
Ella tiba dengan mobil jemputan dari Keluarga Willem. Setelah diparkirkan, Ella turun sendiri tanpa ada yang membantunya dan memang dia tidak ingin merepotkan supir yang sedang sibuk menurunkan kopernya.
Dia akan menginap beberapa hari di rumah mewah itu sambil mencari sesuatu yang mungkin saja berguna untuk mencaritahu penyebab kematian Mommy-nya.
Seorang pelayang membukakan pintu sambil terus membungkukan badannya. Pelayan lain menerima koper Ella dari tangan Supir.
Ella berjalan dengan langkah elegan masuk melewati ruang tamu dan langsung ke kamarnya yang didesain mirip milik Elleane tanpa menyapa penghuni rumah itu. Yah memang karena tidak ada mereka di sana. Yang tersisa hanyalah para pelayan yang sibuk ke sana kemari seperti setrikaan karena sedang membersihkan rumah dan segala perabotannya.
Mereka segera membungkukkan badan saat Ella lewat. Tidak ada yang berani menatap wajah Nona Besar mereka yang terkenal arogan dan sombong yang tidak segan-segan memecat mereka jika punya kesalahan.
Semua bernapas lega dan merasa terhindarkan dari Dewi Kematian saat Ella telah masuk ke kamarnya. Kepala Pelayan segera menyuruh pelayan pribadi Nona Besar mereka itu untuk melayani Nona Besarnya dengan baik. Mudah-mudahan tidak dipecat karena dia pelayan ke 47.
Pelayan segera mengetuk pintu kamar itu untuk melayani Ella dengan baik. Dia tidak pernah tahu bahwa yang dihadapan mereka saat ini bukanlah Nona Besar mereka tapi hanyalah penggantinya saja.
"Selamat datang kembali, Nona Besar"
Ella hanya tersenyum saja membuat pelayan itu kaget karena selama ini ketika melayani nona besarnya itu dia akan selalu diperintah dengan bentakan. Tidak biasanya dia disuguhkan senyuman semanis ini.
Apakah nona kerasukan hantu tersenyum? Pikir pelayan itu.
"Jangan berpikir macam-macam dan segera rapikan pakaianku. Singkirkan pakaian sexy nan menerawang itu karena aku tidak menyukainya lagi. Letakkan saja di kamarku yang lain"
Pelayan itu terlonjak kaget karena sepertinya nona besar ini seorang cenayang yang bisa membaca pikirannya.
Nada perintah Ella ini hampir sama dengan nona besarnya tapi suara mereka sedikit berbeda.
Jangan dipikirkan lagi. Takutnya nona cenayang membaca pikiranku.
"Apa yang kau pikirkan hah!? Tidak mendengarku menyuruhmu tadi?"
Itukan aku bilang apa..
"Saya akan merapikannya, Nona"
Pelayan itu segera undur diri dan mukai merapikan pakaian nona besarnya sambil terus memikirkan nonanya sungguh hebat karena bisa menjadi cenayang. Dia menyelesaikan pekerjaannya dengan cepat.
Tiba-tiba saja nona besar berdiri disampinhnya dan bertanya.
"Siapa namamu!?"
Pelayan itu berjengit kaget dan mengelus dadanya.
Nona bertanya namaku? Mau memecatku kah!?
"Aku tidak akan memecatmu. Hanya ingin tahu namamu karena beberapa hari ini akan merepotkanmu mengurus semua keperluanku"
Syukur tidak dipecat. Pelayan itu bernapas lega.
"Sepertinya bukan orang negara A, kan!?"
"Iya Nona, saya berasal dari negara I"
"Sudah bekerja berapa lama bersamaku?"
Kenapa bertanya berapa lama? Bukankah aku baru saja berkerja dengannya?
Raut bingung pelayan itu langsung membuat Ella tersadar.
"Maksudku sebelum kau menjadi pelayan pribadiku"
"Dua tahun jika dihitung dengan masa menjadi pelayan biasa"
"Selama aku tidak ada, apa yang kau kerjakan?"
"Saya hanya ditugaskan membersihkan dua kamar ini, itu saja. Tuan Besar tidak memperbolehkan saya melakukan pekerjaan lain"
"Yah, tiga hari ini kau akan sangat sibuk untuk membayar hari-hari saat kau tenteram itu"
"Saya mengerti, Nona"
"Keluarlah, aku ingin beristirahat"
Sebelum keluar, pelayan itu memperhatikan nonanya dengan detail karena perubahan ini sungguh membuatnya kaget.
Apakah nonanya amnesia? Ataukah telah kerasukan? Atau mungkin nonanya ini orang lain? Kenapa tiba-tiba mengajaknya mengobrol?
Menepis semua pertanyaan dalam hatinya, dia kembali ke kamarnya karena tidak ada pekerjaan lain lagi sambil menunggu kalau-kalau Nona Besar membutuhkannya.
"Kau selamat..." Pelayan lain datang dan menghampirinya.
"Memangnya kenapa?"
"Nona Besar biasanya mudah marah saat kembali dari luar negeri. Kau adalah pelayan pertama yang selamat dari amukannya"
"Nona juga tersenyum"
"Jangan bercanda. Nona biasanya akan marah-marah sepanjang waktu" sela pelayan yang satu lagi.
"Tapi itu terjadi padaku barusan. Sekarang Nona sedang tidur. Tidak baik kita bergosip di sini. Nona bisa saja mendengar kemudian memecat kita"
"Kau benar. Ya sudah kami pergi dulu"
Dua pelayan lainnya itu segera pergi tidak mau sampai kena amukan.