Suamiku Dosen Galak

Suamiku Dosen Galak
Eps 32


Darren membawa Hanin ketaman yang tidak terlalu jauh dari kediaman Risa


''Kenapa kau membawaku kemari?'' tanya Hanin


'' Sayang, aku ingin minta maaf. Aku baru menyadari, kau sudah ada didalam hatiku'' ucap Darren menggenggam tangan Hanin


''Benarkah, kenapa kau cepat sekali menyadarinya?'' tanya Hanin tak percaya


''Hanin, aku mohon kembalilah padaku'' ucap Darren terlihat sangat frustasi,Hanin diam tak menjawab


''Sekarang katakan padaku, Apa kau kemarin sengaja bertemu dengan Sandra?'' tanya Hanin


''Dia yang datang ke kantor dan dia hanya ingin merayakan ulang tahunku'' ucap Darren jujur


''Apa kau tau, aku sudah menyiapkan makan malam untuk merayakan ulang tahunmu, bahkan aku juga belajar membuat kue ulang tahun untukmu'' ucap Hanin menahan tangisnya


''Maafkan aku'' ucap Darren merasa bersalah


''Sudahlah, semua sudah terjadi'' ucap Hanin


''Hanin aku mohon maafkan aku'' ucap Darren duduk di hadapan Hanin


''Aku sudah memaafkanmu'' ucap Hanin


''Lalu, apa kau mau kembali kerumah lagi?'' tanya Darren


''Aku memaafkanmu, bukan berarti aku mau pulang sama kamu'' ucap Hanin melipat tangannya didada


''Benarkah, bagaiaman kalau begini'' ucap Darren, tiba-tiba me****t bibir Hanin


''Emmh... Emmh'' Hanin memukul dada Darren saat dirinya sudah kehabisan nafas


''Kau membuatku sulit bernafas, kenapa kau malah menciumku'' ucap Hanin mengerucutkan bibirnya


''Kalau kau masih menolak pulang denganku, jangan salahkan aku yang membuatmu semakin sulit bernafas'' ucap Darren menaikkan sebalah alisnya


''Iya, tapi besok kamu jemput di rumah Risa'' ucap Hnain


''Sekarang aja, aku udah kangen sama kamu'' ucap Darren memainkan rambut Hanin


''Tapi aku masih mau jalan sama mereka'' ucap Hanin


''Baiklah, nanti malam aku jemput'' ucap Darren, Hanin menganggukan kepalanya


''Sayang, aku kembalikan ini sama kamu'' ucap Darren memberikan black card pada Hanin


''Sekarang kamu pemilik ini, semua uang aku akan masuk kesini'' ucap Darren


''Serius, kalau aku habisin uang kamu gimana?'' tanya Hanin


''Tidak apa-apa, uang ini semua milik kamu'' ucap Darren kembali mencium bibir Hanin


''Achhimm'' tiba-tiba terdengar suara wanita bersin di dekat Darren dan Hanin


''Kamu''


*


Sementara itu, seorang pria paruh baya mengamuk di rumahnya. Dia merasa di permaalukan oleh istrinya


''Dasar wanita gila'' ucapnya sambil membanting semua barang yang ada di dekatnya


''Awalnya aku masih memikirkan untuk tidak menceraikanmu karna sekarang kau sendirian. Tapi kau malah membuatku malu di hadapan tuan muda Darren'' ucap Adit, ya pria itu adalah Adit


''Pa, memaafkan aku. Aku hanya tidak terima Mona mati karna dia'' ucap Rita


''Mona mati karna kesalahannya sendiri'' ucap Adit


''Bawa koper dia keluar, dan usir dia dari sini'' ucap Adit pada pelayan


''Pa, aku tidak mau, aku tidak mau cerai sama kamu'' ucap Rita, yang sudah di seret oleh orang Adit


.


''Dasar brengsek, kau akan menyesal Adit sudah memperlakukan aku seperti ini'' ucap Rita yang sudah menjauh dari kediaman Adit


.


.


''Kamu'' ucap Hanin dan Darren bersama


''Eh...maaf bukan maksud menguping'' ucap wanita itu tersenyum kecut


''Rainer, apa sekarang kau memiliki banyak waktu luang, hingga kau masih bisa berada disini'' ucap Darren dingin


''Hey presdir, apa kau tidak bisa mencari tempat yang lebih romantis lagi?'' ledek Rainer


''Tunggu sejak kapan kalian berada disini?'' tanya Hanin yang teringat kejadian beberapa menit yang lalu


''Cukup lama'' jawab Risa enteng


''Pasti mereka melihat adegan tadi'' ucap Hanin pelan dengan wajah merah merona


''Kenapa wajahmu memerah nona?'' goda Rainer


''Apa yang kau gumamkan?'' tanya Risa


''Ck.. Diamlah'' ucap Hanin malu


''Tenang saja, saat adegan tadi Rainer menutup mataku'' ucap Risa pelan sambil cekikikan


''Berarti kak Rainer yang lihat'' ucap Hanin kesal


''Tidak, aku juga menutup mataku'' kilah Rainer


''Sudahlah, jika kalian mau keluar pergilah. Nanti aku akan menjemputmu pulang'' ucap Darren


''Iya mas'' ucap Hanin, lalu Darren mencium kening Hanin dengan lembut


''Kau bisa melakukannya dngan wanitamu jika kau iri'' ucap Darren datar


''Dasar raja iblis'' ucap Rainer yang tentunya di dalam hati


.


Setelah kepergian Hanin, Darren dan Rainer langsung menuju perusahaannya, dan ternyata Gavin sudah menunggu di mobil mereka


''Kenapa kau di sini?'' tanya Rainer


''Aku hanya ingin pergi dengan kalian'' ucap Gavin


''Dimana mobilmu?'' tanya Darren


''Aku minta Yuda membawa mobilku'' ucap Gavin


''Tuan, apa kau tak merasa kematian Mona tidak wajar?'' tanya Rainer yang sudah melajukan mobilnya


''Hemmh'' ucap Darren berdehem


''Aku rasa dia di bunuh, sepertinya dia di beri racun '' ucap Gavin


''Bagaiamana kau tau?'' tanya Rainer


''Mudah saja, dilihat dari wajahnya saja, aku sudah dapat melihatnya'' ucap Gavin


''Kalau begitu, pasti orang itu bersekongkol dengan dokter yang merawat Mona'' ucap Rainer


''Mungkin'' ucap Gavin menganggukan kepalanya


.


.


***


Keesokan harinya...


Saat Hanin sudah berada di kampus, semua menatap Hanin, ada pula yang berbisik tentang Hanin


''Kenapa semua orang menatapku'' batin Hanin merasa risih


''Hanin, ikut aku'' tarik Risa tiba-tiba


''Aduh Risa ada apa?'' tanya Hanin bingung


''Lihat ponselmu'' ucap Risa saat sudah berada di perpustakaan


''Apa maksudnya ini?'' tanya Hanin terkejut saat melihat ponselnya


''A...ak...aku di bilang membunuh Mona?'' tanya Hanin


''Kenapa sekarang kamu masuk coba?'' tanya Risa


''Sudahlah Ris, lagian aku tidak melakukan apa yang mereka tuduhkan'' ucap Hanin


''Kalian disini rupanya, gawat'' ucap Jesi panik


''Ada apa Jes?'' tanya Risa


''Di luar banyak wartawan'' ucap Jesi


''Hah, kenapa bisa ada wartawan?'' tanya Risa


''Iya, ini semua karna berita ini'' ucap Jesi


''Kapan semua ini akan berakhir, baru saja aku merasa tenang sekarang ada masalah baru lagi'' ucap Hanin terduduk di bangku perpustakaan itu


Tiba-tiba ponsel Hanin berdering


''Hallo'' ucap Hanin lemas


''Hanin kamu di mana?'' tanya Gavin


''Aku sedang di perpustakaan bersama Jesi dan Risa'' ucap Hanin


''Sebaiknya kamu tetap disana dan jangan keluar. Nanti kalau keadaan sudah membaik aku akan menjemputmu'' ucap Gavin


''Iya baiklah'' ucap Hanin


''Mas Darren, aku takut'' batin Hanin


Sekitar satu jam, pihak keamanan kampus dan beberapa dosen pun mampu membuat wartawan itu bubar


''Hanin?'' panggil seorang pria


''Gavin, bagaiamana?'' tanya Jesi


''Untuk sementara aman. Sebaiknya aku akan mengantarmu pulang'' ucap Gavin


''Antar aku ke perusahaan mas Darren'' ucap Hanin


''Baiklah'' ucap Gavin


Setelah berpamitan pada ke dua sahabatnya, Hanin segera pergi dari kampus


''Gavin, aku punya firasat buruk'' ucap Hanin


''Sudahlah, tetap berfikir positiv'' ucap Gavin dan segera membuka pintu mobil untuk Hanin


''Lihat itu dia Hanin''


.


.


.