Sellena

Sellena
Kabar Kak Leon


Di Sekolah


"Emma, dimana Edgar?"


"Jangan tanya padaku. Tidak usah hiraukan dia. Dia adalah anak laki-laki populer di sekolah ini jadi jangan heran dia seketika menghilang sekejab mata mengedip"


"Kemarin juga dia membolos. Yah sudah, kita temui Nona Reinar saja untuk menanyakan kabar Kak Leon" ajak Ella.


"Berhenti mencaritahu tentang lelaki pujaanmu itu,El"


"Kenapa?"


"Karena sebentar lagi pelajaran akan dimulai. Aku harap otakmu itu isinya pelajaran bukan Kak Leon saja"


"Kau tenang saja. Tapi Edgar belum datang. Bagaimana ini?"


"Aku tak peduli. Dahh!!"


Emma melenggang pergi meninggalkan Ella dan masuk ke kelasnya. Bisa kalian tebak kan bagaimana hubungan Emma dan Edgar kan? Mereka selalu bertengkar. Dan Ella bertugas mendamaikan mereka.


"Kemana bocah tengil itu pergi? Wajah saja yang imut. Tapi kelakuan bikin ingin muntah. Huh!!" Kesal Ella karena dia bakalan duduk sendiri lagi hari ini.


Tidak lama kemudian yang dikesalinya muncul dengan wajah tanpa dosa dan mata sipitnya itu masih sedikit merah.


"Selamat pagi, El"


"Tampak juga wujudmu,Ed"


"Kau merindukanku?"


"Hohoho... Bukan aku tentu saja. Tetapi Miss Anna. Lihat" Tunjuk Ella pada seseorang di belakang Edgar.


Belum sempat Edgar menoleh untuk melihat gurunya itu, sebuah teriakan lebih dahulu sampai di telinganya.


"Tuan Muda Dhawn.....Segera duduk di tempatmu atau keluar dari kelasku. Aku tidak keberatan memberimu nilai di bawah standar" Miss Anna melotot dari meja guru.


Tanpa disuruhpun aku sebenarnya mau duduk. Kesal Edgar dalam hati


Ella hanya tertawa pelan menyaksikan sahabat baiknya ditindas oleh guru tercantik di sekolah itu.


"Ed, wajahmu saat ini benar-benar masam seperti mangga muda.. hahaha" bisik Ella pelan ketika Edgar sudah duduk.


"Untung saja cantik. Kalau tidak, mungkin aku akan melemparinya dengan ba..."


"Dengan ba apa hayo?" tanya Ella jahil


"Maksudku dengan bunga" jawab Edgar kikuk menggaruk kepalanya.


Dengan batu bila perlu. Bathin Edgar.


"Tapi kau lebih cantik daripada Miss Anna" Ella bergosip lagi.


"Iya aku tahu. Bahkan aku lebih cantik daripada Princess Elsa yang biasa kalian tonton waktu kecil. Lebih baik kau dengarkan penjelasannya daripada mengobrol denganku. Bangunkan aku saat pelajaran sudah selesai"


Kalimat terpanjang yang pernah kudengar darinya.


Ella melotot tidak percaya melihat Edgar sudah mulai menaruh buku dihadapannya dan pura-pura membacanya padahal kenyataannya dia memejamkan matanya.


Dan begitulah tiap harinya. Wajah tampan tapi juga cantik itu selalu saja menunduk bersembunyi di balik buku pelajaran. Iris gelapnya seolah-olah malu menampakan diri. Tapi entah kenapa dia belum pernah kedapatan mengorok.


Dan pelajaran pagi itu berakhir damai. Lonceng istirahat berdering dengan nyaring membangunkan si tukang tidur. Dengan langkah cepat, dia keluar kelas menyisakan tanda tanya pada Ella.


Apa ada yang Ed sembunyikan yah? Dalam kelas seperti pangeran tidur tapi luar kelas seperti panglima perang.


Tapi kemudian Ella menampik semua kecurigaannya. Mungkin saja Ed ada hal penting yang dikerjakannya. Sekarang dia hanya perlu mengajak Emma ke kantin.


***


"Oh.. hay Nona Reinar" Sapa Ella begitu melihat ada seseorang di samping Emma.


"Hay juga Nona Simmons. Panggil saja aku Renay. Mungkin aku juga akan memanggilmu Ella saja. Apa aku boleh ikut kalian ke kantin" tanya Renay meminta persetujuan keduanya.


Kenapa Emma bisa bersama dengan Renay?


"Boleh" Jawab Emma karena melihat Ella masih bengong.


"Maaf bila kehadiranku membuat kalian tidak nyaman. Apalagi masih ada gosip yang beredar"


"Oh tidak apa-apa. Sahabatku ini hanya ingin tahu tentang kabar kakaknya darimu sehingga menyuruhku mendekatimu" kata Emma tanpa dosa.


Ya ampun. Emma ini membuatku malu. Apa dia harus sejujur itu?. Ella tersenyum kikuk.


"Kak Leon baik-baik saja begitu juga dengan Nona Erine" Kata Renay setelah bungkam beberapa saat.


"Huffhhh.. Syukurlah. Semoga Ayah bisa mengembangkan usahanya sehingga mereka kembali secepatnya". Doa Ella tulus.


"Memangnya mereka tak memberimu kabar?" tanya Renay pada akhirnya karena terlalu penasaran.


"Semenjak mereka pergi hingga hari ini, sudah terhitung satu bulan dan mereka sama sekali belum memberiku kabar. Sepertinya mereka mulai melupakanku"


"Kau jangan berkecil hati. Kabar mereka juga aku tahu dari papa. Kak Leon tidak mengabariku secara langsung"


Ternyata dia juga tidak dikabari Kak Leon. Ella


"Duduk di sini dan lanjutkan obrolan kalian. Aku akan mengambil makan siang kita" tawar Emma.


"Terimakasih" ucap mereka berdua bersamaan.


"Kenapa kau juga tidak dikabari?" tanya Ella sesaat setelah Emma pergi.


"Mungkin karena aku tunangan bohongan yah?"


"Hah?"


"Sttttt... Apa kau pikir Kak Leon menyukaiku? Dalam hatinya sudah ada sosok lain"


Sosok lain? Apakah aku? Tapi tidak mungkin. Ella


"Benarkah? Darimana kau tahu?"


"Sebelum acara pertunangan itu digelar. Aku curiga mungkin dia jatuh cinta pada salah satu gadis di sekolahnya. Dan aku juga cukup sadar diri karena aku masih berumur 13 tahun dan dia sudah 18 tahun"


Jadi ternyata bukan aku. Ella terlihat sedikit sedih.


"Aku harap dia jatuh cinta padamu" ucap Ella membohongi perasaannya yang sakit karena ternyata Leon menyukai gadis lain.


"Hahahaha. Aku aminkan saja. Tapi dimana kau tinggal sekarang, Ella?"


" Di rumahku" jawab Ella santai.


"Di kediaman Simmons? Tapi setahuku itu sudah dijual" Renay menatap Ella dengan heran.


Ella tersenyum penuh arti kemudian berkata "Bukan di sana tapi di rumah ibuku. Di perumahan Cz. Agak terpencil sih tempatnya"


"Kau tinggal sendirian?"


"Tentu saja bersama Emma dan anggota keluarga lainnya. Keluarga Roberto"


"Perumahan Cz ya... Berarti mungkin dekat dengan rumah bibi Marie"


"Coba kau ulangi nama bibi yang kau sebutkan tadi" Ella mencoba mengkonfirmasi nama yang membuat hatinya bergetar tersebut.


"Bibi Marie Willem"


"Oh.. Astaga!! Kau kenal Mommy?"


"Hah Mommy? Yang benar saja? Bibi Marie Willem adalah Mommymu? Yah ampun dunia ini sempit sekali"


"Apa yang aku lewatkan? Dan ini makanan kalian". Emma menyodorkan baki makanan pada keduanya.


"I..I..Itu.. Renay mengenal Mommy"


"Tapi bagaimana bisa?" Tanya Emma dengan tatapan menyelidik.


"Waktu itu umurku masih 6 tahun. Kami dirampok di jalan yang sepi dekat perumahan Cz. Aku terkena pecahan kaca karena perampok memecahkan kaca mobil kami. Beruntung bibi Marie lewat dan memberi kami tumpangan dan membawa kami ke rumahnya. Tapi kau tak ada di sana saat itu"


"Sepertinya saat itu aku berada di luar rumah. Entahlah. Aku lupa semua ingatanku dari usia 7 tahun kebawah. Seandainya saja saat itu aku di rumah mungkin kita bisa bersahabat baik sejak hari itu" kata Ella


"Bisa jadi" sahut Renay.


"Yayaya... Abaikan saja aku ini. Anggap aku angin lalu" Cemburu Emma pada kedua sahabatnya itu karena keakraban mereka padahal baru bertemu.


Yap! Kami juga akrab saat pertama bertemu. Karena Ella tidak pernah memilih teman. Dia punya hati yang tulus. Bathin Emma


Dan mereka menghabiskan makan siang kali itu disertai canda tawa mengabaikan sepasang mata yang dari tadi terus saja mengawasi mereka bertiga.


***


Siapakah orang yang mengawasi Ella dan kedua sahabatnya???