
"Stttt... Diamlah" Pria muda itu membuka bajunya dengan cepat dan makin menghimpit Ella.
"Bisakah kita tidak begini?" Ella takut dan juga malu di saat bersamaan karena terhimpit dada seseorang. Yah tidak terlalu bidang tapi tetap saja itu dada laki-laki.
"Diam atau dia akan menangkapmu? Sekarang sembunyikan wajahmu didadaku. Maaf agak sedikit mesum nantinya" Dia melonggarkan sedikit zipper yang melingkari pinggangnya.
"Siapa di sana?" Tanya laki-laki yang asyik bermain tadi.
"Ughhhhh" Lenguh laki-laki yang bersama Ella.
Kak Leon kenapa mengeluarkan suara seperti itu? Rona merah di pipi Ella makin menjadi. Dia kikuk dan masih terus diam.
Leon dengan segera menarik paksa loker yang kebetulan tidak terkunci kemudian memasukan Ella ke dalamnya sedangkan dia masih di luar tampak sedikit berkeringat, berantakan dan melenguh pelan seperti kehabisan tenaga.
Sial! Posisi ini membuatku berfantasi liar dengan adik angkatku sendiri. Ini harus di sudahi atau aku akan menerkamnya. Leon sedikit gemetar karena menatap bibir Ella lama.
Si pria yang penasaran dengan suara orang lain di ruangan itu mencari asal suara. Dia mendapati Leon dalam keadaan acak-acakan kemudian terkekeh geli.
Ternyata dia selama ini diam-diam melakukan hal ini dengan tunangannya. Aku kira mereka terpaksa tunangan tapi ternyata hubungan mereka panas seperti ini. Si pria berbalik kemudian pergi tanpa mau melihat siapa perempuan yang bersama Leon. Dia yakin itu adalah Renay.
"Ayo pergi. Itu adalah pasangan muda yang dimabuk cinta" Si pria menarik wanitanya lumayan kasar.
"Ugh, ini perih dasar bodoh" Wanitanya meringis pelan.
Tanpa menunggu lama, si Pria keluar sendirian meninggalkan wanita itu yang berjalan perlahan karena merasa nyeri di daerah tertentu.
Aku harus cepat pulang. Tidak mungkin kembali ke aula dengan berjalan seperti ini kan? Dan dia tertatih melewati koridor dan turun melalui tangga timur.
***
"Ka.. Kak Leon, bi..bi... sa.. kah agak menjauh sedikit? Aku kegerahan" Ella menjadi sedikit gagap karena malu dan gugup.
"Emm..." Leon menyamping kemudian merapikan dirinya.
"Terimakasih atas bantuan Kakak hari ini" Ella akan berlalu tapi Leon menarik tangannya kemudian memeluknya erat.
"Kau tidak merindukan Kakakmu ini?"
"Aku merindukanmu, Kak. Tapi jangan sampai pelukan di antara kita membawa kehancuran pada hubunganmu dan juga Renay" Ella melepas paksa pelukan Leon. Dia berbalik dan akan pergi lagi tetapi Leon memeluknya dari belakang, menyenderkan dagu di bahu Ella.
"Jangan seperti ini Kak, aku mohon" Tapi Leon tidak menggubris permintaan Ella.
"Aku sangat merindukanmu selama 4 tahun ini. Di negara A Ayah sedang berusaha memperbaiki bisnis keluarga. Erine juga bersekolah. Aku mengandalkan beasiswa dan bantuan keluarga Rein"
"Apa sangat sulit memberi kabar, hmmm??"
"Maaf"
"Maaf tidak dapat menjelaskan semuanya, Kak"
"Aku tidak punya cara menghubungimu. Kami hidup sedikit melarat"
"Seandainya Kakak meminta bantuanku"
"Meminta bantuan padamu?"
"Sudah, lupakan saja perkataanku tadi. Sekarang lepaskan karena aku ingin ke toilet"
"Bisakah aku mencintaimu, El?"
Ini apa yang sedang terjadi? Astaga aku harus senang atau sedih jika Kak Leon mengungkapkan perasaannya seperti ini?
"Aku tahu Kakak akan selalu mencintaiku sama seperi cintamu pada Erine, kan?" Ella sedikit menghindar dari maksud sebenarnya ungkapan cinta itu.
"Apa aku hanya seorang Kakak bagimu?"
"Tapi aku ingin cinta yang lainnya. Aku ingin memilikimu sepenuhnya. Bisakah?" Leon membalikan tubuh Ella dan menatap matanya.
"Terima saja kenyataan ini, Kak. Jangan sakiti hati Renay. Dia sahabatku yang bersamaku selama 4 tahun ini. Dia juga pengobat dukaku saat kau meninggalkanku" Ella balas menatap tajam mata Leon.
"Tapi aku tidak mencintainya, aku mencintaimu. Dari dahulu saat kita pertama berjumpa. Aku membiarkan bahuku menjadi sandaranmu tiap kali kau menangis, aku juga membuatmu ceria, jangan lupakan itu semua"
"Jadi Kakak menghiburku hanya untuk mendapatkan balasan cinta dariku? Kakak tidak pernah ikhlas. Kalau Kakak tidak mencintainya kenapa hari itu kalian berada di toko perhiasan? Merangkul mesra? Bergandengan tangan?"
"Bukan begitu maksudku, El. Aku hanya tidak ingin kau meninggalkanku. Ingat apa pesanku sebelum aku pergi? Tunggu aku"
"AKU MENUNGGUMU SETIAP HARI, HINGGA AKU LELAH. TAPI SAAT PULANG KAU TAK MENEMUIKU. KAU BERSAMA RENAY. AKU TERKEJUT SAAT DI PESTA ITU" Ella berteriak dengan nada tinggi mengeluarkan semua kekesalan yang dipendamnya.
"Aku tidak ada pilihan lain"
"Pilihan apa? Mereka melarangmu menemuiku? Mereka mungkin tahu kau mencintaiku, kan? Heh, Ayah juga tak ingin kau memberi kabar karena takut keluarga Rein menarik semua pinjamannya. Lagipula Kakakku tersayang, kenapa aku harus marah-marah di sini?? Hubungan kita tetaplah saudara yang akur kan? Namamu dan namaku tetaplah Simmons. Jika tidak ingin pernyataan cintamu ini terungkap dan membuat keluarga Rein marah besar, maka bersikap baiklah" Ella mendorong Leon sekuat tenaga kemudian berlalu dengan cepat. Menyimpan rekaman suara di antara mereka.
***
"Jangan menangis, El. Lagipula kau sudah baik-baik saja tanpa dua lelaki keparat itu kan? Mereka hadir hanya mencoreng indahnya cinta pertamamu saja" Ella bicara pada cermin yang menampilkan wajahnya saat ini.
"Tarik napas, buanglah. Menaburkan sedikit bedak akan bagus. Yap selesai" Ella tersenyum puas menatap cermin yang menampilkan wajah imutnya. Cantik tapi sorot mata itu mematikan.
"Oh, astaga. Ed kau membuatku kaget" ketiga membuka pintu Ella terperanjat melihat Edgar menyenderkan tubuhnya di dinding dan menunggunya.
"Apa saja yang kau lakukan di dalam? Kau sangat lama. Mom sampai memintaku mencarimu dan membiarkan Emma menempel padanya seperti getah karet"
"Mungkin Mami ingin menjadikan Emma menantunya. Mudah-mudahan saja bersamamu" Ella menggoda Edgar mengalihkan pembicaraan.
"Aki tidak sudi bersama dia" Edgar berbohong padahal dia punya sedikit rasa pada Emma. "Dan tadi kenapa lama sekali di dalam?" Edgar belum lupa pertanyaannya tadi.
"Kau ingin tahu sekali urusan perempuan? Ayohlah ubah saja dirimu jadi perempuan dan kau akan tahu"
Edgar hanya menggeleng pelan. Menjadi perempuan terlalu merepotkan. Memakai baju saja bisa berlapis-lapis, harus berdandan, dan juga tamu bulanan.
"Aku tidak ingin menjadi perempuan tapi aku sangat menghormati kalian"
"Itu jawaban yang aku inginkan" Ella tersenyum manis kemudian menggandeng Edgar dan kembali ke pesta.
Ella melihat Leon sudah kembali rapi dan sedang berbincang dengan orangtua Renay. Ella tersenyum tipis menyembunyikan dua tanduk di kepalanya.
"Ed, ayo pulang dan buat pesta di rumahmu. Tidak mungkin di rumahku, ada rubah tua di sana yang siap menerkammu"
"Ide bagus"
Dan mereka segera bersiap kembali ke Mansion Keluarga Dhawn. Tapi Ella mendekati Renay dan memeluknya. Masih dalam jangkauan tatapan Leon.
"Hey cantik, aku tidak bisa menghadiri pestamu. Keluarga Dhawn sudah menungguku. Kau kan tidak akan kesepian karena tunanganmu selalu menempel. Kalian benar-benar terlihat mesra, bukan begitu Tuan Muda Simmons?" Ella menyebut Leon dengan panggilan formalnya.
Renay tersenyum malu kemudian memeluk lengan Leon manja. "Kau temani saja Ed" Usir Renay halus.
"Jaga tunanganmu baik-baik. Dia sangat tampan, mungkin akan digaet gadis lain jika kau tidak menjaganya. Dan jangan biarkan dia mencintai gadis lain. Kungkung dia dengan segala pesonamu, mengerti?" Bisik Ella yang masih bisa di dengar Leon.
"Aku pastikan dia selalu menjadi milikku" Renay makin melebarkan senyumannya. Ella pamit pada orangtua Renay dan pergi dengan menggandeng Edgar.
Di sisi lain, si pria yang bermain di ruang ganti juga memamerkan senyum remeh pada Leon. Masih mengira yang berada di loker tadi adalah Renay. Saat Renay menatapnya, dia balik menatap dengan tatapan menggoda. Renay segera memalingkan wajah dan mengajak Leon pulang.
***
Leon sudah mengungkapkan perasaannya tapi Ella menolaknya. Apakah memang Ella membencinya atau justru melindunginya? 🤔🤔
Jangan lupa tinggalkan jejak🙏🙏
Salam ELughta😍😘