
Saat jam makan siang, Hanin makan siang di kantin bersama Melly, Kevin, dan Bryan
''Kak Bryan kenapa akhir-akhir ini sering menyendiri?'' tanya Hanin, Bryan menarik nafasnya dalam
''Gak papa, aku memang pingin sendiri dan juga aku kangen sama kampung halaman'' ucap Bryan
''Aku dengar kau akan resign?'' tanya Melly, Bryan mengangguk pelan
''Kenapa kak?'' tanya Hanin
''Nenek memintaku untuk pulang, dia ingin menghabiskan masa tuanya denganku'' ucap Bryan
''Semoga saja nenek kamu selalu sehat'' ucap Kevin
''Tanks'' ucap Bryan tersenyum paksa
Sementara itu, Darren yang sengaja makan di ruangannya karna banyak pekerjaan, tiba-tiba Rainer masuk keruangan presdir
''Maaf mengganggu tuan muda'' ucap Rainer
''Ada apa?'' tanya Darren
''Tuan Evan ingin anda datang keperusahaan tuan Evan sore ini'' ucap Rainer
''Hemh'' hanya deheman yang keluar dari mulut Darren
''Bagaimana penyelidikanmu masalah paket itu?'' tanya Darren
''Tuan muda Evan sudah menemukan orangnya'' ucap Rainer
''Baik, nanti minta Hanin untuk pulang lebih awal dan suruh Dion bersiap'' ucap Darren
''Baik tuan muda'' ucap Rainer sedikit membungkukan badannya
**
Di tempat lain, Ardie juga sedang mencari informasi siapa yang memberikan teror pada menantunya itu
"Kenapa sulit sekali mencari tau siapa orang yang meneror Hanin" ucap Ardie
"Mas coba tanyakan pada Darren, siapa tau fia sudah menemukan pelakunya" ucap Rani
"Bagaiaman kalau Darren juga belum menemukan orangnya" ucap Ardie
"Apa kau meragukan putraku?" tanya Rani kesal
"Ya baiklah, putramu memang hebat" ucap Ardie mengalah pada Rani
"Rani apa kau tak berniat memberikan aku seorang anak?" tanya Ardie
"Mas, sudah cukup Darren saja" ucap Rani
"Tapi dia bukan anak kandungmu" ucap Ardie
"Tapi dalam darahnya masih mengalir darahku mas" ucap Rani tersenyum
"Terimakasih kau sudah menganggap Darren seperti anakmu sendiri" ucap Ardie memeluk istrinya itu
"Sama-sama mas" ucap Rani membalas pelukan Ardie
Sore harinya....
Sesuai perintah Darren, Rainer meminta Dion untuk segera menjemput Hanin di depan perusahaan
"Paman, apa bisa kita pulang kerumah utama?" tanya Hanin
"Tapi tuan muda meminta saya untuk mengantar anda di rumah pribadi nona" ucap Dion
"Aku takut dirumah sendirian paman, bik Ning sekarang ijin pulang lebih awal karna ada acara keluarga" ucap Hanin
"Baiklah, saya akan melapor dulu pada tuan muda" ucap Dion, Hanin mengangguk
"Bagaimana?" tanya Hanin saat Dion selesai menghubungi Darren
"Boleh nona" ucap Dion
"Terimakasih paman" ucap Hanin tersenyum manis pada Dion, sedangkan Dion hanya menggelengkan kepalanya
Sekitar 35 menit, Haninpun sampai di rumah utama
"Mama papa" ucap Hanin dan berlari kearah mertuanya itu
"Hanin, kenapa kau berlari seperti bocah berusia 5 tahun" ucap Ardie
"Maaf pa, Hanin kangen sama mama" ucap Hanin
"Bohong" ucap Rani mencolek hidung Hanin, Hanin hanya tertawa kecil
"Ketahuan ta na, Hanin takut dirumah sendirian" ucap Hanin
"Darren kemana?" tanya Ardie
"Katanya lembur Pa" ucap Hanin
"Ya sudah sana cepet mandi, mama sydah siapin baju buat kamu di kamar Darren" ucap Rani
"Iya ma" ucap Hanin segera menuju kamarnya
**
Di tempat lain...
Darren yang sudah berada di depan perusahaan Evan segera menuju ruangan Evan
"Selamat datang tuan muda Darren asisiten Rainer, silahkan tuan muda sudah menunggu" ucap Dani asisten Evan
"Hemh" ucap Darren datar
"Rai, kenapa sekarang wajah tuan muda Darren terlihat semakin menakutkan" bisik Dani
"Sudah dari dulu" ucap Rainer
"Kenapa kau tak bertanya pada tuanmu?" tanya Rainer
"Apa kau mau aku jadi santapan ikan hiu?" tanya Dani
"Begitupun dengan aku, jika aku mengatakannya mungkin aku yang akan jadi hidangan penutup ikan hiu" ucap Rainer pada Dani
"Ada apa kau memintaku kemari?" tanya Darren dingin
"Aku sudah menemukan siapa pengirim paket itu" ucap Evan
"Siapa?" tanya Darren
"Dia masih enggan untuk buka mulut" ucap Evan
"Sial, berani sekali mereka bermain denganku" ucap Darren
"Tuan muda, apa tidak sebaiknya kita minta mereka untuk pulang" ucap Rainer yang dapat anggukan dari Dani
"Aku rasa jangan dulu, aku akan meminta Arya untuk mencari tau dulu" ucap Evan
"Arya?" tanya Darren
"Ya anak buahku yang ada di kota B, dia salah satu anak buah terbaikku" ucap Evan
"Kalau begitu panggil dia untuk segera kemari" ucap Darren
"Baiklah, aku akan memintanya dia datang malam ini" ucap Evan
"Hemh bagus, sekarang pertemukan aku dengan orang itu'' ucap Darren
Setelah dari kantor, Evan, Darren, Rainer dan Dani segera menuju tempat rahasia milik Evan
Tak butuh waktu lama untuk sampai dibtempat rahasia Evan
''Bos'' ucap anak buah Evan yang berjaga disana
''Apa dia sudah mengaku?'' tanya Evan
''Belum bos, dia masih tetap tutup mulut'' ucapnya
''Apa kalian dapat informasi tentang kehidupannya?'' tanya Darren
''Sudah tuan'' ucap Agra, Darren langsung mengambil berkas itu lalu Darren tersenyum
Namun senyuman itu membuat orang dibsekitarnya merasa tidak nyaman
''Tunjukkan jalannya'' ucap Darren
''Agra tunjukan, aku mau minum'' ucao Evan
''Rainer temani aku minum'' ucap Evam lagi
''Maaf tuan muda, saya membawa mobil jadi tidak bisa minum'' ucap Rainer
''Saya masih harus mengantar tuan muda, jadi saya juga tidak bisa minun'' ucap Dani
''Hah baiklah, suruh Darren untuk menemaniku minum'' ucap Evan
''Baik tuan muda'' ucap Rainer
**
Disisi lain, Darren yang sudah berada di ruangan gelap terlihat seorang pria yabg terikat di kursi
''Ternyata dia orang yang berani mengirimkan boneka di rumahku'' ucap Darren menatap tajam pria itu
''Lepaskan aku, sampai kapanpun aku tidak akan mengatakan siapa tuanku'' ucapnya
''Ya baiklah aku tidak akan memaksamu, tapi aku ingin bertanya satu hal, apa kau mengenal dia?'' tanya Darren sambil memberikan foto
''Apa yang akan kalian lakukan pada kedua adikku?'' tanyanya sambil berontak
''Tidak ada, salah satu bar milikku kekurangan pelayan, apakah menurutmu mereka oantas menjadi pelayan?'' tanya Darren tersenyum licik
''Coba saja jika kau berani'' ucap pria itu menantang
''Lihatlah video ini, mungkin adikmu sedang berada di tengah-tengah pria hidung belang ini'' ucap Darren yang menunjukkan video yang berada di bar
''Aku akan mengatakannya, tapi lepaskan adikku'' ucap pria itu
''Katakan dulu siapa yang menyuruhmu?'' ucap Darren
''Mona, Mona yang menyuruhku'' ucap pria iru
''Sekarang lepaskan adikku'' ucap pria itu
''Agra bawa dia ke pihak yang berwajib, katakan perbuatannya pada polisi'' ucap Darren
''Baik tuan muda'' ucap Agra membawa pria itu dengan beberapa rekannya
***
Disisi lain....
"Hanin kamu kenapa sayang?" tanya Rani
"Hanin bingung kenapa mas Darren belum juga pulang" ucap Hanin khawatir
"Tenang saja, dia pasti baik-baik saja" ucap Rani menenangkan menantunya itu
Sekitar pukul 12 malam, tiba-tiba pintu kamar Hanin terbuka
Hanin yang masih terjaga mendengar suara langkah kaki yang sangat pelan
"Mati kau, sekarang saatnya kau menyusul ibu dan kakakmu"
**Terimakasih atas komen dan likenya kak**