Sellena

Sellena
Senior


Senin pagi di William High School, seorang gadis tampak melangkah dengan anggun. Ya anggun untuk ukuran seorang tomboy cantik. Wajahnya kini bak bidadari. Tubuh tinggi semampai, kulit putih, hidung mancung, iris hitam nan teduh, bibir tipis berwarna pink dan jangan lupa rambut hitam panjangnya yang selalu dia biarkan terurai ditiup angin. Rangkulan dari sahabatnya menghentikan langkahnya.


"Selamat pagi, Ibu muda" cengiran keluar dari bibir mungil sahabatnya.


"Selamat pagi juga, tunangan orang"


" Di mana Emma dan Adriana?" Dia celingukan mencari dua makhluk Tuhan yang cantik.


"Biasa. Membeli sarapan"


"Aku dengar akan ada alumni yang datang berkunjung" Lihatlah betapa antusiasnya Renay saat ini.


"Lalu?"


"Dia alumni sekolah ini yang berhasil menyelesaikan studinya di negara A. Dia punya seorang adik kandung dan seorang adik angkat, perusahaan mereka sempat bangkrut tapi sekarang mereka telah bangkit"


Deg! Sesuatu seperti alarm bertalu di dadanya. Mungkinkah dia sudah kembali?


"Lalu apa lagi?"


"Dia tampan, kaya, berkharisma dan juga jomblo"


"Ingat. Kamu kan sudah bertunangan, jadi si senior berikan kesempatan itu pada Emma dan Adriana"


"Tapi kamu jomblo juga"


"Tidak ada tapi-tapian"


Mereka berjalan sambil berbincang dan sesekali menyalami guru yang lewat dengan santun.


Tak lama berjalan, beberapa kumbang sekolah dengan cepat mengelilingi mereka. Salah satunya adalah manusia yang paling dibenci Ella. Loh kok bisa? Padahal Ella biasanya mudah memaafkan orang. Itu karena Richard seperti radio rusak yang mengganggu suasana hati seseorang.


"Selamat pagi, dewiku"


Si cantik Ella acuh seperti biasa dan yang menjawab salam dari Richard tentu saja Emma yang baru tiba.


"Selamat pagi juga Tuan Derbaltroz yang terhormat. Tolong minggir, karena kami mau sarapan!!" Bentak Emma sedikit kasar. Emma kemudian duduk di bangku depan Ella. Mereka berlima dengan Edgar dan Adriana sekarang sekelas.


"Ini minumannya" Adriana meletakkan minuman yang ditentengnya sambil terus memandangi Richard yang super ganteng tersebut.


Para gadis benar-benar memujanya. Terkadang tebar pesona di depannya. Siapa sih yang tidak jatuh cinta padanya? Jawabannya adalah Ella. Dia bahkan tiba-tiba tuli saat Richard memanggil namanya. Yang tak pernah lelah meladeni Richard adalah tiga gadis lainnya. Richard sampai saat ini masih dalam mode "Mengejar Warisan Berjalan" maka mode Playboynya turn off untuk sementara.


Merasa tak ada tanggapan dari Ella, Richard pun kembali ke kelasnya. Edgar masuk tak lama kemudian membawa camilan untuk para gadis. Dia kemudian duduk di samping Ella. Masih sama dari 11 tahun lalu. Hebat bukan? Tentu saja sebab tak seorang gurupun yang berani menolak keinginan seorang Tuan Muda Dhawn.


***


"Ayo kembali ke tempat duduk kalian. Kumpulkan PR dan catat tugas baru lalu kumpulkan di akhir pelajaran pada ketua kelas" Begitulah akhir-akhir ini Miss Laura


hanya memberikan mereka tugas. Miss Laura kecantol senior yang akan datang sehingga ikut membantu menyiapkan acara.


Tak ada nada protes dari siswa-siswinya. Mereka patuh dan kemudian belajar sendiri. Lebih mengasyikan mengerjakan tugas ini bersama teman sebangku daripada mendengarkan penjelasan Miss Laura yang ujung-ujungnya cerita tentang pacarnya.


Mengajar atau Curhat? πŸ™„πŸ™„


"Renay, cara kunjungannya jam berapa?" tanya Emma


" Jam 2 nanti. Mengapa?"


"Itu adalah jam Elli dan Ello tidur siang. Mereka akan bangun jam 5 sore dan mencari kami berdua. Jika tak melihat kami, mereka akan benar-benar mengamuk" jelas Emma


"Jika kalian selalu khawatir, kenapa tak masukkan saja mereka di Play Group? Mereka akan punya banyak teman"


"Akan kupertimbangkan"sahut Ella.


***


"Kenapa sampai jam begini Senior belum sampai sih?" Sungut Fangirlnya senior.


"Mungkin terjebak macet atau sedikit halangan" yang lain ikut nimbrung.


"Mungkin juga masih ada urusan mendesak. Orang ganteng mah bebas" Kata Miss Laura selaku penanggungjawab acara.


Dan mereka masih sabar menunggu Senior yang tampan itu hingga jam di pergelangan Ella menunjukkan pukul 3 sore.


"Ed, antar kami pulang ya?" Pinta Ella dengan sedikit manja.


"Ayolah, si kembar akan merengek jika tak ada kami"


"El, 5 menit lagi, please"


"Tidur terussss. Entar kebakaran baru lari tunggang langgang" cibir Emma


Ck! Susah sekali membangunkan Beruang Kutub yang hibernasi. Decak Ella sedikit kesal.


"Heyyyy.. Si tampan sudah datang, ayo ke halaman tengah"


Renay segera menarik tangan Ella dan Emma karena saat itu mereka masih di dalam kelas menunggui Beruang Kutub. Dengan berat hati mereka meninggalkan Ed yang tertidur entah pulas atau tidak. Berdesakan dengan Fangirl lainnya, mereka berhasil sampai di tempat terdepan.


"Sudah di bagian depan sekalipun kok belum kelihatan sih seniornya?" gerutu Emma.


"Apa pentingnya kita menunggu dia?" tanya Ella.


"Mendengarkan kisahnya di sekolah ini dahulu kala kemudian menikmati ketampanannya plus tebar pesona" Jawab Renay santai.


"Woii, sadar diri juga kenapa? Kamu itu kan calon istri orang" cibir Emma


"Biarin.. Calon suamiku saja tak peduli padaku. Tak pernah diapelin, malah dianggurin melulu"


"Syukurkan kalau dianggurin daripada dijerukin" Ella sengaja menambah panas.


"hahaha... H*mo dong" bukannya terbakar, Renay justru merasa lucu.


"Hushhh... Udah diam. Ketawamu bikin kita dilihatin tuh" tunjuk Emma pada orang-orang di sekitar mereka. Seketika itu juga Renay diam.


"Awas.. Aku laporkan loh" Ancam Ella, tak serius.


"Lagian kan ada di depan mata, biarkan mata ini menikmati ciptaan Tuhan itu.. Oh iyah, di mana Adriana?" Tanya Renay khawatir.


"Seperti tidak tahu saja dia seperti apa. Dia sedang mengusahakan cintanya pada si Derbaltroz. Entah apakah sudah berhasil atau belum" jawab Emma.


"Seniorrr... Senioorrr"


"Uwahhhhh... Tampan sekali...."


"Kami cinta padamu..."


"Jadilah pacarku..." Renay keceplosan.


"Nay, kau itukan iparku. Aku marah nih?" rajuk Ella.


" Yah Maaf.. Ikut rame soalnya"


Dan teriakan histeris berkumandang di sana-sini. Hingga senior lewat di depan mereka, Ella tetap tak sadar. Dia hanya terus menatap layar ponselnya takut ada panggilan mendadak dari rumah karena sebentar lagi Elli dan Ello bangun.


Saat dia mengangkat wajah penasaran pada si senior, seniornya telah berjalan jauh ke depan. Tiba-tiba Ed menarik tangan Ella dan Emma pulang.


"Dia..." Tunjuk Ella pada punggung kokok yang menjauhinya.


Kak. Takdirkah ini? Kakak selalu berjalan meninggalkan aku dan aku hanya bisa memandang punggung Kakak yang menjauh.


"El.. El... Ayo pulang" Guncangan pelan pada bahunya membuat Ella kembali tersadar. Dia menatap Ed yang memandang penuh arti padanya.


"Baiklah" Ella menurut saja pada Ed tak ingin membantah perkataannya. Renay lagi-lagi ditinggalkan di sekolah. Tenang saja dia masih setia memandangi seniornya itu sampai sebuah pesan singkat masuk di handphonenya.


*Nona Reinar, Maaf aku telah membawa Emma dan Ella pulang. Ed*gar


"Oh astaga.. Untuk apa memandang si tampan sendirian tanpa para sahabat? Aku tidak ingin menikmati Anugerah ini sendirian... Benar-benar tidak seru!!" Renay segera berlalu dari tempat itu.


Aku tak ingin dia kembali padamu hanya untuk menyakitimu. Sampai kapanpun aku tidak akan pernah membiarkan air mata melewati celah matamu. Ed


***


Tampak bahwa Ed sangat over protektif pada Ella ya? Sebenarnya ada apa?


Tunggu Episode selanjutnya ya??


Salam ELughta😍😘😘