
''Kak Hanin, apa dia sudah melindungi kak Hanin dengan baik, apa dia sudah bisa menyayangi kak Hanin'' tanya Raka
Hanin diam tak menjawab dan menatap Darren, begitupun dengan Darren
''Iya, suami kak Hanin selalu melindungi kak Hanin'' jawab Hanin mencoba tersenyum bersama dengan meneteskan air matanya
''Kak Hanin, jangan menangis, Raka tidak akan berbicara lagi'' ucap Raka menghapus air mata Hanin
''Apa kau benar akan selalu menjaga kak Hanin?'' tanya Raka pada Darren
''Iya, aku akan selalu menjaganya'' ucap Darren tersenyum lembut pada Raka
''Baiklah aku akan menyerahkan kak Hanin padamu, tapi jika kau tidak bisa menjaga kak Hanin aku akan merebutnya nanti jika aku dewasa'' ucap Raka lagi membuat Hanin memeluk dan mencium bocah itu
Sekitar jam 10 malam, Hanin dan Darren segera kembali ke rumah mereka
''Hanin, kenapa kau berbohong pada Raka?'' tanya Darren
''Aku tidak berbohong pada Raka'' jawab Hanin
''Aku memperlakukanmu dengan buruk sebelumnya, bahkan sampai sekarang'' ucap Darren
''Ya walau kau tidak menyayangiku, setidaknya kau masih melindungiku'' ucap Hanin
''Hanin bisa kau berikan aku kesempatan?'' tanya Darren
''Kesempatan apa?'' tanya Hanin polos
''Berikan aku kesempatan untuk melindungimu lebih baik dan menyayangimu'' ucap Darren, Hanin hanya memgangguk sambil tersenyum
''Sudah sekarang kamu kemasi barangmu dan setelah itu langsung tidur'' ucap Hanin
''Baiklah, pergilah ke kamarmu'' ucap Darren, Hanin pun menurut
***
Keesokan harinya...
Ardie dan Rani sudah berada di depan rumah Darren, begitupun dengan Evan dan Rainer
"Kenapa kalian juga ikut?" tanya Darren
"Papa yang mengajak mereka biar rame" ucap Ardie
"Ya sudah ayo kita berangkat" ucap Ardie
"Siap om" ucap Evan
Sedangkan di balik pohon, seseorang sedang mengawasi mereka
"Hahaha tertawalah kalian, sebentar lagi kalian tidak akan bisa tertawa" batinnya
Sedangkan di negara lain, seorang pria muda terus memandang foto di hadapannya
''Bagaimana?'' tanyanya datar
''Kami masih belum mendapatkan informasi tuan muda'' jawab bawahannya itu
''Dasar bodoh, door'' ucap pria itu dan langsung menembaknya
''Sampai kapan kau akan melakukan hal ini?'' tanya seorang pria paruh baya
''Diam kau, kalau bukan karna dirimu bagaiamana aku bisa kehilangan semua keluargaku'' ucapnya
''Kenapa kau tidak percaya padaku, aku melakukan itu sebenarnya untuk melindungi kalian'' ucapnya
''Melindungiku, kau membuat mama dan kakakku mati'' ucapnya
''Itu bukan rencanaku, aku hanya ingin melindungi kalian'' ucapnya
''Kau hanya menginginkan kedudukan yang papaku miliki'' ucapnya dengan lantang
''Bukan seperti itu maksudku'' ucapnya mencoba menjelaskan
''Pergi dari sini, atau kau akan aku buat hanya tinggal nama'' ucapnya sambil menodongkan pistol pada pria itu
Pria itu langsung ketakuatan dan segera pergi dari ruangan itu
***
Sekitar dua jam perjalanan, akhirnya mereka sampai di tempat tujuan
"Darren Hanin, ini kunci kamar kalian" ucap Ardie
"Aku satu kamar sama Hanin?" tanya Darren
"Kenapa jika kalian satu kamar, kalian ini pasangan suami istri" ucap Ardie
"Ya sudah jika kau mwnolak, biar aku saja yabg satu kamar dengan Hanin" ucap Evan, seketika Darren menatap tajam Evan membuat Evan ngeri
"Ini kunci kamar kalian" ucap Ardie pada Rainer dan Evan
"Terimakasih om" ucap Rainer
Semua pun berpisah dan masuk ke kamar mereka masing-masing
***
Setelah makan malam, Darren dan kedua sahabatnya masih mengobrol di taman resort itu
''Darren apa kau sudah ada perasaan pada Hanin?'' tanya Rainer
''Entah sejak kapan rasa ini muncul, semakin hari aku semakin ingin terus berada di sampingnya'' ucap Darren
Sedangkan Hanin berada di kamar Rani dan Ardie
''Hanin, bagaimana hubunganmu dan Darren?'' tanya Ardie
''Lalu apa kau sudah mencintai Darren?'' tanya Ardie
Sejenak Hanin diam tak menjawab
''Hanin tidak tau pa, Hanin bingung ma pa'' jawab Hanin
''Kenapa kamu harus bingung Hanin?'' tanya Ardie sedikit tegas
''Mas, sudahlah jangan kamu paksa mereka'' ucap Rani memberi pengertian pada Ardie
''Maafkan papa, kembalilah ke kamar dan istirahat lebih awal'' ucap Ardie
''Istirahatlah sayang, selamat malam'' ucap Rani
''Malam ma, selamat tidur'' ucap Hanin dan Hanin segera kembali kekamarnya
Saat Hanin baru saja kembali ke kamarnya, tiba-tiba Darren masuk kamar dengan keadaan baju yang sedikit basah karna keringatnya
''Mas kamu kenapa?'' tanya Hanin menghampiri Darren yang seperti orang kebingungan
''Jangan sentuh aku'' ucap Dareen menghempaskan tangan Hanin dan Darren segera masuk ke kamar mandi
Melihat keadaan Darren yang aneh, Hanin pun keluar untuk bertanya pada Evan dan Rainer
''Bagaimana hal itu bisa terjadi?'' tanya Ardie dengan nada sedikit tinggi
''Kami juga tidak tau om'' jawab Evan
''Apa sudah kamu selidiki masalah ini Rainer?'' tanya Rani
''Sudah tante'' jawab Rainer
''Pa Ma ada apa?'' tanya Hanin
''Hanin, ada seseorang yang memberikan obat di minuman Darren'' ucap Ardie
''Apa, kenapa tidak segera bawa mas Darren kerumah sakit?'' ucap Hanin
''Tidak akan bisa, yang bisa menyelamatkan Darren hanya kamu Hanin'' ucap Evan
''Apa yang bisa aku lakukan?'' tanya Hanin
''Kemarilah nak'' ucap Rani menarik tangan Hanin kekamarnya
''Ma apa yang bisa Hanin lakukan?'' tanya Hanin
''Lakukan hubungan suami istri'' ucap Rani pelan, Hanin langsung membelalakkan matanya
''Iya hanya itu satu-satunya cara untuk menyelamatkan Darren'' ucap Ardie yang tiba-tiba masuk
''Hanin kembali ke kamar dulu'' ucap Hanin segera keluar dari kamar Ardie dan Rani
Saat Hanin sampai di depan pintu kamarnya, Hanin menarik nafasnya dan mencoba menghilangkan rasa gugupnya
Saat Hanin masuk ke kamar mandi, dia melihat Darren masih berendam di air dingin
''Mas, keluarlah lebih dulu'' ucap Hanin
''Pergilah, aku tidak ingin menyakitimu'' ucap Darren menahan nafasnya
''Aku akan membantumu, aku siap memberikannya asal kau bisa sembuh'' ucap Hanin
''Apa benar yang kau katakan?'' tanya Darren, Hanin menganggukkan kepalanya
''Darren langsung keluar dari bath up
''Aku harap kau tidak akan menyesal'' ucap Darren yang langsung me****t bibir Hanin
Darren langsung membawa Hanin di ranjangnya, emtah sejak kapan Darren sudah melepaskan pakaian basah kuyupnya itu
Perlahan ciuman Darren turun ke leher jenjang Hanin. Darren yang mendengar ******* Hanin semakin tidak bisa menahan nafsunya
Hingga terjadilah pergulatan panas suami istri itu
****
Sinar mentari menembus jendela kaca milik pasangan yang baru saja melepas masa lajangnya
Hanin yang baru membuka matanya merasakan sakit di sekujur tubuhnya. Ya karna pengaruh obat Darren bermain cukup ganas membuat Hanin kesakitan
"Jangan bangun jika masih sakit" ucap Darren masih memeluk tubuh polos Hanin
"Tapi mas, ini sudah siang" ucap Hanin
"Tidak apa-apa" ucap Darren yang masih enggan melepaskan tubuh Hanin
"Mas, gak enak sama mama dan papa, mereka pasti menunggu kita untuk sarapan" ucap Hanin
"Ya baiklah kau pergi mandi dulu" ucap Darren
Hanin turun dari ranjang dengan perlahan dan begitupun dengan berjalan
Sekitar 20 menit, Hanin pun keluar dengan handuk kimono yang sudah di sediakan
"Mas kamu mandi saja dulu, biar aku yang beresin bajunya" ucap Hanin
"Baiklah, aku mandi dulu" ucap Darren
Hanin langsung menata baju miliknya dan milik Darren di almari yang sudah disiapkan
Namun saat Hanin menata baju Darren dia melihat foto sandra di tumpukan bajunya. Entah mengapa melihat foto itu, Hanin merasakan perih di hatinya
''Apa mas Darren akan selalu membawa foto Sandra?''