
Di kediaman Mona....
''Apa kau tidak bisa sedikit saja memberi rasa hormat padaku'' ucap Adit
''Kenapa papa memarahiku?'' tanya Mona kesal
''Apa kau tau, karna ulahmu yang tak bisa menghargai orang lain, kau membuat keluarga kita malu'' ucap Adit
''Pa ini juga bukan sepenuhnya salah Mona'' ucap Rika
''Ini juga karna dirimu yang selalu memanjakan putrimu'' ucap Adit
''Tapi dia juga putrimu'' ucap Rita
''Dia bukan putriku, aku hanya membantumu membesarkan putrimu dari pria lain'' ucap Adit semakin emosi
''Apa, jadi Mona bukan anak papa?'' tanya Mona, Adit tak menjawab pertanyaan Mona dan segera pergibke kamarnya
''Ma, apa benar yang di katakan papa, aku bukan anak papa?'' tanya Mona
''Diamlah, pergi ke kamarmu'' ucap Rita geram pada suaminya itu
Setelah itu, Rita menyusul suaminya ke kamarnya
''Pa, apa maksud kamu bicara seperti itu di depan Mona'' ucap Rita marah
''Kenapa, bukannya dia harus tau siap dia sebenarnya'' ucap Adit
''Kamu harus ingat pa, kalau tidak ada aku kamu tidak akan memiliki seorang anak'' ucap Rita, Adit manatap tajam Rita
''Selama kita menikah, aku masih belum juga hamil'' ucap Rita
''Apa kau pikir aku bodoh, selama ini kau selalu meminum pil agar kau tak bisa hamil'' ucap Adit mencengkram pipi Rita
''Kau ingin semua hartaku jatuh pada putri harammu itu'' ucap Adit lagi, membuat Rita terkejut
''Bu...bukan seperti itu'' ucap Rita panik
''Dan kau yang harus tau diri, jika aku tidak menikahimu kau dan putrimu pasti akan jadi gelandangan'' bentak Adit membuat Rita semakin geram
**
Di tempat lain, Rani yang mendapat kabar bahwa Hanin berada di rumah sakit segera berangkat kerumah sakit
Tak butuh waktu lama, akhirnya mereka sampai di rumah sakit dan segera mencari ruangan Hanin
"Darren bagaimana keadaan Hanin?" tanya Rani yang melihat Darren duduk di luar kamar rawat Hanin
"Kenapa kamu diluar?" tanya Ardie
"Gavin masih memeriksa ulang Hanin" jawab Darren
"Pa, apa sebaiknya Darren menyelidiki tentang masa lalu Hanin?" tanya Darren
"Kenapa?" tanya Ardie
"Aku hanya ingin tau, apa yang pernah Hanin lalui di masa lalu, hingga dia mengalami masa lalu yang menyakitkan'' ucap Darren
''Jika memang itu yang terbaik tidak masalah'' ucap Ardie
''Tapi setelah 15 tahun lalu, papa tidak pernah mendengar nama keluarga Allaric lagi'' ucap Ardie
''Itu bukan masalah pa, aku akan meminta Evan mencari tau'' ucap Darren
''Baiklah, jika itu memang keputusanmu'' ucap Ardie menepuk bahu Darren
Tak berapa lama, Gavin keluar bersama perawat
''Bagaimana?'' tanya Darren
''Aku rasa dia sudah merasa aman, tapi untuk sementara jangan mengungkit tentang hal yang baru saja terjadi, atau kejadian beberapa hari belakangan ini'' ucap Gavin
''Baiklah terimakasih'' ucap Darren
''Darren, apa kau masih Darren?'' tanya Gavin sambil memutari tubuh Darren
''Apa maksudmu?'' tanya Darren menatap tajam Gavin
''Darren yang aku kenal selama ini tidak pernah mengucapkan terimaksih pada ku'' ucap Gavin panjang lebar
''Pergilah, aku muak melihatmu mengoceh tak jelas'' ucap Darren yang membuat Gavin kesal
''Cih, apa kau sudah tak membutuhkanku lagi?'' tanya Gavin
''Tidak untuk saat ini'' ucap Darren yang langsung meninggalkan Gavin dan masuk kekamar rawat Hanin
Sedangkan Ardie dan Rani hanya menahan tawanya melihat kekesalan Gavin
''Om tante, apa lucu ya melihat Gavin seperti ini?'' tanya Gavin dengan wajah memelasnya
''Sudahlah, lebih baik kau istirahat dulu'' ucap Ardie sambil menggelengkan kepalanya
***
Di tempat Evan...
Saat Evan sedang menemani Arya, tiba-tiba saja ponselnya berdering
''Halo, ada apa?'' tanya Evan
''Bantu aku cari tau tentang keluarga Allaric'' ucap Darren
''Allaric, keluarga Hanin? Kenapa tiba-tiba?'' tanya Evan
Darren langsung menceritakan semua yang di katakan Gavin pada Evan
''Serahkan saja pada Arya dan Dion'' ucap Darren
''Baiklah, aku akan segera menyelidikinya'' ucap Evan
''Rainer akan membantumu'' ucap Darren dan langsung mematikan ponselnya
''Apa-apaan dia ini, setelah selesai yang dia butuhkan dia langsung mematikan ponselnya begitu saja, dasar'' umpat Evan kesal
"Bos, sepertinya wanita yang mengaku Mona itu bukan Mona" ucap Arya
''Lalu siapa dia?'' tanya Evan
''Aku menemukan rekaman saat pria itu bertemu dengan seorang wanita. Lihatlah wanita ini bos'' ucap Arya menunjukkan video itu pada Evan
''Sialan, berani sekali dia bermain dengan Darren'' ucap Evan geram saat melihat video itu
''Kirimkan pada Darren menggunakan emailku'' ucap Evan
''Baik bos'' ucap Arya dan segera melakukan perintah Evan
****
Keesokan harinya...
Saat Hanin membuka matanya, dia melihat sekelilingnya serba putih
"Aku dimana?" tanua Hanin pelan
"Hanin, kamu sudah bangun sayang" ucap Darren yang baru keluar dari kamar mandi
"Mas, kenapa aku ada di sini?" tanya Hanin yang menyadari bahwa dirinya dirumah sakit
"Iya semalam kamu demam" ucap Darren menghampiri istrinya itu
"Hanin kamu makan dulu ya, biar kamu cepat pulih" ucap Darren, Hanin menganggukkan kepalanya
Tak berapa lama, ponsel Darren berdering menandakan pesan
"Benar seperti dugaan Evan" ucap Darren dalam hati
"Mas, ada apa?" tanya Hanin
"Tidak... Tidak ada apa-apa, ayo makan lagi" ucap Darren sambil terus menyuapkan buburnya
"Hanin, sebentar lagi bu Ima yang akan menemani kamu" ucap Darren
"Iya mas" ucap Hanin tersenyum
"Permisi selamat pagi tuan" ucap seorang perawat
"Ya" jawab Darren datar
"Pagi" ucap Hanin sopan
"Maaf ini obat untuk nona" ucapnya
"Terimakasih" ucap Hanin tersenyum manis
Setelah bu Ima datang, Darren segera pergi menemui Evan. Darren menyadari ada yang mengikuti dirinya, Darren pun semakin melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi
"Sial siapa mereka?" tanya Darren sambil melirik kaca spionnya
Dengan keahlian Darren yang mengendarai mobil dengan kecepatan penuh, akhirnya mobil yang memgikutinya tadi kehilangan jejak
"Darren kenapa kau terlambat" ucap Evan
"Dani tolong kau selidiki siapa yang mengikutiku melalui cctv di mobilku" ucap Darren
"Siap tuan" ucap Dani
''Arya perkenalkan dia Darren'' ucap Evan
''Salam kenal tuan muda Darren'' ucap Arya membungkukkan badannya
''Hemmh''
"Rainer, kau pergi dengan Evan mencari tau tentang keluarga Allaric" ucap Darren
"Lalu bagaimana dengan anda tuan?" tanya Rainer
"Tenang saja, aku sudah meminta Agra untuk menjadi asistenku selama kau pergi" ucap Darren
"Baiklah tuan" ucap Rainer
''Tuan ada ledakan di rumah sakit tingkat I '' ucap Dani terburu-buru
''Apa?'' ucap Darren terkejut
''Hanin'' ucap Darren segera pergi menuju kerumah sakit
''Hanin'' ucap Evan dan Rainer saling pandang, seperkian detik mereka menyadari, Hanin di rawat di sana
''Dani bawa mobilnya, Arya ikut aku'' ucap Evan
''Baik tuan'' ucap Dani dan Arya
Dani segera berlari menuju mobilnya dan Arya langsung menyambar laptop kesayangannya itu
Saat sampai di rumah sakit, sudah banyak relawan yang membawa jenazah ataupun yang terluka
''Haniin''