
''Kau?'' ucap Hanin segera berdiri
''Gavin, kau tidak mati?'' tanya Hanin langsung memeluk Gavin
''Aku baik-baik saja'' jawab Gavin membalas pelukan Hanin, membuat sang raja iblis mengeluarkan tanduknya dan siap untuk menghancurkan pria yang sudah berani menyentuh wanita miliknya
Semua merasakan hawa dingin di sekitar sana, bahkan Gavin pun sulit untuk menelan salivanya ketika melihat sang raja iblis siap menghancurkan dirinya
''Eh, Hanin sepertinya jika kau memelukku lebih lama aku takut aku akan mati saat ini juga'' ucap Gavin sedikit ngeri dan mendorong pelan Hanin
Sedangkan yang lain hanya bisa ngeri melihat wajah Darren yang sudah merah padam
''Darren, biarkan Hanin mengucapkan rasa terima kasih pada penolongnya'' ucap Rani menepuk bahu Darren, seketika Hanin menatap Darren
''Hah, ternyata dia yang marah'' ucap Hanin pekan lalu memeluk suaminya itu
Seketika wajah yang tadi merah padam, perlahan mulai mereda dan terlihat normal kembali
''Sayang kenapa kamu keluar?'' tanya Darren lembut
''Aku hanya ingin melihat keadaan Gavin'' jawab Hanin
''Hanin apa kau khawatir padaku?'' tanya Gavin tersenyum sambil memainkan alisnya
''Tentu saja tidak. Aku hanya takut jika kau mati nanti siapa yang akan menggantikanmu menjadi dokter pribadi keluarga Pramana '' ucap Hanin ketus membuat semua terkejut
''Darren apa dia masih Hanin?'' tanya Rainer pelan
''Tentu saja, kalau bukan istriku siapa lagi. Tapi memang semenjak kandungan Hanin masuk minggu ke tujuh dia sedikit lebih ketus'' ucap Darren berbisik
''Aku tidak tuli, aku bisa mendengar apa yang kau katakan'' ucap Hanin sinis membuat Darren ngeri dengan tatapan istrinya itu
''Mana ada yang berani membicarakan kamu sayang'' ucap Darren memeluk Hanin
''Cih, Tadi sudah seperti singa kelaparan yang siap mencabik mangsanya, sekarang berubah menjadi kucing rumahan yang manja'' ledek Evan yang melihat Darren tiba-tiba manja pada Hanin
''Kau katakan lagi, aku akan membuatmu merasakan bagaimana amukan singa yang kelaparan'' ancam Darren sambil menatap tajam Evan
Bersahabat dari masih bocah membuat Evan sudah terbiasa dengan tatapan tajam dan juga ancaman Darren. Semua sahabat Darren tau, Darren tidak akan pernah main-main dengan ancamannya. Tapi jika kepada orang yang dia sayangi itu hanyalah gertakan saja
''Tunggu, tadi kata bu Ima Gavin kritis?'' tanya Hanin
''Ya, tapi bukan dia. Ada pasien yang bernama Gavin juga dan tepat di sebelah ruangan Gavin'' ucap Rainer
''Gavin sudah sadar beberapa menit sebelum kalian datang kerumah sakit'' ucap Evan
''Lalu tadi kenapa kalian menunduk?'' tanya Hanin
''Kami hanya merasa lelah dan juga menetralkan detak jantung kami karna terkejut'' ucap Jesi
''Kami sempat terkejut saat Dani mengatakan Gavin kritis'' ucap Risa
''Maafkan saya, saya kira dokter Gavin'' ucap Dani
''Sudah lah. Yang penting sekarang Gavin sudah baik-baik saja'' ucap Ardie
''Sudah, Gavin kau kembali ke kamarmu istirahatlah lebih banyak'' ucap Darren
''Apa bisa aku satu ruangan dengan Hanin'' ucap Gavin sengaja
''Bisa, satu malam saja. Esoknya kau akan berada di kamar mayat selamanya bagimana?'' tanya Darren tersenyum namun senyuman itu terlihat menakutkan
''Rainer bantu aku ke kamar'' ucap Gavin segera
''Tidak jadi satu ruangan dengan Hanin?'' tanya Rainer menahan tawa
''Apa kau ingin aku mati sekarang'' ucap Gavin, rencana ingin membuat Darren kembali kesal malah dirinya yang di buat kesal dengan ancaman Darren
''Sayang aku akan membawa kamu ke kamar'' ucap Darren sambil mengangkat tubuh mungil Hanin
''Bu Ima, bisa kita bicara di kamar Hanin, ada yang ingin bertemu dengan ibu'' ucap Darren sopan
''Baiklah nak'' ucap bu Ima
''Terus kita gimana?'' tanya Evan merangkul Nisa
''Aku mau pulang'' ucap Nisa melepaskan rangkulan Evan
''Dasar brengsek'' umpat Evan kesal
.
Setelah sampai di kamar Hanin, semua pun memulai pembicaraan itu. Dimana di sana Angga lah orang yang ingin bertemu dengan bu Ima
''Ibu, sebelumnya perkenalkan nama saya Angga, saya kakak kandung Hanin dan dia Juan sahabat saya'' ucap Angga
Bu Ima terkejut saat mendengar penuturan pria yang bernama Angga itu
''Be...benarkah kau adalah kakak Hanin?'' tanya Bu Ima memastikan
''Lihatlah ini bu'' ucap Angga menunjukkan kalung giok merah yang pernah bu Ima simpan
''Ini sama dengan milik Hanin'' ucap bu Ima tak kuasa menahan air matanya
''Sungguh sebuah keajaiban, Hanin bisa menemukan keluarganya lagi'' ucap bu Ima
''Bu, keluarga Hanin hanya tinggal kakak saja. Yang lain telah pergi lebih dulu'' ucap Hanin ikut meneteskan air matanya
.''Bu bolehkah saya bertanya?'' tanya Juan
''Silahkan nak'' jawab bu Ima
''Setelah bu Ima menemukan Hanin, apa ada orang yang mencari Hanin?'' tanya Juan
''Saya tidak tau, dia mencari Hanin atau bukan. Tapi saat itu...
Flashback On
Setelah mendengar perintah dari pengasuh Hanin untuk membawa Hanin pergi, bu Ima langsung membawa Hanin kerumah sakit
Tapi saat dia berada di lobi, bu Ima mendengar seorang pria menanyakan tentang anak usia lima tahun dan pengasuhmya yang mengalami kecelakaan
Mendengar itu bu Ima segera pergi dan membawa Hanin kerumah sakit lain. Bu Ima membawa Hanin di rumah sakit yang terpencil, supaya tidak ada yang bisa menemukan identitas Hanin
Flashback Off
''Apa salah satu orang ini yang ibu lihat dulu?'' tanya Juan
''Yang ini, dan ini'' ucap bu Ima menunjuk Antoni dan Charles
''Benar bukan dugaanku, Charles tau keberadaan adikmu'' ucap Juan
Setelah berbincang cukup lama, akhirnya Dion mengantar bu Ima kembali ke panti asuhan. Sedang Angga dan Juan kembali ke apartemen menggunakan mobil Darren
Di rumah sakit Rani dan Darren yang menjaga Hanin, Ardie juga berada di sana untuk melihat keadaan dan juga menjaga Gavin
.
Keesokan harinya saat Hanin sedang sendiri di kamarnya tiba-tiba seseorang masuk tanpa permisi
''Hai Hanin lama kita tidak bertemu'' ucap wanita itu
''Karin, kenapa kau kemari?'' tanya Hanin terkejut
''Apa aku salah bila ingin melihat teman lamaku?'' tanya Karin
''Siapa temanmu, aku bukan temanmu'' ucap Hanin sinis
''Cih kau masih saja sombong Hanin. Seandainya saja Mona ada di sini, aku yakin dia akan semakin membemcimu'' ucap Karin sinis
''Heh kenapa kau tak ikut saja bersama Mona sahabatmu itu'' ucap Hanin datar
''Kurang ajar, aku akan membunuhmu'' ucap Karin ingin mencekik Hanin, namun terhenti karna ada suara langkah kaki yang mendekat
''Kali ini kau beruntung Hanin'' ucap Karin pergi dari kamar Hanin dengan kesalnya, namun juga terlihat Karin tersenyum licik
Selang berapa lama kepergian Karin, tiba-tiba seorang perawat laki-laki masuk dan mengunci kamar rawat Hanin
Hanin, yang takut langsung menekan tombol untuk meminta bantuan, namun pria itu segera menahan tangan Hanin
''Katakan Hanin apa kau bersedia bersamaku?'' tanya pria itu dan melepas penyamarannya
''Kau''....