
(Ini adalah sambungan cerita di Rumah Sakit)
"Ed, di mana Emma?" Tanya Ella karena setelah sadar, dia tidak melihat Emma.
"Dia mengambilkanmu baju ganti. Kau ingin makan apa? Atau kau butuh sesuatu?"
"Aku bosan makan bubur. Bisakah aku makan sesuatu yang lain?"
"Aku akan bertanya pada dokter. Luka dalammu cukup parah. Tubuhmu itu ditabrak mobil kemudian berguling di aspal. Kau tampak seperti korban pembunuhan berencana" Edgar memasang mimik tak enak.
"Hahahaha... Apa aku terlihat seperti Wonder Girl?" Ella tertawa beberapa saat kemudian " Awwww" Pekiknya tertahan karena perutnya yang terasa perih.
"Jangan paksa diri untuk tertawa. Perutmu itu di jahit karena robek. Lagi sedikit kusuruh dokter menjahit otakmu itu"
"Kenapa juga mau menjahit otakku" tanya Ella karena merasa Edgar tak masuk akal.
"Karena kau ini kelewatan. Bagaimana bisa kau selamatkan orang macam dia? Mereka itu keluarga sombong. Merasa orang lain tidak ada artinya. Aku melarangmu berdekatan dengan Richard tapi kau malah berduaan dengan kakaknya"
"Memangnya keluarga Derbaltroz sejelek itu yah?"
"Tentu saja. Dulu kami keluarga pas-pasan, dan mereka memang terlahir kaya raya. Bibiku jatuh cinta dengan salah satu paman mereka. Tapi kami sekeluarga dihina mati-matian. Begitu juga dengan keluarga Roberto kalian. Saat Kakek membawa kami menjadi keluarga terkaya nomor 2, mereka berbalik menjilat"
"Lalu apa hubungannya dengan warisan?"
"Mereka juga pernah berada di titik terbawah. Kekayaan mereka sekarang adalah harta pinjaman dari keluarga kita. Untuk mengembalikannya, mereka menikahkan kita. Yang pria akan menikahi nona Roberto dan wanita akan menikahi Tuan Muda Dhawn"
"Baiklah aku sedikit paham masalah di sini. Tapi kenapa mengembalikan dengan pernikahan?"
"Jangan tanya aku. Kakek kita sudah meninggal semuanya"
"Lagipula Keluarga Roberto tidaklah benar-benar kaya. Itu adalah harta milik Mom dan Mami Rosie"
"Ketika wanita menikah, hartanya akan langsung menjadi milik suaminya. Tapi tidak dengan Keluarga kami. Semua anak memiliki haknya masing-masing. Entah itu pria atau wanita"
"Pembahasan harta ini akan lebih baik lagi jika kau membelikan aku beberapa buah"
"Buah apa?"
"Buah yang bisa di makan dan di jual di supermarket sana. Jangan banyak tanya dan pergilah. Nona Muda nan miskin ini memohon" Ella memberikan senyuman manisnya. Edgar hanya mengacak pelan rambut Ella kemudian beranjak dari kamar.
***
"Dasar kau anak si*lan. Lahir dari perempuan tidak jelas. Kau mendekati anakku karena kami kaya. Tidak tahu diri sekali kau ini. Aku muak melihat anak haram dan pembawa sial sepertimu"
Sayup-sayup Edgar mendengar suara orang memaki dan berkata kasar. Sial. Itu pasti Derbaltroz sekeluarga merundung Ella. Edgar mempercepat langkahnya. Saat dia membuka pintu kata-kata kasar itu masih saja terdengar.
"Kau lahir dari wanita jal*ng sehingga kelakuanmu juga seperti dia. Menggoda anakku dengan kecantikanmu. Anakku yang bodoh hampir saja tertabrak mobil karenamu. Jika saja kau tidak pernah lahir dan bertemu anakku, sudah pasti dia mau aku tunangkan dengan anak sahabatku. Kau perempuan si.... Akhhhhh. Anak iblis dari mana ini? Berani sekali kau mendorongku" Jambakan di rambut Ella segera terlepas.
Brak!! Edgar menghempaskan plastik berisi buah yang dia beli tadi tepat didepan wajah Nyonya Derbaltroz. Bugh!! Nick yang melihat dari sudut ruangan tertatih kemudian memberikan sebuah bogeman di sudut bibir Edgar. Setelah Edgar jatuh ke lantai, tangan Nick terkulai lemas di samping tubuhnya. Dia gemetar dan merasa bersalah.
Cih. Edgar berdecih lalu bangkit. Jiwanya merontah dan hampir terlepas dari tubuh melihat keadaan Ella. Gadis itu awut-awutan, berdarah dan makin pucat. Tapi tidak ada air mata yang mengalir di pipinya. Dia memandang lurus ke depan. Tatapannya kosong seolah-olah dia sedang berhalusinasi.
Hey gadis apaan kau ini? Setidaknya menangislah agar aku tahu perasaanmu. Jika kau diam seperti ini, aku benar-benar bingung.
"Mau kau bawa kemana jal*ng kecil ini?" Teriak Sandra ketika melihat Edgar menggendong Ella.
"Lepaskan Quiel!!!" Nick berteriak frustasi di tempatnya. Tapi Edgar hanya tersenyum miring kemudian menggendong Ella keluar kamar mencari dokter agar merawat luka Ella yang kembali terbuka dan berdarah banyak bahkan baju putih milik Ed kini berubah menjadi merah.
Jangan tanya keadaan Edgar sekarang. Napasnya ngos-ngosan. Ella lumayan berat. Walaupun Ed lebih tua setahun, tapi tubuh 14 tahunnya belum sempurna. Hanya sedikit otot yang dia punya saat ini. Dia menunggui Ella yang kembali masuk ruang operasi karena bekas jahitannya kembali terbuka.
"Ed?" Panggil Emma beberapa saat kemudian.
"Kau sudah datang" Ed masih terus menatap ruang operasi.
"Apa yang terjadi? Kenapa kamar sangat berantakan? Buah berceceran dan darah menggenang di tempat tidur?"
"Keluarga Derbaltroz datang dan merundung Ella. Mereka mengata-ngatai Ella hal yang tidak pernah dia lakukan. Dasar Nick bangs*t Dia hanya menonton. Dia yang mengejar Ella demi harta warisan itu dan menyebabkan Ella jadi begini"
"Keluarga senior benar-benar keji"
Klik. Pintu ruang operasi terbuka. Jahitan Ella telah diperbaiki.
"Aku harap keluarga pasien bisa menjaga pasien dengan baik. Jika lukanya terbuka kembali, mohon maaf mungkin pasien benar-benar akan koma karena kehilangan banyak darah. Darah pasien adalah AB- sehingga sangat jarang dan juga pasien mengidap penyakit Hemofilia dimana darah akan sukar membeku"
Wajah Emma dan Edgar berubah pias seketika. Bagaimana mungkin Ella menderita penyakit serius seperti itu?
"Setelah memeriksa data pasien, pasien juga lahir di Rumah Sakit ini 13 tahun lalu dalam keadaan prematur yaitu 7 bulan karena ibu pasien mengalami kecelakaan"
"Jadi apa Ella bisa sembuh, dok?" tanya Emma panik.
"Hindarkan pasien dari kekerasan yang mengakibatkan luka di tubuhnya. Kami akan memberikannya suntikan pembekuan darah. Kalau begitu kami permisi"
***
"Dok, kenapa Ella memiliki ruam seperti itu?" Tunjuk Edgar pada beberapa ruam di kulit Ella yang mulus. Tak lagi mulus sekarang sepertinya.
"Anda tidak perlu khawatir karena itu adalah efek samping suntikan octocog alfa. Pasien juga akan mengalami mual. Keluarga pasien harus selalu siaga"
"lalu apakah ada efek samping lainnya?"
"pasien akan sedikit pusing, sakit kepala, dan nyeri perut juga. Untuk kedepannya, hindarkan pasien dari kontak fisik yang dapat menyebabkan luka, kemudian jangan sembarang minum obat-obatan tanpa resep dokter"
"Kami mengerti,dok" sahut Emma di samping Ella.
"Kami pamit" Dokter dan asistennya keluar.
Beberapa saat kemudian, Edgar mulai memberikan ceramah pedasnya pada dua gadis itu.
"Seharusnya dokter menambahkan, jauhkan pasien dari para alligator buas yang dapat menyebabkan luka berdarah di hati. Ingat, tidak boleh bela diri karena itu akan membuatmu terluka. Kau juga, hati-hati saat pacaran. Awas saja jika kau sakit, akan aku buat tambah berdarah" Edgar melotot pada Emma.
"Siapa juga yang pacaran? huh!!" kesal Emma pada Edgar.
"Hey nona Roberto, kau bahkan tidak menangis saat mereka berteriak padamu?"
"Kenapa aku harus menangis? Ibuku bukan wanita seperti itu. Dia bekerja keras untuk kehidupan kami berdua sampai-sampai tidak bisa mengurus dirinya. Lihatkan harta kami yang dinikmati Larry dan Amber saat ini?"
"Setidaknya kau harus menangis karena berdarah" Emma gemas pada Ella
"Aku berdarah setiap bulan selama beberapa hari. Kau juga. Apa kita harus menangis sepanjang hari?" Ella mencibir Emma.
"Maksudku apakah kau tidak kesakitan?"
"Heh. Aku lebih sakit saat melihat dia meninju sahabatku. Saat itu aku ingin menangis tapi aku sangat pusing kemudian pingsan"
"Semoga saja tidak terjadi lagi hal seperti ini. Jauhi mereka semua. Paham? Kau juga jauhi para buaya" Edgar memberi penekanan pada kedua gadis itu yang hanya diangguki paham oleh mereka. Edgar, mutlak.
Agar Amber sekeluarga tidak curiga karena beberapa hari Ella tidak pulang, Edgar sengaja memberi pesan singkat bahwa Ella dan Emma ikut camping selama sebulan penuh bersama keluarga Dhawn. Yang benarnya adalah Ella sedang memulihkan diri. Sekolah juga sedang libur musim panas.
Kedua kakak tiri Ella yaitu Henry dan Layla sebenarnya tahu keadaan Ella saat ini. Mereka mempercayakan Ella pada Tuan Muda Dhawn.
Sebulan setelahnya, Ella sudah dalam keadaan lebih baik. Mereka keluar dari Rumah Sakit dan langsung menuju bandara untuk mengantar Jackson kakaknya Edgar yang pernah mereka katain pedofil mesum. Emma melambaikan tangannya malu-malu pada Jackson. Kejadian hari itu membuatnya memerah.
Ketika Ella melambaikan tangannya pada Jackson, di saat itu pula orang yang membuatnya terluka parah juga naik pesawat yang sama. Dia ingin menangis untuk menyalurkan rasa sesak di dadanya.
Untuk kedua kalinya aku kehilangan seseorang. Kak Leon baru beberapa saat yang lalu pergi kemudian dirimu, Kak. Kau bahkan tidak mau berbalik melihatku di sini. Aku ini dengan bodoh memilih menyelamatkanmu dari maut. Tak sadarkah kau bahwa keberadaanmu telah menggeserkan nama Kak Leon di hatiku? Aku harus apa saat melihat punggungmu menjauh? Bisakah kau berbalik dan melambaikan tanganmu? Kak....
Setetes air mata jatuh di pipi Ella. Melihat itu Edgar segera memeluknya. Menyembunyikan wajah Ella di pundaknya dan membiarkan gadis itu menangis tapi beberapa saat kemudian gadis itu mendongakan wajah dan tersenyum.
Kenapa dia malah tersenyum, bukankah harusnya dia menangis atau galau selangit? Ed memandang El heran.
"Ed, kenapa kau melihat Ella seperti itu? Kau jatuh cinta padanya?"
"Hah.. Iya.. Eh tidak..Tidak... Maksudku, aku kira dia menangis tadi" Edgar bahkan gelagapan saat ini menjawab pertanyaan Emma.
"Buat apa menangis? Dia membuatku terluka, berdarah, dihina pula. Heh, aku mau melambaikan tangan mengucapkan bye-bye saja pada kenangan pahit. Ayo, kalian berdua adalah kenangan manisku. Bukankah hari ini cerah? Ayo makan sesuatu yang enak. Lidahku jadi tebal karena makanan rumah sakit yang tawar"
Emma dan Edgar memandang Ella tak percaya.
"Kau ini bodoh?" Tanya Edgar
"Atau sangat tegar?" sahut Emma
"Aku ini hanya membuang yang seharusnya dibuang dan menikmati anugerah-Nya. Aku tidak mati hanya karena dua lelaki pergi kan? Masih ada kalian berdua yang akan menemani hari-hariku"
Dan begitulah gadis itu menjadi karang yang tangguh di tengah badai. Baginya kehilangan orang yang hanya tau melukai lebih baik daripada mengacuhkan kedua sahabatnya yang manis ini.
Untuk saat ini dan seterusnya jadilah wanita yang hanya mengeluarkan air mata bagi seseorang yang sangat berarti dalam hidupmu. Keep Strong Sistπ
Dan Nick menahan perasaannya. Matanya pun sedikit memerah. Lelaki 18 tahun ini hampir menjatuhkan air mata demi gadis imut yang lebih muda 5 tahun darinya. Ya, dia jatuh cinta pada gadis itu. Tapi kesalahannya fatal karena diam saja saat Quiel ditindas oleh ibunya. Dia bereaksi saat melihat darah menggenang. Berteriak frustasi pada ibunya. Tapi apa mau dikata, Quielnya sudah membencinya saat itu juga.
***
Ella tidak pernah membenci Nick. Hanya sedikit kecewa. Apakah kedepannya Nick meluruskan kesalapahaman ini?
Episode selanjutnya akan kembali pada Arquiela yang berumur 17 tahun ππ
Tinggalkan jejak bagi Author yah?
Salam ELughtaππ