
Sesuai janjiku kepada tukang malak episode 60 ini khusus untuk kemunculan pemeran baru๐ Happy Reading All๐
.
.
Ella memandang Emma yang sudah rapi dari atas ke bawah. Penampilannya yang tidak biasa ini sedikit membuatnya curiga tapi menurut pemindaiannya, tidak ada yang aneh.
"Aku pergi berkencan dengan Kak Jackson sekalian aku akan suruh Gio atau Vico memberikan Camael. Aku tahu kau butuh Camael untuk memeriksa sesuatu"
Ella menganggukan kepalanya dan tersenyum. Dia tidak bisa berpura-pura lumpuh lebih lama lagi karena tadi pagi dia keceplosan tertawa karena tingkah Emma yang absurd.
Akhirnya dia hanya berpesan pada Emma agar jangan membiarkan orang lain tahu bahwa dia sudah sembuh.
Emma keluar kamar tapi kemudian dia masuk lagi dan memberikan kiss bye-nya membuat Ella tertawa. Tingkah itu yang membuat Ella sangat menyayanginya.
***
"Stev..." Emma melambaikan tangan sambil menggandeng Jackson mesra.
Setelah kejadian dalam kamar itu, mereka makin dekat. Walaupun Jackson belum meminta Emma secara resmi menjadi pacarnya, tapi ungkapan cinta dan perhatian yang diberikannya sudah cukup membuat Emma peka akan ketulusan pemuda itu.
Stev dan Jackson saling merangkul seperti orang yang sudah lama tidak bertemu.
"Apa kabar?" Tanya Stev lebih kepada Emma.
"Aku baik. Dia juga baik-baik saja sekarang"
Dia mengacu pada Ella yang sudah membaik pasca digerayangi Stev malam itu.
"Mau makan sesuatu? Aku pesankan"
"Kau tahu kan makanan favorit kami?" Tanya J.
"Tentu saja"
Stev memanggil pelayan dan memesan tiga menu berbeda. Mereka mengobrol hingga satu pertanyaan Emma menghentikan suasana ceria itu.
"Bagaimana kau bisa keluar dari kubur?"
"Karena aku tidak pernah di kubur"
"Lalu siapa yang ada di sana?"
"Itu aku tidak tahu karena ketika aku bangun, aku berada di negara K. Pemulihanku terbilang cukup cepat karena teknologi Boss memang yang terbaik"
"Syukurlah kau sudah sehat. Dia sangat merindukanmu. Dia mungkin akan pingsan bila melihatmu"
"Jangan beritahu dia tentang diriku. Aku sendiri yang akan menunjukkan identitasku padanya"
"Satu hal lagi. Alat apa yang kau gunakan sehingga Camael tidak bisa melacakmu? Dia sampai frustasi mengacak-acak program Camael hanya untuk melacakmu"
"Em... Memangnya di mana dia melihatku?"
"Di pesta pernikahannya. Bukankah itu kamu?"
"Tidak. Aku baru bertemu dengannya dua kali. Saat di pemakaman dan juga di kamar kemarin malam"
"Lalu siapa yang ada di pesta?"
"Entahlah. Tapi memang aku menggunakan Chip penghalang transmisi gelombang sehingga data yang di dapat tidak pernah akurat"
"Jangan meremehkannya. Dia juga sama jeniusnya sepertimu. Video kecelakaan yang aku musnahkan itu saja dapat dia peroleh entah dari mana" Jackson ikutan nimbrung.
Dia memang sudah lama tahu bahwa Ella mendapatkan rekaman kecelakaan itu dari mulut embernya Emma yang kalau bicara suka keceplosan.
"Aku juga sedang menguji berapa lama waktu yang dia butuhkan untuk tahu bahwa aku masih hidup" Steven menyudahi acara bincang-bincang itu dengan cepat karena dia melihat ada yang mendekati mereka.
"Nona, ini barang yang anda minta" Gio menyerahkan Camael lalu bergegas mengejar Steven dan memotretnya dari belakang. Sayang langkah Steven yang panjang membuatnya kewalahan dan tidak bisa mengejar.
"Sial! Gio mengejar Stev, bisa bahaya!!" Emma mengisi Camael ke dalam tasnya kemudian menarik tangan Jackson agar mengikutinya.
"Nona? Anda mengejar siapa?" Tanya Gio setelah mengirimkan foto Stev pada Ella.
"Aku kaget karena kau berlari mengejar seseorang sehingga aku mengikutimu"
"Oh hanya teman lama tapi sepertinya dia menghindariku" Gio kemudian pamit untuk kembali ke markas.
"Gio tidak bertemu Stev kan?" Tanya Jackson.
"Tentu saja tidak. Ayo pulang"
"Ini masih terlalu sore untuk pulang. Ayo ke pantai"
"Bagaimana menurutmu. Indah, bukan?" J meminta pendapat Emma.
"Tidak lebih indah daripada dirimu" Emma menyampirkan rambut yang tergerai lalu duduk di pasir.
"Kau pandai merayu yah sekarang" Jackson mengacak-acak rambut Emma gemas.
"Aku bicara sejujurnya" kesal Emma lalu merapikan rambut berantakannya lagi.
"Emma Anderson, menikahlah denganku"
"Hah? Eh? Kita menikah? Kakak kan tahu aku masih harus mengurus Ella. Bagaimanapun saat ini dia masih sakit"
"Aku tidak bilang sekarang, kan?"
"Oh iya yah, hehehehe" Emma tertawa canggung menutupi debaran di jantungnya kala melihat pria di sampingnya ini menatapnya intens.
"May..."
"Iya Kak. Ada a...."
Cup! Kecupan singkat di bibir Emma membuat wajah itu merona. Sangat cantik apalagi senja muncul dengan warna orange merahnya yang indah.
"Aku mencintaimu"
"Aku.. Aku..."
Jackson tertawa pelan melihat gadisnya tak mampu berkata-kata.
"Kau juga mencintaiku kan?" Akhirnya Jackson yang bertanya yang hanya di angguki Emma.
Jackson menarik Emma kedalam dekapannya. Mencium keningnya dalam menyalurkan rasa bahagianya yang membuncah. Dia tidak pernah menyangka gadis kecil yang dulu meneriakinya pedofil ini menjadi satu-satunya perempuan yang dia cintai setelah ibunya.
"Bolehkah?"
"Bo..bo..boleh... aa..apa, Kak?" Tanya Emma melihat ekspresi Jackson yang menginginkannya.
"Menciummu" jawab Jackson jujur.
Emma tidak menjawab membuat Jackson menundukkan kepalanya merasa ditolak tapi uluran tangan Emma yang membelai rahangnya membuat wajahnya seketika mendongak.
Netra yang berbeda warna itu bertemu dan saling memuja. Napas yang hangat menerpa wajah Jackson karena Emma memajukan kepalanya. Ketika sudah merasa berada di tempat yang benar, Emma menutup matanya. Sengatan-sengatan listrik yang menjalar di antara kulit keduanya sanggup meremangkan bulu roma.
Jackson yang melihat Emma menutup matanya tahu bahwa Emma memberikan tanda setuju untuk hal-hal yang akan dia lakukan secara naluriah.
Dia mengangkat Emma dan menaruh Emma di atas paha berhadapan dengannya agar dia bisa lebih merasai Emma. Hanya saja posisi intim tersebut membangkitkan sesuatu yang tegak tapi bukan keadilan.
Lidahnya dengan cepat menelusup masuk mengajak Emma berperang. Bahkan saliva yang bertukar tidak lantas membuat mereka jijik justru semakin liar melakukannya. Jackson masih tahap belajar tapi menurut Emma, dia seorang Good Kisser. Napas terengahnya membuat Jackson menggeram tertahan.
Emma yang posisinya lebih tinggi membuat Jackson dengan leluasa menikmati setiap inci lehernya. Menggigit-gigit kecil menimbulkan suara aneh yang keluar dari mulut Emma.
Emma yang tersadar langsung membekap mulutnya tapi tangan itu segera tergantikan dengan bibir ganas Jackson.
Kabut gairah memenuhi mata Jackson membuatnya melihat Emma seperti bidadari dengan latar belakang sunshet yang indah.
Ketika bibirnya sibuk merasai Emma di atas, tangan kirinya kini menelusup masuk ke dalam baju yang Emma pakai membelai pinggang mulus itu terus naik menuju punggung. Tangan kanannya menekan tengkuk Emma memperdalam ciuman mereka.
Emma melepas paksa ciuman itu dan menggoyangkan tubuh Jackson agar dia sadar.
"Kak, emmm itu... tangan Kakak kenapa ada di dalam bajuku?"
"Merasaimu" jawab Jackson santai dan masih sibuk bermain di leher Emma tanpa ingin menodai leher itu terus turun menuju belahan dada Emma.
Tiba-tiba saja Emma menarik rambut Jackson dengan kuat membuat wajah tampan itu mendongak. Sakit di kulit kepala mencerahkan kabut gairah tadi.
"Ka... kak.... kita belum menikah jadi bagian sana jangan dirasai dulu"
"Haih!! Gagal lagi"
Jackson hanya menunduk lesu membuat Emma tertawa lucu. Emma turun dengan hati-hati agar tidak menyenggol ular kobra di sela paha Jackson. Dia khawatir dipatok saat itu juga.
Akhirnya mereka pulang dengan Emma yang duduk di kursi belakang atas saran Jackson sebab saat itu dia sedang dalam mode Turn On akibat ciuman panas mereka.
Setiba di rumah, Emma langsung lari terbirit-birit untuk menemui Ella yang sudah menunggu Camael sedari siang.
Sebelum masuk, dia merapikan baju dan melihat bahwa tidak ada jejak di leher dan bibirnya yang ditinggalkan Jackson. Dia masuk dengan wajah yang sedikit memerah membuat Ella mengernyit tapi sejurus kemudian Ella memasang ekpresi biasa. Dia tahu Emma habis berkencan.
Dia hanya meminta Camael dan mulai memproses foto yang sempat Gio kirimkan. Kini dia tahu bahwa pria itu adalah pria semalam yang membuatnya keluar dari kelumpuhan tapi mengapa? Selanjutnya tidak ada informasi lagi.
***
Steven sudah muncul dan pembalasan dendam akan segera dimulai๐๐