda akan tau jawaban saya benar atau tidaknya jika anda sudah melihatnya bukan" ucap Hanin berani


Hanin memang terkenal berani melawan jika dia tidak salah, walaupun kepada senior atau dosennya sekalipun


''Ternyata dia memang cerdas'' batin Darren menatap Hanin


''Apa saya sudah bisa keluar?'' tanya Hanin


''Hemmh, jika kau telat lagi kau akan keliling lapangan 100x'' ucap Dareen


''Sudah mengerti pak'' jawab Hanin cuek