Suamiku Dosen Galak

Suamiku Dosen Galak
Eps 36


''Beraninya kau'' ucap Darren menatap tajam Angga


''Maaf aku tidak tau jika dia punya suami'' ucap Angga


''Angga, kenapa kamu disini?'' tanya Hanin


''Sayang kemarilah, aku ingin mengatakan sesuatu'' ucap Darren lembut


''Ada apa?'' tanya Hanin


''Bu Ima memberikan ini padaku'' ucap Darren sambil menunjukkan kalung itu


''Kalung milik siapa ini?'' tanya Hanin bingung


''Kalung ini, adalah identitasmu sebenarnya'' ucap Darren, Hanin hanya mengerutkan keningnya


''Setiap keturunan Allaric akan memiliki kalung seperti ini'' ucap Rainer


''Kau berasal dari keluarga Allaric, tapi kini keluarga Allaric sudah tidak ada'' ucap Evan pelan


''Maksud kak Evan, kekuargaku telah tiada?'' tanya Hanin


''Orang tua dan kakakmu mati karna di bunuh. Tapi kakak keduamu selamat dari pembunuhan itu'' ucap Evan


''La...lalu di mana kakakku sekarang?'' tanya Hanin


''Di hadapanmu'' ucap Evan


''Ma...maksud kak Evan?'' tanya Hanin menatap Evan seakan meminta penjelasan


''Jadi benar kau adikku'' ucap Angga berdiri dan memeluk Hanin dengan erat


''Ka...kak...kakak'' ucap Hanin yang tak percaya bahwa dia masih memiliki keluarga


''Akhirnya aku menemukan kamu'' ucap Angga, Hanin pun memeluk Angga dengan sangat erat


''Angga apa selama ini kau tau, jika adikmu masih hidup?'' tanya Rainer


''Baru beberapa bulan yang lalu. Aku meminta temanku untuk menyelidiki tentang keluarga Allaric beberapa tahun yang lalu, tapi dia menemukan fakta bahwa aku memiliki seorang adik'' ucap Angga mendudukan Hanin di sampingnya


''Selama ini kau tidak tau, jika kau punya adik?'' tanya Darren, Angga menggelengkan kepalanya


''Aku tidak tau bagaimana bisa adikku berpisah dari keluargaku'' ucap Angga sendu


''Apa kau sudah menyelidikinya?'' tanya Darren


''Iya, tapi aku masih belum menemukan titik terang'' ucap Angga


''Malam ini menginaplah disini, besok kita akan ke panti asuhan, tempat Hanin di besarkan'' ucap Darren


''Apa ini tempat panti asuhan Hanin?'' tabya Angga menunjukkan kertas yang di berikan pelayan, Darren mengangguk


''Dari mana kau mendapatkannya?'' tanya Dareen


Flashback On


Satu bulan yang lalu


''Tuan, saya tau tuan sudah mengetahui bahwa tuan memiliki adik'' ucap pelayan itu


''Bagaimana kau tau?'' tanya Angga sedikit lantang


''Husst, jangan berisik tuan'' ucapnya sambil berbisik


''Tuan, anda harus segera mencari nona ketiga. Tuan saya takut jika tuan Charles yang menemukan nona, akan semakin bahaya tuan'' ucapnya


''Tuan, saya meminta teman saya yang ada di negara I. Coba anda datangi tempat ini'' ucapnya sambil memberikan secarik kertas pada Angga


''Tapi bagaimana bisa adikku berpisah dari keluarganya?'' tanya Angga


''Saat nyonya melahirkan nona ketiga, nyonya langsung menitipkan pada pelayan kepercayaan nyonya. Nyonya tau nona ketiga akan dalam bahaya jika tuan Charles mengetahuinya'' ucapnya


''Lalu bagaimana dengan keadaan pelayan yang mengasuh adikku?'' tanya Angga


''Dia meninggal, tuan Charles menemukan keberadaan adik anda'' ucap pelayan itu


Namun tiba-tiba pintu kamar Angga terbuka, dia segera menyembunyikan kertas itu


Flashback ****Off****


''Selama ini aku berpura-pura mau menjadi anak angkatnya, karna aku ingin mengambil semua milik keluargaku'' ucap Angga


''Untung saja tidak terlambat'' ucap Evan


''Apa?'' tanya Rainer


''Jika kita terlambat menyadari kalung ini, mungkin Angga akan jatuh hati pada adiknya sendiri'' ucap Evan


''Sebenarnya aku menyelidikinya bukan karna aku jatuh hati, tapi melihat matanya mengingatkan aku pada ibuku'' ucap Angga


''Apa aku mirip dengan ibu?'' tanya Hanin


''Iya, mata, rambut dan juga aroma tubuhmu sama seperti ibu'' ucap Angga kembali memeluk adiknya itu


''Tapi bagaimana kau bisa selamat, sedang yang lain terbunuh?'' tanya Rainer


''Saat kejadian, aku berada di kamar mandi. Tapi tiba-tiba seseorang menarikku dan membawaku pergi dari tempat itu, dan setelah itu aku tidak tau apa yang terjadi. Saat aku bangun, pamanku mengatakan kalau keluargaku telah tewas'' ucap Angga menahan air matanya


''Apa ayah angkatmu tau, tentang keberadaan adikmu?'' tanya Evan


''Sepertinya dia tau'' ucap Angga


''Setelah ini apa rencanamu, apa kau akan membawa Hanin kembali?'' tanya Rainer


''Tidak, biarkan dia berada disini. Aku yakin kau bisa melindungi adikku'' ucap Angga


''Tenang saja, aku akan melindungi istriku'' ucap Darren


.


.


Di negara lain..


''Saya tidak tau tuan, yang saya tau, tuan sedang dalam peejalanan bisnis'' ucapnya dengan wajah yang sudah babak belur


''Sebulan yang lalu kau mengobrol dengannya, apa kau pikir aku tidak tau kau dan Angga menyembunyikan sesuatu?'' ucapnya sambil mencambuk pria itu


''Paksa dia untuk mengatakan, kalau tidak kalian tidak perlu sungkan lagi'' ucap tuan Carles dan langsung meninggalkan tempat itu


''Sialan, kemana anak itu pergi. Selama ini aku sudah berbaik hati padanya, tapi dia malah menentangku'' ucapnya geram


''Apa perlu saya menyelidiki tuan muda?'' tanya asisten Charles


''Tidak perlu, tetap fokus mencari tau putri Allaric'' ucapnya


''Sayang kenapa kau terlihat sangat kesal?'' tanya seorang wanita muda yang bergelayut manja


''Sayang, jangan menggodaku, aku sedang sibuk'' ucap Charles


''Baiklah, aku tidak akan mengganggumu, asalkan kau beri aku uang 50 juta'' ucap wanita itu dengan suara menggoda


''Aku akan segera mentrasfer padamu sayang'' ucapnya mengecup bibir wanita itu


*


''Celin, sampai kapan kau akan bertahan dengan pria tua itu?'' tanya temannya


''Tunggu sampai aku mendapatkan Angga. Lagipun aku butuh uangnya'' ucap Celin tersenyum licik


''Jika Angga masih tak melirikmu?'' tanyanya


''Tentu saja gunakan cara licik, agar dia tiidak menolakku'' ucap Celin dengan tersenyum miring


.


.


Keesokan harinya, Hanin terkejut karna tidak melihat suaminya di ranjangnya


''Mas Darren kemana, ini masih jam 6 pagi, apa dia sudah pergi'' ucap Hanin


Hanin segera mandi dan segera turun mencari suaminya


Sementara itu di ruang keluarga, Darren dan ketiga pria itu sedang mengobrol


''Mas, aku mencarimu'' ucap Hanin, tiba-tiba memeluk suaminya dengan manja


''Apa ini bawaan bayi, kau terlihat sangat manja'' ucap Darren mencolek hidung istrinya itu


''Ehemm, lihat situasi napa. Masih banyak orang '' ucap Evan


''Apa kau cemburu kak?'' tanya Hanin yang membuat Darren menatap Evan tajam


''Hahaha, aku baru saja melihat sisi lain dari tuan muda Darren'' ledek Angga


''Apa yang kau lihat?'' tanya Rainer


''Ternyata dia over posesif pada istrinya '' ucap Angga


''Ya begitulah adik iparmu. Siapapun yang melihat Hanin tanpa berkedip, aku yakin dia akan mencongkel bola mata orang itu'' ucap Evan tertawa


''Ya sudah aku mau memasak dulu'' ucap Hanin berdiri


''Bik Ning sudah membuat sarapan, jadi kau tak perlu masak'' ucap Darren


''Apa masakanku tak enak, hingga kau tak membiarkan aku masak'' ucap Hanin dengan mata berkaca-kaca


''Bu...bukan gitu, ha...hanya saja aku takut kau lelah'' ucap Darren bingung melihat perubahan Hanin


Rainer dan Evan tak percaya melihat Hanin yang tiba-tiba berubah seperti anak kecil dan menangis seperti ini


Namun tiba-tiba seorang wanita menjewer telinga Darren


''Dasar kau, kenapa kau membuat menantuku menangis'' ucap Rani


''Aaah aduh... Sakit ma ma sakit'' pekik Darren saat mamanya menjewer telinganya


Sedangkan ketiga pria hanya tertawa kecil melihat tuan muda yang dingin di jewer oleh mamanya


''Aku tidak melakukan apa-apa ma'' ucap Dareen


''Mas Darren gak memperbolehkan aku masak, apa karna masakanku tidak enak'' ucap Hanin mengadu pada mertuanya


''Darren?'' ucap Ardie menatap Darren dengan tatapan tajam


''Hah, aku hanya tidak ingin dia terlalu lelah'' ucap Darren


''Kenapa kau juga tidak memberitaukan pada mama, kalau Hanin hamil'' ucap Rani


''Belum ada waktu ma, lagipun kandungan Hanin masih muda'' ucap Darren enteng


''Justru masih muda, mama bisa membantu menjaga Hanin'' ucap Rani kesal pada Darren


''Sudahlah, kau juga harus mengalah pada istrimu. Wanita hamil susah di hadapi'' bisik Ardie


''Dareen siapa dia?'' tanya Ardie lagi melihat kearah Angga


''Dia kakak Hanin'' ucap Darren dan langsung menceritakan semua pada Ardie


''Saya Ardie papa Darren, dan ini mamanya Darren Rani'' ucap Ardie


''Angga tuan, nyonya'' ucap Angga


''Jangan panggil tuan, panggil om dan tante saja'' ucap Rani lembut


''Baiklah om tante'' ucap Angga walau sedikit gugup


Saat mereka sedang mengobrol tiba-tiba saja ponsel Angga berdering


''Ada apa?'' tanya Angga,


''Apa?''