
Satu minggu kemudian, Rainer dan Evan pergi ke cafe xx untuk menemui seseorang
''Awal sekali anda datang tuan'' ucap Evan basa basi
''Kalian yang terlambat'' ucapnya ketus
''Cepat katakan, kenapa kau menyelidiki keluarga Allaric?'' tanya Angga, ya pria itu adalah Angga
''Karna ini'' ucap Evan mengeluarkan kalung giok merah
''Kenapa kau memilikinya?'' tanya Angga terkejut
''Kenapa kau begitu terkejut. Hanya kalung lama'' ucap Evan enteng
''Giok merah ini, hanya keturunan keluarga Allaric yang memilikinya'' ucap Angga menggenggam erat kalungnya
''Benarkah?'' tanya Evan bingung
''Lalu kenapa kau juga memilikinya?'' tanya Rainer penuh selidik
Angga melihat sekelilingnya, karna di takut ada orang yang sedang mengawasinya
''Kau tenang saja, disini aman'' ucap Evan
''Karna aku adalah putra kedua Allaric'' ucap Angga
''Apa?'' pekik Rainer dan Evan
''Hei lihatlah semua orang menatap kita'' ucap Angga yang dapat tatapan dari pengunjung cafe
''Sekarang katakan, kenapa kau menyelidiki keluarga Allaric'' tanya Angga datar
''Kami membantu teman kami. Menurut petunjuk dia adalah keluarga Allaric'' ucap Rainer
''Apa jangan-jangan dia adikku?'' batin Angga yang memgingat berkas yang di berikan Juan saat itu
''Benarkah, bisa aku bertemu dengannya?'' tanya Angga
''Kami akan membawamu ke tempat pemilik kalung ini, tunggu kabar dari kami'' ucap Rainer sambil memakan cemilan di depannya
''Lalu siapa orang yang ingin kau cari disini?'' tanya Evan
''Ada seorang wanita, minggu lalu aku bertemu dengannya di rumah sakit'' ucap Angga dengan tersenyum membayangkan wajah gadis itu
*
''Angga'' tiba-tiba seorang memanggil Angga
''Juan, kau sudah datang?'' tanya Angga
''Juan, perkenalkan mereka Evan dan Rainer'' ucap Angga
''Salam kenal saya Juan'' ucap Juan sopan
''Jangan terlalu formal pada kami'' ucap Evan santai
''Baiklah'' ucap Juan
.
Sedangkan di tempat lain...
Hanin dan Darren pergi kerumah sakit untuk memeriksa kandungan Hanin
''Mas, setelah dari rumah sakit kita pergi ke cafe itu ya'' ucap Hanin menunjuk cafe di depannya
''Baiklah'' ucap Darren menggenggam tangan Hanin
Tak butuh waktu lama untuk sampai di rumah sakit, kini Hanin sudah berada di ruang obgyn
''Bagaimana dok?'' tanya Hanin
''Kandungan nona baik dan sehat. Tapi nona harus tetap berhati-hati, jangan sampai anda lelah atau bekerja berat'' ucap Dr Nita
''Baiklah terima kasih dok'' ucap Hanin tak lupa dengan senyumnya
''Ingat kau tidak boleh terlalu lelah'' ucap Darren, Hanin hanya mengangguk
Setelah dari rumah sakit, Mereka langsung menuju cafe yang ingin Hanin kunjungi
''Sayang, sebelum perut kamu membesar, bagaimana kalau kita adakan resepsi pernikahan?'' tanya Darren
''Itu terserah kamu, aku hanya mengikuti apa kata kamu'' ucap Hanin tersenyum
''Oh iya sayang, nanti malam Rainer dan Evan akan makan malam di rumah'' ucap Darren
''Tumben?'' tanya Hanin mengernyitkan keningnya, sedangkan Darren hanya mengangkat bahunya
''Kalau gitu, kita mampir di supermarket. Bahan dirumah udah pada habis'' ucap Hanin
''Apa kau mau memasak?'' tanya Darren
''Iya, kenapa?'' tanya Hanin balik
''Sayang, apa kau lupa kata dokter, kau tidak boleh terlalu lelah'' ucap Darren
''Mas, hanya masak tidak akan membuatku lelah'' ucap Hanin
''Dasar keras kepala'' umpat Darren sambil melahap makanannya
Setelah makan, mereka langsung menuju supermarket yang tak jauh dari cafe itu
Saat Hanin tengah memilih bahan untuk makan malam nanti, tanpa sengaja dia bertemu dengan seseorang yang tak asing baginya
''Hanin'' sapa pria itu
''Kak Bryan, kak Kevin, kenapa kalian ada disini?'' tanya Hanin terkejut
''Iya, aku memang sengaja jalan-jalan kesini bersama Kevin'' ucap Bryan
''Cie kak Kevin yang bertemu dengan sahabat lama'' ucap Hanin tertawa kecil
''Benar Hanin, makanya sekarang aku tidak akan kesepian lagi'' ucap Kevin memeluk Bryan
''Hentikan Kevin, aku masih pria normal'' ucap Bryan kesal dan mendorong Kevin
''Kak Bryan bagaimana kabar nenekmu?'' tanya Hanin
''Dia sudah pergi'' ucap Bryan memaksakan tersenyum
''Sudahlah, biarkan nenekmu tenang disana. Hanin aku ada kabar baik'' ucap Kevin
''Apa kak?'' tanya Hanin
''Bryan akan kembali keperusahaan lagi'' ucap Kevin
.
''Sayang, apa kau sudah selesai?'' tanya Darren
Bryan terkejut saat Darren memanggil Hanin dengan mesra
''Oh sudah mas, hanya tinggal ambil daging dan tomat'' ucap Hanin
''Selamat siang tuan'' ucap Kevin dan Bryan
''Hemmh'' Darren hanya mengangguk
''Kak kami duluan ya'' ucap Hanin melambaikan tangannya
''Kevin, sejak kapan tuan muda dan Hanin menjalin hubungan?'' tanya Bryan
''Aku tidak tau sejak kapan, aku juga baru mengetahuinya beberapa minggu yang lalu'' ucap Kevin
''Hanin apakah aku harus menyerah? Tidak aku tidak boleh menyerah. Hanin aku akan merebut kamu dari pria itu'' batinnya yang menatap kepergian Hanin
Setelah membayar, Mereka langsung pergi dari supermarket itu
''Sayang, di samping Kevin itu siapa?'' tanya Darren
''Dia kak Bryan, satu devisi dengan kak Kevin'' ucap Hanin
''Tapi aku tidak pernah melihatnya'' ucap Darren
''Iya dia pernah risent karna neneknya sakit'' ucap Hanin
''Tapi katanya dia akan kembali ke perusahaan'' ucap Hanin lagi, Darren hanya manggut-manggut
.
.
Di tempat lain...
''Nisa'' panggil seorang pria
''Eh tuan Evan, ada apa?'' tanya Nisa
''Em apa bisa kita bicara?'' tanya Evan
''Bicara? Apa ada masalah dengan proyek kerja sama kita?'' tanya Nisa terkejut, karna tiba-tiba Evan mengajaknya bicara
''Kita ngobrol disana'' ucap Evan sambil menunjuk cafe, Nisa hanya mengangguk dan mengikuti Evan
''Nisa kamu mau pesan apa?'' tanya Evan saat sudah berada di cafe
''Jus jeruk saja tuan'' ucap Nisa
''Mas, jus jeruk satu sama kopi hitam satu'' ucap Evan
''Baik mohon menunggu tuan'' ucapnya sopan
''Tuan apa yang ingin anda katakan?'' tanya Nisa
''Ehh jangan panggil aku tuan, panggil aja Evan'' ucap Evan
''Emmh boleh jika panggil kakak?'' tanya Nisa
''Boleh, asal jangan tuan'' ucap Evan
''Nisa, aku ingin bertanya, apa kamu memiliki kakak atau adik perempuan?'' tanya Evan sedikit ragu
''Tidak, saya hanya memiliki kakak cowok'' ucap Nisa
''Nara juga memiliki adik perempuan, apa Dani salah cari informasi?'' tanya Evan dalam hati
''Memang ada apa kak?'' tanya Nisa
''A...eng...enggak, enggak papa, hanya ingin tau saja'' ucap Evan
Setelah cukup lama mengobrol, Evan langsung kembali kerumahnya, karna Nisa membawa mobil sendiri
''Nara, dimana kamu?'' ucap Evan sambil memandang foto yang mirip dengan Nisa
''Nara, sudah tiga tahun kamu tidak ada kabar'' ucapnya lagi memeluk foto itu
.
.
Malam harinya, Selesai memasak Hanin langsung kembali ke kamarnya, karna merasa sedikit lelah
''Apa kau lelah?'' tanya Darren
''Tidak, hanya aku ingin membaringkan tubuhku'' ucap Hanin
''Itu sama saja kau lelah'' ucap Darren mencolek hidung Hanin
Tak berapa lama bik Ning mengetuk pintu kamar Darren
''Ada apa bik?'' tanya Darren
''Maaf tuan, ada tuan Rainer dan tuan Evan'' ucap bik Ning
''Baiklah, kami akan segera turun'' ucap Darren
.
Saat Darren turun dari kamarnya dia melihat seorang pria asing disana
''Rainer, Evan, siapa dia?'' tanya Darren mengernyitkan keningnya
''Dia putra kedua keluarga Allaric'' ucap Rainer
''Bukannya kau bilang, kau masih belum menemukan posisinya?'' tanya Dareen
''Iya ini suatu kebetulan'' ucap Rainer
Selang berapa lama, Hanin turun dari kamarnya dan jelas saja membuat Angga terkejut
''Hanin?'' ucap Angga langsung berdiri
''Kalian saling kenal?'' tanya Rainer
''Sebenarnya dia wanita yang aku cari'' ucap Angga membuat wajah Darren merah padam
''Beraninya kau''