
''A...ak...aku...'' ucapan Darren terpotong oleh Hanin
''Kau sendiri pun bingung kan?'' tanya Hanin tersenyum getir
''Aku akan pergi, kau bisa memikirkannya lagi, apakah di hatimu masih ada Sandra atau sudah ada aku'' ucap Hanin menarik kopernya
''Hanin aku tidak bisa jauh darimu'' ucap Darren memeluk Hanin
''Lepaskan aku mas, dan fasilitas yang kau berikan padaku aku kembalikan'' ucap Hanin meletakkan kartu balck card yang di berikan Darren
''Sampai kapan kau akan pergi?'' tanya Darren
''Aku tidak tau. Kau bisa menghubungiku lagi saat kau sudah merasakan aku di hatimu, atau kau bisa menghubungiku untuk menandatangani surat cerai'' ucap Hanin kembali melangkahkan kakinya
Darren hanya duduk lemas melihat kepergian Hanin
Darren pun keluar dari kamarnya dan melajukan mobilnya dengan kencang
.
.
**
Sementara itu, Hanin yang sudah berada di kediaman Risa, sudah di sambut oleh ketiga sahabatnya itu
''Hanin, sampai kapan kau akan memperlakukan Darren seperti ini?'' tanya Jesi yang juga menginap di rumah Risa bersama Nisa
''Aku tidak tau, aku hanya memberinya waktu satu minggu'' ucap Hanin
''Hanin apa kau tega melakukan ini?'' tanya Nisa
''Tega atau tidak, aku harus melakukannya'' ucap Hanin mengatur nafasnya
''Hah baiklah terserah padamu saja'' ucap Nisa sambil memegang pundak Hanin
.
Sedangkan disisi Darren...
Sandra yang melihat Darren frustasi tak menyia-nyiakan kesempatan untuk kembali pada Darren
''Darren maafkan aku, karna aku kau bertengkar dengan istrimu'' ucap Sandra mengelus paha Darren
''Enyahlah dari hadapanku'' ucap Darren
''Darren, aku tau kau marah padaku, aku akan melakukan apapun asalkan kau mau memaafkanku'' ucap Sandra memelas
''Menjauh dariku, dan jangan ganggu aku dan Hanin'' ucap Darren menatap tajam Sandra
Namun saat Sandra memberikan minuman pada Darren, tiba-tiba saja seorang pria menyenggol Sandra hingga gelas itu terjatuh
''Ups Sorry, sengaja'' ucap pria itu sinis
''Kau, kenapa kalain selalu saja mengganggu rencanaku'' ucap Sandra
''Karna kami tidak akan membiarkan sahabat kami terjebak dengan siluman ular sepertimu'' ucap Evan
Ya pria itu adalah Evan dan Rainer
''Pergilah dari sini, atau aku akan buat kau terakhir kali melihat dunia ini'' ancam Rianer, yang membuat Sandra meninggalkan tempat itu
''Awas saja, aku tidak akan meyerah'' ucap Sandra
.
''Darren hentikan'' ucap Evan merampas gelas milik Darren
''Menjauhlah dariku'' ucap Darren
''Sampai kapan kau akan seperti ini?'' tanya Rainer
''Katakan padaku, apa aku sudah melupakan Sandra dan menyimpan Hanin dalam hatiku. ?'' tanya Darren setengah mabuk
''Dasar bodoh'' umpat Rainer
''Sekarang aku tanya, saat Hanin pergi apa kau merasa kehilangan?'' tanya Evan, Darren memgangguk
''Apa kau cemburu saat melihat dia bersama pria lain?'' tanya Evan
''Tentu saja'' ucap Darren
''Itu saja menunjukkan kau sudah menyimpan Hanin di dalam hatimu'' ucap Evan
''Benarkah?'' tanya Darren
''Aku akan menghubungi Hanin'' ucap Darren
''Tidak jangan sekarang. Biarkan Hanin menenangkan dirinya dulu beberapa hari'' ucap Evan
''Baiklah'' ucap Darren yang tiba-tiba tertidur di meja itu
''Hah, bawa dia pulang'' ucap Evan
''Aku lagi?'' tanya Rainer
''Kau kan asistennya'' ucap Evan
''Dasar brengsek'' ucap Rainer kesal
.
.
Keesokan harinya, Hanin dan ketiga sahabatnya terkejut saat mendengar kematian Mona
''Serius Mona mati?'' tanya Jesi
''Bisa mati juga tuh orang'' ucap Nisa
''Hust, gak boleh gitu'' ucap Hanin
''Apa kita juga harus datang?'' tanya Nisa
''Bagaiamana pun, dia tetaplah teman kita. Jadi kita juga harus menghadiri pemakaman Mona'' ucap Hanin
''Baiklah'' ucap Nisa, dan mereka pun segera bersiap-siap
Sekitar satu jam akhirnya mereka sudah siap, dan Gavin juga sudah menunggu mereka di bawah
''Hanin, kamu udah gak papa?'' tanya Gavin
''Gak papa, emang aku kenapa?'' tanya Hanin
''Yaudah , kita berangkat sekarang'' ucap Gavin
Saat sampai dipemakaman, Hanin juga melihat Darren disana
''Hanin lihatlah wajah suamimu'' ucap Gavin
''Biarkanlah'' ucap Hanin
.
Saat pemakaman baru selesai, tiba-tiba seorang wanita membuat keributan dan menjadi tontonan para pelayat
''Plaaak'' tiba-tiba seorang wanita paruh baya menampar Hanin
''Kenapa tiba-tiba anda menamparnya?'' tanya Jesi tak terima
''Diam kamu. Karna dia Mona meninggal'' ucapnya mendorong Jesi hingga terjatuh
''Jesi, kamu gak papa?'' tanya Hanin membantu Jesi, Jesi memgangguk
''Karna saya?, apa yang sudah saya lakukan pada Mona?'' tanya Hanin tegas
''Kalau bukan karna kau, Mona tidak akan seperti ini'' ucapnya menangis
''Apa anda punya bukti?'' tanya Gavin
''Aku tidak perlu bukti. Buktinya sudah jelas, karna dia Mona menjadi cacat'' ucap Rita
''Nyonya, seharusnya anda bertanya pada pada Mona sebelum dia mati'' ucap Nisa
''Mona adalah gadis baik'' ucap Rita tanpa sadar semua memperhatikan Rita dan Hanin
''Heh gadis baik'' ucap Darren tiba-tiba
''Baik saya akan jelaskan pada anda perbuatan Mona. Pertama dia pernah mengunci Hanin di gudang perusahaan tempat mereka magang... '' Darren menceritakan semua perbuatan Mona pada Rita
''Apa ini masih anda sebut gadis baik?'' tanya Darren
''Tidak mungkin'' ucap Rita tak percaya
''Tante, jangan melawan lagi, Hanin memiliki hubungan dengan pak Dosen'' ucap Karin pelan
''Benarkah? Itu sebabnya anda sangat membela wanita ja***g ini, apa anda sudah tidur dengannya'' ucap Rita membuat semua tak percaya dengan perkataan Rita
''Dasar bodoh apa yang kau katakan?'' tanya Adit menampar Rita
''Tuan muda maafkan dia, dia sudah membuat anda tidak nyaman'' ucap Adit sedikit membungkukkan badannya
''Tidak apa, lagipun nyonya Rita tidak salah bicara'' ucap Darren dan membuat semua kembali terkejut
''Benarkan apa yang aku katakan, Hanin ini adalah wanita murahan, pria mana lagi yang kau rayu?'' tanya Rita menjambak rambut Hanin
''Lepaskan dasar wanita gila'' ucap Risa membantu Hanin
Sedangkan Darren langsung saja mencekik Leher Rita himgga Rita kesulitan bernafas
''Jika kau berani menyakiti istriku, aku akan membuatmu menyusul putri sialan mu itu'' ucap Darren dengan tatapan membunuh
''Darren hentikan, kau bisa membunuhnya'' ucap Gavin, seakan tuli Darren tak menghiraukan ucapan Gavin dan terus mencekik leher Rita semakin kuat
''Tuan saya mohon lepaskan istri saya'' ucap Adit memohon
'' Mas lepaskan'' ucap Hanin memeluk Darren, Darren langsung melepaskan cengramannya dari leher Rita dan memeluk Hanin
''Uhuk...uhuk... A...apa istri?'' ucap Rita sambil memegangi lehernya
''Tuan Adit jika saya melihat istri anda menyakiti wanitaku, aku tidak keberatan membuat dua lubang liang lahat untuk kalian'' ancam Darren
''Ma...maafkan saya tuan'' ucap Adit
Darren langsung mwmbawa Hanin ke mobilnya
''Terimaksih'' ucap Hanin dan segera pergi
''Hanin tunggu'' ucap Darren menahan tangan Hanin
''Ada apa mas?'' tanya Hanin melepaskan tangan Darren
''Bisa kita bicara sebentar?'' tanya Darren
''Katakan saja sekarang'' ucap Hanin
''Kita cari tempat lain'' ucap Darren menarik tangan Hanin
''Tunggu, kau mau bawa aku kemana?'' tanya Hanin, tanpa menjawab Darren terus saja menarik tangan Hanin
''Tunggu tuan, anda mau bawa Hanin kemana?'' tanya Risa
''Tenang saja, aku tidak akan membuat sahabatmu terluka'' ucap Darren
''Biarlah mereka menyelesaikan masalah mereka sendiri'' ucap Gavin dan melajukan mobilnya
Tanpa mereka sadari seseorang mengawasi kedekatan Hanin dan Darren
''Sialan, kenapa mereka masih bersama?''