
Ardie dan Rani kembali lebih dulu karna Ardie masih ada urusan. Sedangkan Darren, Evan dan Rainer masih mengobrol disana
''Darren menurutku Hanin lebih baik dari Sandra'' ucap Rainer
''Tidak akan ada yang bisa menggantikan Sandra dihatiku'' ucap Darren
''Apa kau serius?'' tanya Evan
''Darren Sandra bukanlah wanita baik'' ucap Rainer
''Kalian tidak perlu ikut campur dengan urusan pribadiku'' ucap Darren datar
Setelah puas mengobrol, Darren dan kedua sahabatnya segera pergi dan tanpa sengaja mereka melihat Hanin dan ketiga sahabatnya
''Sungguh gadis yang baik'' puji Evan tanpa sadar
''Van kau memuji siapa?'' tanya Rainer
''Siapa lagi kalau bukan gadis yang aku tabrak tadi'' ucap Evan
''Van ingat dia calon istri sahabatmu'' ucap Rainer memgingatkan
''Lalu kenapa, bukannya dia tidak mau?'' ucap Evan melirik Darren
''Jika kau mau kau saja yang menikah dengannya'' ucap Darren
''Benarkah, ingat jangan sampai kau menyesal'' ucap Evan tersenyum licik
Ssdang Rainer hanya menggelengkan kepalanya
ΩΩΩΩΩ
Waktu begitu cepat berlalu,
Dua bulan kemudian, Hanin dan Darren resmi menikah dan hanya di hadiri keluarga inti, kedua sahabat Darren dan juga bu Ima
Setelah pernikahan itu, Darren dan Hanin akhirnya keluar dari rumah utama dan pindah kerumah milik Darren sendiri
Di dalam mobil Hanin dan Darren hanya diam tak ada yang bicara
"Aku tau kau menikah denganku karna kau ingin hidup mewah bukan?" ucap Darren lagi
"Apa begini cara bicara tuan muda Darren yang di segani di kampus?" ucap Hanin geram
"Asal anda tau, saya menyetujui pernikahan ini, karna saya ingin membalas kebaikan papa anda pada saya dan ibu panti" ucap Hanin tegas
"Dalam waktu dua tahun kita akan bercerai" ucap Darren
"Kenapa harus dua tahun? Kenapa tidak satu tahun atau enam bulan lebih cepat lebih baik bukan?" tawar Hanin
"Tanda tangan ini, kita sepakat bahwa dalam waktu satu tahun kita cerai" ucap Darren. Tanpa menunggu lama Hanin segera menanda tangani surat perjanjian itu
"Tapi dalam waktu satu tahun kau tidak boleh menyentuhku'' ucap Hanin
''Kau berpikir terlalu tinggi, aku juga tidak akan sudi menyentuhmu'' ucap Darren
Satu jam perjalanan akhirnya mereka sampai di rumah milik Darren
''Kenapa rumahnya besar sekali, bukannya kita hanya tinggal berdua?'' tanya Hanin
''Karna rumah ini permintaan Sandra'' ucap Darren
''Oh iya disini tidak ada pembantu jadi kau yang harus membersihkan rumah ini dan juga masak sendiri'' ucap Darren membuat Hanin menatap Darren sinis
''Dimana kamarku?'' tanya Hanin
''Lantai dua sebelah kiri'' ucap Darren
Hanin pun langsung menuju kamarnya dan mulai menata baju di almari yang sudah di siapkan
''Dasar gundukan salju, untung saja ini hanya pernikahan kontrak, bagaimana kalau ini pernikahan nyata bisa gila aku'' ucap Hanin ngedumel sendirian
Setelah menata bajunya, Hanin merasa cacing dalam perutnya sudah mulai berdemo. Saat Hanin membuka kulkas, tidak ada satu makanan atau bahan yang bisa di masak
Hanin segera menuju kamar Dareen
''tok...tok..tok''
''Ada apa?'' tanya Darren membuka pintu kamarnya
''Aku lapar'' ucap Hanin
''Lalu? apa kau memintaku membuatkanmu makanan?'' tanya Darren
''Jika ada bahan yang bisa di masak aku tidak akan meminta padamu'' ucap Hanin
''Cepat pergi belanja sana'' ucap Daren memnerikan beberapa lembat uang berwarna merah
''Aku tidak tau dimana pasarnya'' ucap Hanin
''Di depan sini kan ada supermarket, pergi sana di supermarket'' ucap Darren
Hanin pun akhirnya pergi, tapi tidak kesupermarket, dia memesan taxi online untuk belanja ke pasar
Saat Hanin sudah berada di pasar, Hanin tidak sengaja bertemu dengan Evan
"Eh kak Evan, sedang apa disini?" tanya Hanin
"Aku mau beli ikan" ucap Evan
"Kamu? Trus mana Darren?" tanya Evan
"Mas Darren lagi istirahat, jadi aku kepasar sendirian kak" ucap Hanin berbohong
"Biar aku temani kamu gimana, sekalian aku juga mau beli ikan" ucap Evan, Hanin pun menganggukkan kepalanya
Sekitar satu jam, Hanin selesai belanja dan Hanin pulang diantar oleh Evan
"Terimakasih kak sudah nemenin aku belanja dan nganter aku pulang" ucap Hanin
"Sama-sama, lain kali kalau ke pasar kamu hubungi aku aja, aku akan nemenin kamu" ucap Evan
Tanpa mereka sadari seorang pria mengawasi kedekatan Evan dan Hanin dari jendela kamarnya
"Dasar lelet, kenapa kau belanja lama banget?" bentak Darren membuat Hanin terkejut
"Maaf, aku belanja di pasar" ucap Hanin
"Belanja di pasar atau kamu jalan sama Evan?" tanya Darren
"Emmh dua duanya" jawab Hanin sambil menata belanjaannya
"Aku makan diluar, kekasihku sudah menunggu" ucap Darren
"Pergilah" ucap Hanin
"Satu lagi, Sandra nanti akan menginap disini" ucap Darren
"Terserah, asalkan kalian tidak mengganggu waktu belajarku saja" ucap Hanin tak perduli
"Sok rajin" umpat Darren yang tak di hiraukan oleh Hanin
***
Malam harinya, Hanin sudah berada di ruang tamu untuk mengerjakan tugasnya yang sudah memumpuk
"Hah kenapa rasanya tugasku semakin banyak" ucap Hanin sambil mengacak rambutnya
Tak berapa lama pintu utama terbuka, terlihat Darren bersama wanita dengan pakaian yang ****
"Sayang, apa dia istrimu?" tanya Sandra ya dia adalah Sandra
"Dia bukan istriku, lebih tepatnya pelayanku" ucap Darren
Namun Hanin tidak memghiraukannya, Hanin hanya fokus pada tugas di hadapannya itu
"Sudahlah sayang, kita kekamar saja" ucap Darren
"Bye pelayan baru" ucap Sandra tertawa puas
Namun tanpa Darren sadari, ada seseorang yang sedang mengawasi rumahnya
***
Disisi lain, seorang pria bertubuh kekar sedang melaporkan informasi yang di dapatnya
"Apa kau bilang, mereka berdua lagi?" tanya pria paruh baya itu
"Benar tuan, bahkan mereka masuk ke kamarnya" ucapnya
"Berani sekali dia membawa wanita itu masuk, disaat dia baru menikah" ucap Ardie, ya dia adalah Ardie
"Mas, tenang mas. Lebih baik kita kesana sekarang kasian Hanin mas" ucap Rani
"Dion siapkan mobilnya, kita berangkat kerumah Darren sekarang" ucap Ardie
"Baik tuan " ucap Dion
Kembali pada Hanin
"Dasar, belum menikah sudah sering masuk kamar" umpat Hanin dan langsung kembali mengerjakan tugasnya
Sekitar satu jam lebih, akhirnya Ardie, Rani dan Dion sudahh sampai di rumah Darren.
Terlihat disana semua lampu masih menyala, dan pintu pun tidak di kunci. Saat Ardie membuka pintunya, terlihat Hanin tertidur sambil bersandar di meja dengan laptop yang masih menyala
"Astaga Hanin, kenapa kamu tidur disini nak" ucap Rani pelan sambil menggosok rambut panjang Hanin
"Dion tolong pindahkan Hanin di kamar tamu dulu" ucap Ardie
"Baik tuan" jawab Dion
"Rani tolong bantu aku membereskan buku Hanin" ucap Ardie
"Iya mas" jawab Rani
Ardie langsung bergegas ke kamar utama. Jelas saja, saat Ardie membuka pintu kamar utama terlihat Ardie membelakkan matanya melihat kelakuan putranya itu
"Darren"